
Shana sudah belasan tahun hidup sendiri. Jadi, wajar dia tidak terlalu banyak tahu karena tidak ada yang mengajari dia tentang tujuan-tujuan hidup lainnya. Keluarganya juga hanya tinggal bibinya saja.
Itu pun bibi dari keluarga jauhnya. Wajar saja sang bibi sangat jarang menghubunginya.
Kalau pun mereka saling bertukar kabar, bibinya ujung-ujungnya hanya akan menanyakan dia sudah punya pacar apa belum? Kalau belum bibinya akan menawarkan diri untuk mencarikannya calon suami.
Karena setiap Shana menelepon, sang bibi akan selalu bilang akan tenang jika Shana sudah menikah. Sang bibi akan merasa aman jika Shana punya punya suami. Suami yang bisa menjaganya.
Topik itu akan selalu dibahas jika keduanya bertelepon. Dan Shana sendiri kurang nyaman dengan hal itu hingga dia bosan sendiri mendengarnya.
“Keluarga…? Apakah alasan menikah hanya untuk membutuhkan keluarga? Aku tidak mau begitu” batin Shana.
“Aku tidak mau hanya sekedar Yang Penting Menikah. Karena bagiku sebuah keluarga itu di mana aku bisa pulang, di mana aku bisa bersandar seperti orang-orang yang punya tempat untuk pulang. Tapi, aku…”
“Jangan-jangan, buatku hanya ada kantor dan bertemu dengan atasanku saja. Terikat dengan pekerjaan yang tidak akan diperbolehkan pergi ke mana-mana. Tetapi, kenapa aku malah merasa sedih jika mengingat Pak Deen dan surat resign itu, yaa…?”
“Aaah, padahal selama ini aku tidak pernah merasakan apa-apa. Kenapa pula aku tiba-tiba mengingat mukanya dia. Apa itu pertanda kalau aku sudah mulai merasa lega sampai-sampai memikirkan laki-laki, ya…?”
“Aaarggh…!!!”
“Tapi, kenapa harus Pak Deen, bosku sendiri…?”
Shana berjalan menuju meja kerjanya sambil melamun. Pikirannya entah ke mana membuat dia tidak memperhatikan sekitarnya.
“Nona, Lee…?” panggil Deen yang melihat sekretarisnya itu berjalan sambil melamun.
Sementara Shana sendiri terlonjak kaget mendengar suara bosnya itu membuyarkan lamunannya. Dengan gerakan cepat Shana langsung menatap Deen.
“Se-selamat pagi, pak” sapa Shana akhirnya dengan suara sedikit gugup.
“Selamat pagi juga.”
“Apa nanti malam kamu ada waktu…?”
“Aaah. A-ada, pak” jawab Shana yang berpikir jika bosnya itu bertanya seperti biasanya untuk meminta dia untuk lembur.
“Apa ada pekerjaan yang mendesak, pak…? Kalau begitu saya…”
__ADS_1
“Bukan soal pekerjaan yang saya maksud. Hanya…! Aku merasa kita tidak penah makan bareng. Jadi, aku berencana untuk mengajakmu makan bersama” ujar Deen dengan nada seperti terbata-bata dan perasaan malu-malu.
“Haaa…!!! Kenapa tiba-tiba begini…?” batin Shana kaget setengah mati. Kenapa sekarang bosnya menjadi orang yang sangat to the poin kalau ngomong.
Saat istirahat makan siang tiba, Shana dikejutkan dengan kemunculan Deen di depan meja kerjanya dan membuat dia kaget kembali.
“Nona Shana. Kamu tidak perlu membeli makan siang saya ke luar. Ayo kita makan di Cafetaria perusahaan saja.”
Dan alhasil, di sini lah dia berdiri sedang antri mengambil makan siang bersama dengan bos perusahaan itu berdiri di sampingnya. Ini baru pertama kali Shana datang ke Cafetaria perusahaan bersama dengan orang lain.
Sekali dia datang, temannya bukan tanggung-tanggung. Langsung pemimpin perusahaan mereka sendiri. Dan itu membuat dia merasa sangat aneh. Dan semua karyawan yang sedang makan di saat itu juga terheran-heran. Akhirnya mereka bisa melihat langsung bos mereka makan bersama dengan mereka.
Tetapi, ada juga yang langsung menghindar. Mungkin takut kena tegur atau ada hal lain yang dihindari para karyawan yang lain.
“Nona Shana. Ke sini…” panggil Deen ketika melihat sekretarisnya itu masih berdiri di tempatnya.
“Apakah kamu tidak suka menunya…?”
“Su-suka kok, pak” jawab Shana sendikit gugup.
“Yang saya tidak suka itu adalah tatapan orang-orang yang ada di ruangan ini yang melihat ke arah kita” batin Shana yang masih tidak mau melirik ke arah mana pun. Dia hanya fokus melihat ke arah menu-menu di depannya.
“Nona Shana, kita duduk dekat jendela saja, yaa” ujar Deen setelah dia selesai terlebih dahulu mengambil makanannya.
“I-iya, pak” sahut Shana singkat.
Shana pun menyusul duduk di depan bosnya itu. Dengan hati-hati dia meletakkan nampan yang berisi makanannya.
“Selamat makan, Nona Shana” ujar Deen lalu mulai memakan makananya.
“Iya. Silahkan duluan, pak” sahut Shana yang sekilas melihat tampang atasannya itu lagi.
“Aku akui dia memang tampan. Tapi, sayang dia seperti manusia robot” batin Shana yang mulai memakan makanannya juga.
“Huuuh…! Kenapa makananya jadi terasa hambar seperti ini, ya? Apakah gara-gara laki-laki di depanku ini penyebabnya? Ada apa denganmu, pak…?” batin Shana kebingungan sendiri.
“Kalau kamu tidak keberatan, kita makan bareng terus saja, Nona Shana.”
__ADS_1
“Eeh…? Dengan siapa, pak…?”
“Kamu. Tidak mau…?”
“Bu-bukan. Maksud saya pak…”
Shana belum selesai ngomong, Deen langsung memotong percakapan sekretarisnya itu.
“Selama ini aku merasa kurang peduli denganmu sebagai sekretarisku, Nona Shana. Jadi, aku harap kamu tidak menolak. Mungkin ini awal aku memperbaiki cara aku memperlakukan setiap bawahanku. Jadi, kedepannya aku akan lebih memperhatikan dan lebih peduli lagi denganmu.”
“Si bapak bicara apa, sih…?” batin Shana yang menurutnya itu hal itu tidak perlu mereka bahas di tempat umum seperti ini.
Deen pun menghentikan aktivitas makannya dan meletakan sendok makannya. Sepertinya dia akan mengatakan sesuatu yang lebih penting lagi. Dan melihat gaya bicara bosnya yang seperti itu membuat Shana yakin kalau pembicaraan bosnya itu tidak bisa dipotong.
Deen kemudian menyandarkan punggungnya di sandaran kursi yang dia duduki. Dia sepertinya mencari posisi nyaman terlebih dahulu sebelum melanjutakan obrolannya.
“Nona Shana, sebenarnya akhir-akhir ini saya…”
Deen menatap Shana dengan tatapan serius. Dan dia sama sekali tidak memutuskan kontak mata mereka berdua. Dan membuat Shana semakin tidak nyaman. Bahkan menelan makanannya saja sangat susah dia lakukan melihat tampang atasannya yang menatapnya langsung.
“Saya seringkali memikirkamu. Dan saya tidak mau kehilanganmu, Nona Shana.”
Jreeeeeng….!!!!
Shana melongo melihat atasannya itu yang kembali membuat dia serangan jantung. Hingga sendok makan yang dia pengan pun tidak terasa lepas dari tangannya.
“….?????”
“Apa maksud dari perkataan Pak Deen barusan? Kenapa dia berkata seperti itu.”
“Apa…? Tidak mau kehilanganku…? Kenapa dia membuat orang salah paham saja. Bagaimana bisa dia ngomong seperti itu dan membuat aku bigung dengan ucapannya. Apakah dia tidak bisa memilih kalimat lain yang lebih rasional saja?”
“Huuufff…”
Diam-diam Shana menghela napas panjang sambil mengalihkan panjangannya.
“Respon seperti apa yang akan aku tunjukkan jika dia berkata seperti itu. Membuat orang tidak nyaman saja” batin Shana sambil mengibas-ngibaskan telapak tangannya.
__ADS_1
Padahal ruang makan Cafetarian itu udaranya cukup sejuk dan AC-nya juga berfungsi dengan baik. Tetapi, kenapa dia malah kepanasan sendiri.