Jatuh Cinta Dengan Secretaris

Jatuh Cinta Dengan Secretaris
Boleh Dibilang Kencan


__ADS_3

Saat keduanya sedang berbincang-bincang, pandangan Shana tiba-tiba melihat ada yang berubah dengan penampilan Deen. Saat dia akhirnya mengetahui jika Deen sepertinya baru mengganti potongan rambutnya, Shana pun bertanya langsung.


"Sepertinya kali ini kamu mengganti gaya potongan rambut kamu, ya?"


"Hah...! Kamu tidak suka, ya? ujar Deen sambil merapikan rambutnya yang memang benar kalau kemarin sore dia memotong rambuntnya dengan Pompadour Style.


"Tidak, tidak. Bangus kok. Malah gaya rambutmu yang sekarang ini lebih cakep dari yang sebelumnya" jawab Shana buru-buru.


"Soalanya reaksimu berbeda melihat gaya rambutku yang seperti ini" ujar Deen dengan sedikit malu mendengar kalau Shana ternyata lebih menilai dia sekarang terlihat lebih cakep.


"Jadi, kenapa reaksimu barusan sangat brlebih?" tanya Deen penasaran.


"Aaah... Itu, karena..."


"Karena...?" ulang Deen sambil menatap Shana menunggun wanita itu menjelaskan.


"Itu, karena waktu itu pas sebelum..."


"Shana...?" panggil Deen sambil mendekatkan badannya ke arah Shana mendengar wanita itu terlihat gugup.


"Aaah...! Apa kamu tidak capek bekerj? Kalau iya, lain kali saja kita ketemuan lagi" jawab Shana buru-buru dengan nada suaranya yang gugup.


"Shana" panggil Deen lagi sambil memengang tangan Shana membuat wanita itu semakin gugup dan tidak berani menatap Deen.


"Nggak. Sebenarnya a-aku teringat saat kamu keluar dari kamar mandi di apartemenmu waktu itu" jawab Shana akhirnya. Dia sendiri saja kaget dengan dirinya sendiri kenapa bisa terlalu jujur kepada laki-laki di depannya itu. Pacar sih boleh, tetapi jangan terlalu jujur yang mengakibatkan malu diri sendiri.


"Jadi, kamu mengingat badan waktu itu tidak memakai atas, begitu?" ujar Deen memperjelas ingatan Shana membuatnya semakin terlihat kikuk di hadapan Deen.


"A-anu... Itu..."


"Maksud aku..."


Deen semakin mempererat genggaman tangannya.


"Maksudmu, kamu sampai sekarang tidak bisa melupakan bentuk tubuhku yang tidak memakai atas dan sampai sekarang kamu tidak bisa melupakannya. Malah terus memikirkannya, begitu kah?"


Deen sengaja semakin mendekatkan wajahnya dan berbis di depan Shana membuat wanita itu menutup kedua kelopak matanya. Tetapi setelah mendengar ucapan Deeb barusan, Shana spontan membukan matanya dan menepuk lengan Deen menggunakan tangannya yang satunya lagi.


"Kamu...!!! Bagaimana kalai ada orang lain yang mendengarnya" ujar Shana berbisik sambil mengedarkan pandangannya untuk memastikan jika tidak ada orang yang mendengar obrolan mereka berdua.

__ADS_1


Dan untung saja tempat duduk mereka berdua agak memojok dan berjak dengan pengunjung lainnya. Dan kejadian yang membuat Shana malu lagu adalah cacing di dalam perutnya tidak bisa diajak kerja sama.


Kruuuuk.... Kruuuuk...!!!


Deen yang mendengarnya pun terkekeh.


"Sepertinya ini waktunya kita makan dulu" ujar Deen yang langsung dijawab Shana dengan anggukan kepala tanpa melihat Deen yang sangat gemas melihat tingkah Shana yang malu-malu seperti itu.


"Aaah, sial banget sih hari ini. Kenapa malunya double-double sih?" gumam Shana negbatin di dalam hatnya.


"Kamu mau makan apa, kebetulan aku bawa mobil sendiri. Kalau mau cari tempat makan yang agak jauh pun nggak masalah" tanya Deen.


Shana bukannya menjawab pertanyaan Deen barusan. Wanita itu malah membahas hal yang lain.


"Deen, mamaf aku tidak jujur sebelumnya."


"Apa? Ada apa?" tanya Deen mentapa Shana yang dalam hitung detik berikutnya berubah menjadi serius.


"Aku sebenarnya tidak sebaik dan sepolos yang kamu pikirkan. Tolong kamu bisa mengerti dan lagian kita juga sudah sama-sama dewasa. Walaupun suatu saat kamu kecewan kepadaku, tolong jangn pernah mundur"  ujar Shana membuat Deen terhenyak sejenak.


Tetapi dia kembali tersenyum mengetahui kekhawatiran yang Shana rasakan.


"Kenapa aku harus kecewa? Yang penting kan kamu mau bertanggungjawab" jawab Deen tanpa rasa bersalah malah semakin membuat otak Shana traveling ke mana-mana.


"Udah, ayo kita berangkat" ajak Deen lalu beranjak dari tempat duduknya.


Shana pun nitip cafenya kepada karyawannya dan buru-buru mengambil tasnya. Kemudian Shana berlari kecil tanpa menimbulkan suara berisik menyusul Deen yang sudah di depan pintu keluar cafenya.


"Deen Neal Kingsly, tunggu aku" panggil Shana melihat Deen yang tidak berniat menunggunya.


Tanpa mereka sadari dari tadi seorang bapak-bapak sedang memperhatikan mereka, terlebih Deen. Seorang bapak-bapak yang saat ini sedang berdiri di depan pelayan yang melayani kostumer.


"Jangan panggil aku seperti itu. Terlalu aneh di dengar telinga tahu" balas Deen yang spontan menghentikan langkahnya dan membukakan pintu buat Shana.


"Mau pesan apa, pak?" tanya pelayan cafe itu ke pada si bapak yang sama sekali tidak melepaskan tatapannya dari Deen dan Shana yang sudah di luar sana. Tetapi si bapak itu masih bisa melihat dengan jelas keduanya karena dinding cafe itu terbuat dari kaca. Sehingga siapa saja yang melihat keluar sana bebas melihat dengan jelas.


"Deen Neal Kingsly...!!! Ternyata kamu sudah tumbuh dewasa rupanya" batin si bapak sambil menampilakn senyum smirknya.


Deen yang tadinya mengajak Shana untuk makan siang, ternyata mereka sampai malam baru balik. Namanua juga baru jadian. Jadi masih panas-panas aura kasmaran di antara keduanya. Dan akhirnya Deen pun langsung mengatar Shana pulang ke apartemennya.

__ADS_1


"Kalau begitu, sampai jumpa lagi. Terima kasih sudah mengantarku pulang" ujar Shana ketika dia ingin masuk ke dalam apartemenya.


Tetapi ada yang selalu menahan tangannya. Deen sama sekali tidak mau melepaskan genggamannya.


"Bo-boleh kamu lepaskan tanganku? Aku sekarang mau masuk ke dalam" lanjut Shana sambil tersenyum kaku yang masih melihat Deen diam saja. Dengan rasa enggan, Deen pun melepaskan genggamannya.


"Baiklah" balas Deen yang kemudian melapakan tautan tangannya.


"Kalau kamu sudah samapi ke partememu, telepon aku, ya?"


Shana mengingatkan supaya dia tenang kalau Deen sampai dalam keadaan baik dan aman. Kemudian Shana berbalik dan mulai jalan menuju pintu masuk apartemnya. Tetapi baru beberapa langkah dia berjalan, Deen kembali meraih tangannya dan menahan Shana.


"Deen, besok kamu masih harus masuk kerja kan?" kata Shana.


"Ah, sayang sekali. Tapi kamu besok tidak kerja, kan?" tanya Deen dengan wajah tidak rela melepas shana.


Melihat wajah sedih dari lakinya itu, Shana yang bodoh amat pun reflek langsung memeluk Deen membuat dia deg-deg kan.


"Sha-Shana..." panggil Deen sambil memegang kepala Shana.


"Tolong dia sebentar" ujar Shana yang nerasa jantungnya juga berdetak kencang. Setelah beberapa menit mereka diam tidak bergerak, akhirnya Shana kembali membuka percakapan mereka.


"Aku masih belum percaya aku bisa memeluk kamu" ujar Shana sambil memejamkan matanya.


"Sama, aku juga tidak percaya kalau aku bisa memeluk Nona Shana.


Mata Shana langsung terbelalak ketika Deen masih memanggilnya dengan Nona. Dia juga tidak nayaman dengan panggilan nona-noan. Terlalu kaku.


"Aaah. Kalau begitu aku juga akan memanggil dengan bapak lagi" ujar Shana sambil melepaskan pelukannya.


"Hahaha... Maaf, maaf. Aku tidak akan mengulanginya lagi" balas Deen tertawa melihat wajah cembetut Shana.


"Ya sudah, kamu balik gih. Nanti kamu kemalan sampainya" suruh Shana supaya Deen pulang saja.


"Apa kamu pikir aku rela pergi pulang?" jawab Deen membuat Shana salah tingkah.


"Se-sebenarnya aku juga mau mengajak kamu mampir ke tempatku. Tapi kan kamu sibuk, besok harus masuk kerja" ujar Shana malu-malu sambil menundukkan kepalanya.


"Aku memang sibuk. Tapi, aku sibuk itu saat kamu masih menjadi sekretarisku saja. Karena aku harus bekerja keras untuk menggajimu. Jadi, sekarang aku tidak apa-apa kok kalau berkunjung ke tempatmu" jawab Deen sambil tersenyum,

__ADS_1


Shana sangat kaget mendengar jawaban dari Deen barusan.


"Maksudnya, setelah aku resign dia ogah-ogah bekerja begitu kah? Perusahaan Kingsly Group, apakah kamu baik-baik saja?" batin Shana.


__ADS_2