Jatuh Cinta Dengan Secretaris

Jatuh Cinta Dengan Secretaris
Bingung Sendiri


__ADS_3

Mendengar suara Pak Deen yang menyapa Shana, wanita itu dengan pelan-pelan menganggakat wajahnya. Dia pun menunjukkan ekspresi pura-pura kaget seperti orang tidak mengetahui kedatang sang atasan.


Shana langsung berdiri dan membalas sapaan bosnya itu.


“Eeh, bapak sudah datang. Selamat pagi juga Pak Dan” balasnya sambil tersenyum. Dia mulai sengaja menyebutkan nama sang bos dengan salah. Karena itu merupakan sesuatu yang dia rencanakan untuk membuat hati bosnya itu kesal.


“Apakah pekerjaanmu terlalu rumit sehingga kamu sampai tidak mendengar ada orang datang. Bagaimana kalau bukan aku tadi yang datang dan membawa surat-surat penting dari dalam ruangan saya. Kamu tahu hal apa yang akan terjadi?” tanya Pak Deen dengan sambil menilai respon dari Shana.


Tetapi, laki-laki itu masih mengucapkan kata-katanya masih dengan nada suaranya yang normal.


“Maaf Pak Deen, lain kali tidak akan saya ulangi lagi” jawab Shana masih mencoba santai merespon perkataan sang bos. Pak Deen pun kembali ke dalam ruang kantornya setelah merasa tidak ada lagi yang perlu dia diskusikan dengan wanita di depannya itu.


“Huuufff…!!! Untung saja dia tidak menyadari jika aku hanya berpura-pura saja” batin Shana mengelus dadanya


sambil menghembuskan napas panjang. Pandangannya mengikuti kepergian sang bos dari depannya hingga hilang ditelan di balik pintu ruangan bosnya itu.


Saat tiba waktunya Shana mengantarkan kopi untuk bosnya itu, kembali dia menunjukkan senyuman licik di


wajahnya. Sepertinya dia akan menlanjutkan misi berikutnya. Dia ingin sekali bos si gila kerja itu memarahinya dan berujung memecatnya.


Dengan hati-hati dia pun mengeluarkan sekotak yang berisi garam dapur dari dalam tasnya. Dengan langkah


penuh semangat dia berjalan menunju pantry. Terdengar suara senandung merdu yang dinyanyikan Shana karena dia sebentar lagi akan melihat bagaimana Pak Deen akan memarahinya dan akan berujung memecatnya.


Biasanya orang pada menjaga sikap dan perilakunya supaya terlihat baik di depan atasan. Tetapi, kali ini sangat berbeda. Shana ingin membuat atasannya kesal setengah mati melihatnya.


Orang pada umumnya juga ingin mempertahankan posisinya dan pekerjaannya di kantor. Namun, bagi Shana untuk saat ini berbeda. Dia malah ingin membuat sang atasan memecat dirinya langsung. Demi dia bisa keluar dari perusahaan itu.


Shana pun menuangkan garam dapur ke dalam cangkir yang berisi kopi sang bos sebanyak-banyaknya. Dia membawa garam dapur dari apartemennya, karena biasanyaa garam dapur lebih asin dari pada garam-garam yang di sediakan di meja makan.


Dengan penuh semangat, dia pun mengaduk rata kopi tersebut yang seharusnya berasa kopi dan manis, tapi kali ini kopi tersebut akan terasa jadi kopi asin. Sepanjang jalan dari pantry menuju ruang kantor Pak Deen, Shana tidak berhentik tersenyum.

__ADS_1


“Selamat menikmati, Pak. Ha… ha… ha….” ujar Shana sambil tertawa puas. Dia sudah tidak sabar lagi melihat wajah sang bos saat meminum kopi asin buatannya nanti.


Tok… tok… tok…


“Masuk…”


“Waaah, tumben si bapak cepat nyahutnya. Biasanya aku sampai lalatan dulu menunggu di luar sini baru di suruh masuk” batin Shana dengan perasaan penuh dengan tanda tanya.


Biasanya juga dia harus menunggu sampai lalatan dulu baru si bos menyuruhnya masuk. Apa telinganya si bos kali ini lagi tidak bermasalah, mungkin saja.


“Pak Dan, ini saya bawakan minum bapak” ujar Shana yang masih sengaja mengucapkan nama sang atasannya itu dengan nama yang salah.


Dengan perlahan-lahan pun dia berjalan menuju meja kerja sang atasan. Dia pun meletakkan kopi asinnya di meja kerja bosnya itu dengan hati-hati.


“Silahkan diminum, pak” kata Shana mempersilahkan sang atasan meminumnya.


Wanita itu menunggu hingga sang bos mengangkat cangkir kopinya tersebut.


melakukan kesalahan. Padahal pekerjaan tersebut hal sepele dan sudah dia lakukan setiap hari dan berulang kali juga” batin Shana di dalam hatinya.


Shana kembali terkekeh di dalam hatinya sambil sesekali melihat ke arah Pak Deen yang masih menyelesaikan pekerjaan yang tanggung untuk dia biarkan.


“Apakah dia akan meneriakiku atau dia akan mengamuk dan memaki-maki aku? Aaah, bodoh amat. Yang penting misiku berhasil. Aku ingin sepat-cepat melihat wajah ketika dia marah” gumam Shana yang berusaha menjaga dirinya untuk tetap fokus.


Akhirnya sang Shana pun melihat sang bos mengangkat cangkir dan meneguk kopi asin buatannya.


“Ayo, habis ini kamu marah dan pecat aku saja tidak apa-apa” batin Shana.


Tetapi, betapa kagetnya dia saat melihat sang atasan meletakkan kembali cangkir kopi tersebut ke atas tatakannya dengan wajah biasa saja. Tidak ada perubahan mimik wajah, tidak ada kata-kata amarah yang keluar. Bahkan bosnya itu terlihat dengan santai kembali fokus mengerjakan pekerjaannya.


“Haaa…!!! Kok, dia tidak ada bilang apa-apa sih? Padahal aku tadi sudah menuangkan garam dapur sebanyak mungkin. Tetapi, ini….?”

__ADS_1


“Apakah ini yang disebutkan kembali dengan kata Gagal Total?” batin Shana yang malah membuat dia bingung sendiri dengan sang atasan.


“Aaah, lebih baik aku mundur dulu. Nanti lihat lagi bagaimana responnya.”


“Pak Dan, kalau begitu aku kembali ke tempat saya” ujar Shana sambil tersenyum dan lagi-lagi dia sengaja salah menyebut nama si bos. Dia pun berjalan menuju pintu keluar ruang kerja sang atasan. Bermaksud untuk segera keluar dari dlaam ruangan itu.


“Tunggu sebentar” sahut Pak Deen sambil beranjak dari kursinya dan berjalan menghampiri Shana yang berdiri terdiam di depan pintu.


“I-iya, pak…”


Shana melihat Pak Deen berjalan semakin mendekatinya. Tiba-tiba dia merasa tidak nyaman dan jantungnya berdegup kencang. Dengan erat dia meremas baki yang dia pegang.


“Eeeh, dia mau ngapain sihh? Kenapa dia berjalan semakin mendekatiku” batin Shana yang tiba-tiba merasa


takut dan gelisah diwaktu bersamaan.


“Ma-maaf…”


“Pa-paak…”


Kata-kata terputus-putus itu keluar dari mulut Shana yang melihat sang atasan yang sudah berada tepat berdiri mejulang tinggi di hadapannya. Dia semakin gugup dan tidak tahu mau melakukan apa. Diam-diam dia merasakan telapak tangan bosnya itu menyentuh keningnya.


"Pak...?" panggil Shana saat Pak Deen melepaskan telapak tangannya dari kening sekretarisnya itu.


"Heumm...?" balas dia singkat.


"Sudah, kamu boleh kembali ke meja kerja kamu" lanjut Pak Deen lagi dan melangkah keluar dari dalam ruang kerjanya meninggalkan sang sekretaris yang terdiam bingung, berdiri di tempatnya.


Entah apa maksud dari tindakannya meletakkan telapak tangannya di kening Shana. Sementara wanita itu sempat terdiam melihat dan merasakan tindakan dari si bos yang tiba-tiba saja.


"Aah, baik pak" sahut Shana dan menyusul keluar dari dalam ruangan atasannya itu.

__ADS_1


"Dia kenapa siih...? Harusnya dia marah karena aku sudah memasukkan garam ke dalam kopi. Ini malah bertingkah aneh" batin Shana menjadi bingung sendiri melihat tingkah sang atasan yang diluar ekspektasinya.


__ADS_2