
Dan menjelang lebaran, Elvira benar mengabarkan kepada Ayudia bahwa dia akan datang ke rumah bila Ayudia sudah pulang.
Ayudia berpikir keras tentang hari kapan sebaiknya ia mengundang saja Elvira datang biar ia bisa mengkondisikan sebisa mungkin Elvira tidak samapi bertemu dengan ibunya. Jangan-jangan dia nanti membahas soal perkuliahan hasil halusinasinya itu lagi di hadapan sang ibu. Kan bisa gawat pikir Ayudia.
“Ehm ... aku baru akan tiba di rumah hari Sabtu sore, El. Kamu datang aja hari Minggu pagi, ya!” pinta Ayudia akhirnya. Hari Minggu pagi biasanya adalah hari kulakan ibunya ke pasar dengan diantar oleh Bapak. Sehingga pasti akan lama di pasar sekalian belanja banyak mumpung ada yang membantu bawakan belanjaan. Karena itu dipilihnya hari Minggu.
Lagipula Senin hingga Jumat dia memang harus bekerja kan, Sabtunya terkadang juga lembur hingga setengah hari kerja yaitu pulang di pukul 12 siang. Akan sangat gawat kalau Elvira justru datang di hari kerja lalu malah ditemui ibunya. Apa kabar kebohongannya selama ini kalau nanti dengan polosnya Bu Nani akan mengabarkan bahwa Ayudia masih belum pulang dari bekerja di pabrik sepatu! OMG! Hancur pasti!
“Oke, siap!” jawab Elvira dengan riangnya. Ia bahkan sudah melupakan soal Ayudia yang tak bersedia dititipinya buku. Bahkan, ia juga tidak bilang pada Ayudia bahwa dia punya oleh-oleh dari Bali saat kampusnya beberapa waktu lalu mengadakan kegiatan ke sana. Sengaja dijadikannya kejutan saat bertemu langsung di hari yang ditentukan.
Kerinduannya akan sahabat yang telah lama dan jarang sekali bertemu itu memuncak hingga tak ada hal lain yang dipikirkannya kecuali tidak sabar untuk bertemu dan bertukar kabar serta cerita. Ia juga hendak menceritakan satu hal yang belum dapat dikatakannya melalui telepon. Harus dengan bertemu langsung.
Dan hari yang ditunggu-tunggu Elvira pun tiba. Hari yang sama yang sebenarnya sangat ingin Ayudia hindari. Pertemuan dengan Elvira di rumahnya sungguh bukanlah hal yang aman. Kapan saja rahasia dan kebohongannya bisa saja terancam terbongkar. Sudah beberapa hari belakangan Ayudia smapai tidur pun tak tenang memikirkan hari itu.
Sejak pagi seusai sarapan, Bu Nani dan Pak Anwar sudah berangkat untuk kulakan ke pasar. Sementara itu, Ayudia menunggu dengan harap-harap cemas kedatangan Elvira di depan rumahnya. Pokoknya ia harus langsung menyeret Elvira masuk ke dalam rumah lalu entah bagaimana caranya harus membuat temannya itu segera pamit pulang. Tidak boleh lama-lama karena takutnya akan keduluan orangtuanya yang pulang. Bisa gawat!
“Assalamualaikum, Dia!” pekik Elvira kala gadis itu sudah meletakkan motornya di depan teras rumah Ayudia.
Ayudia pun bersikap sebiasa mungkin dan menjawab salam lalu juga menyambut pelukan erat dari sang sahabat yang selama ini terus menerus ditipunya itu.
“Wa’alaikumsalam, yuk masuk!” jawabnya sambil setengah menarik tangan Elvira ke dalam ruang tamu. Sejujurnya ia agak khawatir juga kalau sampai ada tetangga ikut menyapa dan nimbrung soal pekerjaan Ayudia. Astaga! Menjadi pembohong memang membuat hidup seseorang sama sekali tidak bisa tenang. Waktu demi waktu dipenuhi oleh kecemasan akan ketahuan atau kebohongannya terbongkar.
__ADS_1
Sesampai di dalam, Elvira baru menyerahkan goody bag di balik tubuhnya untuk sang teman.
“Nih, buat kamu. Ehehee ... ada oleh-oleh kapan hari pas aku bilang ada acara ke Bali itu tuuuh,” katanya sambil tersenyum manis.
Ayudia lantas memerah mukanya. Dia yang dari Bandung saja tidak membawakan oleh-oleh apa pun kepada Elvira.
'Duh, malunyaaa... .' Batin Ayudia.
“Wah, malu banget dong aku gak bawain kamu apa-apa, loh!” ujar Ayudia merasa tak enak hati. Ia lupa dan sama sekali tidak kepikiran untuk memesan online barang atau makanan ringan khas Bandung yang bisa diakuinya sebagai oleh-oleh asli bawaannya dari sana. Pikirannya terlalu kacau akhir-akhir ini karena sibuk mencemaskan resiko ketahuan.
“Halah, nggak apa-apa, kok. Aku tau kamu pasti susah kalau bawa oleh-oleh, jauh banget soalnya. Mana naik kereta, kan, ya? Naik kereta apa kemarin?” tanya Elvira mencecar karena memang ia sungguh penasaran bagaimana pengalaman Ayudia dalam perjalanan.
“Oh, ya, itu apa?” Jarinya menunjuk ke sebuah kertas yang tampak seperti undangan di tangan Elvira yang sebelah lagi.
Tampak Elvira baru teringat bahwa ia membawa juga surat undangan untuk Ayudia.
“Ya ampun, sampai hampir lupa. Ini undangan buat kamu untuk acara halal bihalal sekolah kita.”
DEG!
“Ap-apa?” Lutut Ayudia langsung lemas rasanya. Seperti seluruh tulang di kakinya meleleh secara mendadak sekali.
__ADS_1
Undangan halal bi halal? Berarti ia harus bertemu semua teman sekolahnya? Lalu sebagai apa dia ke sana? Pasti akan banyak perbincangan mengenai kampus masing-masing dan atau pekerjaan masing-masing. Lalu dia sendiri bagaimana? Kalau berkeras dengan identitas mahasiswi gadungannya, pasti nanti akan ada Dewi juga yang akan sangat heran dan kaget serta pasti langsung mengungkap hal yangs sebenarnya bahwa dirinya tak lebih dari seorang karyawati pabrik sepatu bagian produksi! Ck!
“Dia! Dia! Hei, kenapa sih kamu?” Teguran Elvira menyadarkan Ayudia dari segala overthinkingnya. Menariknya kembali ke alam nyata di mana dia kini sedang berpura-pura di hadapan Elvira.
“Oh, eh ... nggak apa-apa, mkok. Cuma heran aja kok mendadak amat undangannya,” katanya buru-buru, sekedar untuk mmebuat Elvira tak mencurigai sikap anehnya.
“Iya, soalnya sekalian nanti di acara itu akan dibahas soal rencana reuni. Kamu dateng ya ntar? Aku jemput pokoknya!” Elvira langsung memutuskan secara sepihak tanpa mau mendengarkan jawaban dari Ayudia terlebih dulu.
“Duh, itu kapan? Aku kan harus segera balik ke kampus. Ada anu ... banyak acara juga di BEM, kan?” Serta-merta otak Ayudia berpusing keras dan menemukan alasan itu untuk alibi nanti ketidakhadirannya.
“Yah, masa’ langsung buru-buru balik sih abis lebaran? Gak nunggu H+ berapaaa gitu?” Elvira tampak kaget mendengar kabar tersebut.
“Kan soalnya jadwalnya di sana padat banget. Aku juga ada itu ... kerja sambilan juga, kan? Jadi gak bisa libur lama-lama,” tambah Ayudia merangkai lagi satu kebohongan dari hasil halusinasinya.
“Loh? Kamu juga kerja part time ternyata? Keren banget ya ampun,” ucap Elvira dengan mata berbinar kagum.
Andai ia tahu bahwa yang dikatakan oleh Elvira yang membuatnya terkagum-kagum itu hanyalah bualan semata. Sekelumit rasa bersalah terbit di benak Ayudia. Tentu saja dalam hati kecilnya ia juga berteriak tak nyaman dengan segala kebohongan yang entah bagaimana begitu lancar meluncur dari bibirnya itu.
Tapi mau bagaimana lagi, ia terlanjur mengambil keputusan untuk berbohong dan menjadi mahasiswi gadungan. Maka demi mempertahankan gengsi, ia harus konsisten untuk melanjutkan perannya. Yah, setidaknya hingga di tahun depan ia sudah berhasil masuk tes seleksi ikatan dinas. Rencana Ayudia sudah begitu indah di mata, ia juga masih yakin bahwa tahun depan dewi fortuna berpihak padanya. Ayudia seakan lupa bahwa manusia boleh menulis apapun di kertas keinginan, namun yang akan menjadi nyata di sebuah suratan takdir itu Allah yang berhak mengukirnya.
Pikir Ayudia saat itu tiba, ia akan mengakui semuanya kepada Elvira dan meminta maaf dari hatinya yang terdalam. Dalam benaknya, ia merasa saat itu semua akan memaklumi kebohongannya itu sebab toh ia sudah menjadi mahasiswi asli. Sungguh pemikiran yang belum dewasa dan tak bijaksana. Karena minimnya ilmu agama.
__ADS_1