Jatuh Cinta Dengan Secretaris

Jatuh Cinta Dengan Secretaris
Masuk Rumah Sakit


__ADS_3

Shana yang mendengarnya pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Deen yang telah berdiri di depan pintu kantornya sambil menatap ke arahnya.


"Kamu kok kelihatannya terburu-buru banget. Ada apa...? Itu, berkas yang kamu pegang itu apa. Apakah aku perlu mengeceknya...?"


"Ah, tidak perlu" jawab Shana yang menjadi panik sendiri ditanya tiba-tiba seperti itu.


Padahal dia dari tadi menunggu Deen selesai dengan urusannya supaya dia bisa memberikan surat pengunduran dirinya itu. Tetapi, kenapa sekarang dia malah panik sendiri. Shana pun segera meninggalkan Deen yang masih kebingungan melihat gelagat sekretarisnya itu.


Shana yang tidak mau ditanya-tanyain langsung berlari menuju tangga darurat supaya tidak perlu menunggu lift.


"Shana..." panggil Deen berlari menyusul Shana sambil menuruni anak tangga dengan hati-hati.


"Aaa, kenapa dia malah mengejarku siih...?" batin Shana yang teus berjalan menuruni setiap anak tangga dengan langkah cepat. Dia takut Deen akan bisa menyusulnya.


"Shana, tunggu..."


Deen langsung meraih tangan Shana dan menghentikan sekretarisnya itu. Dan tanpa sengaja surat pengunduruan dirinya itu pun terjatuh.


"Kamu kenapa...? Kok tiba-tiba jadi seperti ini...?" tanya Deen sambil berusaha mengatur napasnya yang ngos-ngosan.


"Aah, ituuu..."


Shana terdiam sambil memungut surat pengunduran dirinya dari lantai. Dan Deen pun melihat surat apa yang ada ditangan Shana sekarang.


"Benarkah gara-gara aku kamu sampai ingin resign...?"


"Maaf, pak. Aku akan usahakan yang terbaik selama sisa hari kerja saya di sini sambil menunggu ke-"


"Aku meminta maaf untuk semua yang membuatmu tidak nyaman. Kalau kamu tidak pecaya dengan apa yang aku katakan bebera hari yang lalu. Sekarang aku ulangi lagi. Aku meminta maaf, Shana."


Deen mengatakan kalimatnya itu dengan sungguh-sungguh. Dia sudah seperti orang putus asa untuk menahan Shana supaya mengurungkan niatnya itu. Padahal Deen berpikir beberapa hari terakhir sudah tidak ada lagi masalah dengan Shana.


Karena belakangan ini dia melihat sekretarisnya itu sudah kembali bekerja seperti bisanya. Tetapi sekarang dia malah dikejutkan lagi dengan hal yang sama saat dia pertama sekali menerima surat pengunduran diri dari Shana.


Deen sampai mengepalkan telapak tangannya yang rasanya dia tidak mau sekretarisnya itu pergi mejauh meninggalkannya. Dia tidak siap dengan hal itu.


"Shana, aku..."


"Pak. Kenapa bapak memanggil aku dengan Shana...? Padahal dulu bapa sering sekali salah memanggil namaku. Kenapa juga bapak tiba-tiba berubah...?"


"Aaah, aku sebenarnya ngomong apa siih..." batin Shana yang hatinya mau ngomong apa, tetapi yang keluar dari mulutnya malah kalimat yang berbeda.


"Kan kamu sendiri yang meminta begitu. Jadi, aku hanya menuruti apa yang kamu mau saja."


Tiba-tiba bayangan samar-samar muncul diingatan Shana waktu dia mabuk. Dia mengingat bagaimana dia menarik kerah baju Deen, hingga membuat badan mereka hampir bertabrakan.

__ADS_1


"Mulai sekarang panggil aku Shana. Bapak, tahu nggak kalau aku baru dapat warisan peninggalan dari kedua


orangtuaku."


"Haaa...!!!"


Shana tiba-tiba malu sendiri setelah mengingat apa yang dia lakukan dan ucapakan saat mabuk kemarin. Dia juga merasakan pipinya semakin lama semakin terasa panas. Mungkin karena dia merasa malu dan tidak sanggup melihat wajah dari bosnya itu.


"Maaf, pak. Saya tidak mengingat apa yang bapak bilang barusan" balas Shana dan langsung bergegas melangkahkan kakinya secepat mungkin hingga dia tidak memperhatikan keselamatannya saat melangkah saking buru-burunya ingun menghindar dari hadapan Deen.


"Aduuuh... Malu sekali. Aku tidak ingat. Aku tidak ingat apa saja yang aku katakan. Aku benar-benar harus keluar. Shana, Dasar bodoh. Bisa-bisanya kamu..."


"Aah...??? TIDAK...!!!!"


GUBRAAAAK......


Shana membukan kedua kelopak matanya dan melihat ke sekelilingnya. Dia bingung karena yang dia lihat bukan di tangga darurat di mana Deen sedang berusahan menghentikannya. Tetapi tempat yang dia lihat sekarang itu adalah di mana saat kejadian kecelakaan yang dia alami dan kedua orangtuanya.


Saat itu dia melihat mobil dari luar mobil dalam gendongan seseorang. Mobil yang dia tumpangi bersama kedua orangtuanya di depan sana sudah dalam keadaan terbalik. Dan dia melihat kedua orangtuanya dikeluarkan dari dalam mobil sudah keadaan tidak bernyawa.


Dia mendengar samar-samar suara anak kecil yang memanggil…


"Ayah..."


"Ibu..."


"Uuugghhh...!!!"


"Kenapa badanku terasa sakit begini...? Kenapa posisinya aku tiduran seperti ini juga...?" batin Shana yang semakin merasakan kalau dia dalam pelukan seseorang. Dan tidak lama kemudian dia mendengarkan ringisan.


"Uuugghhh...!!!


"Itu suara siapa...?"


Dan seketika itu ingatan Shana pun kembali saat dia menuruni tangga darurat dan kakinya terpeleset. Dia juga mengingat sebelum tubuhnya mendarat di lantai, Deen berusaha menarik lengannya tetapi tidak berhasil.


"Pa, pak..."


"Paaak...!!!" panggil Shana panik setelah dia sadar jika yang dia timpa itu adalah badan Deen.


Beberapa jam kemudian, Rumah Sakit....


Seorang dokter sedang berdiri di samping ranjang Deen sedang menjelaskan sesuatu dengan Shana yang duduk juga di salah satu kursi di sisi ranjang rumah sakit yang lainnya. Dan Deen yang sedang setengah berbaring dengan tangan kirinya yang terpasang Arm Sling untuk menyanggah tangannya yang dibalut gips.


Untuk satu bulan kedepan Deen tidak bisa menggerakkan tangan kirinya secara sembarangan karena bagian tulang Ulnanya mengalami keretakan akibat benturan yang kuat ke lantai.

__ADS_1


"Tuan Deen, untuk sementara anda harus menghindari aktivitas berat meskipun kita telah melakukan pemeriksaan. Memang untuk masalah di kepala anda tidak ada masalah. Tetapi, ada baiknya tulang lengan anda harus istirahat dulu untuk beberapa hari ke depan."


"Untuk Arm Slingnya, tuan harus memakainya selama sebulan. Dan setelah itu baru kita kontrol lagi bagaimana perkembagan dan pemulihan dari tulang lengan anda yang mengalami keretakan."


Sang dokter menerangkan dengan perlahan-lahan sehingga Deen dan Shana bisa mengerti dengan mudah.


"Baik, dok. Kalau untuk bekerja tidak ada masalah ya, dok...?"


Sementara Deen masih mendengarkan penjelasan dari sang dokter, Shana sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Cedera...??? Harus istirahat selama satu bulan...?"


Shana membayangkan cibiran-cibiran orang-orang jika mereka tahu yang mengakibatkan bos mereka itu sampai masuk rumah sakit akibat ulahnya. Hingga cibiran yang memojokkan dan menyakitkan untuk didengar dia juga bayangkan.


"Aku pasti akan menjadi bahan ejekan dan bulan-bulanan mereka di kantor."


"Tidak...! Bahkan sepertinya aku bisa digugat dan masuk ke dalam penjara. a-aku..."


Shana masih sibuk dengan imajinasinya hingga tidak mendengarkan Deen memanggilnya berulang kali.


"Shana...?"


"Eeeh... Iya pak...? Maaf aku tidak-"


"Mengenai surat pengunduran dirimu..."


"Haa...!!! Kapan dia mengambil surat


itu...?"


"Ooh, iya. Kalau aku keluar dari kantor


setelah membuat masalah sebesar ini, sama saja aku seperti kendaraan tabrak


lari" batin Shana sambil memikirkan betapa tidak bertanggungjawabnya


dirinya jika pergi begitu saja.


"Untuk sementara lupakan saja, pak..."


"Shana...."


"Gara-gara saya bapak jadi begi-"


BRAAAAKKK...!!!

__ADS_1


"Deen...."


__ADS_2