
Akhirnya ketiga orang itu duduk bersama-sama di ruang tengah. Shana dan Deem duduk bersampingan sementara Myesha duduk di seberang mereka berdua. Kedua orang itu sudah seperti di sidang karena telah melakukan sesuatu yang salah.
“Hallo, aku Deen CEO dari Perusahaan Kingsly Group” ujar Deen memperkenalkan namanya kepada Myesha.”
"Saya Myesha, teman dekatnya Shana. Dan selama ini saya yang mengurus Shana. Bisa dibilang saya sebagai orangtua pengganti Shana” balas Myesha dengan menekankan setiap kata-katanya.
Wanita itu sepertinya ingin Deen mendengar dan jangan sekali-kali macam-macam terhadap Shana.
“Baiklah, salam kenal” ujar Deen sambil menganggukkan kepalanya.
Setelah selesai dari Deen, tatapan Myesha pun beralih kepada Shana yang duduk dengan kepala tertunduk di damping Deen. Shana tidak berani menatap balik temannya itu. Karena mungkin dia merasa bersalah atau bisa saja dia merasa malu.
“Ya ampuuun…!!! Haah…!!! Sia-sia aku mengajarimu selama ini” ujar Myesha sambil menggeleng-gelengkan kepalanya setelah dia melihat Shana curi-curi pandang ke arahnya.
“Maaf, sebelumnya aku tidak memberitahumu. Aku bisa menjelaskannya” jawab Shana dengan wajah yang masuh tertunduk dan dengan nada suaranya yang terdengar sangat bersalah.
Karena Shana bukan tipe teman yang ketika susah selalu kelihatan dan mencari bantuan, tetapi setelah tiba yang enak-enaknya dia kabur tak memberi info apa-apa.
Shana merasa bersalah, takutnya nanti temannya itu malah berpikiran yang aneh-aneh tentangnya.
“Nanti saja kamu cerita” ujar Myesha dengan nada ketusnya.
Mereka bertiga sempat terdia beberapa saat karena masing-masing sepertinya tidak tahu harus membahas apa. Tetapi, tidak lama kemudian Myesha kembali membuka obrolan mereka.
Mengakhiri suasana yang seperti di kuburan menyelimuti orang bertiga itu.
“Aku tidak menyangka kita bertiga akn bertemu dalam kondisi seperti ini. Dari situasi yang aku lihat sekarang ini sepertinya kalian sudah pacaran, kan?” ujar Myesha seraya bertanya.
Wanita itu menatap kedua orang yang ada di depannya itu bergantian. Dan berakhir dia menatap Deen untuk yang terakhir. Tatapannya seperti tatapan mematikan.
“Kamu lupa apa yang sudah kamu lakukan kepada Shana selama ini? Kamu sudah membuatnya susah dan menderita” lanjut Shana tanpa mengalihkan tatapannya sedetik pun.
Shana jadi merasa tidak enak mendengar perkataan temannya itu yang disampaikan secara langsung kepada Deen. Dia menatap laki-laki itu untuk memastikan jika Deen tidak terlalu memikirkan apa yang dikatan Myesha barusan.
__ADS_1
Itu kan sudah menjadi masa lalu keduanya. Tidak nyaman jika diungkit-ungkit lagi. Dan dia Shana juga tidak bisa menyalahkan temannya itu. Karena dulu memang benar apa adanya dia mengalami beberapa fase menyedihkan waktu masih baru masuk bekerja di Perusahan Kingsly Group.
“Maaf” jawab Deen sambil membungkukkan kepalanya meminta maaf.
“Deen…” panggil Shana yang melihat laki-laki itu meminta maaf. Dia semakin merasa bersalah.
“Aku sangat menyesal dulu aku pernah membuat Shana kesusahaan dan menderita. Aku janji kedepannya tidak akan membuat dia menderita lagi. Jadi, kamu yang sebagai pengganti orangtua dari Shana aku ingin meminta izinmu untuk aku dengan Shana berpacaran.”
Deen sangat sungguh-sungguh dengan kata-katanya. Wajahnya bahkan sangat bersinar dan bahagia saat meminta izin dari teman pacarnya itu.
“Ah, wajahnya kenapa terlihat sangat percaya diri banget sih? Pantasan saja luluh. Orang wajahnya setampan ini” batin Myesha yang ikut mengagumi wajah dari laki-laki di depannya itu.
“I-izin dari aku…?”
“Iya” balas Deen langsung.
“Saya ini bukan tipe orang yang mudah setuju, loh” ujar Myesha mencoba menggali sejauh mana sifat dan sikap dari Deen.
“Aku juga termasuk orang yang percaya diri juga, kok” jawab Deen yang tidak ingin membuat Myesha berpikir lama-lama.
Tes seperti apa yang dimaksud wanita di depannya itu. apakah ini maksudnya kalau dia bukan tipe orang yang akan mudah memberikan restu buat hubungan kedua orang yang saling mencintai di depannya itu.
“Tes pertama, kamu lolos. Karena kamu punya wajah dan tampang yang semua kaum hawa pengen memilikinya.”
“Eiitsss…! Jangan senang dulu. Itu masih satu tes” ujar Myesha yang melihat Shana seperti kegirangan dengan penilaian temannya itu.
“Kedua, bagaimana kamu menjaga kesehatanmu? Apakah kamu memiliki semacam penyakit?”
Shana yang mendengar pertanyaan dari temannya itu semakin heran. Bagaimana bisa temannya itu menanyakan sesuatu yang tidak masuk akal, padahal mereka masih berpacaran.
Shana pun menetap Myesha seola-olah dia memberikan kode untuk tidak melanjutkan pertanyaannya itu. Tetapi Myesha malah tidak menghiraukannya dan tetap menunggu jawaban dari Deen.
“Maksud saya menanyakan itu karena aku tidak mau Shana ketularan penyakit” ujar Myesha menjelaskan supaya kedua orang itu tidak salah paham.
__ADS_1
“Saya tidak memiliki penyakit. Dan saya rutin kok berolahraga untuk menjaga kesehatan tubuh saya. Saya juga hampir tidak pernah merokok dan tidak meminum alkohol.”
“Ah, soal alkohol. Dalam beberapa tahun terakhir ini aku hanya meminumnya satu kali. Itu pun karena seseorang” ujar Deen sambil melirik ke arah Shana.
“Baiklah. Sepertinya untuk yang kedua kalinya kamu lolos” ujar Myesha.
Tetapi dalam hitungan detik berikutnya wajah wanita itu berubah menjadi serius dan menapilkan senyum smirknya. Dia juga menatap Deen dengan tatapan seperti mengatakan “pertanyaan kali ini, kamu tidak boleh menyangkalnya’ dan itu membuat kedua orang di depannya itu kebingungan.
“Ok. Sekarang mari kita bahas tentang masa lalumu. Bagaimana dengan pengalamanmu saat berpacaran selama ini? Aku yakin sebelum kamu memutuskan berpacaran dengan Shana, pasti kamu punya mantan-manta sebelumnya” tanya Myesha dengan nada serius.
Shana sangat kaget dengan pertanyaan temannya itu. karena dia juga tidak tahu sama sekali tentang masa lalu dari Deen. Dia juga merasa ingin tahu, tetapi selama ini sepupu dari Deen hanya mengatakan kalau laki-laki cocoknya mendaftar jadi biksu.
Karena mereka tidak pernah melihat Deen menjalin hubungan dengan wanita mana pun. Atau mungkin dia pernah mencintai seorang wanita sangat dalam. Tetapi wanita itu menghianatinya, sehingga tidak pernah terlihat lagi menjalin hubungan dengan wanita mana pun semenjak dia diangkat menjadi CEO di perusahaan.
“Aku mau tahu… Aah, tidak-tidak. Aku tidak mau tahu.”
Batin sana bergejolak antara mau atau tidak mau mendengarfnya.
“Pengalaman berpacaran…? Saya tidak punya pengalaman sama sekali dalam hal berpacaran.”
Mendengar penjelasan dari Deen barusan kedua wanita itu sangat kaget. Terlebih Myesha. Yang tadinya cara duduk wanita itu sangat tegap, tiba-tiba melorot. Karena jawaban yang barusab dia dengar sangat diluar ekspektasinya.
“Kau tereliminasi. Eeh, maksud aku kamu didiskualifikasi” ujar Mesha membuat Deen berbalik kaget.
“Apa…? Didiskualifikasi, maksud kamu apa?” tanya Deen bingung sambil mengalihkan pandangannya ke arah Shana di sampingnya untuk membantu mejelaskan maksud dari temannya itu.
“Kamu pikir aku bodoh. Mana mungkin laki-laki setampan kamu tidak pernah berpacaran. Iya kan Shana?”
Shana yang mendengar temannya itu mencoba meminta pendapatnya membuat dia tidak tahu harus berkata apa. Tetapi jauh di lubuk hatinya, Shana juga merasa agak ragu dengan jawaban dari Deen.
Masak umur laki-laki itu sudah tiga puluh tahunan tidak pernah berpacaran sekali pun.
“Kamu bohong. Tidak mungkin baru kali ini kamu berpacaran” ujar Shana tiba-tiba.
__ADS_1
“Bohong apanya? Masa aku harus mengatakan yang tidak pernah aku lakukan. Benaran, aku pacaran baru ini yang pertama kalinya. Kamu wanita yang pertama aku ajak pacaran.”