Jatuhnya Sang Bintang

Jatuhnya Sang Bintang
Bab 8 Pengumuman yang Menghancurkan


__ADS_3

Dan ketika akhirnya pengumuman yang dinanti tiba, Ayudia sudah sejak pagi buta berdiam di depan layar ponselnya. Pengumuman akan dirilis secara online pada hari itu mulai jam kerja. Tapi sejak setelah Subuh Ayudia sudah tak mau jauh-jauh dari ponselnya.


Bu Nani dan pak Anwar sampai pegal menyuruh Ayudia sarapan, tetapi tak digubris sama sekali.


“Sebentar, Pak, Bu. Dia nervous banget nih, deg-degan. Gak mau ngapa-ngapain dulu sebelum lihat sendiri pengumumannya,” jawabnya bersikukuh tak mau beranjak dari kamarnya.


“Ya ampun, Dia. Kan nanti meskipun lihatnya terlambat juga pengumumannya nggak akan berubah, kan?” kata Bu Nani sedikit kesal. Tapi kemudian tak bisa berbuat apa-apa karena memang sudah begitu watak putrinya. Sangat kaku dan keras hati, susah sekali untuk dinasehati.


Sementara Ayudia berdiam di depan ponsel dengan merapal doa apa pun yang dihapalnya di luar kepala. Astaga, debaran jantung di dalam dadanya terasa begitu keras hingga rasanya seolah mau keluar saja dari tempatnya.


Jam yang dinanti tiba. Layar ponsel Ayudia sudah tepat membuka website official milik departemen keuangan negara. Ya, pengumumannya memang dirilis di sana karena memang sekolah tinggi itu adalah di bawah naungan departemen tersebut. Pastinya yang lolos dan berhasil kuliah lalu wisuda dari sana kelak juga akan dipekerjakan di departemen bonafid tersebut. Siapa pula yang tak tergiur, bukan? Sepertinya ribuan dada dari semua peserta seleksi sedang berdebar sama kerasnya dengan yang Ayudia rasakan.


Tabel pengumuman sudah terpampang nyata di depan mata. Dengan jemari gemetar, Ayudia men-scroll layar dengan pelan mungkin takut ada yang terlewat terbaca. Nama yang tercantum juga tidak diurutkan berdasarkan abjad karena urutannya berdasarkan nomor kode pendaftar serta domisili tempat peserta terdaftar.


Tapi sampai batas tabel terakhir yaitu di nomor urut 1.100 tidak terdapat namanya. Tidak ada Ayudia Maharani di dalamnya. Tak mempercayai penglihatannya, Ayudia kembali men scroll laman tersebut, meneliti ulang satu per satu nama juga nomor kepesertaannya. Ia mengira siapa tahu ada typo nama mungkin. Sistem bisa saja salah mencatat namanya, kan? Tapi nihil. Nomor kepesertaannya juga tidak didapatinya di sana.


“Please, lah! Masa’ iya dari seribu seratus yang diterima ternyata aku nggak termasuk di dalamnya? Nggak salah apa ,nih?” geramnya setengah mengomel seorang diri.


Tak kuasa menahan kesal dan kecewa, Ayudia menendang kaki meja belajarnya dan langsung bangkit dan menghempaskan tubuhnya ke kasur lalu menangis meraung di sana. Diraihnya bantal untuk menutupi wajah serta menyembunyikan suara tangis tapi tak urung tetap saja terdengar hingga ke telinga kedua orang tuanya.

__ADS_1


Bergegaslah Bu Nani menghampiri sang putri. Pak Anwar sudah berangkat ke bengkelnya tadi. Tapi beliau sempat berpesan minta segera dikabari juga bagaimana hasil pengumuman Ayudia tersebut.


“Nak?” panggil Bu Nani saat telah sampai di mulut pintu kamar Ayudia dan melihat gadis itu bergelung sesenggukan di atas kasur.


Ayudia tak menjawab. Rasanya ia tak mampu membendung tangis. Isaknya terus terlontar tanpa henti dan dadanya juga naik turun penuh emosi. Kekecewaan yang untuk ke sekian kali harus diterimanya dalam waktu berdekatan. Sungguh sebuah ujian maha berat untuk seorang Ayudia yang selama di sekolah dulu tidak pernah merasakan yang namanya kekalahan.


“Gimana? Belum lolos, ya?” tanya Bu Nani lirih sembari duduk di sebelah Ayudia dan mengelus lembut rambut hitam anaknya itu.


Ayudia tak menjawab, tetapi tangisnya semakin terdengar meraung hingga Bu Nani tak melanjutkan tanya sebab sudah jelas apa jawabannya. Wanita separuh baya itu terlebih dulu menghela napas panjang lalu menenangkan hatinya sendiri sebelum mencoba untuk menghibur sang putri.


“Sudah ... nggak apa-apa. Kan katanya masih bisa dicoba tahun depan ikut tesnya. Mungkin tahun ini kamu belum beruntung aja,” ucap Bu Nani mencoba menenangkan.


Kesedihan Ayudia bertumpuk jadi satu rasanya. Pundaknya tak kuat menahan beban tumpukan iri hati yang biasanya mampu ia kurangi dengan harapan akan diterima dalam tes tersebut. Tapi rupanya zonk juga hasilnya setelah menunggu sekian lamanya. Lalu mau dibalas dengan apa semua teman yang selama ini telah pamer kuliah kepadanya? Ya ampun!


Perut yang lapar belum terisi makanan sedikit pun sejak pagi itu membuat asam lambung Ayudia naik dan ia berkunang-kunang ketika bangkit setelah meluapkan tangis.


Bu Nani langsung mengambilkan sarapan dan memaksa Ayudia makan karena terlihat jelas wajahnya pucat pasi bak mayat saja. Beban mental karena tidak lolos tes kedua yang diharapkan olehnya serta dibarengi oleh tidak kemasukan makanan apa pun hari itu hampir saja membuat Ayudia pingsan seketika.


Untung ia langsung menenggak habis teh hangat yang juga dibawakan oleh ibunya. Ayudia menghabiskan isi gelas itu lalu kembali meraung menangisi kegagalannya kali itu. Entah apa lagi yang akan dilakukannya kini. Menunggu tes tahun depan bisa-bisa dia sudah lumutan duluan!

__ADS_1


Ayudia terus berdiam di kamar. Bu Nani sampai resah dan menelepon suaminya. Pak Anwar jadi pulang lebih awal demi menghibur dan menasihati sang putri.


“Dia ... belum lolos bukan akhir dari segalanya, kan?” tanya Pak Anwar dengan sabar. Ia sudah menyeret kursi belajar Ayudia dan meletakkannya di sebelah ranjang putrinya di mana tubuh Ayudia masih bergelung di sana semenjak pagi.


“Ayudia malu, Pak. Malu!” bantah sang putri yang membuat Pak Anwar sedikit heran.


“Kok malu, sih? Malu sama siapa? Belum lolos dengan jumlah saingan yang sekian puluh ribu itu nggak masalah, Nak. Bukan hal yang memalukan, kok.” Kembali ayahnya menghibur.


“Soalnya teman-teman aja udah yakin kalau aku bakal lolos, Pak. Huhuhuuu ....” Tangis Ayudia semakin terdengar miris.


“Ya ampun, itu sama sekali bukan masalah. Mereka juga pastinya maklum kalau kamu nggak lolos. Mereka aja juga lihat sendiri kan betapa banyak pendaftar dan saingan? Apalagi kamu sempat pingsan, jelas kondisi tubuh tidak fit. Mungkin aja gara-gara itu juga, kan?”


“Keterlaluan sekali sih kenapa Dia selalu aja sakitnya di saat genting gitu, ya, Pak? Ini tuh kayak Allah sengaja bikin aku gagal tau nggak!” pekik Ayudia semakin keras saking kesalnya.


Spontan saja Pak Anwar beristighfar.


“Astaghfirullah, Dia! Jangan berkata begitu! Ketetapan Allah itu adalah yang terbaik untuk hamba-Nya. Kamu harus mengimani itu. Bagaimana mungkin kamu sampai su'uzon gitu sama Allah, nak? Istighfar!” Ingat Pak Anwar yang tak habis pikir kenapa bisa ada terlintas pikiran seburuk itu di kepala anaknya.


Tapi Ayudia terus menangis dan belum bisa berhenti hingga beberapa saat lamanya, hingga suaranya serak akibat terlalu lama menangis. Sungguh hancur hatinya saat itu. Impiannya satu persatu terenggut begitu saja oleh hal yang disebut ayahnya sebagai takdir baik itu.

__ADS_1


'Ish! Apanya yang baik!' Batin Ayudia meronta.


__ADS_2