
“Gimana? Duh, aku beneran penasaran deh kamu kenapa, Dia! Ayo, katanya malam ini mau langsung cerita setelah semuanya selsai, kan?” tuntut Elvira yang malam itu jam sepuluh masih tak bisa tidur dan memilih menelepon sang sahabat.
“Ya ampun, El. Udah kelar, kok. Gak tau deh ini termasuk yang terbaik apa nggak. Tapi lancar sih,” jawab Ayudia akhirnya menjelaskan dengan sama sekali tak jelas apa yang terjadi malam itu.
“Ih, ngomong apaan sih. Apanya yang lancar, coba? Aku nggak bisa tidur nih sebelum kamu cerita lengkapnya!” tuntut Elvira lagi, kali ini lebih berkeras daripada biasanya. Soalnya Ayudia sok misterius sekali sehingga ia jadi takut kalau sedang terjadi hal yang tak diinginkan pada diri sahabatnya itu. Lagipula tak biasanya Ayudia bermain rahasia-rahasiaan dengannya.
“Ayolah, Dia. Kita kurang lengket apa sih menurut kamu? Masa’ cerita sama aku pun kamu masih ragu gitu? Aku aja udah nggak pernah ada yang kututupin sama kamu, all out aku,” lanjut Elvira masih menuntut penjelasan.
Akhirnya Ayudia menyerah. Ia memang butuh sekali untuk curhat apa yang sedang terjadi saat ini. Dan ia tak bisa cerita pada Dewi karena hal itu menyangkut sepupu Dewi sendiri. Pasti nanti akan ada segan yang menyelip di antara mereka. Pun juga besar kemungkinan pendapat Dewi kelak akan condong lebih subjektif sebab di satu sisi Gio itu sepupunya, dan di sisi lain Ayudia ini sahabatnya.
“Gini, El ....” Ayudia bercerita panjang lebar mengenai Gio yang Elvira masih sedikit ingat juga moment saat mereka berkenalan sama-sama di resepsi pernikahan Dewi saat itu. Dan Ayudia melanjutkan bahwa mereka berdua akhirnya dekat dan barusan aja Gio dari berkunjung ke rumahnya dan mengobrol panjang lebar dengan sang ayah.
“Wah, dia tim gercep nih kayaknya, Dia!” Elvira berkomentar positif sambil sesekali memekik girang. Ia tentu saja suka mendengar kabar gembira dari Ayudia itu. Setidaknya Ayudia tidak boleh mengaku jomlo lagi meskipun di antara keduanya masih belum pernah terucap kata jadian, tapi toh Gio malah langsung akan membawa ibunya ke sana katanya. Wow banget!
“Ish! Aku BT banget deh sama Gio, tuh. Bilangnya aja cuma mau main dan tahu di mana rumahku, biar kapan-kapan bisa mampir, gitu. Eh, rupanya malah langsung ngobrol panjang banget sama Bapak dan malah udah janjian segala mau ajakin ibunya ke sini juga! Sialan gak tuh?” gerutu Ayudia yang mengomel sekarang.
“Loh, kok BT sih? Gimana kamu ini! Jaman sekarang kalau pria langsung berani datang ke rumah dan to the poin ke ayahnya si cewek itu istimewa, Dia! Kamu nggak baca berita apa di mana banyak banget cewek dipacarin doang tapi akhirnya ditinggal pas lagi sayang-sayangnya? Hayo! Kamu mau apa digituin? Justru menurutku sikap Gio ini bagus banget tau!”
“Bagus apanya? Bikin shock iya!” bantah Ayudia masih berkeras marah dan mengomeli sikap Gio yang menurutnya terlalu nekat dan tanpa meminta persetujuan darinya dulu alias lancang.
“Lah? Mendimngan gitu. Dia nggak pake bucinin kamu tapi langsung minta ke orangtua kamu. Itu nunjukinj keseriusannya banget tahu nggak!” tegur Elvira yang masih tak mengerti kenapa Ayudia malah marah-marah begitu atas tindakan Gio yang menurutnya sangat gentleman itu.
“Sial! Jadi kamu sekarang jadi tim suksesnya Gio juga gitu? Astaga! Dewi udah belain dia terus dan sekarang kamu juga kayak gitu! Ya ampun! Harus curhat ke siapa lagi aku yang ngerti gimana gak enaknya jadi aku yang diginiin sama Gio.” Ayudia semakin kesal.
“Maksud kamu diginiin gimana, sih, Dia? Ribet amat jadi kamu ish!”
“Ya maksduku emangnya kamu mau apa? Nggak pernah ada dia bilang suka sama kamu, terus juga nggak ada pernah tanya perasaan kamu ke dia kayak apa. Tapi mendadak langsung aja mutusin secarasepihak untuk langsung melamar ke orangtua! Kayak nggak nganggep aku ada sama sekali, deh! BT!” Panjang lebar akhirnya Ayudia melontarkan keluhannya dari hati yang terdalam.
“Oalaaah ..., ya ampun, jadi maksud kamu kamu maunya dibucinin dulu gitu?”
“Ih, ya nggak gitu juga konsepnya! Maksud aku harusnya dia tanya dulu kek ke aku, cari tahu gitu—“
“Ya pastinya udah cari tau sih, Dia. Cuma kamu aja yang mungkin nggak peka. Dari dulu kan kamu emang nggak peka orangnya! Wkwkwk!” Elvira akhirnya kini menyalahkan Ayudia karena menurutnya jauh lebh bagus sikap Gio tadi ketimbang apa yang diinginkan oleh Ayudia sendiri.
“Pilih cowok bucin apa cowok serius? Jelas pilih yang serius, kan? Si Gio udah top deh pokoknya kalau kataku! Jangan disia-siakan loh! Aku dukung kalian berdua pokoknya, restuku menyertaimu, uhuyyyy!” Elvira malah bersenandung riang kini. Membuat Ayudia semakin kesal saja karena tak mendapatkan dukungan yang tadi diharapkan didapatkannya dari Elvira.
Ayudia terdiam merenung sebentar. Hingga kemudian Elvira melanjutkan tanya.
“Terus, orangtua kamu juga kayaknya setuju-setuju aja, kan?”
__ADS_1
“Mana kutahu. Tapi Bapak kayak udah akrab banget gitu sama dia. Padahal baru kenalan tadi. Ish! SKSD banget emang tuh sih Gio! Pinter amat ambil hati Bapak sama Ibu!” gerutu Ayudia lagi-lagi sambil memanyunkan muka.
“Wkwkwk, aman sih kalau gitu! Ciyyeee ... yang bentar lagi mau tunangan lalu nikah! Assseeekkk!” Elvira terus-menerus menggoda Ayudia sampai percakapan harus berakhir karena jam sudah semakin larut sementara Ayudia harus kerja besok.
***
Di tempat kerja lain lagi, Ayudia yang memang masih di ruangan Pak Joni, harus beberapa kali ditegur karena tidak konsentrasi saat mengerjakan berkas dan Pak Joni menemukan kesalahan di sana.
“Kamu ada masalah apa? Kok nggak seperti biasanya! Jangan bikin masalah di sini, kamu itu cuma sekretaris pengganti!” Pak Joni menegur dengan perkataan sindiran yang membuatnya serta-merta memerah wajahnya.
“Maaf, Pak. Akan segera saya perbaiki!” jawab Ayudia sambil berusaha memfokuskan diri. Ia memang terlalu kepikiran akan kedatangan Gio yang hendak mengajak ibunya itu hingga pikirannya terbagi dan tidak fokus dalam pekerjaan.
Namun, untuk sementara ia harus mengesampingkan masalah itu daripada harus dicibir lagi oleh si Pak kulkas Joni itu! Perkataannya yang penuh sindiran selalu membuat Ayudia geram bukan kepalang dan berharap Mbak Rasty akan segera kembali masuk bekerja hingga ia tak perlu menjadi penggantinya lagi.
Pada jam istirahat makan siang, barulah ia bertemu dengan Dewi dan temannya yang pengantin baru itu kini ikut-ikutan merecokinya.
“Kata Gio kemarin dia dari rumah kamu, ya? Ciyyeee ... udah mau ke tahap serius aja, nih. Asiiik ya kita abis ini bakalan sodaraan, loh!” katanya sambil cengir-cengir sendiri.
Ayudia hanya meringis. Ia bingung, tak mungkin ia mengeluhkan sikap Gio yang menjadi keberatan dari pihaknya karena takut kalau nanti hal itu malah akan disampaikan Dewi kepada Gio. Kan nggak etis!
“Haha, kamu bisa aja! Cuma main ke rumah aja, kok. Nggak ada apa-apa—“
Lagi-lagi Ayudia bingung harus menanggapi bagaimana. Yang jelas ia tak mau kalau sampai keluhannya itu akan sampai terdengar oleh telinga Gio. Bisa malu lah! Mau ditaruh mana gengsinya coba!
Yang tak disangka-sangkanya ialah ketika jam pulang kerja, Gio sudah berada di depan kantornya, menunggu Ayudia pulang dan mengajaknya mampir ke cafe sebentar.
“Loh, kamu kok di sini, sih? Ada perlu sama Dewi?” tanya Ayudia terheran kala pria itu menghampiri dirinya yang sedang mengendarai motor dari dalam parkiran basement.
“Nggak lah. Ngapain aku ada urusan sama istri orang!” jawab Gio dengan nada kocaknya. Ayudia menahan untuk tak tertawa. Memang Gio selalu saja bisa memancing tawanya. Sikap humoris pria itu ialah salah satu yang membuatnya betah berteman dekat dengan Gio meskipun banyak juga sikapnya yang lain yang tak ia sukai, contohnya soal kenekatannya langsung menghadap ayahnya kemarin.
“Terus? Ada urusan di kantor sini tadi?” tanya Ayudia lagi. Gio mencegat tepat di depan motornya hingga ia terpaksa berhenti barusan.
“Nggak! Aku tuh ada urusan sama kamu. Pakai tanya lagi, ih, nggak peka amat emang dasar ini anak!” Gio menjawab sok kesal.
“Mau apa emangnya? Kok tumbenan nggak hubungin dulu janjian?” tanya Ayudia lagi. Biasanya kalau hendak bertemu kan Gio selalu janjian dulu di chat atau telepon.
“Soalnya ini kejutan, hehehe. Terkejut beneran, kan?” Gio mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda si gadis di hadapannya itu.
“Duh, pake kejutan segala. Mana kejutannya?” tagih Ayudia akhirnya. Ia merasa kalau diberi kejutan itu artinya adalah dikasih hadiah yang istimewa dan membuat bahagia.
__ADS_1
“Kejutannya ayo ikut aku dulu ke cafe. Ada cafe baru estetik banget, keren. Yuk!” ajak Gio yang langsung meminggirkan motor untuk memberi jalan agar Ayudia bisa kembali menggerakkan motornya.
“Di mana? Cafe mana sih?” tanya Ayudia mengerutkan kening karena ia memang tak begitu tahu soal tempat-tempat nongkrong seperti itu. Ia jarang sekali ke tempat begitu sebab sepulang kerja biasanya lebih senang langsung pulang agar bisa lekas beristirahat. Terlebih semenjak Dewi sudah menikah, ia tak lagi punya teman yang memaksanya ikut hang out sore sepulang kerja seperti sebelumnya.”
“Ikutin di belakangku, ya!” titah Gio sambil mengedipkan sebelah matanya.
Astaga! Ini nggak romantis amat, keluh Ayudia saat mengendarai motornya sendiri di belakang motor Gio yang meluncur pelan. Masa’ mereka akan pergi ke cafe tapi berkendara sendiri-sendiri begini? Ia membatin kecewa.
Beberapa kilometer dari kantor, akhirnya Gio menyalakan lampu sen dan berbelok ke dalam halaman parkir sebuah cafe yang sepertinya memang baru buka. Masih ada beberapa karangan bunga bertuliskan Happy Launching di depan gedungnya. Bahkan Ayudia tak tahu hal itu sebab memang letaknya tidak searah dengan jalan pulang ke rumah yang dilewatinya sehari-hari.
Mereka memarkir motor di areal yang disediakan. Lantas Gio menyebelahi Ayudia untuk masuk bersama ke dalam gedung cafe yang bertema seperti warung apung itu. Ada saung-saung serta juga miniatur perahu yang dijadikan boot tempat makan di bagian out doornya. Suasananya lumayan cozy dengan penerangan yang dibuat remang meskipun masih sore begitu.
“Estetik, kan?” tanya Gio kemudian.
“Lumayan!” jawab Ayudia pendek. Ia masih penasaran dengan apa kejutan yang disebutkan oleh Gio tadi.
“Yuk, kamu mau pilih boot yang mana? Saung atau perahu atau in door aja?” tanya Gio lagi meminta pendapat gadis itu.
“Terserah aja. Kayaknya di luar berangin deh tapinya, mendingan in door aja yuk,” ajak Ayudia sambil melanjutkan langkahnya masuk.
Lagipula ia memang penasaran dengan penampakan cafe bagian dalam. Mumpung baru sekali ke situ ia mau meng-eksplor dulu sampai ke kedalaman sebelum memilih mana yang sepertinya paling nyaman.
Rupanya bagian dalamnya lebih estetik lagi. Sepanjang dinding memakai wall sticker 3D yang menampilkan pemandangan laut dan tampak sangat real. Membuat adem mata memandang lukisan pohon nyiur serta riak gelombang serta ombak pantai yang putih dan birunya berpadu dengan indah.
Set meja kuris minimalis yang tertata rapi di sana juga nyaman ditempati karena meskipun model ramping tapi cukup empuk dengan bantalan di bagian pantat dan juga sandarannya.Sepertinya akan betah duduk berlama-lama di sana, pikir Ayudia memberikan nilai positif pada cafe yang baru dikunjunginya tersebut.
Mereka duduk di salah satu set meja kursi yang hanya terdiri dari dua kursi saja itu. Tampaknya cafenya memang membaginya jadi dua bagian, satu sisi untuk yang hanya berdua saja dudukannya, di satu sisi lagi dengan empat kursi.
Gio mengulurkan kertas menu di meja itu ke hadapan Ayudia. Meminta gadis itu menentukan pilihannya hendak memesan apa.
“Ini kamu yang traktir, kan? Tanggal tua nih, aku gak banyak duit,” kata Ayudia saat melihat list harga di situ lumayan termasuk tinggi daripada cafe yang biasa ia kunjungi bersama Dewi.
“Wkwkwk, iya aman! Aku yang bayar, lah. Cowok kece itu yang bayarin ceweknya makan!” respon Gio berkelakar. Hal mana perkataan itu membuat merah lagi muka Ayudia. Tadi Gio menyebut ceweknya. Ish! Kayak udah jadian aja, padahal kan belum sama sekali. Hadeeeh! Ayudia sibuk ngedumel lagi dalam hati sambil menghalau rona kemerahan agar tak terus membayangi wajahnya.
Akhirnya demi mengusir rasa malu, Ayudia cepat-cepat memesan nasi goreng rendang dan milk shake mocca. Gemuk-gemuk deh sekalian, pikirnya lagi. Tak mau jaim di hadapan Gio karena jaim itu capek. Ia bertekad akan menunjukkan kepribadiannya secara total dalam sesi ini agar Gio mengenalnya sebagai Ayudia yang apa adanya. Jadi kelak tidak akan ada lagi salah persepsi di antara mereka sebelum entah apa yang kelak akan mereka jelang bersama.
Gio memanggil waiters dan memesan menu yang sama persis dengan Ayudia. Entah dia memang juga suka atau hanya karena belum punya pilihan lain saja sehingga memilih kembaran.
“Biar kayak soulmate,” celetuk Gio sambil terkekeh geli sendiri mendengar leluconnya barusan. Ayudia mendelik meskipun tak bisa juga menahan senyum khasnya. Tidak bisa dipungkiri, sifat kocak Gio memang selalu berhasil memancing tawanya di tiap kali kesempatan.
__ADS_1