Jatuhnya Sang Bintang

Jatuhnya Sang Bintang
Bab 6 Yakin atau Tidak?


__ADS_3

Karena memang pengisian data telah selesai dilaksanakan di jam awal, memang Ayudia pingsan akan tetapi karena Ayudia telah menyelesaikan semua soalnya, ia pun tak perlu kembali ke ruangan atau butuh melakukan apa pun selain pulang.


Ya, setelah cukup beristirahat sebentar dan merasa tubuhnya kembali fit, Ayudia mengajak ayahnya pulang dengan meyakinkan beliau untuk memboncengnya saja kembali.


“Kalau kamu masih nggak enak badan kita bisa naik bis saja. Biar bapak bermotor sendiri, nanti bapak tunggu di terminal,” kata Pak Anwar kembali.


“Tidak, Pak. Dia lebih baik naik motor kalau daripada naik bis. Soalnya malah mual bau keringat banyak orang siang-siang begini,” jawabnya yakin.


Maka mereka pun pulang dengan tetap mengendarai motor butut Pak Anwar. Sesampai di rumah ia menelepon Heni dan mengucapkan terima kasih atas bantuannya tadi.


“Makasih, ya, Hen. Kata Bapak kamu yang nyari-nyari beliau di aula untuk ngasih tau aku pingsan di klinik,” katanya di telepon yang langsung dijawab oleh Heni dengan rentetan pertanyaan.


“Eh iya ini aku mau nelfon kamu juga, Dia. Tadi dari ruangan aku masih nunggu temen-temen untuk nengok kamu ke klinik, tapi rupanya saat kami ke sana kamu udah nggak ada,” cerocos Heni tanpa menjawab perkataan Ayudia.


“Iya, aku langsung pulang duluan sama Bapak karena toh udah nggak perlu balik ke ruangan lagi kata pengawasnya tadi,” jawab Ayudia.


“Iya, lembar jawaban kamu dilihat sudah penuh tadi di meja, jadi langsung ditumpuk sama pengawas bersama dengan lembar jawaban kami semua. Tapi kamu udah nggak apa-apa, tuh, Dia? Hebat banget aku aja pas nolongin kamu itu masih kurang sekitar tiga puluh soal lagi,” lanjut Heni masih terus menjelaskan.


“Aku buru-buruin, Hen. Ada banyak yang pakai trik ngawur, hikz,” jawab Ayudia menyesali hasil yang pastinya akan jauh daripada saat ia sedang sehat.


“Tapi bahkan kalau aku ngawur pun pakai mikir panjang dan pasti masih lama gitu loh. Kamu cepet amat padahal lagi nahan pingsan,” komentar Heni kagum.


“Duh, aku kenapa ya kok setiap kali ujian penting malah sakit? Yang pas ujian nasional kena gejala tipes. Terus ini tadi tes masuk ikatan dinas malah pingsan gara-gara masuk angin. Ya ampun! Kena karma atau apa sih?” Ayudia mengeluh sambil prihatin atas nasibnya sendiri.

__ADS_1


Heni yang tak tahu harus menghiburnya bagaimana pun hanya bisa berkata menenangkan, “Halah tenang aja, kalau kamu sih aku yakin pasti lolos, deh.”


Hiburan itu sedikit menenangkan meskipun masih juga ada keraguan. Mereka kemudian mengakhiri perbincangan telepon dan Ayudia kembali berkumpul dengan ayah dan ibunya di ruang TV. Ia kembali membahas kenapa dirinya selalu saja sial saat ujian penentuan.


“Bukan sial itu, Dia. Kamu aja yang nggak mau sarapan saat mau berangkat,” tegur Bu Nani yang juga sedikit menyesali kenapa dia tak berhasil memaksa putrinya sarapan yang banyak dulu saat akan berangkat.


“Tapi Dia sarapan kok, Bu,” bantah Ayudia sedikit memonyongkan bibirnya protes.


“Iya sedikit sekali, nggak kayak biasanya. Padahal itu malah mau bermotor jauh, kan harusnya malah butuh banyak energi.” Bu Nani masih berkeras menyesali hal itu.


“Sudah, nggak apa-apa. Yang penting sudah usaha sebaik-baiknya. Sekarang ini yang penting tinggal berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah. Cuma Allah yang akan kasih rezekinya nanti yang terbaik entah Dia lolos atau nggak itu pasti udah yang terbaik dari Allah,” nasihat Pak Anwar yang menengahi perdebatan antara istri dan putrinya tersebut.


Seketika Ayudia dan Bu Nani pun terdiam, menyadari kebenaran perkataan Pak Anwar baru saja. Mereka lantas hanya berharap doa dengan harapan tinggi bahwa Ayudia akan lolos dan diterima nanti.


Malamnya saat Ayudia hendak tidur, Elvira menelepon dan menanyakan bagaimana tesnya tadi siang. Elvira rumahnya dekat dengan Heni dan karena itulah Ayudia malah berburuk sangka kepada sahabatnya itu.


“Loh? Dari Heni? Aku belum ketemu Heni hari ini, Dia. Lagian kan aku tanyanya ke kamu, kok malah kita bahasnya Heni sih?” tanya Elvira tak mengerti.


“Tapi aku tadi satu ruangan sama Heni dan Heni tau semua yang ku alami. Dan aku yakin kamu menelepon cuma mau mengasihani ku dan mengejekku, iya kan?” Kembali tuduhan jahat itu meluncur lancar dari bibir Ayudia.


Elvira yang sama sekali tak mengerti arah pembicaraan Ayudia itu pun bertanya bingung sekaligus heran kenapa Ayudia tampaknya marah terhadapnya.


“Mengasihani dan mengejek kamu? Tapi emangnya apa yang terjadi, sih, Dia? Aku sama sekali belum tau apa-apa loh,” bantah Elvira semakin bingung.

__ADS_1


“Udah! Aku tau kok hidup kamu emang sempurna! Semua rencana dan impianmu teraih dengan lancar tanpa hambatan! Itu kan karena kamu dari keluarga kaya! Jangan hubungi aku lagi!” Ayudia yang tengah di puncak sensitifnya akhirnya terpancing untuk meluapkan amarahnya terhadap sang sahabat yang tak tahu menahu apa yang tengah dialaminya.


Elvira terhenyak kala mendengar pesawat telepon dibanting oleh Ayudia, pembicaraan mereka terputus dengan diakhiri oleh cercaan buruk Ayudia terhadapnya. Padahal dia sama sekali tidak melakukan apa pun selain bertanya bagaimana tes temannya tadi.


“Ya ampun, kenapa sih tuh si Dia?” gerutu Elvira kebingungan.


Karena penasaran, ia pun bergegas keluar untuk ke rumah Heni yang hanya berjarak satu kompleks. Ya, ia sangat penasaran dengan apa yang telah terjadi hingga ia yang kena omel barusan oleh Ayudia.


Sesampai di rumah Heni, Elvira bercerita bahwa dia baru saja menelepon Ayudia dan menanyakan bagaimana jalannya tes, tapi malah kena omelan yang salah sasaran. Niat hati agar tak kembali jadi salah paham dengan Ayudia. Namun justru Elvira terlalu mengikuti rasa ingin tahunya terhadap urusan orang lain.


“Emangnya ada apa sih di sana, Hen? Dia nuduh aku udah dikasih tahu sama kamu soal tadi. Apaan? Kan aku nggak tau sama sekali,” tanya Elvira dengan kening berkerut penasaran.


“Hah? Kok kamu yang dimarahin sih, El? Aneh banget ya tuh si Dia,” komentar Heni kemudian menceritakan secara lengkap apa yang terjadi kepada Ayudia di saat tes tadi. Memang tidak ada yang ditambahkan dalam cerita Heni kepada Elvira.


“Ya Allah ... kukira kalian berangkatnya bareng naik bis berenam?” tanya Elvira tak menyangka.


“Ya soalnya kami janjiannya kan pas belajar bareng, sementara Ayudia nggak pernah datang pas acara ya akhirnya dia nggak tau. Lha terus dia juga nggak ada tanya ke salah satu dari kami berangkat jam berapa dan ngumpul di mana tuh. Salah siapa kan?” Heni menjelaskan awal permasalahannya.


“Astaga ... dia mungkin masuk angin karena naik motor itu kali, ya. Kasihan juga masa’ dia itu pas ujian sakit, sekarang pas tes masuk ikadin juga pingsan. Pantesan dia kayak marah banget tadi,” keluh Elvira seketika merasa iba terhadap sahabatnya itu.


“Ya tapi ngapain dia marahnya ke kamu? Ya nggak boleh lah. Emangnya kamu salah apa, coba?” protes Heni yang tampak tak terima.


“Mungkin dia lagi meluapkan kekesalan dan kecewanya aja itu. Sialnya aku yang lagi nanyain soal hal sensitif itu, makanya aku deh yang kena semprot akhirnya,” tutur Elvira mencoba sabar dan memaklumi sikap yang ditunjukkan oleh Ayudia tadi. Dicobanya memaklumi bahwa itu adalah luapan emosi sesaat.

__ADS_1


Heni sendiri malah menggeleng-gelengkan kepala saking polos dan baik hatinya Elvira. Berbeda sekali dengan watak Ayudia, pikir Heni. Elvira sebenarnya memiliki ketulusan, namun kadang ia juga tak terima di perlakukan tak adil oleh Ayudia. Namun sahabat sejati tak akan meninggalkan sahabatnya kala bersalah atau masih berada di lingkaran yang salah.


 


__ADS_2