Jatuhnya Sang Bintang

Jatuhnya Sang Bintang
Bab 37 Undangan Nikah


__ADS_3

Beberapa hari kemudian di kantor, Ayudia sudah mencoba untuk bersikap secuek mungkin. Yang penting ia melaksanakan tugasnya sebaik mungkin dan menghindari melakukan kesalahan sedikit pun. Mungkin dengan begitu hidupnya akan aman meskipun harus seruangan dengan si pria kulkas bos galaknya itu.


Dalam hati ia juga sambil berharap si Mbak Rasty akan segera kembali dari entah urusan apa yang mengharuskannya cuti agak lama itu. Rupanya gosip dipecat itu cuma isapan jempol belaka. Entah dari mana kabar beredarnya. Yang jelas dari sumber terpercaya, Pak Joni sendiri pernah bilang bahwa Ayudia akan kembali ke pekerjaannya di staff admin setelah Rasty sudah kembali lagi ke kantor.


Mendengar itu Ayudia sangat lega dan jadi berkurang banyak sekali beban di pundaknya. Rasanya plong sekali kalau dirinya tak harus terus-menerus seruangan dengan Pak Joni. Mau dikatakan seberapa tampan atau berkharismanya pria itu pun oleh Dewi dan teman-teman ceweknya yang lain, pokoknya Ayudia nggak suka sama sekali. Habis perkara!


“Duh, aku nih deg-degan banget deh udah mau ujian semester aja!” Giliran Elvira yang kini seringkali bercerita pada Ayudia dengan curhatan absurd mengenai permasaahannya dalam perkuliahan. Kini Elvira memang sedikit lebih terbuka masalah itu karena dia sudah yakin Ayudia tak akan sensitif lagi mengenai cerita-ceritanya. Ayudia sudah nyaman dengan kehidupannya sebagai karyawan dari perusahaan tempatnya kerja saat itu.


“Ngapain deg-degan sih? Aku kok yakin banget kamu pasti bisa dapet nilai bagus. Gak mungkin nggak deh!” Ayudia memberikan dorongan semangat karena ia memang yakin kalau temannya yang satu itu memiliki otak yang cukup encer dan juga rajin belajar serta mengerjakan tugas selama ini. Menurutnya Elvira tidak akan sampai bermasalah mengenai nilai.


“Tapi kali ini beda, Dia. Aku insecure banget soalnya dosen yang mata kuliah ini aku kurang suka. Craa ngajarnya nggk cocok sama aku jadinya tiap jam kuliah beliau aku jarang banget memperhatikan. Jadi cuma belajar secara mandiri di rumah sama banyakin diktat aja. Takutnya nanti malah gak sama lagi sama materi yang diujikan. Nyesel aku gak merhatiin pas beliau ngajar.” Elvira berkata mengutarakan duduk permasalahannya.


“Coba kamu diskusi sama salah satu temen sekelas di mata kuliah yang itu. Tanyain pemahaman kamu sama konsep-konsepnya sama gak dengan yang selama ini diajarkan. Atau lebih baik lagi kamu pinjem aja catatan dia buat dicopy lalu dikaji ulang sendiri,” saran Ayudia sambil memikirkan cara terbaik untuk mengatasi masalah Elvira tersebut.


“Huuuh, coba ada kamu di sini, ya. Kan dulu biasanya aku diskusinya selalu sama kamu, Dia!” ucap Elvira lagi dengan nada penuh penyesalan.


“Wkwkwk, lagian kalau aku jadi kuliah juga aku pastinya nggak akan satu jurusan juga, kan. Minat kita jauh berbeda, haha.” Spontan Ayudia tergelak membayangkan Elvira yang jadi kembali flash back ke masa SMA mereka yang indah dulu.


“Atau coba minta bantuan David  gih. Bukannya kalau sama dia biasanya belajarnya akan makin semangat, hehehe.” Ayudia lantas membelokkan percakapan ke arah romansa sahabatnya yang selama ini dihindari oleh Elvira untuk dibahas di antara mereka.


“Apa’an, dia mah santuy sekali. Mau ujian juga malah sibuk latihan basket sana-sini, sibuk mau ikut kompetisi! Dah lah mana ikut banyak organisasi lagi. Entahlah, dia itu kayaknya gak terlalu mematok target tinggi untuk nilai. Dia bilang asal lulus aja udah oke, astaga!” Elvira menceritakan perangai David yang sebetulnya kurang disukainya itu. Baginya, David kurang bersikap idealisme seperti dirinya yang menuntut perfeksionis dalam hal pendidikan.


“Hehehe, udah kebayang sih. Masa’ alasan dia kuliah di universitas itu kan juga karena kamu kuliah di situ, El, terniat emang cuma mau nyari jodoh dia tuh!” Ayudia malah mengomentari dari sisi bucinnya.


“Ah, bukan, kok. Soal tempat kuliahnya dia emang asli minat ke sini karena kan kakaknya dulu juga alumni sini, Dia. Makanya dia udah nggak repot lagi dulu cari kosan dan sebagainya, udah tinggal dikontakin sama abangnya itu. Malah sering banget dia dikirimin banyak makanan oleh temen-temen abangnya yang masih kerja di sekitaran sini,” cerita Elvira akhirnya.


“Oooh ... gitu, ya. Kirain cuma karena kamu loh, xixixi.” Ayudia kembali terkekeh geli oleh dugaannya sendiri itu.

__ADS_1


“Nggak sebucin itu lah!” bantah Elvira kemudian.


“Ya udah aku gak ganggu lagi, deh. Kamu belajar lagi dulu aja, gih!” titah Ayudia seraya pamit untuk mengakhiri percakapan mereka.


***


Berada dalam situasi kesendirian di mana sudah banyak temannya yang mulai berpasangan meskipun belum resmi menikah, minimal sudah punya gandengan untuk diperkenalkan ketika berkumpul bersama banyak teman. Ayudia mulai merasa dirinya pun harus mulai bisa membuka hati untuk lelaki. Rasanya selama ini dia masih terlalu cuek dan tidak merespon bila ada teman pria yang mendekat, sekedar mengajak kenalan atau kalau sudah kenal, mengobrol lebih dekat.


Malah, biasanya kalau terasa ada pria yang mendekatinya, Ayudia akan serta-merta menjauh sedikit demi sedikit. Mau bagaimana lagi, ia terlalu memasang target tinggi. Ia ingin punya kekasih nanti adalah pria yang lulusan sekolah tinggi, atau masih mahasiswa ya boleh lah, yang penting pria itu juga harus mirip dengan David. Tapi mana bisa keinginan seperti itu terpenuhi, pikir Ayudia..


Bagaimana Ayudia bisa kenal sama mahasiswa kalau lingkup pertemanannya hanya di seputar pabrik saja? Tentunya yang dikenalnya pun juga sebatas sesama karyawan pabrik pula. Beberapa kali dia nekat saing add dengan list pertemanan di akun Elvira. Berharap kalau akan ada teman Elvira yang mengajaknya berkenalan lalu mungkin saja mereka bisa menjalin kedekatan. Tapi rupanya tidak ada yang klik di hatinya. Tidak ada yang mirip dengan David, seperti yang diinginkan olehnya.


“Apa ini, Dew? Astaga! Kaget banget. Kamu diem-diem udah mau nikah aja, wow!” Suatu hari Ayudia dikagetkan dengan Dewi yang mendadak membagikan undangan ke seisi ruangan sambil senyum-senyum sendiri tanpa dosa.


Bahkan beberapa teman seruangan yang lain juga menggetok kepalanya karena selama ini merasa kena prank sebab Dewi selalu saja mengaku dirinya jomblo akut yang butuh dikenalin sama pria cakep. Kan aneh kalau mendadak ada undangan.


“Akhirnya kakakku nikahnya malah sama tetangga sendiri. Jauh-jauh kerja di luar jawa, udah pacaran dan bahkan tunangan sama wanita di sana, ehh rupanya berjodohnya sama wanita tetangga sendiri. Agak lucu aja endingnya waktu itu. Ya emang perjalanan jodoh nggak ada yang tahu, kan. Makanya aku hati-hati banget yang waktu itu, setelah lamaran aku belum mau woro-woro. Inget gak sih kalian yang kubilang abis dari Klaten itu? Nah, itu acara lamarannya tuh.” Panjang lebar Dewi bercerita.


“Gila ya! Tega bener nggak cerita sama kita! Untung kami nggak kagetan, ya!” Ayudia berkata masih dengan nada menyalahkan sikap Dewi. Serasa tidak terima saja kalau mereka yang teman dekat satu ruangan, setiap saat bertemu di kantor tetapi malah menjadi orang terakhir yang tahu kabar pernikahan Dewi. Di saat sudah mendekati hari H pula.


“Hehehe, maaaf! Kan udah kuceritain itu tadi alasannya. Yang udah lamaran aja belum tentu jadi nikah. Kata kakakku juga dia wanti-wanti aku untuk jangan koar-koar dulu sebelum beneran fix tanggal nikahnya, biar nggak pamali dan sial kayak yang dia alami. Maksudnya bukan soal sial karena beristri tetangga sendiri sih. Kakakku udah bahagia juga kok sekarang. Anaknya lucu banget, gemesin pokoknya.”


“Lalu jadi pak Joni ini bebas diambil alih dong, ya?” pekik salah satu teman mereka yang lain. Spontan seisi ruangan terkekeh geli.


“Bebasss. Ambil aja kalau boleh sama Ayudia, wkwkwk!” Giliran Ayudia kini yang kena bully.


“Ih, kok aku sih! Terserah kalian ambil aja tuh siapa aja yang mau!” tukas Ayudia kesal. Ia kini asyik memandangi undangan cantik di tangannya. Ditelitinya foto pre wedding Dewi dengan calon suaminya yang tampak tampan dan keren. Ia jadi seketika ingin fotonya bersama sesosok pria baik juga akan segera nampang di surat undangan pernikahan seperti yang dipegangnya itu.

__ADS_1


“Estetik ya undangannya,” komentarnya menghalau pikiran melanturnya.


“Oh, nanti kalau kamu mau pesen juga boleh aku kasih kontaknya, bagus-bagus desainnya,” jawab Dewi berpromosi.


“Oke,” jawab Ayudia ngawur. Yang mana jawaban itu langsung ditimpali oleh seisi ruangan bahwa Ayudia juga sama, punya rencana jangka pendek untuk mengejutkan mereka dengan datangnya surat undangan nikah yang dadakan.


“Nggak lah, beluuuum. Kan aku cuma bilang iya doang. Maksudnya ya iya nanti kalau emang mau nikah ordernya ke situ, ih salah paham deh!” anulirnya buru-buru.


“Lagian aku mau nikah sama siapa? Pacar aja belum ada,.” Ayudia menertawakan leluconnya sendiri. Ia memang selama ini tak terpikirkan untuk menjalin hubungan yang bernama pacaran karena fokus pada cita-citanya fokus pada kerja.


Jam makan siang itu mereka habiskan dengan mencecar Dewi soal acara pernikahan dadakannya itu.


“Enggak dadakan banget, kok. Persiapan keluarga udah mateng lama. Ini cuma dadakannya dalam hal undangan aja, cuma biar nggak pamali, seperti kataku tadi,” bantah Dewi.


“Jadi kita nggak ada yang perlu jadi bridesmaid nih?” tanya salah satu teman mereka—Helen--yang memang centil serta suka sekali berdandan itu. Kesempatan jadi bridesmaid tentu sangat ditunggu-tunggu olehnya.


“Boleh dong kalau emang ada di antara kalian yang mau. Aku belum mengutus siapa pun. Kalau terpaksa kalian pada sibuk ya palingan aku bisa nyuruh sepupu atau tetangga aja yang lagi free. Aku sadar sih kalian soalnya juga nggak akan gampang nanti minta cutinya, apalagi bulan ini banyak deadline pengiriman, kan.” Dewi menjelaskan kondisinya.


“Bener juga. Tapi aku booking satu tempat, ya. Sama Ayudia, ya Dia?” paksa Helen sambil menatap Ayudia memohon.


“Ih, aku ogah ah didandanin gitu!” tolak Ayudia. Sebagai wanita, Ayudia memang teralu jarang make up. Ia lebih suka dandanan simple dan hanya dipoles lipstik dan bedak saja. Bahkan bisa dihitung hanya beberapa kali saat kondangan saja ia bersedia memakai make up agak lebih tebal dar biasanya.


“Loh, gak apa dong, Dia. Kan katanya kamu mau cepetan dapat jodoh? Kalau jadi bridesmaid biasanya akan cepet nyusul nikah juga tuh,” bujuk Helen dan diiyakan oleh yang lain.


“Bener tuh, Dia. Yang masih single aja yang jadi bridesmaid, biar cepet ketularan,” kata Mbak Jihan yang sudah menikah lumayan lama meskipun belum dikaruniai anak itu.


Ayudia pun diam tak membantah. Ia tak suka didandanin untuk acara seperti itu, tetapi kalau memang katanya akan jadi bikin cepet dapat jodoh ya bisa dicoba juga, sih. Mukanya memerah malu sendiri sudah memikirkan hal itu.

__ADS_1


'Boleh kali ya... namanya juga usaha, kan doa sudah tiap malam.' cicit Ayudia dalam hatinya yang mulai galau perihal jodoh.


__ADS_2