
Bulan Ramadhan tiba. Hari-hari Ayudia tetap seperti biasa, sibuk dengan pekerjaan dari pagi hingga petang, kalau lembur bisa pulang jam delapan malam. Salat tarawih hampir selalu tertinggalkan. Apa daya, pabrik memang sedang kejar setoran pengiriman sebelum lebaran tiba. Sehingga para karyawan produksi dituntut untuk kerja lebih keras lagi. Target harian ditambah, pun juga jam lembur terkadang bisa setiap hari diberlakukan.
Di satu sisi, Ayudia senang karena gajinya jadi semakin besar oleh tambahan uang lembur yang tak sedikit itu. Uang lembur memang menggiurkan karena nominalnya dua kali lebih besar dari gaji di jam efektif biasa. Namun, tentu saja, sebanding juga dengan penat serta lelah yang mendera pikiran serta tubuhnya. Beruntungnya Ayudia yang masih fit dan jarang sakit asal mau makan dengan teratur itu tak pernah mengalami sakit yang serius selain kecapaian yang berakibat harus berlangganan tukang pijat setiap bulannya.
“Dia ... kamu puasa?” Seorang rekan kerjanya mengajak makan siang hari itu di pabrik karena pekerjaan mereka hari itu begitu banyaknya hingga perut keroncongan lapar.
“Iya lah!” jawab Ayudia cuek. Ia sudah membiasakan diri dengan banyaknya para karyawan lain yang terlihat makan dan minum secara bebas meskipun di bulan Ramadhan seperti saat itu. Yah, mau menegur juga merasa tak pantas, sebab dirinya juga belumlah bisa dibilang alim.
“Yahhh ... yaudah, kutinggal ke kantin dulu, ya!” Sang teman tadi pamit dan diangguki saja oleh Ayudia. Ia tak terpengaruh oleh mereka. Soal kewajiban ibadah yang satu itu ia lumayan bertanggung jawab. Tak jarang di istirahat siang ia hanya keluar dari ruang kerja untuk salat Dzuhur lalu kembali ke dalam ruangan lagi untuk tiduran di matras kecil yang memang biasa dijadikan para karyawan alas untuk tiduran di kala istirahat.
Terkadang, bila matanya tak kunjung terpejam, ia akan membalas chat dari Elvira dan akhirnya membual. Apa lagi yang dibahas dengan Elvira selain bualannya, kan? Ia lupa bahwa saat itu tengah berpuasa dan mungkin saja pahalanya hilang sama sekali akibat kebohongannya. Astaga!
Elvira juga membahas tentang kuliahnya sendiri. Di mana banyak hal yang seharusnya ia biasanya bahas dengan Ayudia dulu di SMA. Tapi karena kini Ayudia bilang bahwa ia mengambil jurusan Sastra Inggris yang mana sangat berbeda dengan jurusan Elvira yang adalah Ilmu Kesehatan Masyarakat. Ya, memang dari dulu cita-cita Elvira adalah bekerja di bidang kesehatan meskipun tidak ingin mengambil jurusan kedokteran karena passionnya adalah turun ke lapangan untuk turut serta menjaga kesehatan di lingkungan masyarakat secara nyata.
Nyatanya, hanya dengan berpura-pura kuliah saja, Ayudia sudah bisa melupakan impiannya untuk kuliah secara sungguhan. Ia tak lagi ingin kuliah karena waktunya saja sudah habis untuk bekerja. Mungkin soal biaya kini ia sudah bisa memakai tabungan hasil kerjanya, tapi lalu mau ambil jam kuliah yang kapan? Sedangkan sampai malam terkadang ia baru pulang lembur wajib yang tak bisa diganggu gugat.
“Oh, ya. Kamu kapan pulang kampung, nih, Dia? Biar aku bisa mampir ke rumahmu. Keasyikan di Bandung nih, gak pulang-pulang deh!” tanya Elvira beberapa kali.
__ADS_1
Ayudia langsung geragapan setiap kali ditanyai soal hal itu. Sungguh ia takut kalau-kalau Elvira mendadak datang ke rumahnya lalu bertanya pada ibunya. Bisa gawat!
“Aku mungkin lebarang kurang dua harian baru pulang, El. Kamu kalau mau ke rumahku janjian dulu, ya! Soalnya aku takut kalau aku ada acara ke rumah familyku.”
“Iya-iya, nanti aku kabarin dulu kalau mau ke rumah kamu,” jawab Elvira kemudian.
“Oh, a. Sebenernya aku ada mau minta tolong ke kamu, sih, Dia. Bisa nggak sih kalau aku titip buku dari toko buku viral di Bandung itu? Dekat kok sama lokasi kampus kamu pas ku googling,” ucap Elvira kemudian.
“Hah? Buku apa emangnya? Yang di toko apa sih?” Ayudia kembali dibuat kelabakan oleh permintaan Elvira kali ini.
Macam mana caranya dia bisa membelikan pesanan Elvira itu padahal dia saja di sini-sini aja, nggak pernah ke Bandung sama sekali selain hanya halusinasi!
“Ya gimana, soalnya kan aku nggak begitu punya uang banyak, El. Jadi mendingan sehabis kuliah di kosan aja kalau nggak ada kegiatan BEM. Aku juga sibuk banget akhir-akhir ini, jadi gak sempat ke mana pun,” tutur Ayudia kembali merangkai kebohongan yang sempurna.
“Tapi lagi sale banget, Dia. Aku transfer aja uangnya ke kamu lalu tolong kamu mampir beliin, ya? Jadi biar pas pulang lebaran nanti bisa kamu bawain. Pleaseee ....” pinta Elvira sedikit memohon.
Ayudia akhirnya nekat mengiyakan dan meminta judul buku yang diminta tadi. Ia bertekad akan memesankannya secara online saja agar Elvira tak curiga.
__ADS_1
“Yeayyy! Makasih, Dia! Kamu emang temen ter-the best!” pekik Elvira kesenangan. Segera dikirimkannya list judul buku yang hendak ia titip belikan.
Ayudia menghela napas panjang seraya membayangkan bahwa nanti ia harus begadang untuk mencari di kotak pencarianinternet dan marketplace alamat toko tersebut lalu memesankan list buku titipan Elvira secara online. Astaga! Tambahan tugas, seolah ia masih kurang sibuk saja!
Dan masalah pun timbul ketika rupanya, seperti kata Elvira, buku-buku yang dicarinya adalah edisi great sale dengan diskon besar tetapi khusus untuk pembelian di stand bazaar. Dan tentu itu menjadi masalah bagi Ayudia, dia tidak berada dekat dengan lokasi bazaar
Tadi ia telah menemukan tokonya di marketplace lalu memasukkan list buku titipan Elvira di keranjang pesanan untuk kemudian dia check out ke alamatnya sendiri. Nanti saat sampai, baru akan diakuinya bahwa ia sendiri yang membawakannya langsung dari Bandung.
Ternyata beberapa buku itu memang tidak bisa di check-out secara online. Ada keterangan bahwa buku edisi bazaar hanya bisa dibeli di stand secara langsung.
“Aduh! Harus pakai alasan apa nih ke El?” keluh Ayudia seorang diri di kamar kala mendapati kenyataan tersebut.
Ia tak mau kalau sampai Elvira curiga karena cuma dititipi buku saja dia tak mau. Padahal uangnya juga sudah terlanjur dikirim ke rekening Ayudia. Jadi ia tak mungkin beralasan tidak punya uang untuk menalangi titipan tersebut.
“Ya ampun! Gimana nih?” Ayudia semakin khawatir.
Malam itu Ayudia berpikir keras bagaimana caranya bilang pada Elvira bahwa titipannya tidak bisa dibawakan. Akhirnya, diputuskannya bahwa ia akan berbohong saat ke toko sudah kehabisan stok. Ya, itu saja yang akan dikatakannya nanti. Meskipun entah bagaimana, rupanya Elvira bisa tahu bahwa stok di toko tersebut masih ada. Masih tertulis available.
__ADS_1
“Kenapa ya, Ayudia kok tega amat nggak bersedia cuma dititipin beberapa buku aja? Uang juga udah aku kasih duluan padahal,” keluh Elvira seorang diri setelah Ayudia mengiriminya chat minta maaf dan sudah mentransfer kembali uang Elvira.
“Sampai bohong udah kehabisan segala,” lanjutnya masih curiga dengan kejadian tersebut.