
Singkat cerita, pertemuan di hari Minggu pagi itu pun terlaksana dengan penuh khidmat. Ibu Gio tampaknya wanita yang sangat penyabar dan ramah serta lekas sekali akrab baik dengan Bu Nani maupun Ayudia. Tentu saja awalnya Ayudia yang introvert itu malu-malu dan menghindar. Tapi karena sang calon ibu mertuanya itu tak segan untuk terus mendekatinya lebih dulu dan bersikap sok akrab agar kebekuan di antara mereka lekas cair pun akhirnya membuat Ayudia juga membuka diri.
Tidak berbeda dengan Gio, rupanya ibunya pun terkadang suka bertingkah jenaka yang menyebabkan dua keluarga akhirnya tergelak penuh tawa. Mereka sempat juga bercerita perihal mendiang ayah Gio yang dulu ada pesan untuk kalau Gio yang anak tunggal mereka itu sebisa mungkin mencari jodoh dari daerah yang dekat-dekat saja. Sebabnya tentu saja agar bila sudah menikah dan tinggal terpisah dari ibunya, setidaknya masih visa sesering mungkin saling menjenguk. Bahkan kalau bisa membangun rumah pun di tanah sebelah rumah ibunya saja.
“Kalau soal itu saya rasa tidak ada yang berkeberatan, ya, Bu. Toh tumah kita besan juga nggak jauh-jauh amat. Kita bisa saling berkunjung kapan pun, ya, Bu.” Bu Nani menjawab dengan ramahnya.
Ayudia yang kini seolah tak pernah dimintai pendapat pribadinya sama sekali. Seolah semua keputusan bukan berasal dari dirinya. Dia bahkan tak ditanyai apa benar dia mau menerima Gio sebagai calon suami? Astaga1 Keterlaluan sekali orang-orang ini, pikirnya membatin.
Tapi toh, meskipun Ayudia tak mengatakan sepatah kata pun, sikapnya menunjukkan kalau dia dan Gio memang telah memiliki hubungan yang erat. Dan lagipula mereka berdua tampak sangat cocok bersanding kalau dalam penglihatan dua belah pihak orangtua. Entahlah, mereka jadi merasa tak perlu lagi menanyai bagaimana keinginan Ayudia lagi. Sudah tercetak jelas bahwa Ayudia pasti setuju meskipun tak pernah terucap kata itu. Yah, karena anak gadis memang biasanya malu-malu dan sangat berhati-hati dalam masalah itu.
Akhirnya mereka langsung membicarakan soal jadwal resmi pertunangan yang Gio akan membawa beberapa kerabat dekatnya juga. Mereka memilih beberapa tanggal untuk kemudian dibicarakan ulang dulu dengan keluarga besar karena ini juga menyangkut kehadiran mereka semua.
Ayudia tak bisa tidak langsung berkabar pada Elvira. Sahabatnya itu sampai memekik kegirangan saat diberitahu soal kabar gembira itu.
“Yeayy! Fix nih aku jadi bridesmaid lagi. Yuhuuuuuu! Kali ini aku akan ajak Emma, ya? Boleh, kan?” tanya Elvira girang.
“Hahaha, tapi resepsiku nanti nggak akan semewah pernikahannya Dewi lah. Kami sepakat mau sederhana aja, El. Gio bilang mau resepsi mewah atau uangnya buat DP KPR aja. Jadinya aku langsung pilih DP KPR deh, wkwkwk.” Ayudia bercerita panjang mengenai perencanaan mereka yang termasuk dadakan itu.
“Ih, keren banget kalian sumpah!” komentar Elvira yang seketika jadi mupeng juga katanya ingin segera nikah juga.
“Heh! Selesein dulu kuliah baru nyusul aku nikah, hihihi!” tegur Ayudia sambil mengikik geli.
“Nanti aku mau tanya sama David, kira-kira aku juga bakal ditawarin kayak kamu juga gak sih? Mau resepsi mewah atau uangnya buat DP kpr? Uwuuwww itu tuh bener-bener ungkapan paling romantis abad ini tahu nggak!” kata Elvira masih belum bisa move on dari bucin model Gio yang so sweet.
“Gio ini keren amat tapi, ya. Gak banyak kata tapi langsung aja gitu, gass bertindak. Duh, sumpahaku nge-fans mendadak ini sih sama calon suami kamu itu!”
“Haha, ngefans apaan. Orang nyebelin kayak gitu, kok. Duh, beneran kayak ekspress banget dia maunya. Kayak diburu-buru apa gitu deh! Untung aja ini si Mbak Rasty juga udah balik ke kantor mulai Senin depan. Seenggaknya nanti pas aku minta cuti untuk wedding gak akan harus berurusan dengan Pak Joni.” Ayudia berkata lagi.
“Nah betul banget, express bener. Bentar deh aku nanti mau kepoin Dewi apa dia kali ya yang memuluskan jalan kalian, xixixi. Pastinya tuh si Gio udah cari tahu lengkap soal kamu ke Dewi langsung, makanya nggak perlu sampai kenalan lebih lama lagi sama kamu udah yakin aja kalau kamu pantas buat jadi istri dia, alamaaak so sweet!” Elvira terus terkagum-kagum pada sikap Gio.
Kalau saja pernyataannya sedari tadi itu didengar oleh David, kemungkinan besar David pasti cemburu karena merasa Elvira begitu kagum pada sosok Gio.
***
Dan acara pertunangan yang resminya pun berjalan lancar. Dua keluarga yang memang sepakat untuk hanya mengundang para kerabat dekat saja tak begitu kerepotan karena harus mengadakan pesta atau jamuan. Hanya seperti ajang silaturahmi dua pihak keluarga saja sambil memperbincangkan rencana pernikahannya.
Dengan begitu, justru acara jadi bisa berlangsung sekhidmat mungkin. Ayudia dan Gio juga memanfaatkan momentum tersebut untuk membaur dengan keluarga dari pihak calonnya. Saling mengakrabkan diri agar kelak bila sudah benar-benar menjadi bagian dari dua keluarga itu, mereka tak akan lagi terlalu kagok.
Dewi berkali-kali mencubit lengan Ayudia karena bahagia sekali mereka benar-benar akan jadi satu keluarga.
“Dulu pas aku ajuin nama kamu buat aku kenalin ke Gio tuh aku padahal nggak yakin loh kalau kalian itu akan cocok. Masya Allah rupanya Allah kalau udah berkehendak itu apa pun bisa aja terjadi, ya.” Akhirnya Dewi bercerita awal mula mengapa Gio sampai meminta kenalan dengan Ayudia saat itu. Padahal banyak lagi kan gadis lain teman Dewi saat resepsinya waktu itu.
“Emangnya kenapa bisa gak yakin gitu?” tanya Ayudia dan Gio menyimaknya sambil menyeruput minuman. Ia memakai setelan jas yang kerah kemejanya ditutup hingga sedari tadi merasa haus melanda. Tak hentinya ia minum air putih terus-menerus.
__ADS_1
“Ya soalnya kepribadian kalian itu kukira beda banget loh. Kan Ayudia ini introvert dan kaku, tuh. Udah gitu gengsian dan tertutup lah orangnya. Sementara si Gio kebalikannya banget. Kocak, slengehan dan banyak lah pokoknya beda kalian itu!” jawab Dewi menuturkan pendapatnya.
“Ya justru karena perbedaan itu yang menyatukan kita, ya, kan, Sayang?” celetuk Gio sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Ayudia yang malam itu begitu cantik dengan mengenakan gamis model kebaya modern dan berpotongan simple pas melekat di badannya. Indah sekali di pandangan Gio yang semakin terpesona oleh sang calon istri.
“Ish! Jangan ngegombal!” geram Ayudia sambil mencibir. Dewi dan suaminya lantas terbahak melihat tingkah sepasang calon pengantin itu. Sudah akan menjelang acara pernikahan resmi mereka tetapi keduanya masih saja hobi berdebat. Ada aja yang jadi bahan perseteruan mereka meskipun selalu berakhir jenaka.
***
“Alhamdulillah, sah!”
Ucapan dari para saksi saat akad nikah Ayudia dan Gio itu seketika membuat beberapa pasang mata mengembun menahan isak. Ya, tangis haru bercampur bahagia tak kuasa ditahan oleh Bu Nani, Pak Anwar, juga Ayudia dan Elvira yang sempat mengingat bagaimana fase sakit mentalnya Ayudia yang dulu seolah sangat susah untuk disembuhkan.
Tapi rupanya Allah memanglah Sang Maha Pemberi Hidayah. Bila dikehendakinya Ayudia bisa bertaubat, maka terjadilah. Ayudia sadar akan kesalahannya atas berkat kesempatan yang diberikan oleh Alllah untuk memperbaiki kehidupannya yang perlahan ia rusak sendiri. Sikap Ayudia yang mampu menyingkirkan gengsinya untuk kemudian meminta maaf di depan semuanya itu juga adalah merupakan titik balik perubahan hidupnya ke arah yang lebih baik.
Setelah itu, Allah akhirnya memudahkan perjalanan hidupnya. Ia perlahan mulai bisa mengontrol sikap dan juga egonya. Ia juga mulai bisa memilah mana yang tak baik dan mana yang baik hingga menjadi insan yang jauh dari kebohongan yang dulu adalah kebiasaannya.
Usai acara akad nikah yang penuh haru di masjid dekat rumah Ayudia itu, mereka diarak menuju ke halaman rumah Ayudia untuk melangsungkan acara resepsi. Banyak sekali teman sekolah maupun teman kantor Ayudia yang datang mengucapkan selamat dan membrikannya kado spesial. Bahkan rombongan banyak sekali karyawan dari bagian produksi pun turut meramaikan perhelatan hingga hampir kursi tamu di bawah tenda yang disediakan kurang. Banyak yang duduk di dalam rumah dan berpencar juga sampai ke halaman tetangga saking banjirnya tamu undangan.
Apa daya, memang para karyawan pabrik bagian produksi yang jumlahnya dalam satu bagian itu sangat banyak dan mereka sepakat datang secara serentak saat pulang kerja, jadi membuat benar-benar ramai suasana. Berkali-kali Ayudia mengucapkan terima kasih dengan sangat terharu atas kehadiran mereka semua yang mau menyempatkan diri datang secara rombongan begitu.
Belum lagi teman-teman yang dair bagian kantor. Untungnya mereka sudah dijapri oleh Dewi agar datangnya agak malam saja karena sore harinya tempat resepsi sungguh sangat penuh sekali oleh tamu berjubel.
Elvira yang ikut bersibuk ria di situ sebagai salah satu tim serba-serbi juga ikut kewalahan sekali kala itu. Ia sampai memprotes Gio yang tak menyewakan gedung resepsi karena ternyata tamu benar-benar membludak hingga tak muat lagi.
Tapi meskipun banyak kerempongan terjadi, resepsi hari itu berakhir dengan lancar terkendali. Tidak ada masalah yang cukup berarti. Hingga tampak Pak Anwar dan Bu Nani juga bahagia dan puas melihat semuanya berjalan aman damai. Terlebih kebahagiaan juga terpancar jelas dari seluruh keluarga yang hadir. Tampak para tetangga juga bahu-membahu saling membantu bila ada acara serupa itu. Sehingga tuan rumah bisa sangat tertolong oleh banyaknya bantuan yang secara suka rela datang tanpa diminta.
Elvira berdiri bersandar ke sebuah pilar yang di sebelahnya ada David menemani. Mereka tengah menatap ke arah pelaminan di mana Ayudia dan Gio sibuk menyalami para tamu dan sesekali mengambil foto dengan sanak family atau teman kantor maupun sekolah.
“Alhamdulillah, ya. Ayudia akhirnya menemukan juga bahagianya ....Komentar Elvira sambil dadanya penuh haru dan ikut merasakan getar syukur atas kebahagiaan sang sahabat.
“Soalnya dia mampu berubah dari Ayudia yang dulu kayak gitu ... sekarang bisa sebaik ini. Meskipun perubahannya harus melalui proses yang tidak ringan, kan. Kita tahu perjalanan dia menuju hidayah itu lumayan terjal. Kalau bukan karena pertolongan dan kesempatan dari Allah, mungkin juga berkat doa orangtuanya yang telaten dan sabar itu, entah apa yang menimpa Ayudia dulu.” David ikut menimpali.
Sungguh kini mereka ikut bahagia dengan pemandangan meriah yang tengah dialami oleh Ayudia itu. Mereka berharap Ayudia akan semakin baik setiap harinya. Menjadi bermanfaat bagi orang tua dan mertuanya, juga mampu menjadi istri yang baik untuk sang suami.
“Oh, ya. Kita rencana setelah wisuda, kan?” David nyeletuk sambil mengedipkan mata. Langsung saja Elvira memukul lengan pria itu dengan kipas plastik yangs sedari tadi memang dipegangnya sebab gerah melanda akibat ramainya suasana.
“Enak aja! Cari kerja dulu yang bener. Halalin anak orang itu butuh duit!” sergah Elvira pura-pura bersikap garang hingga David tergelak sampai perutnya sakit.
“Iya-iya, Paduka Ratu. Hamba akan giat mencari kerja nanti setelah wisuda untuk segera meminang Tuanku Ratu,” kelakar David yang mengundang tawa Elvira. Mereka begitu santai menjalani hubungan karena merasa bahwa kalau memang jodoh, maka pasti akan bersatu juga kelak di ikatan halal. Tidak perlu mengejar-ngejar atau terburu-buru. Semua telah diatur oleh Sang Maha Penulis Skenario terbaik kehidupan yaitu Allah Sang Pemilik Semesta Alam beserta seluruh isinya.
Perdebatan kecil itu berhenti karena mendadak ada keriuhan di antara kelompok Dewi dan teman-teman sekantor Ayudia. Ada sepasang tamu undangan yang hadir dan langsung menarik perhatian mereka. Siapa lagi kalau bukan Pak Joni, sang manager garang sekaligus idola para karyawati di Vicentra. Namun ada yang aneh. Karena kedatangannya bersama Rasty serta cara mereka berjalan beriringan sambil lengan keduanya saling terkait tentu saja membuat banyak pasang mata orang-orang dari Vicentra terperangah.
“Apa-apaan itu? Apa mereka jadian?”
__ADS_1
“Gila! Jadi selama ini Mbak Rasty sama Pak Joni ada affair di kantor? Astaga! Nggak nyangka banget!”
“Eh, mana aku sering banget lagi nitip salam becandaan buat Pak Joni ke Mbak Rasty! Ya ampun! Malu banget aku!”
Banyak suara yang berseliweran riuh menggibahi pasangan yang baru saja datang itu. Sebagai bawahan, Ayudia tentu dengan sopan langsung menyambut edatangan dua orang tu dan menyalami mereka serta menerima sebuah paperbag berisi kado dari Mbak Rasty.
“Makasih banyak sudah menyempatkan diri untuk hadir, ya, Mbak Rasty, Pak Joni ... Mari silakan duduk ....” Ayudia agak kikuk kala mempersilakan keduanya.
Ia sungguh kaget juga, sama seperti semua teman sekantornya yang lain melihat pemandangan tersebut. Tetapi sebagai tuan rumah, tentu ia berusaha menjaga sikap agar tak membuat mereka tak nyaman di resepsi pernikahannya. Bagaimanapun, mereka sudah menyempatkan diri untuk datang menghadiri undangannya. Dan itu patut diapresiasi sebab mereka pasti orang sibuk yang banyak acara di luar sana.
“Jadi kamu yang sebelumnya menggantikan ku, ya? Apa dia merepotkan mu selama ini?” tanya Mbak Rasty sambil mengulas senyum ramahnya ke arah Ayudia.
“Eh ... emm, nggak kok, Mbak. Pak Joni ... dia—“ Semakin kikuk saja Ayudia tak tahu harus menjawab apa. Bagaimana mungkin dia bisa membongkar keluhannya bahwa Pak Joni itu sosok galak pria dingin kejam yang gak ada ramah-ramahnya sama sekali sama orang. Kan nggak sopan!
“Mana ada! Kamu aja yang selalu mikir aku ini buruk di mata semua orang. Tanya aja ke mereka, aku ini pimpinan yang baik dan tegas. Iya kan, Ayudia?” sela Pak Joni mendahului. Yang mana terpaksa diangguki oleh Ayudia demi keamanan perhelatan resepsinya kali itu. Cari aman!
Usai sedikit berbasa-basi dengan pasangan fenomenal itu, Ayudia ditarik Dewi dan diinterogasi tentang cerita di balik kemesraan antara Mbak Rasty dan Pak Joni.
“Bener mereka pacaran?”
“Lalu yang selama ini bertingkah kayak anjing dan kucing di kantor itu maksudnya apa, coba?”
“Iya, ih. Ketipu banget kita, nih. Bener-bener di luar nalar!”
Mereka menginterogasi Ayudia seolah ia tahu segalanya. Padahal kan dia pun sama saja kagetnya dengan mereka.
“Mana kutahu, gengs. Biarin aja lah. Mungkin biar nggak ke-detect hubungan sekantor. Kan katanya nggak disarankan meNjalin hubungan satu kantor tuh,” jawab Ayudia mencoba menabak.
Ya, tentu saja hanya asal menebak. Karena tak mungkin dirinya punya nyali untuk mengkonfirmasi hal itu pada Mbak Rasty ataupun Pak Joni. Melihat Mbak Rasty telah bisa kembali ke kantor saja ia sudah bahagia. Lumayan, setelah ini ia akan bebas lepas dari makhluk kulkas bernama Pak Joni itu.
Dan kejadian itu menjadi perbincangan mereka di kantor hingga berhari-hari selepas resepsi di rumah Ayudia saat itu. Jodoh memang sebuah misteri. Ayudia yang dulunya bertahun-tahun mengagumi David ternyata berjodoh dengan Gio yang dalam waktu singkat perkenalan saja mereka telah dilancarkan menuju jenjang halal.
Sementara Elvira dan David, meskipun saling mencintai masih harus menghadapi banyak ujian terjal kelak di masa depan untuk menyatuan cinta mereka. Dan kasus Pak Joni yang selalu mengumpat Mbak Rasty kala wanita itu tak ada di dekatnya rupanya ialah pelampiasan kerinduannya semata!
Kelak, mungkin masih akan ada banyak kejutan dalam perjalanan hidup masing-masing. Karena setiap kita pasti akan Allah beri ujian sebesar kemampuannya dalam menghadapi. Hanya yang kuat iman akan terus bertahan dalam jalan yang lurus. Sementara, mungkin juga masih banyak yang terempas jatuh karena memilih jalan tak lurus.
Dari cerita Ayudia, semoga bisa dipetik nasihat kehidupan. Bahwa ketika kita diberi kelebihan oleh Allah, bukan berarti kita lantas berhak menyombongkannya dan bersikap sinis kepada yang lain. Bila suatu saat nikmat itu dicabut, tak ada yang bisa diperbuat selain menyesali kesombongan yang terlanjur terjadi. Terlebih kala tak bisa menerima kenyataan lalu memilih bersembunyi dalam kebohongan. Padahal, bangkai tetap akan tercium juga kelak meski serapat apa pun ia ditutupi.
Di samping itu, juga mengenai memberi kesempatan kedua kepada yang bersalah. Sebab, Allah saja masih selalu membuka pintu taubat bagi hamba-Nya. Maka sebagai manusia, kita pun selayaknya bisa mudah memaafkan kesalahan sesama kita. Memberi mereka kesempatan dan bahkan sebisa mungkin merangkul mereka serta membantu untuk berubah menjadi lebih baik. Karena banyak kasus terjadi, yang bersalah terus berkubang dalam hitam kehidupan hanya gara-gara masyarakat malah menghindari dan mengucilkan mereka, bukannya membersamai demi perubahan ke arah positif.
...THE END...
__ADS_1