Jatuh Cinta Dengan Secretaris

Jatuh Cinta Dengan Secretaris
Saling Jujur


__ADS_3

Shana dan Deen sama kaget mendengar suara pintu yang terbuka dengan kasar dan suara seseorang memanggil Deen.


"Bagaimana kondisimu...?"


"Paman…! Eeeh. Pak, bagaimana tahu aku ada di Rumah Sakit...?"


Deen mengubah nama panggilannya karena dia tahu pamannya datang bersama bawahan sang paman dan posisinya masih dalam dia merasa tidak cocok aja dia memanggil Tuan Nixon dengan paman dalam situasi itu. Masih jam kerja juga.


Ya, yang datang itu adalah Nixon saudara laki-laki ibunya Deen.


"Ada yang memberitahu paman. Paman juga menunda beberapa jadwal pertemuan dengan klaen begitu mendengar kabar kalau kamu masuk Rumah sakit. Paman kira ada apa hingga ambulance datang ke kantor."


"Hanya tulang tanganku retak sedikit paman, tidak ada masalah yang serius. Paman tidak perlu khawatir" ujar Deen menjelaskan.


"Pasti sakit sekali. Apa sebenarnya yang terjadi hingga kamu bisa jatuh dan mengakibatkan tulang lengan kamu retak begitu...?"


Shana sangat kaget mendengar pertanyaan dari paman Deen. Dia sangat takut jika Nixon tahu kalau dialah penyebab Deen mengalami kecelakaan itu.


"Pak, soal kejadian itu..."


"Tidak. Kejadian kecelakaan itu tidak boleh ditutupi. Masalah nanti akan semakin besar jika aku menutupinya" batin Shana yang merasa jantungnya tiba-tiba berdetak kencang. Deg deg kan.


"Lagipula, beliau pasti akan mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya. Baiklah... Ayo Shana, katakan yang


sebenarnya."


"Pak, sebenarnya saya..."


Sebelum Shana selesai ngomong, Deen langsung memotong kalimatnya.


"Mungkin aku yang kelelahan, paman. Saat aku menuruni anak tangga jadi salah langkah karena pusing. Untung Shana melihat aku dan langsung memanggil mabulance. Pengobatannya juga berjalan dengan lancar. Jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan."


Shana sangat kaget mendengar apa yang dikatakan Deen barusan. Dia tidak menyangka bosnya itu akan menyelamatkan posisinya yang tadinya dia sudah sangat merasa takut. Dan sekarang dia bisa sedikit bernapas lega.


"Terima kasih Nona Shana" ujar Nixon sambil menoleh ke arah Shana sambil tersenyum.

__ADS_1


"Ah, ti-tidak perlu pak" jawab Shana sambil mengelengkan kepalanya.


Diam-diam Shana merasa terharu bercampur perasaan tidak enak dengan tindakan dari Deen barusan. Dia semakin merasa tidak nyaman.


"Bagaimana kalau kamu sepulang dari rumah sakit ke rumah utama saja? Di sana banyak orang yang akan membantumu" ujar sang paman untuk meminta Deen selama pemulihan tinggal di rumah utama keluarga Kingsly saja untuk sementara.


"Terima kasih, pak. Tetapi, takutnya bibi nanti semakin khawatir jika aku pulang ke rumah dalam kondisi seperti ini. Lebih baik aku tetap tinggal di apartemenku saja" ujar Deen yang merasa masih bisa melakukan aktivitasnya tanpa bantuan orang lain.


"Baiklah kalau begitu maumu. Jangan sungkan-sungkan jika butuh bantuan. Kalau mengerjakan sesuatu pun, kerjakan yang santai-santai saja. Soalnya sejak dulu kau..."


"Eeh, itu yang kamu pegang kertas apa...?" tanya Nixon yang melihat kertas yang dipengan Deen. Untung saja isinya tidak kelihatan, sehingga sang paman tidak bisa membacanya.


"Asataga…!!! Mati aku..." gumam Shana yang langsung menerjang ke arah ranjang Deen dan mengambil kertas tersebut.


"Aah, ini. Maaf, pak...!!! Tadi saya sedang sibuk di kantor dan tanpa sengaja saya membawa pekerjaan ke sini."


"Ya ampun, Nona Shana..."


"Sekali lagi saya meinta maaf, pak. Nanti akan saya berikan laporannya setelah bapak selesai beristirahat" ujar Shana sambil membungkukkan badannya meminta maaf.


Deen dan Shana kembali ke kantor untuk mengambil beberapa berkas dan perlengkapan Deen yang lainnya karena untuk satu bulan ke depan dia akan bekerja dari apartemenya.


Shana sibuk memasukkan beberapa file ke dalam box.


"Shana, biar saya yang membereskannya sendiri. Kamu pulang saja" ujar Deen yang ikut juga merapikan meja


kerjanya.


"Tidak, pak. Ini semua gara-gara saya."


Deen tertegun dengan jawaban dari sekeretarisnya itu.


"Aku sudah membaca isi dari suratmu itu, walaupun tidak semuanya."


Shana sedikit tercengang mendengar apa yang disampaikan Deen barusan.

__ADS_1


"Alasan kamu mengundurkan diri karena banyak pikiran sehingga tidak bersemangat lagi seperti seperti dulu."


"Iya, benar pak. Tapi..."


"Berkat kamu, aku jadi sadar masih kurang baik sebagai atasan. Seperti yang kamu bilang, kamu adalah sekretaris yang berbakat. Tapi, saya yang masih kurang baik untukmu. Maaf."


Deen menngucapkan kalimatnya sambil mengepalkan telapak tangan kanannya. Dan dia merasa ada yang mengganjal di dalam hati, tapi entahlah. Dia tidak tahu itu apa.


"Pak. Bapak jangan bilang seperti itu. Kata berbakat itu tidak pantas buat saya. Sejujurnya, karena saya membenci bapak saya menuangkan garam ke kopi bapak. Dan memasukkan saos sambal yang banyak ke dalam sandwich bapak. Padahal aku tahu bapak tidak bisa memakan makanan yang pedas."


"Aku juga sengaja membuat bapak marah dengan bertingkah aneh beberapa minggu belakangan ini. Mana bisa saya dibilang orang yang berbakat...?"


"Tetapi untuk lengan bapak, sama sekali bukan karena saya membeci bapak. Kali ini benar-benar..."


"Aku juga akan jujur samamu karena kamu sudah jujur samaku. Karena kamu merasa bersalah padaku, aku malah merasa senang."


"Eeeh...!!!"


Shana sangat kaget dengan pengakuan dari bossnya itu. Dia kira Deen akan mengatakan hal yang membuat dia sedikit senang. Sekarang dia malah dibuat kesal.


"Selama kamu merasa bersalah, kamu tidak akan pergi, kan...? Aku atasan yang jahat, ya...?" ujar Deen sambil tersenyum.


"Atasan jahat, bahawannya juga begitu, huuh..." ujar Shana sambil mendengus kesal. sambil membawa box yang sudah berisi keperluan bosnya itu.


"Bos yang jahat dan dan sekretaris yang jahat, bukan kah itu pasangan yang sangat sempurna...?" ujar Deen sambil tersenyum membalas ucapan dari Shana.


Shana hanya bisa terdiam mendengarkan ucapan balas dari sang bos barusan. Apakah Deen mengakui kalau mereka masing-masing memiliki sisi kepribadian yang jahat? Sungguh atasan yang membigunggkan.


Biasanya kalau ada orang yang mengatai atasannya kurang baik pasti tidak akan pernah terima. Mana ada atasan yang mau harga dirinya dan kapasitas dia sebagai pemimpin dinilai buruk oleh bawahanya. Atasan yang aneh pikir Shana.


Dia pun menlanjutkan merapikan barang-barang dan memasukkan ana saja keperluan sang bos yang mau di bawa ke apartemen. Untuk mengurangi rasa bersalahnya akibat kecerobohannya di tangga darurat tadi, Shana harus rela capek untuk membantu atasannya itu.


Sebenarnya Shana bertanya-tanya kenapa dia tidak mau tinggal di rumah utama keluarga Kingsly saja. Padahal tadi paman dari bos nya itu sudah menawarkan. Dan di sana kan ada orang yang yang bisa merawat dan memperhatikan keperluannya.


Kalau di apartemen sendiri, siapa yang bisa menolngnya kalau amit-amit terjadi sesuatu. karena tangan sang bos kan hanya satu yang bisa di gunakan. Untuk sementara tangan yang satunya lagi harus diistirahatkan dulu.

__ADS_1


Tapi, dasar Deen yang keras kepala. Dia masih ngotot untuk tetap tinggal di apartemennya sendiri. Semoga saja selama pemulihan tangannya dia baik-baik saja.


__ADS_2