Jatuh Cinta Dengan Secretaris

Jatuh Cinta Dengan Secretaris
Status Baru


__ADS_3

Deen yang mendengar pengakuan dari Shana barusan tersenyum senang. Karena ternyata bukan dirinya saja yang merasakan hal yang sama. Akhirnya dia tahu jika perasaanya tidak bertepuk sebelah tangan.


"Kalau kamu juga menyukaiku jelaskan dong alasannya kenapa kamu bisa menyukaiku" ujar Deen yang merasa kurang adil jika cuma dia saja menceritakan kenapa dia akhirnya suka sama sekretarisnya itu.


"Aah... Alasannya tidak sekeren seperti bapak, kok" jawab Shana.


Kemudian dia perlahan-lahan melirik ke arah Deen dan dia melihat laki-laki itu masih menunggu jawabannya.


"Hehehe... A-alasannya karena... Karena bapak sangat tampan dan baik" jawab Shana akhirnya. Dia mengatakan dengan jujur apa yang sebenarnya dia rasakan.


"Memangnya aku tampan?" tanya Deen yang sedikit kaget dengan alasan Shana bisa menyukainya.


"Apa bapak bisa menanyakan hal lain saja? Pertanyaan lain kan masih banyak, pak" ujar Shana yang malu untuk mengakui kalau bosnya itu memang laki-laki tampan.


"Apa dia benar-benar tidak menyadari jika dirinya setampan itu? Atau dia hanya berpura-pura tidak tahu saja biar bisa membuatku malu seperti ini" batin Shana sambil menundukkan kepalanya karena malu menatap Deen di sampingnya.


"Tidak juga. Sebenarnya masih banyak hal lain yang ingin aku tanyakan samamu. Tapi, untuk sekarang entalah" jawab Deen yang tiba-tiba meraih kedua sisi pipi Shana membuat dia mau tidak mau menatap laki-laki di sampingnya itu.


Deen semakin mendekatkan wajahnya membuat pipi Shana menjadi semakin merah. Untung saja saat itu sudah malam hari. Sehingga Deen tidak bisa melihat perubahan warna kulit Shana yang memerah.


"Justru sekarang aku hanya ingin menc*um mu" ujar Deen. Dan dia pun menc*um Shana tanpa ada penolakan dari dari wanita itu.


Satu bulan dari acara liburan mereka ke Bali itu, kehidupan mereka kembali seperti awal. Bedanya sekarang adalah Deen dan Shana memutuskan untuk berpasaran. Dan Shana sendiri benar-benar resign dari perusahaan yang dipimpin Deen. Itu artinya Shana sudah berstatus mantan sekretaris pacarnya itu.


Sekerang yang menggantikan posisi dari Shana menjadi sekretaris Deen adalah Andin. Wanita itu terlihat sedang menikmati minuman kopinya.


"Aaah... Rasanya menjadi tenang setelah meminum kopi ini" gumamnya sambil meletakkan gelas kopinya.


"Pulai Bali... Aku mau jala-jalan lagi ke sana. Rasanya tidak puas kalai hanya satu kali saja" lanjut Andin entah siapa teman dia mengobrol.


Dia sudah hampir dua bulan bekerja di Perusahaan Kingsly Group.

__ADS_1


Walaupun kadang dia sibuk dengan pekerjaanya di perusahaan besar itu, tetapi kali ini tidak sesibuk yang dia bayangkan. Saat ini dia masih bisa bersantai ria sambil menikmati Kopi Americano minuman kesukaannya.


"Hmmm... Mari kita nikamati saja waktu santai dan damai ini. Belum tentu beberapa hari kedepan akan ada lagi waktu seperti ini" batin Andin yang terkadang jika sekali ada banyak kerjaan, akan berjibun pekerjaan yang akan dia selesaikan.


"Andin, minta untuk rapat proyek baru tolong kamu koordinasikan dengan tim perencanaan, ya?"


Tiba-tiba Deen nongol membuat Andin kaget. Dia juga takut jika bosnya itu melihat dia sendang bersantai-santai. Tapi, sepertinya bosnya itu tidak menyadarinya dan dengan sigap pun dia menyahut permintaan dari sang atasan.


"Iya. Baik, pak" jawan Andin sambil menganggukkan kepalanya.


"Yaaah, kebetulan sekali. Ini Cecil pak, anak baru bagian tim perencanaan" ujar Andin yang melihat Cecil berjalan menghampiri meja kerjanya.


"Ok. Kasih tahu saja sama dia biar di sampaikan ke anggota tim yang lain juga."


"oh, iya. Siang ini aku ada janji makan siang. Kalian berdua pergi makan siang saja, sudah mau mendekati jam makan siang kok" ujar Deen lalu pergi meninggalkan dua wanita bawahannya itu.


"Baik, pak. Selamat makan siang" balas Andin dan Cecil bersamaan.


"Nggak kok kak. Justru aku baru kali ini merasakan bagaimana rasanya bekerja yang sebenarnya" jawab Cecil sambil tersenyum.


"Tapi ngomong-ngomong, apa cuma aku saja ya yang merasa kalau Pak Deen banyak berubah?" ujar Cecil seraya bertanya.


Tentu saja Cecil tidak terlalu mengetahui informasi atasannya itu karena dia anak baru di perusahaan itu. Dia bahkan tidak tahu jika dulu Pak Deen sampai di juluki manusia es sangking dinginnya sama orang. Manusia paling kaku seperti kanebo kering, dan yang dia tahu hanya kerja, kerja, dan kerja. Tidak boleh ada kerjaan yang keteteran apalagi membuang-mebuang waktu.


Sepupunya saja kalau datang berkunjung kadang kena omelan kalau dia merasa waktunya sudah diganggu. Kalau mengingat cerita-cerita para senironya, Andin jadi merasa aneh melihat bosnya itu sekarang.


Terkadang tidak ada angin, tidak ada hujan bosnya memperbolehkan mereka beristirahat lebih awal. Mentraktir mereka makan dan bahkan tidak terlalu menekan mereka dalam masalah pekerjaan, yang perting dikerjakan tepat waktu tanpa ada kesalahan. Dan yang paling bikin aneh lagi, atasan mereka itu berubah menjadi semaki ramah.


Menurut rumor yang beredar, ada seorang sekretaris yang pernah bekerja dengannya. Dan membuat sang atasa berubah menjadi seperti sekarang. Dengar-dengan mantan sekretarisnya itu sampai-sampai memegang kerah bajunya.


"Apakah rumor itu benar-benar terjadi? Jika masih ada Nona Shana, aku akan menanyakan rumor itu secara langsung kepadanya. Nona Shana... Apakah dia baik-baik saja?" batin Cecil yang lagi mengambil makan siangnya di cafetarian.

__ADS_1


Shana yang sudah fix memutuskan tidak berkerja lagi di Perusahaan Kingsly Group, akhirnya dia membangun sebuah bisnis kecil-kecilan. Dia membagun sebuah cafe di pusat kota mereka tinggal. Dia terlihat sangat serius sedang menulis sesuatu di buku catatannya.


"Nah, akhirnya selesai juga. Perfect" gumam Shana sambil mengangkat bukunya untuk memastikan tidak ada lagi yang ketinggal tidak dia tulis.


"Aku jadi kebiasan membuat jadwal seperti ini. Bahakan setelah hampir dua bulan aku berhenti, aku masih tidak bisa melupakan kebiasaan ini" ujarnya yang sudah selesai membuat jadwal apa saja yang akan dia lakukan selama satu minggu ke depan.


"Apaka ini tidak berlebihan? Aku jadi merasa seperti sama saja bekerja di kantor saja. Padahal aku sudah berjanji untuk fokus untuk menyenangkan diriku sendiri" lanjut dia lagi yang tidak menyadari ada seseorang masuk ke dalam cafenya itu.


"Shana" panggil orang yang baru msuk itu membuat Shana tertegun mendengar suaranya. Bahkan pandnagan para pengunjung cafenya pun tertuju kepada tamunya yang baru tiba itu.


"Apa kamu sudah menunggu lama? Maaf, tadi sedikit macet di jalan."


"Deen...!!!" sapa Shana yang kaget melihat lakinya sudah tiba di depannya tanpa memberitahunya terlebih dahulu.


"Bukannya hari ini kamu ada rapat bulanan? Kenapa kamu malah meninggalkan perusahaan seperti ini?" tanya Shana yang masih ingat dengan jadwa-jadwal di kantor.


"Bukannya kita sudah sepakat jangan membahas masalh pekerjaan kalau sedang bertemu?" ujar Deen dengan nada tidak suka.


"Ah, maaf. Aku keceplosan" jawab Shana langsung meminta maaf.


"Tapi, sepertinya kamu sudah semakin terbiasa memangil aku dengan namaku langsung ya" ucap Deen yang membuat Shana malu karena sebelumnya dia sangat susah memanggil Deen dengan namanya saja. Tanpa ada embel-embel 'pak' yang membuat Deen risih ketika pacarnya sendiri memanggilnya dengan pak.


"Kamu sedang melakukan apa? Kayaknya tadi kau kelihatan serius sekali sampai aku yang datang pun tidak kamu lihat" tanya Deen mengalihkan topik mereka karena melihat wajah malu-malu dari Shana.


"Ah, ini. Tadi aku sedang membuat jadwal mingguan saya" jawab Shana menunjukkan buku catatannya.


"Aku kan tidak boleh menganggur walaupun saya yang memutuskan untuk berhenti bekerja" lanjut Shana sambil tersenyum.


"Oooh. Ternyata pacarku ini tetap terlihat kompeten dibidang apapun, ya" ujar Deen membuat wajah Shana memerah dipanggil pacar.


"Kamu jangan memanggilku seperti ini, ah" balas Shana malu-malu kucing. Apalagi sekarang mereka sedang di cafenya yang beberapa orang bisa mendengar percakapan mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2