
Di hari lebaran, Ayudia sengaja datang ke rumah Elvira duluan agar temannya itu tak usah ke rumahnya. Ia takut kalau Elvira sampai datangnya berbarengan dengan banyak saudara atau tetangga yang tahunya Ayudia itu karyawan pabrik dan bukannya mahasiswi. Kemungkinan akan ketahuannya begitu besar. Ia tak mau mengambil risiko itu.
Sesampai di rumah Elvira, ia disambut dengan sangat ramah oleh keluarganya. Mama Elvira bahkan menemani mereka mengobrol lama sebab ia rupanya mendengar banyak hal soal Ayudia dari sang putri. Dan beliau menyatakan kekaguman besarnya terhadap Ayudia dengan sangat ekspresif.
"Aduh, ini dia Nak Ayudia akhirnya main juga ke sini, ya. Saya kagum sekali lho sama perjuangan kamu untuk kuliah. Hebat banget, Nak. Masya Allah!" ucap mama Elvira dengan mata berbinar kagum.
Wanita dengan tampilan sederhana tapi terlihat mewah dengan kesederhanaannya itu terus menerus menyebutkan berbagai kelebihan yang dipunyai oleh Ayudia. Ya ampun, Ayudia sampai heran kenapa sampai beliau tahu begitu banyak tentang kebohongannya? Artinya Elvira selalu memuji dirinya di hadapan sang ibu. Itu juga berarti bahwa Elvira begitu bangga memiliki kawan serupa Ayudia.
Berbeda sekali dengan Ayudia sendiri yang jarang sekali memuji kelebihan Elvira di hadapan Pak Anwar dan Bu Nani. Yang diperdengarkannya kepada kedua orangtuanya itu justru hanya perihal keberuntungan Elvira yang menajdi anak dari keluarga kaya raya yang kesemua keinginannya pasti sangatlah mudah didapatkan.
Ayudia tak sadar bahwa kebaikan Elvira selama ini terhadapnya justru tak terhitung banyaknya. Pun, ia juga tak sadar bahwa setiap kali ia menyesalkan keadaan dirinya yang tidak seperti Elvira itu, kedua orangtuanya juga merasa hati bahwa mereka tak sebaik orangtua Elvira hanya karena mereka kurang berada alias tak kaya raya.
Andai ia sadar lebih awal.
“Tante terlalu memuji, saya biasa aja, kok.” Hanya itu yang bisa diucapkannya kepada mama Elvira. Dan kembali lagi ungkapannya malah mendapat pujian berlebihan yang ia merasa sama sekali tak pantas untuk mendapatkannya. Akhirnya karena tak tahan oleh ketidaknyamanannya sendiri, Ayudia bersegera pamit undur diri. Ia takut akan harus semakin banyak membohongi orangtua yang baik hati dan ramah sekali itu.
__ADS_1
Menurutnya dosa membohongi Elvira dnegan dosa membohongi orangtuanya adalah dua hal yang berbeda. Ia berpikir bahwa kelak bila tahu yang sesungguhnya, Elvira pasti tetap akan dengan mudah memaafkannya. Ya, sama seperti biasanya setiap kali Ayudia melakukan kesalahan.
Tapi, berbeda lagi dengan membohongi orang lain, dalam hal ini orangtua pula. Pasti konsekwensinya akan jauh lebih besar dari yang bisa dibayangkan olehnya.
“Loh, kok buru-buru sekali, sih. Baru sampai kok udah mau pamit. Kan mumpung pulang kampung mainnya agak lama, dong,” protes Elvira tak terima.
“Maaf, El. Tapi aku juga belum ke rumah family yang lain, teman-teman juga nggak tahu ini akan sempat apa nggak, kan besok aku udah harus balik,” jawab Ayudia mengutarakan kebohongan yang lain lagi.
“Ya ampun, libur lebaran singkat amat, padahal jauh. Dasar manusia super sibuk!” gerutu Elvira setengah mencibir Ayudia dengan bercanda.
Ia pun akhirnya pulang dengan perasaan tak karuan. Di jalan ia sempat juga berpapasan dengan teman-teman dan hanya menyapa sekilas seolah tak begitu akrab dan tak mempersilakan mampir ke rumahnya atau ia yang datang berkunjung ke rumah mereka. Padahal masih suasana lebaran. Yah, berkat kebohongan dan kepura-puraannya menjadi mahasiswi gadungan, langkahnya bak terbatas kalau mau ke mana-mana. Mau ke sini takut bertemu itu. Mau ke sana takut bertemu ini. Sungguh kegelisahan yang termata besar efek buruk dari kebohongan itu sendiri.
Selepas hari kedua, Ayudia yang memang sudah masuk kembali bekerja karena cuti lebarannya memang hanya dua hari saja itu sudah mulai bekerja kembali seperti sedia kala. Pagi buta ia sudah berangkat dengan seragam yang disembunyikan di balik jaket hoodie kedodorannya. Ya, ia sengaja memakai jaket kedodoran dengan tujuan untuk menutupi seragam karyawannya.
Pokoknya tidak boleh ada teman-teman yang tidak berkepentingan yang tahu bahwa dia hanyalah seorang karyawan pabrik rendahan. Hal itu ditutupinya setengah mati, seolah dia tak mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Allah melalui pekerjaan tersebut. Padahal, dari pekerjaan itu dia banyak mendapatkan rezeki, bila ia menyadari. Andai Ayudia tahu bahwa menjadi buruh pabrik bukan pekerjaan rendahan, tetapi sesuatu yang bernilai ibadah bagi mereka yang menjadi tulang punggung keluarga. Sayang Ayudia tak tahu bahwa kemuliaan seorang hamba di mata Allah di muka bumi ini bukan dari status pekerjaan. Tapi bersihnya hati.
__ADS_1
Tak dia tahu bahwa di luar sana, banyak sekali lulusan SMA yang ingin bisa bekerja di pabrik tersebut tetapi terhalang oleh nasib yang rupanya belum mengizinkan. Ayudia lupa bahwa kehidupan yang setiap hari dikutuknya itu, mungkin saja adalah kehidupan yang didambakan dan didoakan oleh banyak kalangan lain di bawahnya. Ia terlalu sibuk mendongak ke arah yang lebih di atasnya daripada menunduk dan iba terhadap yang ada di bawah sana.
Andai Ayudia bisa menerima nasibnya, berdamai dengan gengsi serta ekspektasi tingginya tentu ia akan bisa mensyukuri setiap nikmat yang sudah Allah beri. Keluarga yang begitu menyayangi dan tak pernah menuntutnya macam-macam, pekerjaan halal yang mulai bisa memperbaiki taraf kehidupannya dan juga keluarga, serta banyaknya sahabat baik yang masih terus menganggapnya anak pintar dan baik dan bahwa masih ditutupi segala aib buruknya oleh Allah.
Esoknya saat Elvira melaksanakan acara halal bihalal bersama teman-teman SMA mereka, ia asyik bercerita mengenai Ayudia yang tak bisa datang karena sudah harus kembali ke kampus.
Banyak teman yang terkagum-kagum mendengar penuturan dari Elvira. Tanpa disadari oleh Ayudia, kebohongannya sudah diteruskan dengan sempurnanya oleh Elvira ke belasan temannya yang juga hadir di acara tersebut.
“Wah, tapi kayaknya aku sering lihat dia di rumah, deh.” Salah satu teman mereka yang terbiasa bekerja sebagai kurir ekspedisi berkata menyanggah.
“Hah? Kamu salah lihat aja itu! Wkwkwk, ciyyeee ... kamu naksir, ya? Sampai terbayang-bayang wajah Ayudia?” Elvira membantah sambil lanjut menggoda temannya yang memang kocak itu.
“Loh, nggak gitu, El. Masa’ sih aku salah lihat? Tapi ya aku emang nggak kirim paket ke rumahnya, sih. Cuma pas lewat daerahnya aja gitu kayak pernah lihat dia di depan rumah.” Si teman tadi agak berkeras dengan argumennya.
“Nggak mungkin, lah. Orang dia kuliahnya di Bandung, jauh. Udah gitu susah pulang lama-lama karena di sana dia juga kerja part time buat nambah-nambah uang saku,” kata Elvira masih berkeras hingga yang lain pun bungkam karena tak cukup bukti juga untuk membantah.
__ADS_1
Tapi semenjak itu, beberapa teman yang merasa memang Ayudia masih berada di kota itu pun mulai ingin tahu kebenarannya. Meskipun tidak sengaja, tetapi mereka tanpa sadar jadi selalu memperhatikan ke rumah Ayudia bila kebetulan sedang lewat.