
“Kamu ngapain datang ke sini…?” tanya Deen dengan nada sarkas kepada Nicholas yang tiba-tiba nongol di kantornya tanpa memberi dia kabar terlebih dahulu.
“Kamu sudah seperti setan saja. Tiba-tiba nongol, tiba-tiba juga menghilang.”
“Memangnya mau ketemu siapa lagi kalau bukan ketemu kamu, bro. Oh iya, aku juga sekalian mau ketemu sama Nona Shana.”
Nicholas telihat sangat santai menjawab Deen membuat keduanya saling melayangkan tatapan mematikan di antara mereka berdua. Sementara Shana hanya bisa diam dan melihat kedua laki-laki di depannya itu yang sepertinya akan siap melakukan perang.
“Aaaiiissh….!!! Kenapa aku bisa berada di tengah-tengah dua orang laki-laki teraneh yang pernah aku temui di dunia ini” batin Shana yang menjadi canggung melihat kedua orang laki-laki di depannya itu yang sama sekali belum memutuskan kontak mata mereka.
“Aku sudah tidak tahan lagi. Aku jadi semakin merasa tidak nyaman dengan suasana seperti ini. Mungkin lebih baik kalau aku keluar saja dari ruangan ini. Biarkan mereka berdua melakukan apa saja yang mau mereka lakukan. Mau berantam, adu tonjok, terserah mereka saja.”
“Heumm…!!! Pak, saya izin mau mengambilkan minuman buat kalian berdua, ya…?”
Seketika itu juga Deen memutuskan kontak matanya dari Nicholas dan secepat kilat menoleh ke arah Shana.
“Shana, tidak perlu. Kamu…”
“Ah, baiklah pak. Kalau begitu silahkan lanjutkan obrolan kalian berdua. Saya mau keluar dulu” jawab Shana dan langsung pergi meninggalkan Nicholas dan bosnya itu.
Kedua orang itu pun hanya bisa melihat kepergian Shana hingga tubuh wanita itu hilang dari pandangan mereka ditelan daun pintu. Tiba-tiba suasana di ruangan itu menjadi sepi dalam sekejap.
Tetapi, tidak lama kemudian Nicholas menghilangkan suasana sepi di antara mereka. Dia yang terlebih dahulu membuka obrolan.
“Bro, kau…”
Nicholas sengaja menggantung kalimatnya membuat Deen penasaran.
“Apa…? Kamu jangan membuat orang penasaran. Kalau ngomong itu yang lengkap dong.”
Nicholas tersenyum sebelum melanjutkan kalimatnya. Dia menoleh ke arah Deen sambil memperhatikan sepupunya itu.
“Setelah sekian tahun, akhirnya bisa juga kamu menyebut nama Nona Shana dengan benar, ya…?”
Bukannnya menjawab perkataan dari Nicholas barusan, Deen malah berjalan ke arah meja kerjanya dan kemudian dia duduk di kursi kebesarannya.
“Kenapa kamu datang-datang tidak mengabariku terlebih dahulu?” tanya Deen yang malah mengalihkan pembicaraan mereka barusan.
“Haaa…? Bro, kamu memang orangnya aneh, ya. Aku kan sudah beberapa kali memberitahumu kalau aku bakalan balik. Kamu saja yang lupa.”
Nicholas pun menyusul menghampiri meja kerja Deen.
“Ini tumpukan buku banyak banget sih. Apakah kamu masih belajar atau kuliah lagi…?” tanya Nicholas sambil melihat tumpukan buku yang sudah dirapikan Shana tadi.
“Bro, kamu sudah punya anak, kapan kamu menikah…?” lanjut Nicholas lagi bertanya setelah melihat semua judul buku yang ada di depannya itu.
“Kamu ngomong apa sih…? Ngawur….”
“Kalau tidak ada lagi yang mau kamu sampaikan, lebih baik kamu pulang sana. jangan menggangguku bekerja” usir Deen.
__ADS_1
“Truus, kenapa ini buku ada di kantormu dan banyak lagi” ujar Nicholas tidak mau kalah.
“Buku itu banyak. Bukan hanya buku untuk memperlajari perubahan sifat anak juga, tapi buku-buku buat mempelajari sifat dan karakter dari anak buah atau bawahan juga” jawab Deen yang mulai gerah mendengar sepupunya itu mulai mengeluarkan jurus
ngenyelnya. Tidak mau dikasih tahu.
“Ah, apaan. Buktinya kamu membaca buku buat mendidik anak juga. Bro, kamu membaca buku seperti ini menandakan kamu itu sudah punya anak. Kalau kamu belum punya anak, buat apa kamu buang-buang waktu membaca buku seperti ini.”
“Itu bukan urusanmu.”
“Mana mungkin bukan urusanku, bro. Aku harus peduli dong dengan sepupuku yang ternyata diam-diam sudah punya anak.”
“Yaaa…!!! Berapa kali lagi aku bilang, aku tidak punya anak” tukas Deen dengan nada kesal karena Nicholas masih selalu memancing kekesal.
Sementara Nicholas sendiri malah tertawa puas melihat wajah Deen yang kesal setengah mati.
“Shana akhir-akhir ini bertingkah aneh aku lihat.”
Akhirnya Deen berkata jujur dan mengeluarkan yang mengganjal di dalam hatinya.
“Haaa…? Sekretarismu itu terlihat aneh…?” tanya Nicholas bingung sambil duduk di sisi tepi meja kerja sang sepupu.
“Anehnya di mana…? Aku melihatnya biasa saja kok” ujar Nicholas sambil membuka, membolak-balikkan lembaran buku yang sedang dia pegang.
“Sepertinya ada sesuatu yang terjadi dengan Shana. Beberapa hari yang lalu, tidak ada angin tidak ada hujan juga dia mengajukan pengunduran diri secara tiba-tiba. Aku harus menyelidikinya” ujar Deen menjelaskan.
“Hei…!!! Tapi, bisa nggak kamu turun dari atas meja kerjaku itu. Ada banyak itu kursi, kenapa malah duduk di mejaku” perintah Deen, tetapi tidak digubris sama sekali oleh Nicholas.
“Heumm…!!! Begitu rupanya. Jadi, kamu mau berencana mendekatinya juga…?” bisik Nicholas dengan senyum smirk di wajahnya.
“Wajar sih kalau kamu tidak bisa melepasnya begitu saja sebagai sekretarismu yang sudah bertahun-tahun bekerja denganmu. Dia lumayan cantik, menarik, pintar juga.”
“Bro, mau aku bantu buat…”
Belum selesai Nicholas mengucapkan kalimatnya, Deen langsung memotong kalimatnya barusan.
“Yaa, Nic…!!!”
“Awas kalau kamu macam-macam dan melakukan sesuatu yang aneh dengan Deen, ya. Kalau kamu tidak ada urusan lagi, kamu pulangs saja. Aku mau kerja” ujar Shana sambil menarik buku yang masih di tangan Nicholas.
Sementara Nicholas kaget bercampur rasa bingung melihat tingkah sepupunya itu yang berubah tiba-tiba.
“Ooh, baiklah” gumam Nicholas sambil menatap Deen yang terlihat salah tingkah.
“Tapi, bagaimana bisa kamu menyelidiki Shana kalau hanya membaca buku ini?”
“Kamu tidak tahu, ya. Buku ini kelihatannya memang seperti mau mendidik anak-anak. Tetapi manfaatnya banyak juga. Dan buku-buku yang lain yang berkaitan dengan perubahan-perubahan sifat dan kepribadian karyawan kita. Dari buku ini bisa kita pelajari semuanya.”
“Makanya dari semua buku ini kita tahu cara menghadapi perubahan sikap orang lain. Baik itu karyawan dan bawahan kita” lanjut Deen menjelaskan.
__ADS_1
“Aaah, sudah-sudah…!!! Bro, kamu benar-benar sama sekali belum berubah ya…?”
“Maksud kamu…?”
“Iya, kamu tidak ada perubahan sama sekali. Masih terlihat seperti robot saja” ujar Nicholas dengan santainya.
“Apakah itu sebuah ledekan atau pujian…?” tanya Deen yang sudah terbiasa mendengar sepupunya mengatakan kalau dia memang manusia robot.
Malam harinya….
Shana dan Myesha melakukan vidio call. Shana kembali menceritakan apa yang dia alami hari ini.
“Shana, dengarkan aku. Kamu jangan terlalu berpikir negatif dulu. Kamu yang ngotot ingin keluar dari dari perusahaan itu kan. Jadi, mari lakukan dari hal-hal yang mudah dulu.
“Aaah, sepertinya aku akan menghadapi dua laki-laki aneh sekaligus sepertinya. Kamu masih ingat kan sepupu Pak Deen yang bernama Nicholas. Tadi pagi dia tiba-tiba datang ke kantor. Dulu dia yang paling sering mecari gara-gara denganku. Sepertinya kami tidak bakalan pernah akur” ujar Shana sambil mengingat pertemuannya dengan Nicholas kembali setelah kurang lebih tiga tahun mereka tidak pernah bertemu.
Shana juga tiba-tiba mengingat apa yang dia dapatkan hari ini mengenai sang bos.
“Oh iya, Myesha. Ada sesuatu juga yang berhasil aku temukan hari ini.”
“Apa itu…?”
“Myesha, sepertinya Pak Deen sudah menikah. Dan bahkan kayaknya dia sudah punya anak. Aku melihat di meja kerjanya pagi tadi buku-buku bagaimana cara mendidik anak.”
“Waaah, benarkah…?”
“Kalau pun itu benar kasihan sekali wanita yang menjadi istrinya. Tapi, bisa saja bosmu itu bersikap acuh, dingin dengan karyawannya. Padahal sebenarnya dia sangat perhatian terhadap anak dan istrinya. Bisa saja kan…?”
“Haah…!!! Aku jadi kesal mendengarnya kalau dia memang memiliki sifat asli seperti itu” jawab Shana.
“Iya, ya. Dia sampai rela loh membaca buku untuk anaknya. Tapi, kok tega sekali dia yang selalu menekanmu” tukas Myesha juga.
“Entahlah….!!! Mungkin karena dari awal pertemuan kami dulu memang tidak pernah akur” jawab Shana sambil menghela napas panjang.
“Menyebalkan sekali” gumam Shana sambil mengingat dulu bagaimana Deen memberikan pekerjaan buat dia kerjakan dan harus selesai di hari itu juga. Dan sering kali dia diminta untuk kerja lembur.
Pikiran Shana pun kembali terbayang dengan Deen, atasannya itu yang sudah mempunyai dan sangat perduli dengan keluarganya. Tetapi, perduli dengan bawahannya sampai baca buku segala demi keluarganya.
“Huuuuff….!!!”
Myesha mendengar temannya itu menghela napas panjang lagi.
“Shana, jangan sesekali kamu berpikiran yang tidak-tidak, ya?” ujar Myesha mendengar helaan napas dari Shana.
“Ti-tidak kok. Hanya mengingat sekilas masa lalu saja.
“Haaa…!!! Shana, kamu harus fokus dengan apa yang harus kamu lakukan besok.”
“Oh, iya. Besok…!!! Apakah kamu mempunyai saran untuk aku lakukan besok mengerjai Pak Deen?” tanya Shana yang sepertinya dia tidak yakin dengan rencana yang telah dia susun.
__ADS_1
“Heummm…!!! Bagaimana kalau besok kamu datang terlambat ke kantor?”
“A-apa…? Terlambat…?”