Jatuhnya Sang Bintang

Jatuhnya Sang Bintang
Bab 20 Kabar yang Mematahkan Hati


__ADS_3

“Kamu udah tahu belum? Elvira jadian sama David, loh!” kata seorang teman di media sosial.


DEG!


Satu lagi tamparan keras untuk Ayudia. Lagi dan lagi, kekalahanya dari sosok Elvira semakin lengkap. Bahkan David, cowok yang selama ini dikaguminya dan dalam hati ia memendam rasa begitu dalam, kini resmi menjadi kekasih Elvira.


Patah hati dan marah serta kecewa karena Elvira bahkan tidak memintainya pendapat atau setidaknya menceritakan sedikit hal tentang hubungan pendekatan yang terjadi di antara mereka berdua selama ini, membuat Ayudia sempat stres dan tak mau berkomunikasi dengan Elvira sama sekali.


“Kenapa Ayudia nggak pernah mau balas pesanku sekarang, ya?” Elvira bertanya-tanya sendiri dalam hati.


Pun juga teleponnya tak pernah diangkat kini. Ia jadi sangat khawatir. Tapi, masalahnya dia tak bisa mencari tahu kabarAyudia dari orang lain. Tidak ada teman lain yang kuliah satu kampus dengan Ayudia setahunya. Dan dia juga tidak mengenal satu pun mahasiswi sana untuk dimintai keterangan.


“Apa aku hubungin ke rumahnya aja, ya? Tapi kalau malah membuat khawatir orangtua Ayudia nanti malah aku yang nggak enak,” gumamnya lagi seorang diri.


Untung pada saat Elvira di puncak kecemasannya, Ayudia juga sama. Ia takut kalau-kalau Elvira akan nekat mencari tahu ke rumah Ayudia yang mana tentu saja justru temannya itu akan langsung bisa membongkar kebohongan besarnya. Sungguh serba salah memang untuknya.


{Aku nggak nyangka kamu nggak menganggap ku teman, El.}


Ayudia mengirim pesan tersebut sekedar untuk meluapkan kesal dan agar Elvira sadar bahwa dia marah dan tak perlu menghubunginya sampai ke rumah.


{Tapi kenapa, Dia? Aku salah apa?} tulis Elvira sebagai balasan.


{Kamu jadian sama David tapi nggak pernah cerita apa pun sama aku, kan? Jadi aku ini sebenarnya apa?}

__ADS_1


Ayudia terbawa emosi dan teus mencerca sahabatnya itu.


{Ya Allah, maaf ya, Dia. Soal itu ... kupikir itu bukan hal penting dan aku juga baru mau cerita pas kamu mendadak aja udah gak mau angkat telfon aku lagi. Semuanya terjadi begitu cepat. Aku nggak nyangka dia menyatakan cinta pada ku, karena kupikir selama ini kami cuma temenan biasa, itu aja ceritanya. Lagipula kami tidak pacaran. Cuma buat komitmen nanti kalau sudah sama-sama selesai kuliah baru serius. Sekarang tetep temenan.}


{Pacaran syar'i?} Tanya Ayudia.


{Ya ga gitu konsepnya. Pokoknya temenan aja.}


Panjang lebar Elvira menjelaskan duduk permasalahannya karena memang baginya hubungan sebelum menikah itu sebenarnya bukan kabar yang penting dan tak perlu juga terlalu diseriusin. Ia juga tidak mendapat izin dari orang tuanya untuk menjalin yang namanya pacaran. Tapi rupanya tidak begitu dengan anggapan Ayudia. Dia sampai merasa terkhianati karena Elvira menyembunyikan fakta itu darinya, seolah Elvira sengaja menusuknya dari belakang padahal Elvira sama sekali tiidak mengetahui perihal perasaan Ayudia pada David.


Pesan tersebut sudah kembali tak dibalas lagi oleh Ayudia. Hatinya masih teramat sakit karena merasa dikhianati dan tak dihargai sama sekali sebagai teman.


Elvira sampai menangis seorang diri dan membuat David tahu soal tersebut. David yang marah tentu saja langsung mencoba menghubungi Ayudia dan menanyakan ada apa gerangan sampai Elvira menangis karena dirinya. Hal itu tentu membuat Ayudia semakin marah dan dendam pada Elvira karena dikiranya temannya itu mengadukan permasalah mereka pada David hingga membuat David malah membencinya.


Walhasil, demi mempertahankan gengsi, Ayudia mulai memperpanjang deretan kebohongannya dengan memposting tentang hubungannya dengan mahasiswa temannya di kampus. Bahwa dia sudah punya kekasih juga, yaitu seorang ketua BEM yang keren dan terkenal. Kembali berbohong sudah menjadi semacam keahlian sampingannya. Tapi Ayudia tidak tahu jika salah satu foto yang di posting adalah seseorang yang tidak suka kebohongan.


Ayudia tak tahu bahwa bukan teman-temannya yang dibohongi yang rugi, tetapi justru dirinya sendiri karena semua kebohongannya  itu justru mengantarkannya kepada semakin terjerat di dalam dunia halusinasinya sendiri.


Pada faktanya, dalam pekerjaan, Ayudia juga semakin tak bisa konsentrasi. Banyak kesempatan ia salah mengerjakan proses kerjaan lalu akhirnya harus beberapa kali mendapat teguran keras dari atasan. Sungguh hal itu berbeda sekali dengan apa yang menjadi angan-angannya selama ini. Bahwa dalam waktu singkat ia akan bisa naik pangkat atas dasar prestasi sehingga tak perlu lagi berada di ruangan bagian produksi.


Nyatanya tidak sama sekali. Bahkan di kalangan produksi pun ia tak dikatakan expert. Banyak nilai buruk dari atasan dan juga partner satu bagian. Bagaimana tidak, di saat bekerja, tetapi otak dan pikirannya justru melayang jauh ke dunia halusinasinya sendiri.


“Ayudia! Kamu kalau nggak niat kerja silakan mengundurkan diri saja!” bentak sang mandor suatu kali saking kesalnya.

__ADS_1


Ya, lagi-lagi hari itu Ayudia melakukan kesalahan di mana ia membuat beberapa pasang sepatu salah pasang label dan harus diproses ulang. Dan hal itu tentu membutuhkan banyak waktu yang mana harus membongkar beberapa bagiannya.


“Maaf, Bu.” Hanya itu yang bisa dikatakannya sebagai pembelaan. Hingga akhirnya ia memaksakan diri untuk fokus dan tidak sampai mengulangi kesalahan lagi karena ia masih butuh sekali akan pekerjaan itu.


Kalau ia sampai dipecat juga dari sana, apa akabar uang tabungannya yang akan dipakainya kuliah di tahun ajaran baru yang kurang beberapa bulan? Sementara keadaan sudah semakin mendesak karena ia tak mungkin bisa membohongi semua orang semakin lama lagi, kan.


Belum lagi kemungkinan akan diadakannya reuni. Bisa gila kalau sampai saat itu ia belum benar-benar berstatus sebagai mahasiswi asli. Pokoknya ia tak akan datang pada reuni sebelum fix kuliah. Dengan begitu ia tak akan menanggung malu di antara banyak temannya yang lain yang juga sama-sama kuliah nantinya. Sungguh ia tak bisa menerima kenyataan bahwa jalan hidup tiap orang itu tak selalu sama.


Namun, apa daya karena seringnya ia melamun di jalanan, suatu saat sepulang kerja, ia berkendara dengan sedikit sembrono dan akhirnya mengalami kecelakaan tunggal kala melewati jalanan yang licin sehabis turun hujan.


“Innalillahi! Ayudia!” pekik Bu Nani kala mendengar kabar dari seorang petugas polisi yang datang ke rumahnya mengenai kecelakaan yang dialami oleh sang putri.


Serta merta beliau menelepon sang suami dan membuat Pak Anwar seketika pulang dari bengkelnya dan membonceng sang istri ke rumah sakit terdekat di mana Ayudia dilarikan ke UGD.


Bu Nani tak hentinya menangisi kondisi Ayudia yang wajahnya terluka lumayan parah karena kata saksi yang melihat langsung kejadian, helm yang dipakai Ayudia sempat terlempar beberapa meter jauhnya dari tempat kejadian.


“Pasti helmnya tidak dikaitkan kunciannya sehingga bisa lepas dengan begitu mudahnya saat korban terjatuh, Bu, Pak.” Begitu petugas polisi menjelaskan kronologinya.


Ayudia sendiri langsung pingsan di tempat mungkin akibat benturan langsung kepalanya dengan aspal jalanan.


“Sungguh beruntung sekali di saat itu kondisi jalanan sedang sepi,” lanjut sang polisi.


Sepeda motor milik Ayudia rusak parah dan Ayudia masih harus menunggu hasil rontgent di kepalanya apakah ada indikasi luka dalam yang parah atau tidak.

__ADS_1


__ADS_2