Jatuh Cinta Dengan Secretaris

Jatuh Cinta Dengan Secretaris
Merasa Seperti Selingkuh


__ADS_3

Akhirnya mendekati minggu terakhir Shana bekerja di perusahaan, dia menerima tawaran Myesha yang meminta dia untuk menggantikan temannya itu untuk pergi kencan.


Kebetulan sekretaris yang akan menggatikannya yaitu Andin sudah bisa dia lepas bekerja mandiri tanpa harus dia dampingi lagi. Shana menepati janjinya kalau dia akan mencari sekretaris yang bisa menggantikannya.


Shana sudah datang lebih dulu dan telah duduk di salah satu tempat yang sudah direservasi lebih dahulu di salah satu restoran terkenal. Dia duduk menunggu ke datangan laki-laki teman kencannya itu.


“Selama aku masih zaman kuliah dulu, aku sama sekali tidak pernah pacaran. Aku hanya fokus belajar saja. Di kantor pun selama bekerja aku tidak bernah menjalin hubungan apapun dengan kaum laki-laki secara pribadi.”


“Ini pertama kalinya aku akan bertemu dengan seorang laki-laki atau mungkin bisa disebut sebagai orang baru. Ini membuat aku semakin gugup” batin Shana dengan perasaan hati kurang tenang.


“Aaah, tenangkan hati dulu. Belum ketemu orangnya saja sudah gemetaran. Bagaimana nanti kalau laki-laki itu sudah di depan mataku, bisa-bisa nanti aku malah pingsanlagi” lanjut Shana lagi sambil meremas telapak tangannya.


Sementara laki-laki teman kencannya itu sedang celingak-celinguk melihat posisi duduknya di mana. Saat tatapan mereka bertemu, akhirnya si laki-laki itu pun tahu kalau Shana adalah orang yang ingin dia jumpai.


“Oh, itu orangnya” gumam si laki-laki sambil tersenyum simpul ke arah. Laki-laki itu bernama Nandra.


Dia pun berjalan menghampiri di mana Shana sudah duduk menunggu kedatangannya.


“Hallo…” sapa Shana sambil tersenyum,


“Hai, sudah datang lebih dulu, ya. Kamu yang bernama Shana, kan?” tanya Nandra untuk memastikan kalau dia tidak salah orang.


Shana menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Tetapi beberapa detik kemudian Deen juga ke restoran itu dengan beberapa klaennya. Mungkin mereka akan membahas sesuatu pekerjaan mereka sekaligus makan siang di sana.


Pandangan Deen tidak sengaja ke arah meja sana di mana wanita itu bersama dengan Nandra sedang mengobrol.


“Shana…!” gumam Deen dengan suara rendah tapi masih bisa di dengar oleh salah satu klaen yang berjalan di sampingnya.


“Ya? Ada apa?” tanya orang di sampingnya. Klaennya itu mengira kalau Deen sedang mengatakan sesuatu kepada mereka.


“Ah, maaf. Tidak ada apa-apa” jawab Deen.


Di saat yang bersamaan juga Shana menoleh ke arah Deen yang sedang memasuki restoran itu. Deen pung langsung mengalihkan pandangannya dan pura-pura tidak mengetahui jika Shana ada di sana.


“Haaah…!!! I-itu kan Pak Deen. Bagaimana ini, rasanya aku malah merasa seperti orang yang ketahuan sedang selingkuh. Tiba-tiba merasa bersalah dan menyesal. Tapi, kenapa…? Ada apa dengan perasaanku?” batin Shana yang jadinya merasa resah sendiri.

__ADS_1


“Kamu sudah menunggu lama, ya? Maaf” ujar Nandra.


“Tidak kok, aku juga baru sampai. Kebetulan tempat tinggal saya tidak jauh dari sini.”


“Oh. Baiklah.”


Tubuh sana kelihatnya badan Shana memang ada di sana, tetapi pikirannya sudah entah ke mana.


“Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan lagi. Tidak sopan dengan laki-laki ini nanti kalau dia sampai sadar kalau aku memikirkan hal lain di depannya” batin Shana menyadarkan dirinya dan mencoba bersikap biasa saja.


Shana pun mulai memperhatikan laki-laki di depannya itu. Nandra, dia laki-laki yang berpenampilan menarik juga, tingginya tidak kalah dengan bosnya. Terlihat baik dan sopan juga.


Dari penampilannya, dia sepertinya laki-laki yang mapan juga. Shana jadi teringat dengan penjelasan dari temannya, Myesha. Wanita itu memberitahu Shana kalau Nandra itu termasuk laki-laki yang tampan juga. Cuma bukan tipenya Myesha saja.


Menurut informasi yang diberitahukan temannya, laki-laki itu bekerja di salah satu perusahaan juga.


“Kamu mau pesan makanan apa?” tanya Nandra setelah menerima buku menu dari pelayan restoran yang menghampiri meja mereka.


Setelah mereka berdua selesai memesan makanan mereka, keduanya pun melanjutkan perbincangan mereka.


“Aah. Aku bekerja di Perusahaan Kingsly Group sebagai sekretaris” jawab Shana sambil tersenyum.


“Oooh, sebagai sekretris. Pasti kamu sangat capek melayani orang-orang penting di perusahaan. Aku saja hanya menghadiri rapat bulanan saja sudah capek. Kamu hebat” balas Nandra sambil menatap Shana.


“Aku sudah terbiasa kok dengan hal itu. Tapi kalau dipikir-pikir lagi memang cape sih. Hahaha…” jawab sana dengan tertawa kecil. Karena dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri kalau dia selalu kecapean kalau sudah pulang dari kantor.


“Apa aku perlu bilang kalau aku sudah berencana mau keluar dari kator” batin Shana.


“Tapi, sepertinya aku akan kangen dengan suasana di kantor. Karena aku dalam waktu dekat ini akan resign” lanjut Shana akhirnya mengeluarkan isi kepalanya.


“Oh? Kamu mau keluar dari kantor?”


“Iya. Sudah aku pikirkan jauh-jauh hari dan memutuskan untuk resign.”


“Selanjutnya kagitanmu mau ngapain? Pindah ke perusahan lain yang lebih bagus, ya? Kalau kamu riwayat bekerja dari Perusahaan Kingsly Group, pasti akan banyak perusahaan maju lainnya yang membutuhkanmu.”

__ADS_1


Nandra menyesap red wine yang ada di gelasnya sambil menunggu jawaban dari Shana.


“Aah. Bukan pindah ke perusahaan lain” balas Shana yang sama-sama meminum winenya juga.


“Truus? Apa kamu punya ke ahlian lain? Wah hebat juga kamu punya pekerjaan cadangan lain” jawab Nandra.


“Tidak juga. Bukan itu.”


“Jadi, apakah kamu berencana untuk pergi mencari pekerjaan ke luar negeri? Atau kamu ingin lanjut sekolah lagi?” tanya Nandra penasaran.


“Bukan-bukan” jawab Shana lagi. Mereka sudah seperti main tebak-tebakan.


“Aah. Jangan-jangan kamu sudah bebas dari masalah finansial?” ujar Nandra lagi.


“Nggka. Aku hanya mau resign dari kantor, itu saja” jawab Shana dengan wajah sedikit tidak nyaman.


“Harusnya tidak perlu seperti ini. Memberitahukan kepada laki-laki ini aku mau resign. Kesannya aku melah seperti orang yang tidak punya rencana apa-apa. Tapi, aku belum pernah seperti ini.”


“Membuat rencana untuk diriku sendiri tanpa ada kewajiba apapun yang memberatkan diriku. Aku beruntung bisa seperti ini. Apa aku tidak boleh menikmatinya?” batin Shana.


“Selama ini aku hidup dan bekerja mengikuti jadwal yang sudah diatur orang lain” lanjur Shana lagi.


“Mungkin kamu punya alasan tersendiri untuk masalah itu. Tapi, itu saya rasa sayang sekali kalau kamu sampai keluar dari kantormu yang sekarang” ujar Nandra.


Mendengar perkataan dari laki-laki di depannya itu membuat sana langsung menatap Nandra penuh semangat. Sepertinya dia merasa sedang mendengarkan saran dan pendapat dari orang lain lain terkait rencananya mau resign. Seperti second opinion yang baru lagi.


“Oh, begitukah? Kenapa kamu bilang sayang sekali aku kalau aku keluar?” tanya Shana penasaran.


“Saat-saat seperti ini kan waktunya kita mebangun karir kita. Beberapa orang yang aku kenal, mereka berhenti bekerja karena ingin menikah, atau memulai bisnis baru. Tapi, jarang juga yang terdengar mapan.”


“Saat mereka memutuskan untuk berhenti bekerja, kelihatannya mereka sangat yakin. Tetapi ujung-ujungnya mereka bingung sendiri juga. Apalagi untuk wanita. Sulit sekali untuk kembali diterima bekerja kalau sudah sempat berhenti.”


“Tapi, jangan salah paham kalau aku bilang bekerja pasti karena kamu ingin menikah.


Shana yang semakin mengikuti cara berpikir dari laki-laki itu semakin merasa telihat jika dia seperti laki-laki cerewet. Dan mendengar pernyataan terakhir Nandra membuat Shana seolah-olah dia seperti wanita yang kebelet mau menikah.

__ADS_1


Penilaian Shana yang tadinya masih baik-baik kepada Nandra berubah menjadi buruk.


__ADS_2