Jatuh Cinta Dengan Secretaris

Jatuh Cinta Dengan Secretaris
Jadi Canggung


__ADS_3

Shana sudah mulai bekerja untuk membatu di apartemen Deen. Saat sahan sedang fokus mengerjakan pekerjaan di ruang yang berbeda dengan Deen, tiba-tiba dia mendengar suara notifikasi pesan ponselnya.


Dia melihat nama sipengirim itu adalah sang atasan.


“Shana, ayo makan siang.”


Shana pun langsung membalas pesan dari bosnya itu.


“Siap, pak.”


Lalu Shana beranjak dari tempat duduknya dan pergi menghampiri Deen. Seperti biasanya Deen selalu memesan makanan buat mereka. Walaupun Shana sudah menawarkan bantuan agar dia yang emmask karena tetalu boros kalau setiap hari memesan makanan dari luar.


Tetapi, Deen hanya sesekali memperbolehkan Shana memasak di apartemennya. Shana pun sudah sampai di ruang makan. Dia sangat kaget bentapa banyaknya makanan yang sudah disusun di atas meja makan tersebut.


Dan Deen sudah duduk di sana menunggu Shana datang.


“Ayo duduk, biar kita makan bareng” ajak Deen lagi yang masih melihat Shana berdiri.


Shana pun langsung duduk dam mengambil makananya.


“Selamat makan, pak” ujar Shana.


“Selamat makan juga” balas Deen.


Dan mereka pun mulai memakan makanan mereka masing-masing. Sesekali Shana melirik ke arah Deen yang dengan santai memakan makanannya walaupun lengannnya yang satu lagi masih terpakai arm sling.


Rasanya Shana mulai tinggal. Eeeh, bukan maksudnya kerja di apartemen Deen. Karena Deen bekerja dari apartemen, Shana juga ikut membantu sang bos bekerja di sana.


Tetapi karena ada bebera alasan, Shana terkadang harusa bolak-balik dari apartemen Deen ke kantor perusahaan dan balik lagi dari kantor ke apartemen Deen.


Tetapi, demi menebus kesalahan yang telah dia perbuat terhadap sang atasan, Shana pun harus rela menempuh satu jam dari apartemennya ke apartemen Deen. Dari apartemen Deen ke perusahaan menempun waktu tiga puluh menit.


Dia harus rela bolak-balik ke ketiga tempat itu walaupun dia harus merasakan lelah tiga kali lipat.


Pernah suatu ketika Deen meneleponnya langsung dan meminta maaf karena Shana harus capek bolak-balik.


“Shana, maaf. Aku tahu kamu bekerja bolak-balik seperti sekarang ini dan itu sang melelahkan buat kamu.”


“Aah, tidak apa-apa pak. Itu tidak sebanding dengan apa yang baoak alami gara-gara kecerobohan saya.”


“Shana, bagaimana kalau kamu tinggal sementara di apartemenku saja?”


“Apa…?” ujar Shana kaget mendengar permintaan dari bos nya itu. menurutnya itu saran macam apa meminta sekretarisnya tinggal bersama dengan dia walaupun sementara.

__ADS_1


“Di apartemenku ada enam kamar kosong. Kamu boleh menunggunakannya yang mana saja. Kamu juga tidak perlu bersih-bersih apartemen karena ada pelayan yang datang membersihkannya. Kamu hanya perlu tinggal dan sekalian bekerja.”


“Eeeh…!!!”


Shana jadi malu sendiri mendengar penjelasan dari bos nya itu.


Saat Shana kedua kali nya datang ke apartemen Deen, dan baru benar-benar melihat isi dari apartemen bos nya itu dia sangaat kagum melihatnya. Karena waktu dia pertama sekali di bawa ke sana saat dia dalamke adaan mabuk. Tidak ada waktunya dia untuk melihat-lihat.


“Waaah… Lebih bagus dari kantor” itu kesan pertama yang dilihat Shana saat dia memasuki salah satu ruang kosong yang ada di apartemen Deen tersebut.


“Aku baru bisa melihat jelas apartemen ini. Ternyata bukan apartemen biasa.”


Mengingat kejadian itu Shan cepat-cepat mengelengkan kepalanya dan menyadarkan dirinya supaya jangan kembali mengingat kejadian yang menurutnya aneh tersebut.


“Huuuh… Dasar akunya saja yang suka berpikiran aneh-aneh…” batin Shana


Sambil memakan makanannya dengan hati-hati dia melirik Deen yang fokus dengan makanannya. Tetapi karena Deen merasa dia sedang diperhatikan Shana, dia pun mengangkat wajahnya menata kembali ke arah wanita di depannya itu.


Tatapan mereka pun saling bertemu. Deen sempat merasa canggung dengan tatapan singkat mereka.


“Apa kamu tidak sukan makan daging?” tanya Deen bertanya untuk mengalihkan perasaan aneh yang dia rasakan.


“Su-suka kok, pak” jawab Shana dengan nada sedikit gugup.


Tiba-tiba suasana di ruang makan itu berubah menjadi sunyi senyap seperti di kuburan di


malam hari.


“Pa-pak… Akhir pekan biasanya kegiatan bapak ngapain?”


Shana berusaha mencoba membuat suasana di meja makan itu menjadi hidup kembali. Mood sosialisainya tiba-tiba muncul. Tetapi, di dalam hati Shana masih ada dag dig dug seeerr…


“Di apartemen saja. Palingan baca buku, atau pergi ke gym berolahraga” jawab Deen sambil memakan makananya.


“Aaah, bukuu… Sepertinya bapak suka sekali membaca buku ya. Soalnya aku pernah melihat berbagai macam judul buku. Kalau nggak salah berhubungan dengan cara mendidik anak apa ya” ujar Shana mengingat kembali ketika dia merapikan meja kerja Deen di kantor.


Deen yang mendengarnya pun sejenak menghentikan aktivitas makannya. Dia kemudian mengangkat wajahnya lalu menatap Shana.


“Ooh, itu. Itu salah satu buku yang sangat bagus.


“Begitu ya. Sepertinya bapak membacanya dengan sangat teliti, soalnya banyak sekali yang bapak tandai dengan pena berwarna. Anak bapak bapak pasti sangat senang punya ayah yang sangat perhatian seper…”


Deen sangat kaget mendengar Shana mengatakan kalau dia sudah punya anak. Dia spontan menghentikan acara makannya dan meletakkan sendok makannya.

__ADS_1


Kemudian dia mengatur posisi dudknya supaya nyaman dan menatap Shana melihat wanita itu sepertinya salah paham dengannya.


“Anak…? Aku tidak punya anak.”


“Apa, tidak punya anak? Aaah, mungkin calon anak” jawab Shana dengan keyakinannya yang masih menganggap Deen sudah menikah.


“Aku belum menikah” balas Deen singkat.


Shana pun sangat kaget mendengar kenyataan yang sebenarnya tentang status dari atasnya yang selama ini dia telah salah mengira kalau Deen sudah berkeluarga.


“Eeh…!!! Aaah…” ujar Shana bergumam sambil menganggukkan kepalanya.


“Kukira sudah menikah dan punya anak. Ternyata masih single” batin Shana.


“Tunggu…!!! Kenapa aku malah merasa senang begini mendengar dia masih single?!!!


“Aduh Shana… kamu mikirin apa sih? Sadar dong” lanjut Shana ngebarin di dalam hatinya sambil memain-mainkan makanannya.


“Kenapa kamu cuma main-mainin makananmu, nanti nggak enak lagi loh” ujar Deen melihat Shana.


“Aaah, sorry. Aku jadi tidak sadar hanya memainkan makananku. Padahal ibuku selalu bilang jangan sampai membuang makanan” jawab Shana begitu saja.


“Ibumu…? Sepertinya ibu wanita yang sangat baik” balas Deen sambil tersenyum.


“Ya, benar. Ibuku memang wanita yang baik. Tapi sayangnya beliau sudah tiada” ujar Shana membuat mereka menjadi terdiam lagi.


Deen juga tidak mau membahas mengenai ibu Shana. Dia tau itu sudah bagian dari privasi dari keluarga sekretarisnya itu.


“Bodoh kau Shana. Ngapain kamu harus bawa-bawa ibu. Topik ini tidak cocok untuk dibahas di meja makan bersama atasan.


“Ba-bagaimana kalau kita memesan minuman, mungkin kopi. Apa di sekitar apartemen bapak ini ada yang jualan” ujar Shana buru-buru mengganti topik obrolan mereka.


“Kita sama” ucap Deen tiba-tiba membuat Shana terhenyak seketika.


“Aku juga sudah tidak punya ibu.”


Shana juga jadi merasa tidak enak mendengar perkataan dari atasannya itu. Tetapi, Deen tidak melanjutkan lebih jauh lagi karena dia melihat Shana yang terdiam.


“Ayo turun, kalau kamu mau beli kopi” ujar Deen sambil beranjak dari kursinya.


“Aah, iya pak” jawab Shana mengikuti Deen di belakang bosnya itu.


Akhirnya mereka berdua pun turun dari apartemen Deen untuk pergi ke salah satu café yang tidak jauh dari apartemen laki-laki itu.

__ADS_1


__ADS_2