
Ayudia yang tak pernah menggenggam lagi ponselnya itu semakin membuat Bu Nani khawatir. Pasalnya, hal itu sama sekali tidak seperti kebiasaan putrinya. Biasanya sesibuk apa pun, ponsel adalah hal yang akan selalu diperiksanya setiap hari.
Sampai saat ada panggilan berkali-kali dari kontak bernama Elvira dan tidak digubris oleh Ayudia, Bu Nani nekat mengangkat panggilan tersebut. Siapa tahu Elvira yang selama ini adalah teman dekat Ayudia tahu sesuatu tentang putrinya yang tak ia ketahui. Karena terkadang remaja bisa saja lebih terbuka saat curhat kepada sahabatnya ketimbang kepada orangtuanya sendiri.
“Nak Elvira? Halo? Maaf ini ibunya Dia,” ucap Bu Nani setelah ia menjawab salam dari Elvira barusan.
“Oh, iya Bu. Kok Ibu yang angkat, memangnya Dia ke mana, Bu? Dia nggak apa-apa, kan?” Suara di seberang tampak cemas meminta penjelasan.
Bu Nani menghela napas panjang dahulu untuk membuat dirinya tenang sebelum akhirnya melanjutkan.
“Ini Dia habis kecelakaan, Nak El. Lagi tidur sekarang,” jawab Bu Nani yang seketika membuat Elvira nun di seberang sana kaget sekali.
“Innalillahi! Kapan kecelakaannya, Bu? Sekarang kondisinya gimana? Apa di rumah sakit?” berondong Elvira yang langsung diliputi kecemasan, terdengar sekali dari nada suaranya yang tergopoh itu.
“Iya masih di rumah sakit sejak dua hari lalu. Ini masih butuh observasi di kepalanya karena terjadi benturan yang lumayan keras hingga Dia mengalami amnesia ringan,” lanjut Bu Nani memberikan sedikit penjelasan.
“Ya Allah ... amnesia, Bu?” Hanya itu yang dapat diungkapkan oleh Elvira. Lututnya terasa lemas karena iba terhadap sahabat yang beberapa hari ini memang tak bisa dihubunginya sama sekali itu. Ia memang sudah feeling kalau telah terjadi hal buruk terhadap Ayudia, tetapi ia sungguh tak mengira kalau itu adalah kecelakaan yang sampai merenggut ingatannya.
“Astaga, Insya Allah kalau pulang besok El akan mampir menjenguk, Bu.”
“Iya, Nak. Kalau bisa Nak El datang ya. Siapa tahu kalau sama sahabat terdekatnya dia bisa ingat,” pinta Bu Nani memelas yang tentu saja disanggupi oleh Elvira.
Ia lantas memutuskan sambungan karena tak sanggup berkata apa-apa lagi. Kebetulan weekend besok dia akan berencana pulang kampung sehingga ia akan langsung menjenguk Ayudia ke rumah sakit saja nanti, pikirnya memutuskan dalam hati.
Segera ia juga menghubungi David dan juga beberapa teman dekat lainnya untuk ikut bersama-sama menjenguk Ayudia nanti. Elvira memang selama ini selalu jadi koordinator untuk acara seperti itu di kalangan teman-teman SMA mereka.
Dan saat weekend tiba, ada enam orang yang datang bersama Elvira ke rumah sakit tempat di mana Ayudia dirawat. Mereka tampak prihatin dan terkejut dengan kondisi Ayudia yang menyambut mereka dengan ekspresi yang sangat aneh.
Bu Nani yang awalnya membuka pintu ruang rawat inap Ayudia itu tampak sumringah melihat banyaknya kawan Ayudia yang datang. Ia berpikir mungkin saja dnegan kehadiran teman-temannya itu Ayudia akan bisa kembali mengingat memorinya yang terlupakan.
“Dia ... lihat, Nak, siapa yang datang nih!” kata Bu Nani sambil mempersilakan Elvira, David dan keempat teman lainnya masuk. Ada yang membawakan parcell buah, sekotak roti manis dan entah banyak lagi di dalam kotak-kotak yang diterima Bu Nani.
Namun, respon Ayudia sendiri justru malah di luar dugaan sekali.
__ADS_1
“Siapa kalian?” tanya Ayudia sambil tubuhnya menggeliat mundur seolah menghindar ketika Elvira langsung hendak menubruknya, memberi pelukan.
Serta-merta ruangan senyap. Elvira berpandangan dengan kesemua temannya yang lain kebingungan. Tapi kemudian ia ingat bahwa Bu Nani bilang kalau Ayudia sedang hilang ingatan.
“Ah, ini aku El, Dia. Elvira! Kamu nggak inget aku?” tanya gadis itu sambil memasang ekspresi sabar dan telaten. Ia sebenarnya ingin bahwa kedatangannya bisa saja membangkitkan ingatan sang sahabat sejati. Tapi, rupanya tidak sama sekali. Dan itu lumayan membuat patah hatinya.
Tampak Ayudia memandang Elvira dengan tatapan nanar. Di kepalanya sedang bergelayut pertanyaan maha besar. Bagaimana bisa ada orang lain yang semirip itu dengan dirinya? Karena dalam kepalanya kini yang terekam adalah dirinya itu Elvira. Dan sosok Elvira yang muncul tepat di depannya kini tentu saja semakin membuatnya kebingungan dan kepalanya terasa mau meledak saking pusingnya.
Tangannya langsung memegang pelipis dan mengurutnya tanpa sadar. Tampak sekali Ayudia tengah kesakitan hingga Elvira mundur dan Bu Nani juga jadi kelabakan.
“Oh, maafkan Dia, ya, El, dan yang lain. Dia sepertinya terlalu terkejut. Dokter bilang jangan dulu dipaksa untuk mengingat semuanya. Harus secara perlahan. Bisa tolong kita bicara saja di luar, ya?” pinta Bu Nani tergopoh sambil menghampiri putrinya dan merengkuh mencoba menenangkan.
David langsung tanggap dan setengah menarik lengan Elvira untuk mengajaknya ke luar ruangan dulu.
“Yuk, temen-temen. Kita keluar dulu aja, kayaknya Dia butuh waktu untuk mengatasi keterkejutannya,” kata David penuh wibawa. Teman-temannya pun menurut dan menunggu di luar.
Tak berapa lama kemudian, Pa Anwar datang dan melihat mereka di luar langsung menyalami satu per satu karena mengenali Elvira yang adalah teman Ayudia.
“Kok nggak masuk? Yuk, silakan,” ajak Pak Anwar yang kemudian dijelaskan oleh mereka keadaan di dalam barusan.
“Sabar, ya, Pak. Kami juga kasihan sekali melihat kondisi Ayudia. Kami hanya bisa mendoakan agar segera bisa kembali sembuh dan ingatannya juga pulih kembali seperti sedia kala,” ucap Elvira mewakili teman-temannya yang lain.
Mereka pun duduk berjejer di bangku panjang yang memang disediakan untuk penunggu pasien di luar ruangan. Pak Anwar ditanyai tentang kronologi kecelakaannya dan saat beliau berkata bahwa Ayudia kecelakaan tunggal jatuh dari motor sepulang kerja, tentu semua yang datang terkejut dan mengira salah dengar.
“Maksud Bapak pulang kuliah?” tanya salah seorang teman yang hanya kabar Ayudia kuliah tetapi tidak membahas lebih jauh kuliahnya di mana. Yang jelas ia tidak tahu kalau Ayudia ternyata bekerja.
Tampak Pak Anwar yang gantian terkejut.
“Tidak, Nak. Pulang kerja. Dia tidak kuliah, kok. Sudah kerja sekitar setengah tahun di pabrik.,” sanggah Pak Anwar sembari menyebutkan nama pabrik besar yang ada di kota tersebut.
Kini Elvira, Davida dan keempat teman yang lain yang saling berpandangan kaget sekaligus bingung. Kenapa jadi ambigu begini?
“Tap-tapi, Pak. Selama ini kami tahunya Dia itu kuliah loh di Bandung. El sering bertukar kabar dan cerita mengenai kampus kita masing-masing meski cuma lewat telepon dan chat,” kata Elvira yang tak bisa tidak membantah penjelasan dari ayah Ayudia tersebut.
__ADS_1
“Loh?” Wajah Pak Anwar tampak tak jelas antara siapa yang bisa dipercayainya di situ. Jelas-jelas anaknya adalah karyawati di pabrik dan bukannya mahasiswi seperti yang Elvira bilang barusan.
“Ayudia tidak jadi kuliah, Nak. Seleksinya waktu itu gagal dan jadinya dia memilih bekerja. Orang setiap hari dia berangkat pagi pulang malam kerja di pabrik kok gimana bisa kuliah? Apalagi di Bandung? Duh,” tutur Pak Anwar mengutarakan kembali penjelasannya berulang kali.
Elvira meneguk ludahnya yang terasa sulit sekali masuk ke tenggorokan. Jadi maksudnya ... selama ini Dia berbohong padanya? Semua yang mereka perbincangkan perihal Bandung, kampus, dan bahkan jurusan dan juga mata kuliah itu semuanya bohong?
Ia sudah hampir saja membantah sebelum David menowel lengannya memperingatkan. Tak baik rasanya mereka mengangkat topik itu sekarang. Di mana keluarga Ayudia sedang ditimpa kemalangan. Mungkin nanti saja lain kali bisa dicari tahu bagaimana cerita sesungguhnya. Kondisi saat itu sedang rentan dan tidak kondusif.
“Ah, ehm, kalau begitu kami sebaiknya pamit pulang dulu, ya, Pak. Biar Ayudia bisa istirahat dulu,” ucap David mewakili Elvira yang masih tak sanggup berkata-kata saking terkejutnya dengan fakta yang baru saja terungkap itu.
“Oh, baik, Nak. Maafkan atas sikap Ayudia tadi, ya. Harap maklum, kepalanya masih sakit,” jawab Pak Anwar meminta pemakluman.
“Tidak mengapa, Pak. Kami mengerti. Lain kali kami pasti berkunjung lagi mungkin kalau sudah pulang ke rumah saja,” lanjut David kemudian keenam anak muda itu pun bersalaman dan pamit sambil menitipkan salam lagi untuk Ayudia di dalam sana dan juga Bu Nani.
“Astaga! Aku nggak nyangka deh! Kayaknya ada yang salah di sini. Dia yang bohong apa Pak Anwar yang nutup-nutupin, sih?” Elvira tak kuasa menahan lagi kegusarannya kala mereka telah sampai di parkiran hendak pulang ke rumah masing-masing.
“El! Please lah! Jelas-jelas Dia lah yang bohong. Ngapain Pak Anwar nutup-nutupin, coba! Buat apa!” sergah salah satu temannya yang memang selama ini sedikit curiga dengan cerita yang dikarang oleh Ayudia di depan teman-teman SMA-nya, khususnya yang memang kuliahnya jauh dari rumah hingga tidak bisa sering bertemu di kota ini.
“Tap-tapi selama ini jadi Dia bohongin aku? Bohongin kita semua gitu? Gimana bisa?” Elvira masih tak terima dan tak percaya akan kenyataan itu.
“Lah itu dia faktanya, kok. Lagian emang heran juga gak sih. Dia nggak pernah mau kalau diajak kumpul ke halal bihalal juga reuni kita. Kayak selalu menghindar, kan?” Salah satu teman lainnya ikut nimbrung.
“Iya betul. Terus juga aku pernah ketemu dia kayaknya di jalanan sini. Itu bukan hari liburan maupun weekend dan rasanya jam berangkat kerja karyawan deh emang. Gimana dia bisa berkeliaran di sini sementara kamu aja selalu bilang dia sibuk kuliah nyambi kerja part time dan bahkan juga jadi anggota BEM? Aneh, kan?”
“Tapi parah banget sih kelakuannya, ya. Gimana mungkin dia bisa seberani itu gitu loh berbohong soal kuliah ke kita semua?”
“Iya, kenapa nggak takut kalau sampai ada di antara kita yang mengecek kebenarannya coba? Gila nekatnya sih!”
“Lalu apa dia nggak takut dosa? Nggak peduli kalau yang dibohongi ini udah bukan cuma satu dua orang aja tapi banyak, loh.”
Masing-masing kini menghibahkan Ayudia berdasarkan pemikiran masing-masing. Elvira terdiam dan masih tak percaya akan hal itu. Ia masih tak yakin kalau benar Ayudia tega membohonginya selama ini.
“Udah-udah kita pulang aja. Dari dulu aku emang udah nggak pernah percaya sama Ayudia tuh! Anak aneh dia itu!” David yang merasa tertipu dan kesal pula karena kekasihnya—Elvira--jadi sedih karena hal itu tampak marah sekali. Tak disangkanya Ayudia yang selama ini dikiranya sombong dan sok paling bisa itu ternyata juga sosok pembual. Ya ampun!
__ADS_1
Hanya Elvira yang masih saja menyimpan rasa penasaran di hatinya sendiri. Namun, karena David dan teman lainnya sudah tidak mau lagi berurusan dengan Elvira, ia berencana esok hari sebelum kembali ke kota tempatnya kuliah, ia akan mampir mengunjungi Ayudia lagi. Siapa tahu dia jadi bisa mencari tahu kebenaran sesungguhnya.