
Rezpecto Restoran...
Shana menggingat kembali kejadian beberapa hari yang lalu di mana dia melihat bos dengan sepupunya, Nicholas di ruang kantor sang bos yang berduaan yang membuat otaknya berpikir kalau kedua laki-laki itu ada sesuatu.
Dia sebenarnya ingin mengembalikan coat yang dipinjamkan Deen kepadanya. Shana berpikir saat itu dia mau pulang dan tidak masalah jika pulang tanpa memakai coat. Tetapi, saat dia masuk ke dalam ruang kerja bosnya itu yang dia lihat malah pemandangan dua sejoli yang seperti....
Aaah.... Shana menggelengkan kepalanya karena tidak mau memikirkan lebih jauh lagi adengan kedua laki-laki itu. Shana berpikir kalau atasannya itu sudah menikah dan dia hanya perlu menutup mata seolah-olah dia tidak pernah melihat apa yang terjadi antara bos dan sepupu sang bos.
Dan keesok harinya Shana mendapat pesan dari Pak Deen.
"Nona Shana, bagaimana kondisimu...?"
Shana sedikit kaget melihat pesan dari atasannya itu. Dia berpikir jika Deen mengirimkan pesan kepadanya karena ada hubungannya dengan kejadian yang Shana lihat.
"Baik, Pak. Terima kasih sudah meminjam coatnya."
Saat Shana menerima pesan itu, dia berpikir jika Deen salah paham dengannya.
"Kalau begitu, Nona Shana... Minggu ini, kapan kamu ada waktu...?"
"Makan malam bareng dengan saya."
"...???"
Dan di sinilah dia dengan bosnya Deen, di Rezpecto Restoran yang sudah diresevasi bosnya itu duluan. Salah satu restoran yang menyajikan makan-makan khas Eropa yang terkenal di kota mereka. Di atas meja mereka sudah tersaji beberapa jenis makanan dan gelas yang terisi red wine.
"Kalau masih ada yang ingin kamu pesan, pesan saja" ujar Deen yang melihat Shana hanya memandangi makanan yang ada di hadapan mereka.
"Aaah... Tidak, tidak. Ini sudah cukup, pak."
"Mau ngomongin apa sih sampai membawaku ke tempat seperti ini...?" batin Shana sambil melirik Deen yang sedang memakan makanan di depannya.
"Dan ini kali pertamanya aku diajak makan malam oleh seorang laki-laki. Pasti akan terasa aneh jika ini dalam situasi normal. Tapi ini kan setelah kejadian itu. Terlalu banyak topik yang harus aku hindari. Bisa mati aku kalau sampai salah ngomong."
"Aku tidak mengerti kenapa dia mengajakku ke tempat seperti ini. Mungkin aku akan basa-basi saja untuk mengisi waktu."
"Umm... Pak Deen, apa bapak kuat minum wine...?"
"Saya tidak tahu, karena aku sebelumnya tidak pernah minum" jawab Deen sekilas menatap Shana dan kemudian dia menuangkan wine ke gelas Shana yang sudah kosong.
"Aah..."
Shana sedikit kurang percaya dengan bosnya itu. Tidak mungkin seorang Deen pemimpin sebuah perusahaan besar, sering menghadiri acara-acara yang menyuguhkan minuman beralkohol tidak pernah minum.
"Aku takut kecanduan jika minum alkohol, tetapi hari ini aku akan minum karena aku yang mengajak kamu" ujar Deen yang seolah-olah dia bisa menebak isi pikiran dari Shana.
__ADS_1
"Iya, be-benar pak. Kesehatan yang lebih penting" jawab Shana sambil terseyum.
"Pantas saja kalau setiap ada pertemuan dengan klaen selalu cepat selesai.
"Eeeh, tunggu dulu. Kalau dia tidak suka minum, kenapa dia harus memaksakan untuk minum alkohol" gumam Shana merasa tidak nyaman. Karena hanya demi untuk mengajaknya makan malam, Deen juga jadi ikutan minum wine.
"Kalau kamu bagaimana, Nona Shana...?"
"Sa-saya...? Saya..."
"Saya minum sesuai batasan tubuh saya, pak."
"Seberapa banyak batasan anda untuk alkohol, Nona Shana...?"
"Sebanyak orang dewasa minum pada umumnya."
"Ngomong-ngomong Nona Shana, aku perhatiin beberapa hari belakangan ini kamu sepertinya ada masalah. Apakah ada yang kamu khawatirkan...?"
"Apa...? Aku...? Ada yang aku khawatirkan...?"
"Iya. Yang saya lihat seperti itu. Kalau memang ada yang ingin kamu sampaikan aku akan mendengarkannya. Apapun itu, ceritakan saja."
Deen mengatur posisi duduknya dan bersiap-siap mendengarkan apapun yang akan disampaikan sekretarisnya itu.
"Aaiish, aku harus ngomong apa, yaa...? Sepertinya aku ngomong asal aja de."
"Aduuuh, aku harus memulai dari mana dulu, ya...?"
"Mmm... Akhir-akhir ini bibiku sering menanyakan dan sering menyinggung tetang pernikahan. Jadi, aku pun berpikir untuk meni-"
"Tidak boleh. Aku tidak setuju."
"Hah...!!! Kenapa kamu malah melarangku untuk menikah...?" gumam Shana bingung dengan bosnya yang satu itu.
"Ke-kenapa bapak melarang saya menikah...? Apakah bapak ingin membiarkan saya menjomblo selamanya...?"
"Padahal bapak sudah menikah dan hubungan bapak dengan sepupu bapak juga sepertinya sangat dekat. Bapak curang" batin Shana yang merasa dirinya dibatasi.
"Karena kamu sudah mendampingiku selama lima tahun hingga detik ini."
"Uhuk... Uhuk...!!! Dia mulai ngawur lagi deh. Padahal dia sudah punya pasangan" batin Shana sambil berusaha menghentikan batuknya. Deen pun memberikan air putih yang langsung di minum oleh Shana untuk membantu meredakan batuknya.
"Makannya pelan-pelan saja. Kalau masih kurang aku pesankan lagi nanti."
"Tidak. Tidak usah pak, ini lebih dari cukup."
__ADS_1
Shana langsung menggelengkan kepalanya karena bukan karena makan dia menjadi kesedak. Tetapi, karena kalimat yang dilontarkann bosnya itu.
"Apakah pekerjaan di kantor terlalu berat...? Karena kamu sangat terlihat berbeda sekali saat di kantor."
"Semua pekerjaan pasti punya kesulitan tersendiri di mana pun bekerja, pak."
"Jangan bilang ini topik utama yang akan dia bahas" gumam Shana sambil mengambil gelas yang terisi kembali dengan wine.
"Oh, begitu...? Kalau ada masalah dengan gajimu, beritahu langsung saja samaku. Aku akan meminta bagian HRD untuk menyesuaikan gajimu."
"Aaah, ternyata benar. Aku pikir kenapa dia tiba-tiba mengajak minum bersama, ternyata gara-gara surat resignku itu. Aku kira gara-gara kejadian waktu di ruang kantornya saat bersama Nicholas."
"Untuk soal itu akan saya pikirkan lagi, pak. Karena gaji yang saya terima saat ini sudah lebih dari cukup" jawab Shana sambil tersenyum.
"Begitu ya... Sayang sekali. Padahal itu satu-satunya cara aku untuk menahanmu agar tidak mengundurkan diri dari perusahaan. Entah kamu sadar atau tidak, aku tidak pernah bertemu seorang sekretaris seperti kamu. Dan sepertinya tidak akan ada lagi."
Deen meminum winenya sesuai janjinya tadi. Kemudian dia menghela napas sebelum dia melanjutkan kalimatnya.
"Seperti yang aku bilang sebelumnya, aku tidak mau mau kehilanganmu. Dengan refleks aku menolak surat yang kamu berikan itu. Sungguh tindakan konyol yang pernah aku lakukan. Nona Shana, kamu punya potensi yang sangat luar biasa. Aku jujur mengatakannya, Nona Shana."
Deg...
Shana sangat tercengang mendengarnya. Dia tidak menyangka Deen akan berkata seperti itu. Semua yang dia dengarkan tadi di luar ekspektasinya karena baru kali ini dia mendengar bosnya itu berbicara sangat panjang. Perdana banget.
"Aaaissh... Bapak nggak boleh seperti itu. Kalau aku mendengar bapak ngomong seperti itu, aku jadi berpikir untuk bekerja di kantor sampai seumur hidupku. Aku paling tidak bisa mendengar kata-kata pujian soalnya, pak" gumam Shana.
"Nona Shana...!!! Kamu tidak apa-apa...?"
Deen dan Shana keluar dari restoran tersebut setelah mereka selesai acara makan malam mereka. Sekretarisnya itu sudah mabuk karena minum melebihi batasannya akibat terlalu senang mendengar pujian dari bosnya.
Padahan Deen sudah memperingatkan Shana untuk tidak melanjutkan minum lagi. Tetapi, dia malah terus menerus sambil mengoceh tidak jelas. Begini nih kelakuan dia dengan sahabatnya Myesha. Kalau ada masalah, mereka berudua akan minum dan itu terbawa sampai sekarang.
"Heumm, iya" jawab Shana terlihat berjalan sempoyongan sehingga Deen harus memapahnya keluar dari restoran itu.
"Maaf, aku tidak sengaja membuatmu minum sebanyak itu. Tunggu, saya panggilankan taxi du--"
Belum selesai Deen ngomong, Shana menepuk-nepuk pundaknya.
"Pak...!!! Bapak mau dengan ceritaku satu lagi nggak...?"
"Sini. Ayo, sini" ujar Shana mengibas-ngibaskan telapak tangannya dengan gerakan khas gaya mabuknya.
Deen yang masih diam berdiri di tempatnya membuat Shana langsung menarik kerah baju laki-laki itu membuat mereka hampir bertabrakan.
"Nona Shana..."
__ADS_1
"Pak... Sebenarnya saya..."