
Akhirnya Deen pun ikut ke apartemen Shana. Wanita itu pun mempersilahkan Deen untuk masuk.
“Silahkan masuk, maaf tempat tinggalku tidak sebesar apartemenmu. Dan agak berantakan juga” ujar Shana.
“Huuff…! Untung saja sebelum berangkat kerja tadi pagi aku sempatin bersihin apartemen. Dia pasti baru kali ini melihat tempat tinggal seperti ini. Jika dia melihat betapa berantakannya tadi pagi ruangan ini, pasti aku akan malu sebagai wanita” batin Shana merasa lega.
Setelah sekilas melihat-lihat aparteman Shana, Deen pun menuju ruang tengan apartemen itu dan langsung duduk di lantai beralaskan carpet. Deen terlihat santai dan tidak mengomentari apapun terkait tempat tinggal Shana tersebut.
Malah Shana sendiri yang dibuat kaget karena laki-laki itu malah lebih memilih duduk di carpet, padahal ada sofa mini.
“Deen, kenapa kamu duduk di situ? Ini kan ada kursi. Duduk di sini saja” ujar Shana sambil menunjuk sofa di belakangnya.
“Tidak apa-apa, di sini saja” jawab Deen.
“Di lantai juga nyaman kok. Rasanya seperti balik lagi ke zaman dulu” lanjut Deen sambil menatap Shana dan tersenyum.
“Ah, baiklah kalau mau mu begitu. Aku juga akan duduk di sini juga” balas Shana dan menyusul Deen duduk di carpet.
“Santai saja. Kamu tidak perlu merasa tidak nyaman. Ini kan apartemenmu” jawab Deen yang melihat Shana duduk sambil menundukkan kepalanya.
“Eh…? Itu foto-fot kamu, ya?” tanya Deen yang tiba-tiba pandangannya tertuju ke salah satu sudut ruangan Shana.
“Ah, itu… Itu foto-foto lama saya” jawab Shana yang mengikuti arah ke pandangan Deen.
“Boleh saya melihatnya?” pinta laki-laki itu yang diiyakan Shana.
“Tentu saja” jawab Shana. Tetpai dia juga merasa malu karena itu kan foto-foto lama. Wanita itu malah cemas tanpa alasan juga ketika Deen semakin memperhatikan foto-fotonya.
“Ini siapa?” tanya Deen menunjuk salah satu foto Shana bersama dengan tampilan wajah mereka yang telihat bertingkah konyol.
“Itu teman satu kelasku dulu. Dan yang cewek itu teman dekatku bernama Myesha. Kami sudah berteman semenjak kecil” jawab Shana.
“Oh…”
“Saat orangtuaku meninggal, dia teman yang bisa menemaniku. Aku sangat bersyuku punya teman seperti dia” lanjut Shana menjelaskan. Karena Shana sendiri juga merasa kalau Myesha sudah dia anggap seperti keluarga.
“Aah, begitu ya.”
Deen masih memperhatikan foto-foto yang terpajang di hadapannya. Laki-laki itu berpikir jika kehidupan Shana sangat menarik sekaligus terasa asing juga. Deen merasa jika kehidupan yang di jalani Shana mirip seperti kehidupannya sendiri. Tetapi, ada yang berbeda juga.
“Lain kali, seringlah mengundangku datang ke sini” ujar Deen membuat Shana kaget.
“Apaaa…?”
__ADS_1
“Kenapa kamu kaget begitu? Aku memintamu mengajak aku ke sini karena masih banyak hal lain lagi yang ingin aku ketahui tetang kamu” jawab Deen menjelaskan sambil menatap Shana dengan wajah tersenyum.
“Kamu harus menceritakan semuanya tentang kamu padaku” lanjut laki-laki itu.
“Tentu saja dimulai dari sekarang” ujar dia sambil memegang pipi Shana dan mendekatkan wajahnya membuat Shana tiba-tiba jantungan.
Shana tidak bisa berpikir jernih karena merasakan betapa dekatnya jarak antara wajah mereka. Tetapi, dia juga tidak mau mendorong laki-laki itu supaya menjauh dari hadapannya.
“Eh… Tunggu dulu. Kenapa aku tiba-tiba merasa aneh, ya? Sepertinya ada yang aku lupakan. Tapi, apa ya…?” batin Shana yang merasa risau sendiri.
Ting… tong…!!!
Bunyi bell apartemen Shana tiba-tiba berbunyi.
“Shana…! buka pintunya. Aku bawa makanan, kalau nggak langsung di manakan nanti basi” ujar Myesha dari luar. Entah suaranya itu di dengar atau nggak, tetapi dia tetap berteriak dari luar.
Ting… Tiing…!!!
Shana pun teringat jika malam ini dia janjian dengan temannya itu akan berkunjung ke apartemennya.
“Shana…! Apakah kmau ada di dalam? Cepat buka pintunya, nanti makanan ini akan basi kalau lama-lama dimakan” ujar Myesha lagi dari luar sambil menekan tombol bell apartemen Shana.
“Aaah, mati aku. Hari ini kan Myesha datang mau bawakan aku makanan. Aku malah lupa karena terlalu senang bertemu dengan Deen.
“Deen, maaf. Aku lupa kalau temanku malam ini akan datanh ke sini” ujar Shana yang gelisah sendiri. Sementara Deen terlihat biasa saja.
Bukannya menjawab pertanyaandari Deeb barusan, Shana malah menarik laki-laki itu.
“Kamu sembunyi di sini saja. Cepat” balas Shana yang membawa Deen ke kamar mandinya dan menyurh Deen bersembunyi di sana.
“Kenapa kamu meyurhku sembunyi di dalam kamar kamandi seperti ini? Bukannya akan lebih baik jika kita berdua menemuinya. Kan dia temanmu?” ujar Deen seraya bertanya.
“Teman atau tidak, bukan itu masalahnya” jawab Shana kelimpungan sendiri.
“Trus masalahnya apa? Masak aku tidak beoleh bertemu dengan temanmu?” balas Deen sambil melihat wajah ppanik dari wanita di depannya itu.
“Aku sering menceritakan hal buruk mengenaimu ke dia. Kalau bertemu dalam kondisi seperti ini, tidak akan bagus untuk kita berdua” ujar Shana dengan perasaan bersalah karena dia pernah hanya melihat dari segi buruk mantan atasnnya itu yang sekarang malah menjadi pacarnya.
Sebelumnya Shana kan sangat benci dan kesal kepada Deen. Tetapi sekarang mereka bedua malah sudah pacaran. Kalau Myeshan mendengar itu kan akan menjadi bumerang sendiri bagi Shana.
“Memangnya
kamu ngomong apa sa…”
__ADS_1
Belum selesai deen ngomong, Shana langsung mendorong laki-laki itu masuk ke dalam kamar mandi dan meninggalkan Deen di dalam sana. Sementara Shana sendiri langsung pergi berlari menuju pintu apartemennya.
“Huuff…! Lama sekali. Aku pikir kamu sudah tidur” ujar Myeshan saat Shana sudah membuka pintu apartemennya.
Dengan napas sedikit ngos-ngosan, Shana meminta Myesha masuk ke dalam.
“Masuklah, maaf membuatmu menunggu lama di luar” balas Shana dengan wajah terlihat capek karena dia berlari tadi.
“Kamu baik-baik saja, kan?
Shana bukannya menjawab Myesha. Dia malah membahas hal lain untuk menaglihkan pertanyaan dari temannya itu.
“Padahal kan kmau juga baru balik dari kantor. Terima kasih, ya?” ujar Shana yang membantu Myesha membawakan kotak makanan dan meletakkannya di atas meja yang ada di ruang tengahnya.
“Tidak apa-apa, kok. Kan rumah kita lumayan dekat.”
“Hah…
ternyata lenganku lumayan pegal juga. aku ke kamar mandi bentar, ya? Tunggu aku
biar kita makan barenang” ujar Myeshan yang langsung berjalan menuju di mana
letak kamar mandi temannya itu.
“Eeeh…! Sha, tunggu sebentar” panggil Shana panik setengah mati ketika melihat Myesha berjalan dengan langkan panjang ke kamar mandi.
Tetapi Shana sendiri tidak bisa berbuat apa-apa karena temannya itu sudah membuka pintu kamar mandi itu. Dan…
“Sha…! Jangan…!!!”
Bruugghh…!!!
Myesha menabrak sesuatu yang keras di depannya. Dan dia sedikit merasa kesakitan juga. Wanita itu sangat kaget setelah dia menyadari jika yang dia tabrak itu adalah manusia.
Myesha pun melihat orang di depannya itu mulai dari bawah sampai ke atas. Hingga dia melihat wajah Deen yang juga terlihat kaget.
“Siapa ini? Di kamar mandi kok ada laki-laki…”
“Aaarrgggkkk….!!!”
Myesa berteriak saking merasa paniknya dirinya nya.
“Ma-maling…!!! Apa kau laki-laki yang suka diam-diam mengikuti wanita? Shana, cepat panggilkan polisi. Ada orang lain di dalam kamar mandimu” terak Myesha yang terlihat panik dan kemudian dia menutup mulutnya supaya tidak berteriak lebih kencang lagi.
__ADS_1
“Myesha, anu…”
“Itu…”