Jatuhnya Sang Bintang

Jatuhnya Sang Bintang
Bab 15 Menjadi Karyawan Rendahan


__ADS_3

Entah ini karma atau apa, tetapi Ayudia mulai merasa bahwa apa yang dulu dihinanya kini malah yang selalu datang menghampiri. Dulu ia menghina Nindy yang sengaja berencana lulus SMA langsung bekerja di supermarket hanya sebagai pramuniaga atau kasir. Mengatainya sebagai pekerjaan rendahan, padahal semua profesi itu sama mulianya di mata Allah asalkan dilakukan di jalan yang jujur dan berharap mencari rezeki halal demi keluarga.


Nyatanya, kini yang dialaminya jauh lebih parah dari Nindy. Pekerjaan Nindy setidaknya masih di dalam gedung supermarket yang wah dan bonafid, bukan sepertinya yang berada di gedung produksi sebuah pabrik yang meskipun berskala internasional, tetapi tingkat kenyamanan karyawan produksinya belum begitu diprioritaskan.


Nindy seharian bisa tetap dengan dandanan rapi dan penampilan oke di depan pembeli, sementara Ayudia harus belepotan lem, juga serpihan bahan sepatu yang terkadang aromanya pun menempel di baju seharian. Belum lagi jam kerja yang terkadang terasa tak wajar.


Karyawan pabrik tidak punya hak untuk menolak jam lembur yang bisa saja sewaktu-waktu diberlakukan. Bila saat orderan banyak misalnya, atau deadline pengiriman menjelang, maka bisa saja Ayudia harus bekerja lembur dari jam tujuh pagi hingga baru bisa pulang jam delapan malam!


“Hari ini kita akan lembur sampai jam delapan, ya!” teriak sang mandor yang adalah wanita gembul berumur kisaran empat puluhan itu. Beliau mondar-mandir di sepanjang deretan karyawan produksi yang tengah sibuk mengerjakan tugas masing-masing.


Tidak ada yang berani menjawab atau menolak, karena kalau menolak atau bolos, maka siap-siap mendapat surat teguran dari atasan dan pastinya omelan sepanjang jalan kenangan dari sang mandor yang seolah bertingkah sebagai majikan. Padahal mereka adalah sesama karyawan meskipun berbeda jabatan.


“Ayo, cepat! Satu jam masa’ baru dapat segini, sih? Lihat itu target kamu berapa! Dasar lemot kamu!” Sentakan dan bentakan serupa itu sudah makanan sehari-hari di pabrik bagian produksi seperti itu. Di situ karyawan dituntut untuk bekerja keras bak robot yang tanpa lelah. Setiap jam hasil masing-masing akan dihitung dan disetorkan lalu dicatat hingga ada pegangan bagi mandor untuk memeriksa serta menghujat siapa pun karyawan yang dianggapnya lemot dan memperlambat kinerja seluruh tim produksi.

__ADS_1


Awalnya Ayudia merasa kaget dan sakit hati setengah mati pernah dikatai begitu, tetapi lantas sepanjang hari yang didengarnya memanglah kalimat bernada serupa itu hingga akhirnya telinga serta hatinya kebal. Ibaratnya mandor memang dibayar untuk melakukan hal itu, menekan karyawan agar bisa menghasilkan hasil yang sesuai dengan target perusahaan.


Dengan kondisi yang seperti itu, Ayudia semakin jarang bisa sempat berkomunikasi dengan Elvira maupun teman-teman korban bualannya yang lain. Sepulang kerja ia sudah sangat kelelahan dan tak mood lagi untuk berhalusinasi menjaga image imajinatif bahwa ia adalah mahasiswi universitas di Bandung sana.


Apalagi setiap berangkat dan pulang bekerja ia harus selalu was-was tak ingin berpapasan atau terlihat oleh kawan semasa SMA-nya bahwa dia hanyalah seorang karyawan pabrik rendahan. Padahal, itu juga bukan hal yang memalukan selain anggapan dari Ayudia sendiri. Tidak pernah ada yang menghina profesi karyawan selain dirinya sendiri. Dan ironisnya, dia kini menjalani profesi tu sebab himpitan ekonomi.


“Kasihan sekali kamu, Dia. Bener kan di situ nggak bisa santai kerjanya, capek, ya, Nak?” Bu Nani seringkali meratapi nasib putrinya.


Tapi di depan sang ibu dan ayah, Ayudia selalu berusaha tegar. Ia mungkin memang tega membohongi Elvira dan banyak teman lainnya, tetapi kepada ayah dan ibunya, ia tak pernah tega untuk melihat mereka susah atau menderita. Bila bisa, maka akan sedapat mungkin digantikannya. Salah satu yang bisa dilakukannya yaitu bekerja saat itu.


“Benarkah, Dia?” tanya Bu Nani tampak sedikit berbinar mata sayu nya.


“Iya, Bu. Jadi awalnya itu Ayudia memang di bagian produksi biasa, tapi lantas atasan mungkin lihat ijazah Ayudia atau gimana, akhirnya Ayudia sering diminta bantuan ke kantor untuk mengerjakan laporan-laporan produksi, jadi tidak mengerjakan produksinya, hanya mencatat hasilnya saja, Bu.”

__ADS_1


Ya, memang ada beberapa karyawan beruntung yang kebagian job desk seperti itu, tapi tentu saja bukan Ayudia orangnya. Yang dipilih biasanya yang cantik jelita, tubuhnya proporsional dan pandai berdandan ria. Ketelitian serta kecerdasan saja tak cukup ternyata untuk mendapatkan posisi yang enak. Good looking is a must!, mungkin satu kalimat yang pas untuk situasi yang Ayudia amati ditempatnya bekerja. Begitulah dunia nyata! Itu juga sebabnya kenapa Ayudia jauh lebih nyaman tenggelam dalam dunia halusinasi nya sendiri.


“Alhamdulillah, Nak. Ibu bangga sekali sama kamu. Syukurlah kalau kerjaan kamu nggak seberat yang mereka bilang. Ibu kalau dengar cerita tetangga itu aduh, kasihan lihat kamu kalau sampai mengalaminya juga. Katanya mandor-mandornya itu juga jahat sekali perkataannya sering kasar sama karyawan,” ucap Bu Nani tak dapat menahan nada bahagia dari suaranya.


“Ayudia nggak mengalaminya, Bu. Ibu tenang aja,” ungkap Ayudia setengah untuk menghibur dan menenangkan hati sang ibu, separuh untuk memenuhi rasa gengsinya sendiri.


Pak Anwar yang mendapat kabar dari istrinya juga turut bahagia. Setidaknya Ayudia tak sengsara yang diperkirakan. Putrinya itu sekarang tiap bulan selalu memberi Pak Anwar dan Bu Nani sejumlah uang dari hasil gajinya. Hal yang begitu membuat mereka terharu, meskipun awalnya mereka berkeras menolak karena ingin Ayudia menyimpannya saja untuk diri sendiri. Mungkin kelak saat sudah terkumpul banyak bisa untuk biaya kuliah.


“Tidak apa, Pak, Bu. Tolong terimalah. Cuma ini bentuk bakti Dia, ya. Untuk tabungan Dia udah sisihkan sendiri, kok.” Sungguh mulia sikap putri mereka, begitu anggapan Pak Anwar dan Bu Nani sambil tak kuasa menahan haru.


Yang dilupakan oleh Ayudia adalah bahwa mungkin saja Bu Nani bercerita hal itu kepada tetangga lain yang juga sesama karyawan di pabrik Ayudia. Bila sampai hal itu terjadi, maka seketika itu pula kebohongannya akan terbongkar. Tapi ia berpikir bahwa para tetangganya yang bekerja di sana adalah ibu-ibu yang sangat sibuk, jarang sekali keluar rumah, sepulang dari pabrik mereka akan berkutat di dalam rumah dengan anak dan suaminya. Paling hanya sesekali keluar untuk belanja keperluan rumah dan dapur saja. Ibunya pasti tak akan punya kesempatan untuk membahas bualan Ayudia tersebut, pikirnya.


Adapun niat ibunya untuk membicarakan perihal Ayudia itu adalah untuk membanggakan putrinya yang kini bisa bekerja mapan di pabrik dnegan pekerjaan yang tidak seperti karyawan produksi lainnya. Lantas juga ia membangga-banggakan bahwa kini Ayudia bisa sangat menopang kebutuhan ekonomi keluarga mereka. Memang kondisi keuangan keluarga mereka lantas membaik seiring waktu setelah Ayudia bekerja dan berpenghasilan sendiri.

__ADS_1


 


__ADS_2