
Usai kedatangan Elvira, David dan beberapa temannya, ternyata giliran teman-teman kerja Ayudia yang datang menjenguk bersama sang mandor. Mereka meskipun dekat memang tidak bisa segera menjenguk sebab sibuknya jam kerja mereka.
“Mohon maaf, ya, Pak, Bu. Kami baru bisa menjenguk ya menunggu hari Sabtu begini, saat jam kerja hanya setengah hari,” kata sang mandor ketika mereka baru datang dan disambut dengan hangat oleh Bu Nani dan Pak Anwar.
“Ah, tidak mengapa. Justru kami terima kasih sekali sudah menyempatkan ke sini padahal kami mengerti memang jam kerjanya sangat padat,” jawab Pak Anwar seraya mempersilakan mereka duduk dulu di kursi panjang tempat menunggu pasien di luar ruangan.
“Maaf, saya mau menyampaikan sesuatu dulu. Kondisi Ayudia kemarin saat kecelakaan mengalami benturan teramat keras sehingga dia sekarang mengidap amnesia ringan ....” Beliau mengawali penjelasannya secara ringkas.
Beberapa terpekik kaget, memegangi dada masing-masing serta tampak terenyuh dengan kondisi yang dialami oleh Ayudia. Mereka tidak tahu kalau separah itu akibatdari kecelakaan yang terjadi sepulang kerja beberapa hari lalu itu.
“Oleh karena itu, saya minta tolong nanti kalau ada yang aneh dnegan perkataannya, harap dimaklumi. Mungkin juga dia ada yang lupa dengan temannya, itu juga efek dari amnesianya. Tapi dokter bilang itu sementara. Nanti akan sembuh kembali normal seperti sedia kala, hanya saja harus telaten mengingatkan ingatan yang terlupa tetapi tanpa memaksa. Soalnya kalau dipaksa, kepalanya langsung pusing biasanya,” lanjut Pak Anwar yang segera diangguki oleh para teman Ayudia tersebut.
Sebenarnya berbeda dengan Elvira dan beberapa temannya kemarin, Pak Anwar dan Bu Nani tidak mengenal mereka sama sekali sebelumnya. Memang lingkungan kerja di pabrik berbeda sekali dengan di sekolah tentu saja. Kalau di sekolah masih suka saling main bareng di rumah atau berkunjung-kunjungan, kalau di pabrik, terlebih di pabrik tempat bekerja Ayudia itu memang padat sekali jam kerjanya, jarang didapati saling berkunjung, tidak ada waktu sama sekali.
Oleh karena itu beliau merasa perlu untuk menjelaskan kondisi Ayudia sebelum mereka bertemu dengannya langsung setelah ini. Setidaknya agar tak sampai terjadi kesalahpahaman bila memang Ayudia bicara yang aneh-aneh nanti di dalam.
“Baik, Pak. Kami tentu saja maklum dengan kondisinya. Semoga Ayudia lekaqs kembali sehat ya, Pak.” Salah seorang yang tadi memperkenalkan diri sebagai mandor dari Ayudia pun menjawab tegas.
Akhirnya mereka semua dipersilakan masuk ke dalam di mana Ayudia tadinya sedang tidur ayam. Tidak lelap tetapi juga tak mau membuka matanya. Melihat keriuhan suara yang tampak mendekat, Ayudia seketika terkesiap. Ia langsung membuka mata dan terperangah melihat banyak teman kerjanya, sesama karyawan pabrik mendadak sudah ada di hadapannya. Ia bingung sekali karena faktanya ia tahu kalau mereka teman kerjanya, tetapi di sisi lain ia juga bingung karena ia merasa bukan karyawan tapi mahasiswi yang sedang kuliah di Bandung.
Wajahnya yang tampak terperangah dan aneh membuat teman-temannya tampak ragu kala menyapa Ayudia. Takutnya benarlah bahwa Ayudia lupa sama sekali kepada mereka.
“Hai, Dia. Gimana kondisi kamu? Maaf lo, kami baru bisa datang hari ini, biasa nunggu Sabtu dulu,” ucap salah seorang dari mereka memberanikan diri. Tampaknya dia yang paling akrab dengan Ayudia di pabrik karena terlihat ia begitu cemas terhadap kondisi temannya itu.
“S-siapa kalian?” Akhirnya malah ucapan itu yang keluar dari mulut Ayudia. Iya, dia memilih tenggelam dalam kebohongannya, dalam cerita fiktifnya, bahwa selama ini dia mahasiswi di Bandung dan bukannya karyawan di pabrik bersama mereka semua.
Riuh langsung terdengar. Mereka saling berkasak-kusuk sendiri sambil menatap prihati ke arah Ayudia.
“Ya Allah, Dia ... kami nggak tahu kalau kecelakaan itu sampai merenggut ingatan kamu gini. Kasihan.”
“Lekas sehat kembali normal ya, Dia. Ini aku Aini,” ujar salah seorang mendekat. “Inget kan sama aku? Kita partner berdua kalau mengerjakan job biasanya,” lanjutnya yang masih hanya direspon tatapan kebingungan dari Ayudia.
Akhirnya gadis itu pun mundur tak berani berkata-kata lagi karena tampak Ayudia mulai memegangi kepalanya kesakitan. Bu Nani berkali-kali tampak menghapus air mata di sudut manik beningnya yang mana hal itu tak luput juga dari perhatian para pengunjung itu. Walhasil, mereka jadi segan untuk lebih jauh mengganggu Ayudia.
__ADS_1
“Kalau begitu kami pamit aja, ya, Bu, Pak. Sepertinya Ayudia masih bingung dan sakit kepala sekali. Kasihan,” ucap sang mandor mewakili semua yang datang saat itu.
Ayudia tidak mengucapkan apa pun lagi karena ia sungguh bingung ingin menutupi kebohongannya dengan cara bagaimana. Tidak mungkin dia tidak konsisten ketika tadi bilang mahasiswi di depan Elvira tetapi kini malah datang teman-teman kerja yang jelas sekali memang dikenalinya itu. Ya ampun, apa artinya ini? Kepalanya terasa tumpang tindih oleh tumpukan informasi yang saling bertolak belakang.
Sementara itu, Elvira yang tidak bisa tenang di rumah, langsung kembali lagi ke rumah sakit pada hari Seninnya. Kebetulan ia tidak ada kuliah hari Senin sehingga memutuskan baru akan kembali ke Surabaya nanti seusai dari rumah sakit.
Kali ini dia minta izin kepada dua orangtua Ayudia untuk ikut menemui dokter syaraf dan psikolog yang menangani Ayudia. Dan Bu Nani serta Pak Anwar mengizinkan karena tahu betapa dekatnya Ayudia dan Elvira biasanya. Pun juga kenyataan bahwa Ayudia merasa dirinya adalah Elvira juga adalah salah satu hal yang jadi pertimbangan mereka. Siapa tahu itu bisa menjadi titik informasi yang bisa mempercepat kesembuhan amnesia yang dialami oleh sang putri.
Dengan sedikit sungkan dan segan kepada Bu Nani dan Pak Anwar, Elvira bercerita selengkapnya mengenai apa yang dikatakan sendiri oleh Ayudia terhadap dirinya dan teman-temannya yang lain. Kedua orangtua yudia itu tentu saja terkejut dan sangat malu akan hal itu. Mereka tak tahu menahu soal bualan itu. Yang mereka tahu selama ini Ayudia memang sering mengobrol dengan Elvira di telepon tetapi tak pernah tahu kalau Ayudia berpura-pura kuliah di hadapans emua orang.
“Astaghfirulloh!” Hnaya itu kata yang bisa diucapkan oleh Pak Anwardan Bu Nani berkali-kali, ta menayangka sama sekali bahwa putri mereka sampai bertindak sejauh itu.
“Nah, kalau tahu begini faktanya maka saya jadi bisa menarik kesimpulan. Bahwa pasien ini mengalami sebagian halusinasi yang kemudian dianggapnya itu sebagai kenyataan, megalahkan kenyataan itu sendiri. Ini bisa saja terjadi karena alam bawah sadarnya masih merekam dengan jelas impiannya serta keinginan terbesarnya untuk kuliah itu. Dan dia jadi malah menolak memori tentang fakta yang sebenarnya di mana ia adalah karyawan.” Sang psikolog dan Dokter syaraf itu saling berpandangan sambil mengangguk-angguk.
“Ya, betul seperti itu, Pak, Bu. Karena kerusakan limbiknya ringan sekali ini bisa segera pulih kalau benar pasien memang ingin pulih. Jadi ... sebaiknya pengobatannya difokuskan ke siraman rohani dan mentalnya saja, Pak, Bu. Terus disadarkan bahwa apa yang menjadi halusinasinya itu ya tetap hanya akan jadi halusinasi. Terus membuatnya sadar bahwa kehidupan harus terus berjalan. Jangan sampai terperangkap dalam halusinasi yang diciptakannya sendiri.” Sang dokter memberi saran.
Mereka segera pamit berlalu dan kembali ke ruangan masing-masing setelah berkata bahwa nanti perawat akan sudah bisa mulai melepas infus dan Ayudia sudah diperbolehkan pulang.
__ADS_1
Tinggallah Elvira yang kini begitu terenyuh akan apa yang terjadi teoat di hadapannya itu. Kesedihan dan rasa malu yang dialami oleh kedua orangtua Ayudia membuatnya tak enak hati. Tapi kenyataan ini harus diungkapkan demi kesembuhan Ayudia sendiri.
“Maafkan El, ya, Pak, Bu. Mungkin ini menyakitkan untuk didengar. Tetapi inilah kenyataannya,” ucap gadis itu sambil mengelus lengan Bu Nani, menguatkan.
“Iya nggak apa-apa, Nak El. Sudah betul Nak El bicarakan hal itu pada dokter tadi. Jadi kesimpulannya kita bisa tahu. Ini artinya kesembuhan hanya bisa diusahakan oleh Ayudia sendiri. Begitu ia bisa menerima dan berdamai dengan fakta bahwa dia bukanlah Elvira yang adalah mahasiswa, dia itu Ayudia, karyawan pabrik,” jawab Pak Anwar bijak.
Elvira belum juga pamit dari sana. Ia bahkan turut membantu mereka berkemas dengan Ayudia yang memandanginya penuh rasa penasaran. Tampaknya Ayudia masih berkeras dengan halusinasinya. Ia belum mau mnegakui kebohongannya selama ini dan mereka mau tak mau masih harus memakluminya untuk sementara waktu. Kalau dipaksa maka Ayudia biasanya memang langsung seperti terserang sakit kepala yang teramat menyakitkan.
“Naanti Elvira akan bantu sedikit demi sedikit, Pak, Bu. El akan sering-sering kirim video dan foto-foto kami dari SMA untuk memancing ingatannya,” ujar Elvira berjanji.
Lagi-lagi Bu Nani dan Pak Anwar hanya bisa mengucapkan banyak terima kasih kepada Elvira yang masih setia membersamai Ayudia sebagai temannya bahkan setelaha tahu kenyataan bahwa selama ini ia dibohongi dengan setega itu oleh Ayudia sendiri.
“Nak El ini entah hatinya terbuat dari apa. Kenapa sampai tidak pernah sakit hati telah dibohongi, tapi malah terus tulus ingin membantu sampai seperti ini,” ucap Bu Nani dengan wajah terharu biru.
“Nggak apa-apa, Bu. Itulah gunanya sahabat. Tidak akan pernah meninggalkan sahabatnya saat dalam kondisi terpuruk. Justru pada saat inilah Ayudia sangat membutuhkan saya meskipun sikapnya malah sebaliknya. Tidak apa saya bisa memakluminya, Bu.” Jawaban bijak dari gadis muda itu membuat kagum kedua orangtua Ayudia. Sungguh pemilik hati bak bidadari saja Elvira ini. Andai putri mereka memiliki sedikit saja ketulusan hati yang sama, mungkin tidak akan pernah Ayudia berbohong kepada teman-temannya, berpura-pura kuliah padahal sedang bekerja.
__ADS_1
“Beruntung sekali Ayudia punya sahabat seperti kamu, Nak.” Pak Anwar berkata sambil mengucapkan kembali rasa terima kasih dan maaf berkali-kali. Hari itu Ayudia sampai ikut mengantar mereka pulang dengan mobil keluarganya. Ya, karena ia datang sendirian tadi maka ia diantar supir. Teman-teman lainnya sudah tak mau lagi diajak membesuk Ayudia. Banyak dari mereka terlalu sakit hati dan merasa dibohongi. Juga tentu saja benci terhadap kelakuan Ayudia tersebut.