Jatuhnya Sang Bintang

Jatuhnya Sang Bintang
Bab 40 PDKT


__ADS_3

Sekitar jam setengah tujuh, Gio akhirnya sampai juga di rumah Ayudia. Ia memfoto dirinya yang sudah berada di depan gerbang dan mengirimkan pada Ayudia untuk memastikan ia berada di depan rumah yang benar.


“Iya silakan langsung masukin aja motornya,” jawab Ayudia di kolom chatnya lantas ia sendiri telah melompat dari kasur dan berlari kecil ke depan rumah untuk menyambut sang tamu. Astaga, entah mengapa ia begitu terburu-buru. Padahal kan seharusnya berjalan biasa aja juga akan lekas sampai karena toh rumahnya tidak sebegitu besarnya.


Terdengar suara motor dimatikan di halaman bersamaan dengan Ayudia yang membuka pintu ruang depan. Ia mengulas senyum lebar sambil mempersilakan Gio untuk masuk ke dalam ruang tamu rumahnya.


“Assalamualaikum,” ucap Gio sambil merunduk sopan dan dijawab dengan salam juga oleh Ayudia sambil tangan mereka saling bersalaman.


“Duduk dulu, ya. Bentar, kupanggilin Ibu. Kalau Bapak belum pulang dari mushalla. Biasanya menunggu sekalian isya’,” lanjut Ayudia langsung berjalan ke dalam untuk menyusul ibunya.


Bu Nani yang juga mendengar ada tamu rupanya telah ada di ruang tengah dan gegas ke ruang tamu dan menyuruh Ayudia membuatkan minuman dulu ke belakang.


Ayudia pun menurut. Ia terburu-buru sekali membuatkan es syrup cocopandan dan membawanya ke luar setelah diambilkan juga sepiring saji buah yang tadi telah ia beli dari kulkas, juga sepiring gorengan. Gegas ia kembali ke ruang tamu karena kuatir ibunya akan membahas hal-hal aneh nantinya dengan Gio. Ia harus mengawasi dengan ketat agar arah pembicaraan tetap di jalur aman, pikirnya membatin dalam diam.


“Nah, ini silakan diminum dulu. Mengobrol aja berdua, ya. Ibu sebentar mau lanjutin kerjaan di dalam,” pamit Bu Nani yang sepertinya memang menghemat perbincangan dengan Gio tersebut. Sepertinya Bu Nani pun sama saja Dengan Ayudia, tak pandai bertemu dengan orang baru. Namun gorden yang memisahkan ruang tamu dan ruang tengah sengaja dibuka oleh Bu Nani. Ia tampak menonton televisi tetapi ia masih terlihat dan melihat Ayudia dan tamunya berbincang di ruang tamu. Sehingga anak gadisnya masih terpantau.


“Maaf ya, cuma ada ini di rumah,” ujar Ayudia berkata seadanya. Biasanya malah cuma gorengan doang adanya, lanjut Ayudia dalam hatinya sendiri.


“Makasih, itu udah banyak. Siapa yang makan sebanyak itu?” tanya Gio berkelakar.


“Nggak boleh pulang sebelum habis pokoknya, hihihi.” Tanpa sadar kalimat Ayudia yang dimaksudkannya sebagai candaan malah ambigu sekali didengar. Ia seolah tak ingin Gio segera pulang. Ya ampun! Salah ucap kan saking groginya.


Sampai-sampai Gio terkekeh geli melihat wajah gadis di hadapannya itu merona merah seketika. Kalau saja ia bisa langsung menghilang dan lenyap begitu saja.


“Maksudku bukan gitu. Jangan salah paham, ya. Malah aku udah blang ke Ibu kalau kamu mau langsung pulang aja, kok.” Ayudia segera menganulir perkataannya yang mana malah semakin membuat tawa Gio melebar.


“Masa’ sih? Ibu kamu malah nyuruh aku nungguin Bapak kamu, loh!” bantah Gio sambil berlagak sok menang sendiri.


“Hah? Nggak usah! Mau ngapain ketemu sama Bapak juga? Jelas-jelas Bapak bakalan masih lama banget pulangnya. Nunggu Isya’ dan itu pun biasanya ada sesi ngobrol juga sama tetangga di sana.” Ayudia memprotes keras. Rupanya ibunya tadi sudah gercep sekali mengatakan hal itu sebelum dipergoki olehnya.


“Ish, aku mah orangnya sopan. Mana mau aku bantah ucapan orang tua, mana ini calon mertua pula—“


“Heh! Apa? Calon apa?” Serta merta Ayudia memekik kaget mendengar ucapan Gio barusan. Padahal pria itu hanya bercanda dan berniat menggoda Ayudia.


Menurutnya tingkah gadis itu kocak juga kalau lagi marah dan ngedumel begitu. Semakin membuatnya tertantang untuk terus membullynya.

__ADS_1


“Calon mertua. Nah, emang iya, kan? Aku dateng ini kan buat ngelamar kamu, Dia!”


“Heh! Jangan sembarangan! Sana pulang aja sekarang! Dasar Gio sialan!” gerutu Ayudia mengomel sambil melotot ke arah Gio agar segera bangkit dari sofa dan pergi.


“Loh, ini aku diusir? Katanya tadi jangan pergi dulu sebelum makanannya abis, kan? Aku belum nyentuh sama sekali, loh. Tuh, minumnya juga masih utuh!” tunjuk Gio memprotes karena diusir oleh Ayudia.


“Nggak peduli. Sana minum aja cepetan lalu langsung pulang!” bentak Ayudia tanpa segan.


Dalam situasi seperti itulah terdengar suara salam Pak Anwar di tengah pintu. Tentu saja beliau jadi agak kaget karena ada tamu pria dan sedang didorong-dorong oleh putrinya.


“Eh, wa-wa’alaikumsalam, Pak.” Tergagap Ayudia menjawab salam sang ayah. Ia lantas menjauh dari Gio dan mencium tangan sang ayah seperti kebiasaannya kala ayahnya baru pulang dari luar atau dia yang baru pulang ke rumah.


Gio juga berdiri untuk bersalaman dengan Pak Anwar sambil juga mengucap jawaban atas salam orang tua itu.


“Ada tamu rupanya?” tanya Pak Anwar sambil mempersilakan untuk duduk kembali.


“Ini Gio, Pak. Temen Dia,” jawab Ayudia terpaksa memperkenalkan karena toh sudah terlanjur bertemu dengan ayahnya. Tadinya ia mau Gio lekas pulang agar tak sampai bertemu beliau. Tapi apa daya, belum Isya’ ayahnya malah sudah pulang, tak seperti biasanya, nih, pikirnya yang kini jadi curiga kalau Pak Anwar sudah tahu juga soal kedatangan Gio dari ibunya tadi.


Dan akhirnya dua pria itu terlibat dalam obrolan basa-basi awalnya yang menanyakan perihal pekerjaan masing-masing, lalu kemudian merembet ke urusan banyak hal, bahkan juga politik ikut dibahas. Ayudia awalnya berdiam di situ untuk menjaga agar percakapan mereka masih tetap di jalur aman. Hanya saja lama-lama ia mengantuk mendengar obrolan absurd perihal para pria itu hingga akhirnya ia masuk ke dalam dan memilih duduk berdua ibunya di sofa depan ruang TV. Itu adalah jam ibunya menonton sinetron ikan terbang.


“Saya pamit dulu, ya, Om, Tante. Insya Allah kapan-kapan akan berkunjung ke sini lagi, kalau boleh ya sekalian membawa ibu saya juga,” kata Gio yang semakin membuat mata Ayudia membeliak kaget. Apa kata Gio tadi? Mengajak ibunya ke sini juga? Emangnya mau apa, coba? Ia bergumul dengan pikirannya sendiri karena hendak langsung bertanya tak enak dengan orangtuanya.


“Boleh, silakan datang kapan aja. Tetapi sebaiknya berkabar dulu, Nak Gio. Karena kadang Bapak lembur sampai malam kalau ada orderan di bengkel yang rumit,” jawab Pak Anwar dengan ramahnya.


Gio kemudian mengiyakan dan akhirnya diantar oleh kedua orangtuanya sampai ke depan pintu. Ayudia menunggu hingga orangtuanya masuk ke dalam dan ia mengikuti Gio sampai ke motornya.


“Udah kuhabisin banyak loh hidangannya tadi, jadi udah boleh pulang kan ini?” tanya Gio sambil mengulas senyum nakal.


“Ish! Orang dari tadi udah kusuruh pulang juga. Kenapa malah sampai jam segini. Emangnya kalian bicara apa aja sepanjang ini? Ya ampun, aku udah ketiduran sampai kebangun lagi baru selesai. Ya ampun!” Ayudia tak bisa menahan omelannya. Ia pun terus mengomel sementara Gio hanya terkekeh geli.


Pria itu tadi ternyata merasa cocok dengan Pak Anwar. Mereka jadi bisa mengobrol panjang lebar dengan teramat nyaman dan bahkan membuatnya betah tak ingin pulang. Namun tentu saja jam dinding berkata lain. Ia tak boleh menjadi tamu yang keterlaluan dan tak kenal waktu, kan. Bisa rusak image nya sebagai pemuda sopan di hadapan calon mertuanya itu.


“Ngapain kamu ngomel, sih? Kan bukan kamu yang wajib nemenin aku ngobrol! Orang aku asyik ngobrol sama ayah kamu, kok. Ya tinggal anggap aja aku tamunya ayah kamu, bukan tamu kamu. Habis perkara!” Gio menjawab sambil menaiki motornya dan memasang helm bersiap hendak menstarternya.


“Eh, terus maksud kamu tadi mau bawa ibu kamu juga ke sini itu buat apa. Jangan sembarangan loh! Nggak usah aneh-aneh!” Ayudia teringat akan hal yang tadi telah membuatnya cukup terperangah.

__ADS_1


“Oh, kalau itu rahasia antara aku dan ayah kamu. Hehehe, kan udah kubilang kalau aku udah temenan sama beliau, jadi urusanku sekarang sama Pak Anwar, bukan sama putrinya yang tukang ngomel ini,” lirik Gio lantas menstarter motornya dan menganggukkan kepalanya serta tak lupa melempar senyum songong ke arah gadis yang kini ngedumel sendiri itu.


“si Gio! Aneh-aneh aja dia!” Sambil berkata begitu, Ayudia menutup kembali pagar rumahnya dan kemudian berlari kecil masuk ke dalam rumah dan mencari sang ayah.


“Pak, tadi kok janjian mau ketemu ibunya Gio segala, sih. Apa-apaan itu?” protesnya kini sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


“Oooh itu, ya nggak apa-apa, dong. Biar keluarga kita saling mengenal dan menjalin silaturahmi. Apa salahnya, Dia?” tanya Pak Anwar dengan gaya santainya.


“Ya ampun, Pak. Tapi kan bisa-bisa nanti dianggap lain sama Gio loh! Nanti dikiranya aku mau lagi kalau dia mendadak mau lamar aku sama ibunya? Hayo, gimana?” protes Ayudia tak terima kalau ayahnya memutuskan secara sepihak apa pun mengenai kehidupannya di masa mendatang. Lagipula memang itu bukan sifat ayahnya yang biasa. Mana pernah beliau bersikap seenaknya begitu selama ini.


“Ya Allah, Dia. Santai lah sedikit. Cuma berbincang mengobrol aja. Anggap saja perkenalan untuk lebih pendekatan. Kalau akhirnya memang ada jodoh ya alhamdulillah, Tapi kalau nggak ya udah, nggak masalah juga, kan. Tetap adalah hal baik kok menjalin silaturahim dengan sebanyak mungkin makhluk Allah,” nasihat Pak Anwar sabar.


“Bapak sih enak bisa bicara gitu karena bukan Bapak yang akan menjalaninya sendiri. Ayudia yang malu, Pak. Gio pasti sekarang mikirnya aku lagi semangat banget pengen dilamar deh,” protes Ayudia penuh emosi. Sungguh ia malu kalau sampai tadi ayahnya langsung setuju tanpa jaga image terlebih dulu kala Gio meminta izin untuk datang bersama ibunya. Seolah dirinya sama sekali tak laku dan begitu berharap untuk segera dilamar oleh siapa pun pria yang datang saja.


“Dia! Nggak sopan bicara gitu ke Bapak kamu!” tegur Bu Nani yang kaget putrinya bisa bicara berani itu membantah ayahnya sendiri.


“Maaf, Bu, pak. Habisnya Dia takutnya Bapak—“


“Tenang aja, Bapak juga mengerti batasan, kok. Bapak pasti tidak akan mengambil keputusan apa pun mengenai kamu tanpa persetujuan dan membicarakannya dnegan kamu dulu. Tenang aja, Dia.” Pak Anwar pun mencoba memaklumi kerempongan gadis seusia Ayudia yang pasti lagi ruwet-ruwetnya perkara hatinya sendiri mengenai urusan jodoh.


Bu Nani saja yang ibu-ibu sudah merasa tak sabar dan hampir saja memarahi Ayudia, menyuruhnya untuk segera bawa kekasihnya ke rumah agar mereka tak terus menerus jadi omongan tetangga. Karena di lingkungan mereka memang hanya tinggal Ayudia saja yang belum memiliki calon suami. Belum ada rencana menikah. Yang lain yang seusianya sudah pada dilamar atau paling tidak sudah punya kekasih yangs ering tampak berkunjung ke rumahnya.


“Ayudia itu masih seneng-senengnya kerja. Makanya dia belum mikirin perkara jodoh.” Begitu selalu pembelaan dari Bu Nani kala ada suara tetangga yang akhirnya sampai juga ke telinga beliau.


Misalnya ketika berbelanja sayur atau di toko sebelah bertemu. Yah, memang begitulah kehidupan sosial di kalangan kampung seperti daerah mereka itu. Setiap orang masih merasa berhak mengomentari urusan rumah tangga orang lain. Masing-masing masih merasa ada sangkut pautnya untuk bebas mengurusi soal apa pun yang terjadi di dalam rumah tetangga lainnya.


Privasi sudah seolah tak dihargai. Semua di kepoin karena saking kekeluargaannya. Yah meskipun banyak juga sisi positifnya, seperti kala terjadi musibah, maka tetanggalah yang paling bersih cepat untuk datang menolong sebisa mereka. Kalau bisa bahkan berkorban untuk tetangga pun tak akan segan dilakukan bila memang tetangganya sedang kesusahan dan butuh bantuan.


Mendengar jawaban lugas dari Bu Nani tersebut, biasanya memang berhasil membuat banyak mulut tetangga itu terdiam tak bisa membantah. Terkadang juga ada yang memuji nakan sikap ayudia yang masih fokus mengejar kariernya. Tapi juga tentu saja masih banyak yang nyinyir dan berkata ingin mengenalkan Ayudia dengan kenalan atau kerabatnya. Seolah Ayudia gadis yang ta laku saja.


“Kalau sudah ada calonnya yang penting jangan lupa untuk mengabari kami, ya, Bu Nani. Paling nggak biar kami siap-siap hajatan, hehehe. Salah seorang ibu-ibu menyeletuk kala membahas kedatangan sesosok pemuda semalam di rumah Ayudia yang sudah mereka tebak sebagai calon suami gadis itu.


“Yah, mohon doanya saja, Bu. Kami masih tahap saling mengenal saja. Dia teman kerja Ayudia di kantor,” jawab bu Nani sesingkat-singkatnya, berharap tidak ada yang meminta penjelasan yang lebih detail lagi karena sungguh ia tak tahu akan harus menjawab seperti apa sebab memang semuanya belum pasti akan terjadi.


“Siap, Bu Nani. Kami pasti ikut berdoa selalu untuk kebaikan Ayudia. Dia anak baik dan cantik, juga pandai bekerja, jadi pasti jodohnya juga akan sebaik itu, Bu. Kita lihat saja nanti, ya.” Salah satu ibu-ibu membesarkan hati Bu Nani. Kini beliau jadi sedikit menghindari ke tukang sayur di saat masih berkumpul banyak pembeli seperti itu. Biarlah lain kali ia akan memilih waktu belanja yang di sana sudah sepi orang saja biar memangkas kemungkinan dengan bertemu para tetangga yang paling julid dan suka mengomentari kehidupan orang lain itu, tekad beliau dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2