Jatuhnya Sang Bintang

Jatuhnya Sang Bintang
Bab 10 Menghujat Takdir


__ADS_3

Ayudia masih belum menerima kenyataan, ia justru mencari-cari alasan bagaimana orang yang tak terlalu pandai justru bisa lolos.


“Ayudia heran deh, Pak!” Mana mungkin si Heny yang lolos malah? Aneh banget. Jadi curiga aku kalau ada permainan dalam tes itu!” Akhirnya saat makan malam tiba dan ayah serta ibunya memaksa untuk ikut makan malam, Ayudia tetap membahas hal yang menurutnya mencurigakan itu.


“Itu namanya sudah rezekinya Heny, Nak. Barangkali juga karena dia tulus nolongin kamu mencari Bapak waktu itu, padahal dia belum selesai loh mengerjakan soalnya, tapi dia bela-belain cariin Bapak di tenagh kerumunan orang yang menunggu. Allah mungkin aja kasih hadiah dari ketulusannya itu,” jawab Pak Anwar yang pada dasarnya memang sangat mempercayai apa yang disebut keajaiban Illahi.


Pak Anwar sudah mencapai titik keimanan di mana ia pasrah akan apa pun ketentuan dari Allah dan tetap merasa semua yang diterimanya ialah yang terbaik dari Allah untuk keluarga mereka. Hanya sayang sekali sifat itu belum bisa diajarkannya dan diturunkan kepada Ayudia yang masih terlalu labil. Jiwa mudanya yang masih menggebu-gebu itu tetap tak mau terima soal kekalahannya dibandingkan dengan Heny.


“Tapi, Pak, jelas-jelas Heny biasanya itu nggak ada apa-apanya kalau dibandingkan sama aku. Tapi kok bisa-bisanya dia lolos sementara aku nggak? Beneran aneh! Apa mungkin dia curang, ya?”


“Dia! Jangan suuzon gitu! Lagipula mau curang bagaimana? Tes seleksinya kata kamu ketat banget kayak gitu, ada tiga pengawas dalam ruangan dan tidak ada kesempatan untuk saling mencontek, kan, karena meja-mejanya yang berjauhan?” Pak Anwar menegur putrinya yang mulai kebablasan.


“Ya siapa tahu lewat jalur belakang, Pak? Menyogok misalnya?” ucap Ayudia semakin ngawur.


“Kamu ini! Heny itu sama dengan kita ekonomi keluarganya. Pas-pasan. Pakai apa dia menyogok segala, Dia! Jangan ngawur, ah!” Kini Bu Nani ikut menegur sang putri yang kelewatan.


Bu Nani dan Pak Anwar saling pandang. Mereka harus membicarakan perihal kepribadian Ayudia yang ternyata jauh dari perkiraan. Mereka sungguh tak mengira kalau putri mereka ternyata sepicik itu pikirannya. Sungguh di luar dugaan. Selama ini di mata mereka Ayudia adalah anak yang baik dan cerdas, namun kegagalan kali ini justru memperlihatkan sisi lain putri mereka.

__ADS_1


Ayudia yang merasa tak mendapat dukungan di situ pun akhirnya masuk lagi ke dalam kamarnya sendiri. Paling tidak, di kamar tidak ada orang lain yang membantah apa yang menjadi isi kepalanya. Mereka pasrah saja memperdengarkan omelan serta rutukannya atas takdir yang tak adil, juga atas kemalangan beruntun yang terus saja menimpa dirinya.


Sementara itu, Pak Anwar dan Bu Nani sudah berpindah ke teras depan untuk duduk-duduk sambil biasanya Pak Anwar merokok sehabis makan di sana. Mereka memperbincangkan perihal kelakuan Ayudia yang semakin hari semakin aneh saja.


“Kenapa kita sampai kelewatan seperti ini, ya, Pak? Dia ini Ibu pikir dulu nggak sekaku ini, loh. Apa Ibu emang kurang perhatian ya?” Bu Nani mengawali obrolan.


Pak Anwar tampak mengembuskan napas panjang yang disertai kepulan dari sebatang asap rokok yang baru saja disulutnya itu.


“Mungkin kita selama ini terlalu bangga atas semua prestasinya di sekolah, Bu. Hingga lupa belum pernah mendasarinya dengan akhlak yang cukup,” jawab suaminya. Sesal Pak Anwar yang kadang sedari kecil sering memuji anaknya disaat Ayudia ada disana. Sehingga tanpa disadari sedari kecil ia memang selalu merasa menjadi orang nomor satu. Tak disadari bagi Ayudia sunggu memalukan jika tidak pintar.


“Astaghfirullah. Padahal Nak Elvira itu bukannya sahabat yang paling dekat dengan Dia, ya, selama ini?” tanya Pak Anwar heran.


“Makanya itu, Pak. Ibu sampai lupa juga nggak minta maaf ke Elvira karena dia sampai berkaca-kaca gitu seperti mau nangis. Pas Ibu tanya katanya cuma salah paham,” kata Bu Nani melanjutkan cerita.


“Semoga aja mereka nanti bisa mengatasi masalahnya. Sayang sekali kalau persahabatan selama sekolah sampai hancur cuma karena kesalahpahaman sedikit,” komentar pak Anwar lagi.


Tampak pak Anwar berpikir keras dimana kesalahan nya dalam merawat Ayudia.

__ADS_1


“Enaknya gimana, ya, Pak? Ibu kayaknya mau nyuruh Dia ke pengajian sama Ibu tapi Bapak tau sendiri kan dia itu tidak pernah mau.” Bu Nani kembali mengutarakan kecemasannya.


“Ya biasanya nggak mau itu kan ada alasannya karena sibuk, Bu. Cobalah nanti Ibu ajak lagi. Kan sekarang Dia udah nggak sibuk, tuh. Mungkin aja mau setelah ini,” saran sang suami.


“Iya deh. Semoga aja mau. Kalau di pengajian biar dia mendengarkan tauziah ustazah-ustazah sering bahas soal akhlak, Pak. Lumayan biar Dia nggak begitu terus sikapnya.”


Kurangnya berorganisasi menjadi penyebab Ayudia tak memiliki rasa empati dan simpati.


Dan perbincangan berakhir. Bu Nani kembali ke dapur dan membereskan cucian sisa makan malam seorang diri. Ayudia jarang sekali membantu pekerjaan rumah meskipun kerjanya di rumah terus. Biasanya Bu Nani akan membiarkannya saja karena dikiranya di dalam kamar Ayudia sedang asyik belajar. Kasihan kalau diganggu. Toh ia bisa mengerjakannya seorang diri.


Ia tak menyangka bahwa pemakluman yang seperti itulah yang justru malah membuat Ayudia keenakan dan terbiasa malas serta tak peka dalam pekerjaan rumah dan jerih payah orangtuanya. Ia terlalu dimanja hanya karena ia anak semata wayang sehingga menjadi kesayangan.


Sementara di dalam kamarnya sendiri, Ayudia kini mengisi diarynya dengan berbagai rutukan kekesalan yang ia tujukan pada Allah, kepada Elvira, juga ditambah dengan Heny. Rasanya kalau berada di dekat dua temannya itu, ia mau memaki mereka sepuasnya. Mengatai Heny curang atau melakukan hal tidak benar lainnya. Pokoknya membeberkan tuduhan sepihaknya yang sama sekali tidak berdasar.


“Beruntung kata Bapak? Ish! Keberuntungan aja nggak cukup! Orang itu harus kaya raya seperti Elvira baru bisa gampang mendapatkan apa yang diinginkan! Kuliah beres tinggal berangkat, cowok yang ditaksir juga gampang tinggal pilih. Para cowok itu pasti langsung bersedia menjadi pacar gadis kaya sepertinya! Huh! Dunia emang seringkali nggak adil padaku!” Gumam Ayudia.


Sambil mengomel, ia menarikan pulpen di atas kertas diary dengan huruf-huruf besar, menandakan ia tengah berbicara dengan menahan kesal. Ia hanya menghabiskan waktu melakukan hal itu karena belum tahu apa rencana untuk kehidupannya kemudian. Mau apa lagi Ayudia, Kuliah sudah tidak bisa. Harus menunggu tahun depan jalur beasiswa. Kuliah di jalur umum orang tua tak kuat biaya, namun Ayudia sudah terbiasa melakukan sesuatu untuk mendapatkan pengakuan orang lain.

__ADS_1


__ADS_2