Jatuhnya Sang Bintang

Jatuhnya Sang Bintang
Bab 30 Pilihan


__ADS_3

“Apa benar kamu nggak ingin mencoba kuliah dulu aja, Dia? Bapak dan Ibu sekarang sudah membaik keuangannya. Kita bisa usahakan kalau memang kamu masih sangat ingin melanjutkan impian, Nak.” Malam itu juga Pak Anwar menanyai putrinya.


Ayudia tampak tegas saat menolak usulan tersebut. “Tidak, Pak. Dia udah berpikir panjang. Dan rasanya Dia juga udah nggak berminat lagi kuliah. Hanya akan menghabiskan uang dan lagipula Dia rasa kemampuan Dia juga udah menurun setelah setahun vakum nggak pernah belajar.”


Pak Anwar mendesah panjang. Entah itu kelegaan atau justru rasa kecewa karena rupanya Ayudia sudah berputus asa dari mimpinya. Namun, orang tua bijaksana dan penyabar itu tidak pernah memaksa putrinya untuk melakukan apa pun. Ia sepenuhnya menyerahkan keputusan atas hidup Ayudia kepada pilihannya sendiri. Karena beliau yakin putrinya pasti tahu yang paling baik untuk dirinya sendiri yang mana.


“Ya udah, Bapak hanya memberikan pilihan. Kamu boleh berubah pikiran dan kita akan mempersiapkan kembali agar kamu bisa kuliah tahun ini meskipun bukan di ikatan dinas yang sulit bersaing itu, Nak.” Pak Anwar memberikan pandangannya lagi. Ia hanya takut kalau Ayudia akan menekan lagi impiannya yang akhirnya berujung kepada tekanan batin lalu nanti bisa meledak dan membuat mentalnya oleng lagi.


Ayudia lantas menggelengkan kepalanya yakin. “Nggak, Pak. Udah fix. Ayudia mau kerja lagi aja. Ini aja aku udah mulai hubungin temen aku yang anak HRD untuk coba nitip lamaran lagi.”


Dan benarlah apa yang dikatakan oleh Ayudia. Kemarin ia telah mencoba menghubungi Dewi, teman SMA-nya yang bekerja di pabrik yang sama dengannya dulu tapi di bagian kantor. Dan syukurnya Dewi menyanggupi akan membantu Ayudia untuk ikut tes di staff administrasi saja nanti. Hanya tinggal menunggu panggilan untuk interview.


“Begitu, ya? Yah, syukurlah kalau begitu. Bapak ini yang penting kamu nyaman aja udah senang, Nak. Kamu nggak boleh terbebani lagi, ya. Kalau ada masalah juga langsung bilang sama Ibu atau Bapak. Jadi kita bisa bahas bersama dan nggak akan sampai berlarut-larut, ya?” pinta Pak Anwar lagi.

__ADS_1


Bu Nani muncul dari belakang sambil membawa nampan berisi kopi untuk suaminya dan sepiring tape goreng yang baunya sudah sejak tadi menguar ke teras depan rumah mereka itu. Mereka kini sering sekali mengobrol bertiga di teras pada sore hari sambil minum teh hangat atau kopi dan juga menikmati kudapan seadanya yang disuguhkan.


“Emang biasanya gitu sih, Pak. Kalau udah ngerasain punya duit sendiri, jadi malas belajar, hehehe,” komentar Bu Nani sambil mengelus lengan putrinya lembut.


“Ibu nih! Bukannya gitu, Bu. Habisnya Ayudia ini kan perfeksionis. Dan kayaknya setelah vakum setahu Dia udah nggak yakin deh akan masih bisa berprestasi nanti. Kalau nggak berprestasi lagi sih ogah lah, ya. Mendingan kerja aja.” Ayudia mengutarakan alasannya menolak untuk kuliah.


 Lagipula ia juga tak mau kalau terus memaksakan keinginan kuliah itu padahal orangtuanya pasti juga menawari dengan pertimbangan takut Ayudia kumat lagi penyakitnya bila tidak dituruti. Uang tabungan mereka saja sudah terkuras untuk biaya pengobatan Ayudia yang tidak sedikit. Setelah sembuh, masa’ dia masih mau menguras lagi uang mereka? Tidak sekejam itu lah.


Sedikit demi sedikit Ayudia juga memperbaiki sikapnya saat bersosialisasi. Untungnya, Elvira sering bernasihat melalui telepon. Untuk jangan menutuo diri lagi, untuk tidak membatasi bergaul dengan siapa saja. Pokoknya manfaatkan setiap kesempatan untuk bergaul sebisa mungkin. Karena rupanya circle pertemanan itu juga akan sangat berpengaruh terhadap keseimbangan mental manusia. Karena mau tidak mau, manusia itu tercipta sebagai makhluk sosial yang butuh bergaul dengan manusia lain dan juga lingkungan.


Elvira terkekeh geli membayangkan Ayudia yang katanya sama tetangga satu gang saja ada yang orang baru dan tidak kenal sama sekali. Ya ampun! Itu sungguh keterlaluan menurutnya.


“Ya betul gitu emang, Dia. Pokoknya mumpung sekarang kamu masih libur belum mulai kerja lagi, kamu banyakin dulu lah bergaul sama tetangga. Minimal hafal nama mereka dan saling sapa kalau ketemu di jalan. Biar nggak dibilang sombong juga, kan.” Panjang lebar Elvira menceramahi temannya itu.

__ADS_1


Ayudia hanya mengangguk dan menyanggupi apa pun saran yang dilontarkan oleh Elvira. Ia memang sudah secara jujur bertanya pendapat Elvira mengenai dirinya dan minta dia menyarankan harus berubah menjadi yang seperti apa agar bisa seperti Elvira yang bisa santai bersosialisasi dengan siapa pun tanpa kesulitan.


Karena itulah kini Elvira bersikap bak penasihat pribadi dan konsultan gratis untuk Ayudia. Kapan pun temannya itu butuh membicarakan apa pun, ia akan selalu siap menjadi pendengar yang baik dan motivator yang bagus. Dan menurut Elvira sendiri, Ayudia sudah mengalami banyak sekali kemajuan mengenai perbaikan sikap dan sifatnya. Kepribadiannya mulai terbentuk lebih positif dan perlahan juga meninggalkan kebiasaannya yang buruk-buruk sebelumnya, seperti memandang orang lebih rendah dan juga merasa diri paling hebat di antara yang lain.


“Oh, ya. Doain aku bisa lolos ya nanti pas interview di bagian admin. Kata Dewi ada lowongan di admin. Untuk gantiin orang yang cuti hamil gitu. Makanya ini kesempatan aku diajuin sama dia.” Ayudia bercerita mengenai kesempatan yang diberikan oleh Dewi untuknya itu.


“Wah, kapan itu, Dia? Ya Allah,semoga lancar dan diterima, ya. Kamu harus PD dan jangan gugup. Itu sih yang paling penting. Kalau soal kemampuan aku yakin kamu sanggup lah. Semoga sukses, Dia!” pekik Elvira yang jadi sangat bersemangat mendengar kesempatan bagus untuk temannya itu.


“Aamiin Ya Allah. Semoga aja, sih. Soalnya kan enak kerjanya nanti di kantor. Udah nggak akan berjibaku dengan target produksi setiap hari. Belum lagi juga udah bisa lepas dari omelan mandor yang nyakitin kuping tiap hari, ehehe.”Ayudia berkata menjelaskan benefit yang akan diterimanya bila berhasil lolos nanti.


Biasanya kalau hanya lulusan SMA, akan jarang sekali bisa menembus bagian lain selain karyawan produksi. Namun, karena kali ini ada link dalam yaitu Dewi yang menginformasikan lowongan tersebut dan berkata akan membantu memasukkan CV Ayudia di bagian administrasi itu, maka terbuka kesempatan baginya untuk menguji kebolehan dalam tes wawancawa nantinya.


“Pasti kamu lolos. Aku yakin. Nanti aku doain juga pasti. Semangat terus, ya, bestieee ...!” Kembali Elvira memekik menyemangati. Ayudia sampai terkekeh sendiri melihat betapa semangat temannya itu. Memang Elvira itu totalitas sekali dalam mendukung teman. Dan itu juga dilakukannya kepada siapa pun teman lainnya. Bukan hanya Ayudia. Lagi-lagi terbitlah kekaguman Ayudia pada sosok sahabatnya yang satu itu.

__ADS_1


 


__ADS_2