
Sepulang kerja Shana janjian dengan temannya Myesha untuk ngumpul dan mereka ingin sekalian makan malam besama. Mereka berdua sudah lama tidak bertemu karena kesibukan masing-masing.
Mereka berdua memilih makan di salah satu rumah makan yang biasa mereka kunjungi. Saat mereka menikmati makanan mereka masing-masing, Myesha akhirnya membuka obrolan mereka.
“Jadi, apa yang mau kamu ceritakan? Apakah rencanamu mau keluar dari perusahaan berjalan dengan lancar?” tanya Myesha sambil memakan makanannya.
Seketika Shana menghentikan aktivitas makannya.
“Huuufff…!!! Ternyata tidak segampang yang aku pikirkan. Aku sudah memberikan surat pengunduran diriku, tapi malah ditolak mentah-mentah tanpa dibaca. Aku juga sudah melakukan berbagai macam kesalahan, seperti menyebut namanya salah, memberikan makanan yang tidak dia sukai, bahkan aku memberikan garam dapur ke dalam kopinya. Tapi semuanya gagal total.”
Shana menceritakan semua apa yang telah dia lakukan kepada temannya itu demi bisa resign dari perusahaan.
“Bahkan kamu tahu, ada tindakan yang selama ini dia tidak pernah lakukan. Tetapi, tadi pagi dia malah melakukannya.”
“Apa itu…?” tanya Myesha penasaran.
“Selama aku berkeja sama dia, aku tidak tidak pernah mendengar sekali pun dia mengatakan terima kasih. Tapi, tadi pagi setelah aku mengantarkan serapannya, dia malah mengucapakan terima kasih. Maksudnya apa coba? Apa dia sudah tahu kalau aku sengaja melakukannya makanya dia berubah seperti itu?”
“Heummm…!!! Menurut dari cerita kamu itu, sepertinya dia memang berniat untuk menekanmu” ujar Myesha dengan sesekali melanjutkan memakan makanannya.
“Menekanku seperti apa maksud kamu…?” balas Shana bingung.
“Ya, bisa sajakan dia sudah tahu seperti yang kamu bilang. Jadi, dia seperti memberikan kode kalau dia sudah tahu kamu punya rencana supaya pengajuan surat resignmu diterima. Makanya dia berusah seperti itu.”
“Atau dengan secara tidak langsung dia memberitahumu supaya kamu jangan macam-macam dan bertidak yang aneh-aneh” lanjut Myesha lagi.
“Haaah…!!! Kalau benaran dia bermaksud seperti itu, hebat juga cara dia menekan seorang bawahan, ya? Padahal menahan orang yang mau resign itu tidak boleh loh. Pantasan saja dia menjadi CEO di perusahaan karena sifatnya yang seperti itu” tukas Shana tidak terima.
Shana menjadi teringat dengan kejadian tadi pagi. Bagaimana dia mendengar bosnya itu mengucapkan terima kasih kepadanya. Dia sendiri yang sudah lima tahun bekerja dengan sang atasan, merasa selama itu juga dia berpikir kalau di dalam kamus atasannya itu tidak ada kata Terima Kasih. Karena selama ini dia tidak pernah mendengarnya sekali pun.
“Apa dia sudah benar-benar tahu kalau dia sering membuatku kesusahaan dan kecapean karena dirinya? Aaah, Pak Deen aku tidak mengira kamu juga orangnya licik juga. Kamu pikir dengan kamu berubah seperti itu, kamu masih bisa menahanku untuk tetap bekerja di perusahaanmu itu? Tidak, aku tidak akan mau. Kamu itu atasan yang kerjanya seperti robot” batin Shana.
Dia tidak mau ditipu oleh sikap manis Deen yang tiba-tiba berubah menjadi baik. Apalagi tadi bosnya itu menyuruh dia tidak perlu ikut bertemu klaen dan malah disuruh istirahat. Itu sesuatu hal yang langka bagi shana selama ini.
“Apa karena aku sengaja melakukan kesalahan makanya sifat aslinya langsung keluar. Dasar…”
“Aku sudah bersusah payah bekerja dengan orang seperti dia selama ini. Aku tidak mau meyerah. Kalau dia juga punya rencana lain, aku akan terima tantangannya. Yang penting aku harus keluar dari perusahaan itu” ujar Shana penuh tekat.
“Waaah, bagus-bagus. Jadi, sekarang kamu mau melakukan rencana apa lagi? Katamu apa yang kamu lakukan sebelumnya gagal semua.”
“Iya benar. Padahal aku sudah melakukannya sebaik mungkin. Ternyata hasilnya tidak seperti yang aku inginkan” jawab Shana seperti orang yang putus asa.
“Kalau begitu kamu awasi saja dulu dia, kamu kan punya waktu dan uang banyak sekarang.”
“Mengawasi…?”
__ADS_1
“Iya. Siapa tahu kamu bisa menemukan kelemahan bosmu itu. Ya, kalau kamu ketahuan mengawasi dia kerjain saja sekalian. Yang penting kamu jangan sampai ketahuan. Tetap berhati-hati” ujar Myesha mengingatkan.
“Iya. Aku akan mengingatnya” jawab Shana sambil mengepalkan kedua telapak tangannya seperti memberi semangat untuk dirinya sendiri.
“Ha… ha… ha…!!! Senang sekali aku bisa berbagi pengalamanku, semoga berhasil” balas Myesha sambil tersenyum.
“Iya. Aku juga menunggu saran-saranmu yang lain. Lain kali aku akan traktir lagi kamu mau makan apa saja.
“Iya-iya. Enak juga punya teman yang royal, ya. Eeeh… Tapi, makanan kita yang sekarang ini kan sudah kamu traktir. Aku jadi merasa tidak enak” ujar Myesha seolah-olah dia tidak mau menyusahkan temannya itu.
Padahal di dalam hatinya dia senang jika mendapatkan traktiran gratis. Siapa yang tidak suka jika mendapat sesuatu gratisan dari temannya. Semua orang pasti suka.
“Mana cukup hanya traktiran sekali saja. Nanti akan aku belikan apa saja yang ingin kamu mau. Ok…?” ujar Shana dengan senang hati.
Keesoka harinya…
Shana datang lebih awal ke kantor. Menyadari dia datang terlebih awal dan melihat si bos belum datang juga, Shana memutuskan untuk merapikan meja kerja bosnya itu. Pertama-tama dia membuka jendela kaca ruang kantor tersebut.
“Huuuh, sepertinya dia masih lama lagi baru sampai ke kantor. Lebih baik aku merapikan ruangannya ini dulu. Selama dia belum menyetujui rencana pengunduran diriku dari perusahaan ini, aku tidak bisa menghiraukan pekerjaan yang biasanya aku lakukan.”
“Sepertinya aku harus memulai dari meja kerjanya dulu” batin Shana yang melihat banyaknya tumpukan buku tetapi berantakan di atas meja kerja sang bos.
“Aduh, kenapa aku merasa jadi seperti maling sih. Padahal merapikan ruang kantornya ini sudah biasa aku lakukan. Kenapa aku sekarang merasa seperti maling, ya? Aku jadi merasa bersalah, padahal belum apa-apa juga.”
Shana berusaha menenangkan perasaannya sambil merapikan tumpukan buku di meja bosnya itu.
“Eeeh…!!! Ini apaan?” gumam wanita itu saat dia merapikan tumpukan buku yang ada di atas meja kerja Pak Deen saat matanya tertuju kepada salah satu buku.
Shana sangat kaget melihat tumpukan buku-buku yang ada di hapannya itu. Karena kebanyakan yang dia lihat buku-buku itu untuk mengajarkan bagaimana tetantang mendidik anak, cara menghadapi perubahan sifat manusia.
Shana hanya melihat judul buku-buku itu secara rendom. Karena dia sudah melihat satu dua judul buku tadi, dia langsung merapikannya.
“Cara mendidik anak…? Cara menghadapi perubahan manusia…? Dia… Apakah dia sudah memiliki anak?” ujar Shana bertanya-tanya dan menebak-nebak di dalam hatinya jika bosnya itu sudah berkelurga dan memiliki anak.
“Umur Pak deen sudah tiga puluh tahuanan. Kalau dipikir-pikir sih usia segitu sudah cocok punya anak.”
Shana membayangkan atasannya itu sedang menggendong seorang anak di pelukannya.
“Kalau dia sudah punya anak, berarti pasti dia sudah beristri dong? Huuuh…!!!”
“Orang yang suka menekan bawahannya ternyata sangat sayang keluarga. Sampai-sampai dia rela membeli buku sebanyak ini dan mempelajarinya demi untuk kebaikan keluarganya. Membayangkan hal itu, kenapa aku jadi kesal, yaa…?”
Kaena Shana sibuk dengan pikirannya sendiri dan sibuk juga dengan pekerjaannya, dia tidak melihat seseorang sudah datang ke dalam ruang kantor miliki bosnya itu.
“Hallo…? Selamat pagi…?” sapa orang itu.
__ADS_1
Shana pun mengangkat wajahnya dan melihat siapa yang barusan masuk kedalam ruang kantor bosnya. Karena dia tahu dari suara orang itu bukanlah suara Pak Deen, sang atasan. Orang yang baru masuk ke dalam ruangan itu adalah Nicholas Eshan Kingsly. Ponakan dari si bos.
Nicholas adalah seorang aktor terkenal dan sekaligus produser juga. Siapa yang tidak mengenal Nicholas. Laki-laki itu sangat terkenal sampai keseluruh penjuru dunia karena berbagai film yang dia bintangi dengan aktingnya kelas papan atas.
Dan juga menjadi brand ambsador dari berbagai produk merek terkenal di dunia. Tetapi, ngapain dia datang ke sini, bukannya dia berkarir di luar negeri?
“Hai, Nona Shana…? Waaah… Kamu semakin cantik saja, ya…?” lanjut Nicholas lagi sambil berjalan ke dalam ruangan itu dan semakit mendekat ke arahnya.
“Ba-bapak ngapain datang ke sini…?” tanya Shana dengan nada yang terdengar gugup.
Bukannya mejawab pertanyaan dari wanita di depannya itu, nicholas malah mengeluarkan sebuah kotak berukuran sedang dari dalam kopernya.
“Ini buat kamu” ujarnya sambil memberikan kotak tersebut ke Shana.
“Itu hadiah buat kamu, ok…!” lanjut Nicholas sambil tersenyum dan main mata ke arah Shana.
“Te-terima kasih” balas Shana yang merutuki dirinya sendiri karena spontan menerima pemberian yang kata laki-laki itu adalah hadiah untuknya.
“Eeeh…!!! Itu rambut kamu beratankan. Sini aku yang rapikan” ujar Nicholas tanpa persetujuan dari Shana langsung merapikan rambut wanita itu.
Bagaiamana Shana menolak, karena sebelum dia membuka mulutnya saja laki-laki yang sering dipanggil Nic itu sudah langsung melakukannya.
Nicholas adalah anak dari pemilik salah satu perusahaan terkenal di kota itu juga. Tetapi, laki-laki itu lebih memilih menjadi aktris karena dia tidak tertarik dengan dunia bisnis atau bekerja di perusahaan untuk mengurusi perusahaan keluarganya.
Toh juga sudah ada Deen yang bisa menggantikan kakek dan ayahnya jika sudah tak mampu mengelola perusahaan. Buktinya sekarang kakek mereka sudah mempercayakan sepupunya Deen menjadi CEO.
Dan yang lebih penting lagi, Nicholas adalah teman sekaligus sahabat dari bosnya. Orang yang memiliki sifat yang mirip, akrab sudah berarti Nicholas juga pasti orangnya aneh sama dengan atasannya.
“Terima kasih. Tidak perlu repot-repot karena aku bisa melakukannya sendiri” jawab Shana yang tiba-tiba merasa semakin canggung.
“Apa menurut Nona Shana aku bukan laki-laki yang menarik? Huuuf, padahal aku sudah berdandan sekeren mungkin loh untuk Nona Shana pagi ini” balas Nicholas pura-pura kecewa.
“Ti-tidak. Anda sangat menarik kok” jawab Shana semakin merasa tidak nyaman karena merasa menyinggung perasaan dari sepupu bosnya itu.
“Benarkah…? Menurut Nona Shana, apa yang menarik yang Nona shana lihat dari aku?” tanya nicholas sambil mendekatkan wajahnya ke arah sekretaris sepupunya itu.
“Tuan Nicholas, maaf. Bolehkan anda menjauhkan badan anda? Ini kantor orang loh” ujar Shana sambil mundur menjauh. Dia menjadi kesal melihat tindakan spontan dan tidak terduga dari laki-laki di depannya itu.
“Apa yang sedang kalian lakukan di kantor orang lain…?”
Kedua orang tersebut kaget mendengar suara yang tiba-tiba terdengar di telinga masing-masing.
“Pak Deen…!” sapa Shana dengan perasan kaget mendengarkan suara bosnya itu menggema di dalam ruangan itu dengan muncul tiba-tiba.
Deen berjalan masuk ke dalam ruangannya dan menghampri Nicholas dan Shana. Deen melirik ke arah tangan sekretarisnya itu sekilas yang sedang memegang sebuah kotak.
__ADS_1
“Hei, bro. Lama tidak bertemu” sapa Nicholas sambil melambaikan tangannya sambil tersenyum.
“Kenapa kamu ada di sini…?”