Jatuhnya Sang Bintang

Jatuhnya Sang Bintang
Bab 32 Lolos


__ADS_3

Hingga beberapa jam kemudian Ayudia tak bisa duduk dengan tenang sedikit pun. Sampai jam makan siang juga ia tak beranjak dari kasur karena benar-benar nervous serta deg-degan menunggu hasil pengumuman interview.


“Astaga! Apa belum selesai, ya? Apa enaknya aku tanya Dewi aja ini, ya?” gumam Ayudia seorang diri sambil mondar-mandir di kamarnya sendiri.


Bu Nani sudah beberapa kali memanggilnya untuk makan siang tetapi Ayudia masih berkata nanti-nanti saja. Mana bisa berselera ia makan kalau hatinya masih was-was dan berdentam tak keruan menunggu pengumuman.


“Dia ... salat dulu sana, habis itu makan siang. Kan Ibu udah bilang kalau hasilnya kamu mintanya sama Allah. Hanya Dia penentu segalanya, Nak.” Akhirnya Bu Nani menyusul ke dalam kamar putrinya karena menunggu dari tadi Ayudia tak juga keluar.


“Iya, Bu.” Akhirnya Ayudia menurut dan segera mengambil wudhu untuk kemudian menunaikan kewajibannya salat Zuhur. Tak lupa ia juga menghabiskan beberapa saat lamanya untuk berzikir yang jauh lebih panjang daripada biasanya untuk menenangkan hatinya. Ia pasrahkan semuanya hanya kepada Sang Khalik. Dialah Sang Penentu Nasib.


Usai salat dan zikir panjang itu, Ayudia bisa sedikit lebih tenang dan menurut untuk makan siang bersama ibunya. Rupanya sedari tadi Bu Nani juga belum makan karena menunggu putrinya. Mana ada Ibu yang bisa makan dengan tenang kalau putri semata wayangnya tampak tak doyan makan begitu, kan?


“Masakan Ibu ini selalu enak kok bisa sih, Bu?” tanya Ayudia mengalihkan pembicaraan. Ia hanya ingin membahas hal lain agar pikirannya teralihkan sebentardari hasil pengumuman interview yang tengah ditunggunya.


“Ya soalnya Ibu udah terbiasa, Dia. Bisa karena biasa. Kamu juga kalau lebih rajin lagi belajar masaknya pasti lama-lama akan bisa enak juga kok.” Bu Nani menjawab sambil terkekeh karena mengingat Ayudia yang belakangan ini mulai menuntut untuk diajari memasak padahal dulunya mana pernah mau ke dapur. Tapi, beberapa kali Ayudia gagal mengeksekusi masakan sesuai instruksi karena memang masak itu ilmu yang harus dipelajari sambil dipraktikkan setiap hari. Kalau cuma sesekali maka pasti tidak akan bisa maksimal hasilnya.


“Ya udah mulai besok pagi Dia mau bantuin Ibu masak, deh. Biar bisa,” janji Ayudia penuh tekad. Kemarin ia berbincang dengan Dewi dan baru tahu kalau Dewi bahkan setiap pagi masak dulu sebelum berangkat kerja untuk sekeluarga karena ibunya sudah tua sekali. Ia langsung merasa mengapa semua orang tampak bisa melakukan banyak hal sementara dirinya tak bisa apa-apa? Ke mana saja dia selama ini sampai tak sempat belajar masak atau menjahit atau apa pun keterampilan yang biasanya wanita lain mampu?


“Wah, bagus itu,” jawab Bu Nani senang mendengarkan tekad anaknya itu.


Tak berapa lama kemudian ponsel Ayudia berbunyi. Ada sebuah pesan yang saat dibacanya, spontan membuat Ayudia memekik kegirangan dan terlonjak riang. Bahkan ia sempat melompat saking girangnya.


“Masya Allah alhamdulillah, Bu. Dia diterima!” pekiknya setelah tuntas euforianya usai membaca pesan resmi dari nomor HRD perusahaan yang menyatakan dirinya mendapatkan panggilan kerja efektif mulai besok.


“Benarkah? Alhamdulillah, Nak!” Bu Nani ikut memekik dan memeluk erat putrinya.


Serta-merta Bu Nani mengambil ponselnya untuk berkabar kepada sang suami. Ia tak sabar mengabarkan berita gembira tersebut. Pun juga dengan Ayudia. Ia juga langsung menghubungi Elvira dan mengabarkan bahwa dia telah diterima. Masih jam kerja sehingga ia tak menghubungi Dewi dulu. Ia hanya mengiriminya chat schreenshot pesan dari HRD tadi dengan  dibubuhi emot bersyukur.


Saking gembiranya, sore itu juga Bu Nani membuatkan bubur sejumlah tetangga dekatnya lalu membagikannya sebagai ucapan syukur karena Ayudia telah diterima bekerja kembali di perusahaan di bagian yang jauh lebih baik.


“Wah, selamat ya, Bu Nani. Nggak nyangka loh Ayudia bisa sesehat itu sekarang. Udah kerja lagi pula, Masya Allah luar biasa,” komentar beberapa tetangga membuat bungah hati Bu Nani semakin menjadi.


“Iya, Bu. Alhamdulillah sekali. Saya juga sangat bersyukur atas segala bantuan para tetangga selama ini. Dengan terus mendukung Ayudia, akhirnya dia bisa meraih kembali kehidupannya yang senormal biasa,” jawab Bu Nani mencoba positif saat menanggapi respon para tetangga.


Memang kehidupan di kampung masih solid itu. Saling bertetangga itu sudah selayaknya saudara saja. Bila yang satu sakit, maka seolah sakit itu diderita juga oleh yang lain. Semua bahu membahu membantu sebisa mungkin dengan apa pun yang bisa mereka lakukan atau berikan.


Beruntung sekali Ayudia tidak tinggal di lingkungan yang banyak iri hati atau dengki atau julid yang mungkin saja justru akan mem-bully ketika dirinya mengalami penyakit aneh mengenai ingatannya itu. Tetangganya yang baik semua itu justru selalu mensupport dan mendukung Ayudia, membuatnya nyaman dengan tidak pernah membahas penyakit itu lagi di hadapannya.




“Yeayyy! Selamat, ya, Dia!” Dewi bersorak girang kala ia melihat Ayudia melenggang ke arahnya. Ya, kini mereka berada dalam satu ruangan yang sama. Hanya di kubikel yang berbeda.



“Makasih banyak, ya, Dewi. Ini semua berkat kamu, loh!” Ayudia memeluk Dewi erat.


__ADS_1


“Ih, aku kan cuma mengabari. Ini semua ya emang udah rezeki kamu, Dia. Alhamdulillah kamu emang mampu ternyata,kan ?” Dewi membesarkan hati kawannya yang awalnya insecure itu.



“Iya, kemarin masih ragu banget, takutnya kalah sama yang lulusan sarjana atau diploma. Aku kan cuma SMA. Alhamdulillah banget ternyata masih jadi rezekiku, ya, Dew.” Lagi-lagi Ayudia mengutarakan rasa bahagia dan bersyukurnya.



Akhirnya Dewi membawa Ayudia berkeliling kubikel lain untuk memperkenalkannya kepada rekan kerja lainnya. Ia juga langsung menerima serah terima tugas dari mantan karyawan administrasi yang akan cuti hamil dan digantikan olehnya itu.



“Jadi semua nanti kamu isikan ke tabel ini. Disalin dan dicek satu persatu saat input, ya. Setelah direkap semua laporan hariannya, setiap hari Jumat kamu harus kerjakan laporan mingguannya. Dan di tanggal akhir bulan ganti ngerjain laporan bulanan. Mengerti kan?” titah sang mantan karyawan yang perutnya sudah sangat besar karena memang sudah menjelang hari perkiraan lahir.



“Oke, Mbak. Insya Allah paham. Ini semua sudah ada draft tabelnya semua kan, ya. Tinggal input dan cek aja,” jawab Ayudia memperhatikan betul-betul instruksi yang diberikan oleh wanita hamil yang ternyata bernama Ambar itu.



“Iya, udah tersedia lengkap format tabelnya. Tinggal isi aja.” Ambar menjelaskan lagi beberapa tugas yang adalah job desk Ayudia. Juga mengenai hal-hal yang ditinggalkannya tetapi belum kelar pengerjaan karena memang cutinya ini mepet sekali terpaksa belum bisa menyelesaikan.



“Nanti aku chat kamu nomorku, ya. Kalau ada yang kurang jelas bisa tanya ke aku,” kata Ambar lagi karena merasa tugas yang ditinggalkannya untuk Ayudia seharusnya masih menjadi tanggung jawabnya juga.




Teman-teman lain juga berkata akan bersedia membantu bila Ayudia masih kesulitan atau ada pertanyaan. Tampaknya semua ramah dan welcome terhadapnya karena Dewi juga memperkenalkannya secara baik-baik di awal tadi.



“Tanya aja langsung kalau bingung, ya. Jangan sungkan,” tawar yang lain dengan ramahnya. Tentu saja Ayudia merasa betah dan senang sekali mendapat pekerjaan itu. Selain ringan dan tak banyak tenaga serta pikiran yang terkuras dalam mengerjakannya, lingkungan satu ruangan juga damai dan kondusif sekali menurutnya.



Hari pertama Ayudia masih didampingi oleh Mbak Ambar. Beliau hari itu hanya datang untuk serah terima pekerjaannya kepada Ayudia dan juga mengambil surat cutinya.



“Ini memang surat cuti tapi masalahnya aku nggak yakin akan bisa kembali kerja setelah melahirkan. Soalnya suami udah wanti-wanti untuk aku momong sendiri anakku, nggak kasih ke baby sitter,” kata Mbak Ambar setengah curhat kepada Ayudia.



“Ooh begitu, ya, Mbak? Jadi kenapa Mbak gak ambil surat resign aja?” tanya Ayudia masih tak paham.


__ADS_1


“Ya soalnya kalau resign aku juga belum siap. Ehehe. Yah, aku terbiasa kerja sejak lulus sekolah dulu. Rasanya belum siap kalau harus disuruh full IRT aja nantinya. Entahlah tapi ini kondisional aja. Kalau suamiku masih bisa dibujuk, mungkin aku akan balik kerja, tetapi kalau rupanya emang aku juga nggak bisa ninggalin anakku sama baby sitter ya aku aja yang mengalah, biarin full IRT demi anak dan suami, hehe.” Kebimbangan yang cukup bisa dimengerti oleh Ayudia sendiri. Ia yang masih gadis jadi mulai berpikir panjang mengenai soal nantinya bila telah menikah. Pastinya kehidupan setelah menikah memang harus banyak mengesampingkan egoisme pribadi demi kepentingan keluarga.



“Semoga keputusannya nanti adalah yang terbaik ya, Mbak.” Ayudia hanya bisa berkomentar standar begitu karena ia tak paham kehidupan berumah tangga.



“Iya gampang lah nanti.” Mbak Ambar lalu berkeliling ruangan, menyalami satu per satu seluruh rekan kerjanya selama ini. Ada yang menangis haru karena berpisah, ada pula yang terkekeh geli karena ingat kejadian kocak sepanjang hari yang selama ini pernah mereka lewati bersama.



Dewi mengajak Ayudia makan siang bersama semenjak hari itu. Mereka berdua semakin dekat karena ternyata Dewi sangat baik hati dan setia kawan. Bahkan kala Ayudia harus lembur sedikit lebih lama dari yang lain untuk menyelesaikan pekerjaan akhir bulan yang belum begitu lihai ia selesaikan pun, Dewi mau menemaninya di ruangan agar tak tertinggal hanya sendirian.



“Maaf, ya. Aku jadi ngerepotin kamu. Gak apa loh kalau kamu tinggal pulang duluan, Dew.” Ayudia berkata tak enak hati kala dilihatnya jam dinding sudah menunjuk angka lima dan ia belum selesai juga menginput laporan akhir bulan yang ditinggalkan oleh Mbak Ambar.



“Nggak apa-apa, Dia. Tenang aja. Aku udah bilang Ibu kalau akan pulang agak telat, kok.” Dewi malah berkeras akan menungguinya sampai selesai.



“Duh, menurut kamu aku besok bakal kena tegur Kabag, gak sih? Masa’ aku baru setor jam segini, sih?” tanya Ayudia ketar-ketir.



“Nggak lah. Beliau juga tahu kok. Cutinya Mbak Ambar emang menjelang akhir bulan jadi pastinya kamu akan keteteran. Udah wajar itu. Gak apa,” hibur Dewi menenangkan. Melanjutkan pekerjaan orang memang tidak sesimpel mengerjakannya sendiri sedari awal bulan. Sistem masing-masing orang berbeda sehingga Ayudia juga kesulitan mempercepat pekerjaan untu bulan itu.



“Baguslah kalau gitu. Masa’ baru kerja gak ada setengah bulan aku udah kena teguran dari atasan, wkwkwk, kan nggak lucu juga tuh!” Ayudia mencoba berkelakar untuk menyingkirkan rasa cemasnya.



“Wkwkwk, prestasi yang sama sekali tidak membanggakan!” tukas Dewi ikut terkekeh geli.



Usai menyelesaikan laporannya, Ayudia langsung mengirimkannya ke email sang kabag dan kemudian juga menyerahkan berkas fisiknya ke meja beliau yang telah kosong untuk diperiksa dan ditandatangani keesokan harinya.



“Huuuft, akhirnya selesai juga. Yuk, pulang, yuk.” Ayudia meregangkan otot-otot di lengan serta pinggangnya yang capai duduk seharian.



Bunyi bergemeretak keluar dan dua gadis itu lantas tertawa tergelak mendengarnya. Dewi dan Ayudia sama-sama berjalan berdua ke arah parkiran dan mengambil motor masing-masing. Lantas mereka mengambil arah yang berbeda untuk pulang ke rumah mereka setelah Ayudia menawari traktir Dewi makan sore dulu tapi ditolak oleh temannya itu karena ingin segera pulang saja untuk mandi dan istirahat.

__ADS_1



“Makasih banyak ya, Dew. Aku doain kamu lekas dapat jodoh cowok cakep dan tajir deh karena hari ini udah jadi dewa penyemangatku, hehehe!” Ayudia berteriak saat mereka berpisah di gerbang. Dewi mendelik memelototi Ayudia dari kejauhan karena berkat teriakan Ayudia itu dia jadi diperhatikan oleh cowok-cowok yang ada di sekitar gerbang sana.


__ADS_2