Jatuh Cinta Dengan Secretaris

Jatuh Cinta Dengan Secretaris
Olahraga Jantung


__ADS_3

“Nona Shana, aku tidak akan melepaskanmu begitu saja. Jadi, tolong lebih bersabar lagi karena aku juga akan merubah sifat diriku perlahan-lahan, Nona Shana.”


Shana sudah merasa tidak kuat lagi duduk di hadapan Pak Deen. Rasanya suhu tubuhnya tiba-tiba naik beberapa derajat celsius. Dan dia sekarang membutuhkan kipas angin. Shana tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya. Hingga membuat deritan suara kursinya karena terdorong ke belakang.


“Kamu mau ke mana, Nona Shana…?” tanya Deen yang melihat sekretarisnya itu seperti terburu-buru inguin pergi. Sementara makanannya belum habis.


“Sa-saya, mau ambil minum” jawab Shana dengan nada sedikit kesal karena rasa gugup yang menyerangnya sambil melirik dengan tatapan tajam ke arah Deen.


Di ruang pentry, Shana menuangkan air putih dari dispenser ke gelasnya. Hingga dia tidak sadar jika gelas yang dia pengang itu sudah penuh. Dan air minumnya sampai tumpah karena kesalnya melihat bosnya hari ini.


“Anda memang sangat luar biasa ya, pak. Membuat jantung orang selalu bermasalah. Masih tetap saja bersih keras sampai…”


“Apakah dia tadi berusaha menembakku…? Sebenarnya apa maksud dari perkataannya tadi, ambigu sekali.”


Jantung Shana tiba-tiba berdetak kencang hingga dia sendiri tidak bisa mengontrolnya. Bagaimana caranya nanti dia menghadap bosnya itu lagi.


Berselang satu minggu setelah kejadian itu, Shana meminta Myesha untuk menemaninya ke sebuah toko pakaian. Dia ingin membeli beberapa potong baju yang akan dia pakai kantor. Sepertinya semua baju yang ada di dalam lemarinya sudah model lama semua.


Dan di sini lah mereka berdua. Di sebuah toko yang menjual khusus pakaian kantoran. Untung saja hari ini hari libur, sehingga keduanya bisa jalan bareng lagi. Kebiasaan Shana sebelumnya kalau pergi ke kantor selalu memakai baju kemeja dengan blezer serta pakai celanan bahan.


“Kak, kalau yang ini bagaiamana…? Ini model terbaru dalam koleksi toko kami dan baru pertama kali diliris di toko cabang ini” ujar penjaga toko yang setia sekali melayani mereka berdua sambil membawa satu buah baju terusan berwarna hijau muda dengan motif bunga jarang-jarang.


“Waah, bagus juga ini. Sepertinya sangat cocok untuk kulitmu. Kamu coba dulu sana” timpal Myesha memberi saran.


“Tapi, desain baju terusannya ini tidak terlalu ramai, ya…?”


“Tidak. Ini sangat cocok untuk kamu pakai ke acara apapun, multifungsi” balas Myesha yang diangguki penjaga toko itu juga.


Shana tidak bisa fokus. Walaupun sudah hampir satu minggu berlalu, dia masih teringat terus dan di telinganya selalu terngiang-ngiang ucapan dari Pak Deen, atasannya itu.

__ADS_1


“Saya seringkali memikirkamu. Dan saya tidak mau kehilanganmu, Nona Shana.”


Shana terkadang bengong dan melamun membayangkan kejadian itu. Hingga membuat Myesha yang menemaninya sering kali menegurnya.


“Shana, kamu lagi sakit, ya…? Kalau kamu lagi tidak enak badan, kita boleh datang lain kali lagi ke sini” ujar Myesha yang merasa khawatir dengan temannya itu. Karena dia melihat kembali Shana melamun.


“Tidak-tidak. Aku…”


“Aku hanya tidak terbiasa saja. Dan aku juga tidak pernah datang ke toko seperti ini” jawab Shana terburu-buru agar temannya itu tidak merasa khawatir lagi.


“Heumm… Iya juga. kamu kan anaknya paling irit. Ya sudah, tidak apa-apa. Tinggal kamu membiasakan diri saja kan?”


“Heumm…” gumam Shana singkat.


“Ya sudah, kamu cobain gih baju yang sudah dipilih tadi.”


“Kakak juga mau sekalian beli sepatunya juga nggak. Kami juga punya koleksi sepatu keluaran terbaru. Kalau kakaknya mau biar saya ambilkan” tawar si penjaga toko tadi dengan ramah.


Tidak lama kemudian si penjaga toko pun datang dengan membawa box sepatu di tangannya. Kemudian mengelurkan sepatu tersebut ke hadapan Shana dan Myesha. Sebuah sepatu tali dengan hak yang tingginya tiga atau empat centi meter.


“Menurut saya sepatu ini sangat cocok dengan kakak, silahkan dicoba” ujar si penjaga toko.


“Shana, biasanya kamu kan memakai sepatu jenis pantofel atau sepatu skets kalau pergi kerja. Yakin kamu mau memakai sepatu ini…?” tanya Myesh yang hapal banget dengan gaya berpakaian temannya itu.


“Nggak apa-apa. Aku sekalian mau ganti gaya berpakaian juga. Sudah bosan dengan gaya yang monoton itu-itu saja. Kamu tunggu di sini ya, biar aku coba dulu cocok atau nggak” ujar Shana sambil membawa baju dan sepatu yang disarankan penjaga toko tadi.


Tidak ada lima menit, Shana pun keluar dari ruang ganti baju dan berjalan menuju di mana Myesha dan penjaga toko tadi menunggu.


“Ba-bagaimana menurut kalian…?” tanya Shana dengan sedikit canggung.

__ADS_1


“Mmm…!!! Kami kelihatannya tambah cantik tahu” jawab Myesha sambil mengacungkan kedua jempol tangalnya tanda dia sangat setuju.


“Iya, betul. Cocok banget sama kakak” sahut si penjaga toko tadi juga sambil tersenyum puas.


Karena kedua orang yang di depannya itu mengatakan pakaian dan sepatu yang dia kenakan itu sangat cocok untuknya, Shana pun memutuskan untuk membelinya. Dia kembali ke fitting room dan melihat pantulan dirinya di kaca yang ada di dalam ruangan itu.


“Kenapa aku tiba-tiba merasa malu melihat diriku sendiri, ya…? Tapi, aku sangat merasa senang juga melihat gaya baru berpakaianku. Aku juga tidak pernah membeli barang semahal ini sekaligus. Ya, sudahlah. Sesekali memanjakan diri sediri kan tidak apa-apa” batin Shana.


Kemudian dia pun menghampiri si penjaga toko tadi dan setuju untuk membeli baju terusan dan sepatu yang dia sudah coba tadi.


“Kak, aku jadi ambil yang ini, ya…”


“Ok, baik kakak. Tunggu sebentar saya langsung packing ya…?”


Setelah selesai dipacking, si pelayan toko pun menyerahkan paper bag yang sudah berisi baju dan sepatu yang mau dibeli Shana tadi. Tinggal dia sekarang membayar barang belanjaannya itu.


“Waduh, mahal juga ternyata. Tapi, tidak apa-apa. Dari dulu juga aku sudah mau ke sini nggak jadi-jadi” batin Shana sambil mengeluarkan kartu debitnya.


“Pembayarannya menggunakan apa, kak…? Mau pakai cicilan atau…”


“Nggak, pakai debit saja” jawab Shana langsung.


“Baik kakak, pembayarannya pakai debit ya, kak.”


“Terima kasih sudah berbelanja di toko kami kak. Kapan-kapan mampir lagi, ya” ujar si pelayan toko dengan ramah sambil tersenyum.


“Terima kasih juga” jawab Shana dan Myesha serempak dan mereka berdua pun keluar dari dalam toko tersebut.


Hari kerja kembali tiba. Dengan penuh semangat Shana pun berangkat ke kantor dengan memakai pakaian baru yang dia beli kemarin. Dari apartemen sampai di tengah perjalanan, Shana masih bersamangat dan sangat percaya diri dengan gaya berbusananya yang baru.

__ADS_1


Rambutnya yang biasanya juga dia gerai begitu saja, pagi ini dia bangun lebih awal dan menata rambutnya sedikit dicatok dengan gaya rambut bergelombang. Dia juga memoles sedikit make up di wajahnya yang selama ini terlihat polos.


Tetapi, setelah dia memasuki lobby perusahaan, nyalinya makin ciut dengan tatapan orang-orang yang berpapasan dengannya.


__ADS_2