Jatuh Cinta Dengan Secretaris

Jatuh Cinta Dengan Secretaris
Makan Malam Batal


__ADS_3

Setelah selesai membeli minuman masing-masing dari café, Deen dan Shana berjalan balik pulang ke apartemen. Sepanjang jalan mereka bedua hanya dia dan sesekali menikmati sekeliling mereka.


“Maaf soal yang tadi itu” ujar Deen akhirnya membuka obrolan mereka. Sepertinya laki-laki itu merasa tidak enak juga jika berlama-lama hanya diam saja. sudah seperti orang yang musuhan saja.


“Eeh, iya…!!!” gumam Shana tidak mengerti.


“Obrolan kita yang terakhir saat masih di apartemen. Saya pikir itu sudah terlalu pribadi untuk dibahas” jelas Deen lagi.


“Tidak apa-apa” jawab Shana langsung.


“Kenapa bapak yang meminta maaf. Kan tadi aku yang memulainya” batin Shana sambil meminum kopinya.


Sepertinya makan siang mereka tadi tidak bisa memuaskan rasa lapar keduanya. Atau mungkin gara-gara canggung di antaranya makanya Deen pun mengajak Shana untuk mencari angin segar ke luar dari apartemen.


“Waah, kopi rekomendasi bapak ini benar-benar enak” ujar Shana yang menikmati kopi yang tadi mereka beli.


“Benarkah…? Berarti aku tidak sia-sia membawamu ke café tadi. Namun sayangnya, baru kali ini kita mengobrol tentang masalah diluar pekerjaan. Dan aku baru tahu juga kalau kamu penyuka kopi juga.”


“Tapi sebulan lagi lagi kita sudah tidak bisa bertemu lagi. Huuufff…” lanjut Deen yang mengingat pembahasan mereka terakhir kali terkait rencana pengunduran diri Shana dari perusahaan.


Saat itu Deen sudah memutuskan untuk tidak menahan Shana lagi. Dan sekretarisnya itu berjanji akan mencari penggantinya dan mengajari calon sekretaris yang baru nantinya sebaik mungkin.


Shana yang mendengar ucapan Deen barusan membuat dia terdiam berdiri di tempatnya.


“Sepertinya aku akan bersikap lebih baik lagi ke kamu sebelum kamu pegi dari perusahaan, ya…” lanjut Deen lagi.


“Haaa…!!!”


Shana hanya bisa menatap punggung bos nya itu dari belakang yang sudah berjalan di depannya. Tidak tahu kenapa perasaannya menjadi sedih ketikan mendengar Deen tidak mencoba menahannya lagi.


“Ke-kenapa…? Kenapa baru sekarang bapak…?”


Tidak tahu kenapa Shana merasakan jantungnya berdetak lebih kencang. Dia tidak tahu jelas alasannya kenapa bisa begitu.


Beberapa hari kemudian, tepatnya hari jumat. Shana melirik jam tangannya sudah menunjukkan pukul enam sore. Bagi seseorang pekerja kantoran mungkin sepulang dari kerja ada yang langusung pulang ke rumah.


Karena menganggap malam sabtu itu hanya malam biasa saja. tetapi bagi sebagian orang, ada yang menyempatkan pergi untuk menyenangkan diri karena besoknya akan libur. Seperti pergi ke tempat karaokean untuk menghilangkan stres yang terpendan selama beberapa hari kerja sebelumnya.


Sementara Shana masih sibuk dengan pekerjaannya. Dia merasa senang karena sebentar lagi akan pulang. Hari ini dia memang lembur karena kebetulan mereka ada banyak pekerjaan.


Toh juga besok sudah libur, sekalian saja masuk lembur. Besoknya akan libur panjang pikir Shana.


Tidak lama kemudian Shana merentangkan badannya untuk melancarkan peredaran darahnya dan merilekskan otot-otot tubuhnya yang kaku setelah sekian jam duduk.


Shana memutuskan ingin membuat kopi dan dia pun mengirim pesan ke pada Deen. Kali saja laki-laki itu mau.


“Pak, mau minum kopi…?”


Deen yang mendengar bunyi notifikasi ponselnya pun langsung membaca pesan tersebut.

__ADS_1


“Iya, terima kasih” balas Deen.


Shana pun langsung pergi ke dapur dan mebuatkan kopi untuk mereka berdua. Untung saja ada alat pembuat kopi di apartemen bos nya itu, jadi mau bikin kopi apa saja bisa. Tinggal bikin saja.


“Habis ini langsung pulang deh” gumam Shana sambil fokus dengan cara membuat minuman kopinya.


Shana teringat kembali saat dia dengan Deen pulang dari café beli minuman kopi beberapa hari yang lalu. Saat itu dia sempat benar-benar mau mengurungkan dirinya untuk resign.


Tapi, saat ini hatinya kembali measa biasa saja. Tidak ada satu bulan lagi masa kerjanya akan berakhir. Saat dia sedang membayangkan dia akan berhenti bekerja, dia dikagetkan dengan suara di belakangnya.


“Shana…”


“Eeeh, iya pak” jawab Shana sambil menoleh ke belakang.


“Maaf. Sampai jam sengini kamu…”


“Tidak apa-apa, pak. Aku justru berterima kasih karena hari ini bapak sudah banyak mengambil alih pekerjaanku. Mungkin kalau tidak, bisa saja sampai sekarang aku nggak kelar-kelar kerjaanku” jawab Shana memotong ucapan deen.


“Kalau begitu kamu makan malam di sini saja. Saya yang akan traktir makan malam” ujar Deen sambil tersenyum.


“Nggak usah pak. Saya makan di tempat saya sa…”


Kruuuk… kruuuk….


Tiba-tiba perut Shana malah bunyi. Dia pun langsung mengelus perutnya dan pipinya berubah menjadi merah pink karena merasa malah. Masak di depan atasannya sendiri cacingnya malah tidak bisa diajak kerja sama. Malu-maluin.


“Sudah deh, mau nolak juga sudah percuma. Nggak ada gunanya lagi. Dasar cacing. Kenapa perangnya minta makan di saat yang tidak tepat sih?” dumel Shana di dalam hatinya.


Sambil menunggu makan malam mereka datang, Deen dan sana duduk di ruang TV sambil menonton. Sesekali juga mereka telihat mengobrol. Tidak lama kemudian bel apartemen tersebut berbunyi.


Karena mereka sedang menunggu pengantar makan malam mereka datang, Shana berpikir jika orang di luar sana yang membunyikan bel tersebut adalah pengantar makan malam mereka.


Akhirnya Shana pun langsung beranjak dari tempat duduknya dan berlari kecil menuju pintu apartemen.


“Biar saya saja yang mabil, pak. Bapak tunggu di sini saja” ujar Shana.”


“Ah, iya. Terima kasih” balas Deen.


Tetapi saat Shana membuka pintu apartemen tersebut, dia dikagetkan dengan suara orang yang datang itu.


“Bro, aku datang…”


Shana sangat terkejut melihat kedatangan laki-laki di depannya itu. Ya. Yang datang itu adalah Nicholas sepupu Deen. Sementara Deen yang merasa Shana lama di depan sana menyusul sekretarisnya itu.


“Halo…”


Nicholas juga sama kagetnya melihat Shana ada di apartemen sepupunya itu. dan beberapa detik kemudian Deen sudah berdiri di samping Shana. Laki-laki itu juga jadi déjà vu melihat Nicholas ada di depan mereka.


Deen takut jika terjadi lagi perkara seperti waktu Vani datang ke apartemennya juga. Apalagi sifatnya Nicholas tengil menyebalkan.

__ADS_1


“Sepertinya aku telah mengganggu kalian ber…”


“Jangan berpikir yang macam-macam. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan” potong Deen langsung.


“Huemm…” guman Nicholas sambil menatap Deen dan Shana bergantian. Laki-laki itu seolah-olah menilai keduanya.


“Kenapa kamu malam-malam datang ke sini?” tanya Deen tanpa basa-basi.


“Waah…! Kamu kejam sekali. Sepupu sendiri datang bukannya senang. Berhubungan aku anak baik, jadi aku tidak akan membalasnya. Tapi, jangan begitu ke orang lain, ya?”


“Kenapa dia malah melihat aku sih? Padahal aku tidak ada hungungannya dengan masalahnya” batin Shana kaget melihat tatapan Nicholas.


“Apa sih maksud bocah tengik ini?” ujar Deen dengan sedikit kesal.


“Ah… Ngomong-ngomong tadinya aku datang ke sini mau minum sambil nontor berdua denganmu” ujar Nicholas.


Mendengar kata berdua, pikiran Shana sudah ke mana-mana. Dia teringat kembali dengan pose keduanya saat Nicholas duduk di atas meja kerja bos nya dengah posisi berhadapan sambil memegang kedua pipi Deen.


“Haaa…!!!”


Shana sangat kaget saat dia menayadari sesuatu.


“Tanganmu kenapa? Apa perlu aku kasih sign di gipsmu itu?” ujar Nicholas sambil, berjalan mendekat ke arah Deen.


“Aaah…!!! Tidak kenapa-napa. Dan juga ngapain kau memberikan aku sign. Kau pikir aku masih bocah” jawab Deen dengan nada ketus.


“Ternyata mereka berdua…. Apa mereka punya hubungan khusus” batin Shana bertanya-tanya.


“Shana, tunggu bentar dulu ya. Aku mau bereskan bocah tengil ini dulu” ujar Deen yang menarik Nicholas masuk ke dalam apartemen.


Nicholas sendiri kaget mau dibereskan apa maksudnya Deen.


“Aaah, iya pak” jawab Shana sambil melihat kepergian dua orang laki-laki itu.


“Sepertinya kalau aku masih di sini malah akan mengganggu mereka berdua. Lebih baik aku pulang saja. Lagian juga kerjaan sudah beres. Soal makan nanti bisa di apartemenku saja.”


“Walaupun aku sempat merasa suka sebentar samamu pak, sepertinya aku sudah salah. Semoga anda bahagia”


“Aaaah. Kenapa aku tiba-tiba merasa sedih sih” batin Shana sambil memegang erat tali tas selempangnya.


Shana pun pergi menghampiri Deen dan izin pamit pulang.


“Pak, saya ada urusan mendadak. Dan saya mau pulang sekarang” ujar Shana.


“Shana, kita kan sudah memesan makan malam. Dan baru saja datang” balas Deen yang melihat Shana seperti tergesa-gesa.


“Tidak usah, pak. Aku makan di tempatku saja. makanan yang bapak pesan tadi buat kalian berdua saja” ujar Shana dengan seyum terpaksa.


Shana pun langsung pergi keluar dari apartemen bos nya itu.

__ADS_1


__ADS_2