Jatuhnya Sang Bintang

Jatuhnya Sang Bintang
Bab 39 Perkara Jodoh


__ADS_3

Semenjak hari itu, Ayudia jadi sering berkomunikasi dengan Gio. Beberapa kali Dewi juga berkata ia mendapatkan titipan salam atau bahkan beberapa kue-kue dari Gio saat saudaranya itu sedang mampir ke rumahnya. Pun saat Gio sedang ada kepentingan ke kantor mereka, ia akan selalu menyempatkan diri untuk janjian makan siang dengan Ayudia dan Dewi di kantin.


Terkadang Dewi akan pamit menyingkir untuk sekedar memberi keleluasaan pada mereka berdua. Siapa tahu mereka ada hal yang ingin dibahas berdua saja.


“Ih, nggak apa-apa lagi, di sini aja.” Ayudia melarang Dewi pindah meja.


“Nggak ah, aku mau itu tuh, ngobrol sama Sinta,” elak Dewi lantas langsung membawa makanannya ke meja di mana tampak Sinta dan beberapa teman lain makan bareng dan mengobrol di salah satu meja agak jauh darinya.


Ayudia mendecakkan lidah seolah kecewa. Yang mana Gio langsung meresponnya.


“Kenapa? Merasa segan makan berdua aja denganku, ya?” tanya pria itu penasaran.


“Hehe, nggak juga, sih. Cuma kan lebih enak rame-rame sama Dewi juga,” jawab Ayudia mengelak padahal iya benar begitulah alasannya.


“Santai aja lah. Anggap kita udah temenan lama, kan udah sering ngobrol juga di telfon dan chat,” kata Gio menghibur.


Ayudia terkekeh dan berusaha bersikap santai. Tapi masalahnya ia juga terganggu dengan banyaknya pandangan orang-orang di kantin padanya. Yah, mungkin karena sosok Gio yang bukan karyawan kantor itu dan tampak asing jadinya banyak perhatian tertuju ke arahnya.


Sikap santai dan kocak Gio lumayan membuat Ayudia nyaman meskipun ia masih saja bersikap menjaga jarak. Dewi sudah beberapa kali berkata bahwa sepertinya Gio punya perasaan khusus padanya tapi Ayudia tak mau berharap lebih dulu bila pria itu belum fix bilang sendiri padanya. Terkadang hal-hal serupa itu bisa jadi bahan candaan saja soalnya. Jadi Ayudia merasa harus tetap bersikap netral hanya sekedar berteman.


“Oh, ya, kalau main ke rumah kamu, kenalan sama ortu boleh nggak, Dia?” tanya Gio mendadak.


Ayudia yang tengah menyuapkan sesendok nasi soto ayam dari mangkuknya tersedak dan terbatuk-batuk saking kagetnya mendengar pertanyaan itu.


Serta-merta Gio menyodorkan gelas minuman jus jeruk milik Ayudia ke depan gadis itu dan juga meraihkan tempat tissue ke arahnya.


“Kamu nggak apa-apa, Dia? Maafin, ya. Duh, sampai tersedak gitu,” katanya tak enak dengan tatapan cemas.


Ayudia mengelap mulutnya setelah meminum jus jeruk dan mencoba meredakan seret di tenggorokannya akibat tersedak. Sakit sekali hingga beberapa saat ia terdiam.


“Udah baikan?” tanya Gio masih cemas.


“Ya ampun, pas nyuap sambel lagi nih, pedes amat di tenggorokan tahu!” Ayudia kini mengomeli Gio.


“Wkwkwk, maaf, maaf! Habisnya cuma ditanyain gitu aja kenapa sekaget itu, sih?” Gio mengutarakan keheranannya.


Ayudia terdiam. Ia sampai lupa menjawab pertanyaan yang menyebabkannya tersedak itu tadi.

__ADS_1


“Ayo, jawabannya apa? Boleh nggak? Nanti malam kalau boleh aku mau main ke rumah kamu. Nanti share lok ya kalau udah di rumah,” pinta Gio sambil sedikit memaksa.


Lalu mau bagaimana lagi selain menjawab boleh. Tidak mungkin ditolaknya kalau sudah dipaksa begitu.


“Ya udah dateng aja asal jangan malem-malem ya,” pesan Ayudia memperingatkan.


“Nggak lah, palingan abis Maghrib, ya?” tanya Gio lagi, meminta persetujuan.


Ayudia menganggukkan kepala menyetujui. Ia menekan segala perasaan dan berharap sikapnya tetap bisa sebiasa mungkin. Gio hanya ingin main ke rumahnya dan berkenalan dengan orangtuanya. Bukan hal lain yang lebih serius dari itu, batinnya menenangkan kegalauannya sendiri.


Padahal, ia tak tahu saja bahwa di kepala Gio sekarang sudah banyak sekali perencanaan matang yang akan segera ia realisasikan mengenai hubungannya dengan Ayudia. Ya, ia sudah banyak bertanya pada Dewi mengenai gadis di hadapannya itu. Tentang apa saja kesukaannya, tentang keluarganya meskipun hanya sekilas saja, juga tentang kepribadian Ayudia.


Untungnya Dewi sudah percaya kalau Ayudia telah bertaubat dari kebiasaan berbohongnya yang pernah dia lakukan di masa remaja mereka waktu itu. Biarlah itu tetap menjadi rahasia di antara yang tau saja. Tak perlu ia ungkap kepada Gio karena sudah tidak ada hubungannya juga dengan masa depan mereka kelak. Lagipula Ayudia juga sudah membuktikan bahwa semakin hari ia terus mengalami self improvement setiap harinya. Dewi melihat sendiri perubahan positifnya hingga saat ini.


Oleh sebab itu Gio sepertinya sudah menemukan gadis yang cocok untuk dijadikan pelabuhan hatinya, alias calon istrinya. Tinggal meyakinkan Ayudia untuk menerimanya setelah nanti mendapatkan kesan yang bagus di hadapan orangtua gadis itu. Dari Dewi ia juga mendapat saran untuk sekedar membawa buah tangan dan juga menjaga sikap untuk tetap sopan dan segan kepada orangtua Ayudia. Dewi bilang ia mengenal baik kedua orangtua Ayudia dan menurutnya keluarga mereka memang baik semuanya. Tidak akan menuntut banyak hal selain pastinya kebahagiaan untuk putri mereka satu-satunya itu.


Sepulangd ari kantor, Ayudia yang jadi kelabakan sendiri bersiap tetapi tak tahu hendak mempersiapkan apa. Ia sudah dimintai chat share lok di jam lima oleh Gio, soalnya ia takut kalau kesasar meskipun Dewi sudah memberitahu ancer-ancernya.


“Bu, nanti ada teman pria Ayudia yang mau main ke sini, boleh ya?” tanya Ayudia akhirnya setelah ia menghampiri ibunya di dapur.


Bu Nani seperti biasa sedang membuat kudapan untuk dimakan mereka nanti saat Pak Anwar pulang. Teman ngobrol wajib katanya. Kali ini beliau menggoreng tape tepung dan juga pisang goreng.


“Ya nggak apa-apa, Bu. Gorengan aja. Dia santai kok orangnya, cuma mau main aja bentar, nggak akan lama,” kata Ayudia menenangkan sang ibu.


“Gitu, ya? Atau kamu mau keluar bentar dong beliin apa gitu, kek. Buah aja di Mang pojok,” usul Bu Nani agar minimal ada yang lain untuk disuguhkan.


Ayudia berpikir sejenak kemudian akhirnya menuruti saran tersebut. Tidak enak kalau tidak ada apa pun nanti untuk disiapkan. Ia pun akhirnya pergi ke warung pojok yang menjual buah dan sayuran setiap harinya. Dari sana karena sudah sesore itu, hanya tersisa semangka kuning dan melon yang kecil. Akhirnya Ayudia membeli keduanya dan langsung mencuci serta memotong-motongnya lalu menaruhnya di piring saji dan dimasukkan ke kulkas.


“Udah beres, Bu.” Ia melapor pada Bu Nani yang kini sudah asyik duduk di depan TV usai menyelesaikan menggoreng.


“Ya udah, sini ceritain sama ibu siapa dia,” kata Bu Nani kemudian.


“Loh? Ceritain soal apa, Bu? tanyanya malu-malu. Semburat merah sudah menyelimuti wajah gadis itu.


“Ya soal siapa dia dan mau apa. Gak mungkin kan dia nggak ada urusan apa-apa tapi mendadak mau ke sini, Nak.” Bu Nani akhirnya to the poin.


“Ya pokoknya dia itu temennya Ayudia—“

__ADS_1


“Temen sekantor?”


“Bukan sih, Bu. Dia itu aslinya sepupunya Dewi. Kami bertemu dan kenalan pas kemarin di nikahannya Dewi itu,” kata Ayudia mulai bercerita.


“Oooh gitu ... lalu?”


“Ya lalu kami jadi sering ketemu dan ngobrol karena dia ternyata juga sering harus ke kantorku untuk urusan kerjaan. Ada kerjasama dengan kantor asuransi di mana dia kerja,”lanjut Ayudia yang tak menyangka ia bisa lancar berbicara secara terbuka begitu pada ibunya.


“Wah, bagus berarti Ibu sekarang udah punya informasi kalau dia juga udah punya kerjaan dan lumayan mapan, ya?” tanya Bu Nani lagi.


“Ih, tapi Ibu kok udah mikirin pekerjaannya segala sih, Bu? Kan udah kubilang kami cuma temenan aja, Bu,” sergah Ayudia merasa keberatan bila perbincangan mereka lebih mendekat ke arah yang satu itu.


“Ya tapi kan nggak apa-apa juga Ibu kumpulin informasi yang berkaitan, Dia. Cuma biar tahu aja kok. Bukan untuk apa pun,” elak Bu Nani sembari tersenyum santai.


“Sebenernya Bapak kamu juga udah beberapa kali tanya sama Ibu, apa kamu itu belum ada kenalan lelaki. Kan biasanya tuh para tetangga pada nanyain karena anak-anak mereka udah pada nikah semua itu kan.” Bu Nani melanjutkan obrolan yang justru inginnya dihindari dulu oleh Ayudia itu.


“Nah, kan. Dia juga menghindari itu, Bu. Tadinya mau nolak dia yang mau datang main tapi segan. Takut dikira sombong. Nah sekarang udah kuizinin jadi takut ibu dan bapak berprasangka yang bukan-bukan. Belum lagi ntra juga pasti jadi omongan tetangga.” Ayudia berkata dengan nada kesal.


“Ya jangan dibawa serius juga, Dia. Kan wajar aja kalau kita perbincangkan. Siapa tahu aja memang ada jodohnya. Kalau nggak dan hanya berteman juga boleh aja, aman, Nak.” Bu Nani segera menjawab agar Ayudia tak lantas melanjutkan kesalnya.


“Huuuft, nanti pokoknya kalau sama dia jangan sampai ngobrolnya kebablasan ya, Bu. Jangan ungkit soal jodoh atau segala yang berhubungan dengan itu. Pokoknya anggap aja dia cuma tamu biasa, temen kerja, udah.” Ayudia memperingatkan ibunya yang kemudian dijawab iya oleh snag ibu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya karena melihat betapa terkadang sikap Ayudia masih sekaku itu.


Ayudia pun kembali ke kamarnya lagi dan di sana ia jadi bingung soal mau pakai baju apa, mau berpenampilan bagaimana. Astaga! Padahal dia sendiri yang berkata pada ibunya untuk bersikap biasa saja. Tapi kenapa malah dia sendiri kini yang kebingungan.


Saat tersadar, akhirnya ia langsung mengakhiri kegalauan dan memutuskan akan berpenampilan apa adanya, sama seperti Ayudia yang biasanya. Karena menurutnya, kalau memang Gio menyukainya, maka ia akan menerima bagaimana pun kondisi Ayudia seadanya. Tidak berharap lebih dan juga tidak menuntutnya untuk berubah menjadi sempurna.


Ia kemudian mengirimkan pesan kepada Elvira untuk meminta doa yang terbaik untuk dirinya. Dia berkata bahwa sore itu sedang dalam kondisi galau luar biasa dan minta didoakan akan bisa melewati masa itu. Elvira tentu saja jadi cemas karenanya hingga gadis itu menelepon untuk mencari apa sebearnya yang sedang menimpa Ayudia.


“Nggak ada apa-apa, kok. Ya pokoknya hati lagi galau aja gitu, El. Kamu doain aku, ya. Semoga yang terjadi adalah yang terbaik,” jawab Ayudia bertahan dalam kemisteriusannya. Ia akan malu kalau mengakui bahwa dirinya sedang bingung sebab akan didatangi oleh Gio ke rumah. Elvira pasti akan menertawakan dan bahkan mencibirnya meskipun mungkin itu bisa disebut sebagai gurauan sesama teman, tetap saja ia tak akan nyaman bila ditertawakan.


“Ya ampun, ada apa sih. Aku pasti doain yang terbaik, kok. Tapi jadi penasaran deh kamu kenapa.” Elvira lagi-lagi mencecar mencari jawab. Tapi Ayudia tetap bergeming tak mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Biar itu jadi rahasianya sendiri atau juga mungkin Dewi saja yang tahu karena pasti Gio sudah cerita pada sepupunya yang satu itu.


“Huuuft, BT! Suka amat deh bikin aku penasaran, ish!” cerocos Elvira dongkol. Tapi Ayudia tahu kekesalan temannya itu pasti tak akan bertahan lama. Elvira selalu punya sifat yang sangat mudah memaafkan kesalahan siapa pun. Apalagi yang sudah dekat dengannya. Seolah sudah tak ada batas apa pun di antara mereka.


Usai mengobrol dengan Elvira, untunglah sedikit banyak beban di hati Ayudia bisa menghilang. Setidaknya ia kini bisa mengentengkan semuanya.


“Anggap aja sedang kedatangan temen kantor biasa yang berkunjung, Dia,” ucapnya pada diri sendiri.

__ADS_1


Kini dikembalikannya semua baju yang tadinya sudah ia keluarkan untuk dipilih dan dipadu-padankan. Matanya mendelik membayangkan bagaimana ruwetnya tadi pikirannya sampai seluruh isi lemari sudah berada di atas ranjang. Astaga! Sungguh di luar kebiasaannya.


__ADS_2