
Sesampai di rumah, ada sedikit kericuhan di mana Ayudia menolak bahwa itu adalah rumahnya. Siapa yang tidak kaget? Pak Anwar sampai harus turun tangan memaksanya keluar dari mobil Elvira karena Ayudia berkeras tidak mau turun.
“Sebentar, Pak. Mungkin Ayudia masih ingin jalan-jalan, begitukah, Dia?” tanya Elvira khawatir. Mata gadis itu sudah berkaca-kaca karena tak tega melihat kelakuan Ayudia sudah mirip orang tidak waras alias gila.
“Aku mau pulang!” pekik Ayudia sambil menggelengkan kepalanya keras-keras.
“Kalau begitu ayo kita pulang, Nak,” ajak Bu Nani yang air matanya sudah berlinangan kini. Tampak beberapa tetangga juga menyambut kedatangan mereka yang telah beberapa hari di rumah sakit itu dengan wajah hampir rata cemas semua.
“Tapi ini bukan rumahku, Bu. Ayo kita pulang ke rumah, Bu!” pekik Ayudia lagi sambil setengah histeris. Ia tak suka melihat kerumunan orang banyak kini melihatnya seolah ia gila. Padahal tidak ada apa-apa yang terjadi padanya selain sang supir salah membelokkan mobil ke rumah itu. Rumah itu sederhana, bukan rumah mewah yang biasa ditinggalinya, pikir Ayudia memegang erat ingatannya yang salah kaprah itu.
Beberapa tetangga tampak beristighfar. Ada yang memeluk Bu Nani sebab iba dan ikut prihatin atas kondisi Ayudia, pun ada juga yang memegangi dadanya sendiri kagety dan menahan lisannya untuk tak berkomentar dulu di saat seperti itu.
Elvira tetap memegangi lengan sahabatnya. Ia takut Ayudia akan berlari atau bertindak anakrkis yang lainnya. Sungguh kecemasannya sudah berada di puncaknya.
“Kamu mau pulang ke mana emangnya? Kan ini rumah kamu? Rumah yang mana lagi? Apa mau mampir ke rumahku dulu?” ajak Elvira akhirnya. Ia tak akan putus asa untuk membantu memulihkan kesadaran sahabatnya. Meski sahabat itu telah tega membohonginya selama ini, tetapi tetap saja hatinya terenyuh oleh apa yang kini dialami oleh Ayudia tersebut.
Tanpa diduga, Ayudia menganggukkan kepalanya. Tentu saja Pak Anwar dan Bu Nani melarang. Mereka tak enak hati kalau harus merepotkan Elvira dan bahkan sekalian juga keluarganya nanti kalau Ayudia memaksa ke sana dalam kondisi seperti itu.
“Jangan, Nak El. Sudah, biarkan Ayudia pulang sekarang aja,” tukas Pak Anwar. Beliau langsung dengan setengah menarik lengan putrinya untuk turun dari mobil dan tak peduli akan erangan serta raungan yang dilontarkan oleh Ayudia. Putrinya dianggapnya sedang terkena halusinasi atau apa istilahnya dan harus segera beristirahat.
__ADS_1
“Tapi kasihan Dia, Pak,” rengek Elvira yang tak tega melihat temannya dipaksa begitu.
“Tidak apa. Silakan Nak El pulang saja dulu, ya. Kami ucapkan banyak terima kasih atas bantuannya, tetapi ini sungguh sudah cukup. Kami akan urus Ayudia. Dia pasti cuma sedikit bingung saja sekarang,” ujar Bu Nani mempersilakan Elvira untuk pulang.
Tak lupa ia juga memberikan tip berupa amplop kepada sang supir keluarga Elvira yang langsung ditolak oleh beliau.
“Oh, tidak usah, Bu. Saya bukan sopir umum. Ini atas perintah Non Elvira jadi tidak perlu bayar, Bu.” Jawaban tersebut membuat Bu Nani semakin tak enak hati karena ia sudah merepotkan banyak orang lain.
Elvira pun akhirnya menurut untuk pamit pulang tetapi dengan berkata bahwa ia akan sesering mungkin mengunjungi Ayudia bila sedang pulang dari Surabaya di setiap weekend.
Sementara tetangga lain juga banyak yang membubarkan diri. Sebagian masih bertahan menamani dan membantu sebisanya apa yang diperlukan oleh keluarga yang baru tertimpa musibah tersebut.
Ayudia dibawa ke kamarnya dan disuruh berbaring meskipun dengan ekspresi yang entah apa di wajahnya. Tak bisa digambarkan. Seperti mengenali kondisi kamar itu, tetapi juga sekaligus menolak fakta tersebut. Sungguh membingungkan untuk orangtuanya pun juga untuk Ayudia sendiri.
“Ya Allah, Pak Anwar. Memangnya kenapa Ayudia? Dia kecelakaannya di mana? Kok bisa sampai begitu?”
“Iya, Pak? Harus dibawa ke orang pintar ini, Pak.”
“Ke daerah gang makam itu aja, ada tetua yang kabarnya bisa merukyah dan menyembuhkan gangguan.”
__ADS_1
Berbagai kalimat serupa meluncur dari para tetangga. Kesemuanya mengarahkan ke orang pintar yang mana sama sekali tidak disenangi oleh Pak Anwar. Ia tentu tak sudi kalau harus berurusan dengan dukun atau yang sejenisnya.
“Ayudia hanya mengalami kebingungan sementara saja, Pak, Bu. Dia cuma perlu istirahat dan memulihkan tubuh serta ingatan agar bisa kembali seperti semula.” Begitu tegasnya pada sekalian orang. Tampak masih banyak yang tak percaya tetapi tak mau membantah juga karena tak enak hati kepada sang empunya rumah.
***
Beberapa hari di rumah, Ayudia sudah tenang. Ia terkadang sudah menerima itu adalah rumahnya, tetai terkadang juga terbawa halusinasinya lagi bertanya “Ini di mana?”
Bu Nani mengumpulkan kesabarannya untuk tetap menjawab dengan perkataan halus dan tidak memarahi sang putri. Pesan dokter hati Ayudia harus dijaga jangan sampai stres dan banyak pikiran dulu karena kondisi syarafnya masih tegang belum normal sepenuhnya.
Saat waktunya kontrol, Pak Anwar dan Bu Nani menceritakan semua yang terjadi sambil berkonsultasi dengan snag psikolog.
“Tampaknya pasien ini karena terlalu banyak berbohong mengenai kuliahnya, ia jadi tanpa sadar tenggelam dalam kebohongan itu sendiri hingga merasa bahwa justru itu yang nyata, bukan kehidupannya yang biasanya.”
Pak Anwar dan Bu Nani tampak mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. Dan memang simpulan mereka juga sepertinya memang begitu hal yang terjadi pada Ayudia ini. Ia merasa dirinya adalah gadis kaya seperti Elvira yang rumahnya bagus, kuliah, punya mobil dan bukannya Ayudia yanghidup pas-pasan dan kerja di pabrik.
“Lalu untuk penyembuhannya bagaimana, ya, Bu?” tanya Bu Nani seolah tak sabar menemukan solusi untuk kesembuhan sang putri.
“Dengan bersabar, Ibu. Orang tuanya harus ekstra sabar mengingatkan sedikit demi sedikit dan tidak dengan amarah. Karena mental seperti Ayudia ini kalau dimarahi akans emakin berontak dan tidak mau menerima. Harus secara halus dan perlahan hingga ia tidak sadar bahwa dirinya tengah diarahkan,” jawab sang psikolog.
__ADS_1
“Sering-sering juga dibawa keluar, bersosialisasi dengan tetangga atau saudara dekat yang mengerti akan keadaannya. Jadi mereka juga bisa merespon baik Ayudia. Nanti lama kelamaan pasti ingatannya akan kembali total lagi, Pak, Bu,” lanjutnya.
Mereka pun menurut dan menjalankan segala saran serta pengobatan yang diberikan. Untung saja orangtua Ayudia memang sangat penyabar sejak dulu sehingga cobaan itu bisa terlewati meski tak jarang air mata berjatuhan mengiringi.