
Dan Senin yang dinanti itu pun tiba. Ayudia sudah sengaja berangkat pagi sekali dengan mengenakan pakaian formal berupa kemeja putih lengan panjang ditutup dengan blazer warna navy dan celana bahan hitam. Ia juga mulai mengenakan jilbab dan menatanya serapi mungkin seperti ysang biasa Dewi pakai. Nanti bila memang ia akan bekerja di kantor, maka tak akan ada alasan gerah lagi di ruangan produksi kalau harus berjilbab.
“Wah, pangling loh aku, biasanya pakai seragam produksi tanpa jilbab, hehe.” Dewi menyapa ketika dilihatnya Ayudia sedang berjalan ke arahnya. Kepala HRD yang akan wawancara belum datang kayaknya. Kamu tunggu aja di situ bentar, ya.” Dewi menunjuk sebuah kursi panjang di depan pintu kantor
“Habisnya pengen kayak kamu gitu,” jawab Ayudia apa adanya. Ya, selama ini ia juga ingin berjilbab tetapi kalau mengingat pekerjaannya yang kadang ada di mesin press bahan sepatu yang hawanya gerah sekali ia jadi malas. Mungkin hidayah itu memang belum datang dulu. Yang jelas masa transisi peralihan dari saat Ayudia belum mengalami sakit ingatan dengan setelahnya ini memang banyak sekali perubahan dalam banyak hal baik luar maupun dalam diri Ayudia.
“Oh ya,nanti nggak akan dibahas soal aku yang cuma lulusan SMA aja, kan, Dew? Aku gugup, nih.” Ayudia bertanya lagi soal itu. Padahal sejak kemarin sore ia sudah menelepon Dewi dan terus menerus memastikan soal hal itu.
“Nggak akan. Ya pastinya beliau kan udah lihat sendiri di CV kamu, Dia. Yang penting kamu percaya diri dan tunjukin kemampuan kamu. Kan kita punya tuh sertifikat Microsoft Office dari ekskul di sekolah. Itu cukup, kok. Aku kan dulu juga sama pakai ijazah SMA aja, Dia. Jangan gugup dong, justru kalau gugup nanti kamu kelihatan gak maksimal, loh.” Dewi mewanti-wanti agar Ayudia percaya diri dan tampak yakin pada dirinya sendiri. Toh pekerjaan administrasi pasti dikuasai oleh anak lulusan SMA meskipun belum pernah praktik kerja di lapangan secara langsung.
“Duh, iya nih. Nervous banget aku tahu.” Ayudia malah tampak lebih gugup sekarang. Diliriknya jam tangan yang masih menunjukkan angka tujuh kurang setengah jam lagi itu. Astaga! Semakin dekat waktunya ia semakin gugup saja. Bahkan kedua telapak tangannya kini terasa dingin dan mulai berair padahal biasanya tidak pernah.
Dewi yang melihat cemasnya wajah temannya itu pun akhirnya menyuruhnya untuk solat dhuha dulu di mushalla kantor.
“Sana kamu sebaiknya wudhu dan solat dhuha dulu deh kalau belum,” sarannya sembari masuk ke dalam ruangannya. Tak berapa lama ia kembali sambil menenteng sebuah tas mukena lipat kecil dan menyerahkannya pada Ayudia. “Biar hatinya tenang dan minta dilancarkan selama interview. Gih, sana jalannya ke kiri!” tunjuk Dewi ke arah sebelah kiri koridor kantor tersebut.
Ya, Ayudia selama ini memang tidak pernah menapakkan kaki ke lantai atas di mana office berada. Ia hanya berkutat di ruangan produksi di lantai satu saja yang luas sekali arealnya.
Ayudia pun menurut. Ia memang belum solat dhuha tadi di rumah. Terlalu nervous membuatnya malah melewatkan banyak persiapan. Astaga!
Dan ajaib, setelah melaksanakan salat sunnah dua rakaat itu ia jadi merasa jauh lebih tenang. Andai tidak ingat jam sudah mepet waktu masuk kantor yaitu jam tujuh, maka ia pasti akan menambah jumlah rakaatnya. Karena sungguh ternyata salat memang bisa memberikan ketenangan serta keyakinan dalam diri. Entah apa pun hasilnya nanti, yang penting ia sudah berusaha yang terbaik dan hanya rezeki Allah yang akan menentukan ia berhasil diterima atau belum beruntung.
Mukena lipat itu dikembalikannya ke ruangan Dewi yang mengedipkan sebelah matanya untuk menyemangati sang kawan. Sudah tepat jam tujuh dan Ayudia tinggal menunggu dipanggil masuk ke ruangan kepala HRD yang ada di ujung ruangan besar tempat di mana kubikel Dewi dan banyak pegawai lain berada.
“Ayudia Maharani?” Kepala HRD akhirnya membuka pintu dan menyebutkan namanya sambil melirik ke arah Ayudia yang duduk tegak di kursi tunggu.
“Iya, saya, Pak?” jawab Ayudia sambil bangkit berdiri dan membetulkan letak jilbabnya yang sudah rapi.
“Mari masuk,” titah beliau membiarkan pintu di belakangnya terbuka untuk jalan lewat Ayudia.
__ADS_1
Ayudia mengucapkan Bismillah secara lirih dan juga membaca shalawat sebanyak-banyaknya.
'Shallallahu 'Ala Muhammad Shollallahu 'alaihi wasallam' batin Ayudia berulang-ulang.
Tapi rasa gugupnya telah sempurna sirna. Ia bisa mengontrol langkah dan dirinya agar tetap tampak tegas dan tidak nervous di depan sang kepala HRD yang adalah pria berusia sekitar empat puluhan tahun, berkulit hitam dan berambut setengah botak itu.
“Silakan duduk!” titah pendek sang kepala HRD yang kini terlihat dari name tag di mejanya bernama Pak Hartono itu.
Dan Ayudia pun duduk di kursi tepat di depan meja Pak Hartono dan bersiap melalui masa interview itu dengan sesempurna mungkin. Ia lantas meletakkan CV yang dibawanya di meja dan diambil oleh Pak Hartono. Pria setengah baya itu membolak-balik kertasnya dan sejenak membaca beberapa halaman.
“Jadi sebelumnya Anda ini bekerja sebagai karyawan di bagian produksi dan keluar karena izin setelah mengalami kecelakaan sepulang kerja, betul?” Rupanya hal itu yang dibahas pertama kali oleh sang kepala HRD.
“Betul, Pak. Sudah sekitar tiga bulan yang lalu kejadiannya,” jawab Ayudia melengkapi informasi.
“Ya, tertera di sini tanggal pengunduran dirinya serta keterangan dari rumah sakitnya,” komentar pak Hartono sambil kembali membolak-balikkan kertasnya.
“Lalu, kenapa saat ingin bekerja kembali di perusahaan ini, bukannya melamar lagi di mandor yang sama tetapi malah memilih ke bagian administrasi?” tanya Pak Hartono lagi. Mata elang pria itu menelisik ke arah mata Ayudia dan mendeteksi entah apa dari sana.
Tampak Pak Hartono mengangguk-anggukkan kepalanya lantas kembali lanjut membolak-balik tumpukan kertas di CV Ayudia tersebut.
“Lulusan SMA dengan banyak nilai A dan angka 9. Bagus. Sertifikasi Microsoft Office juga A, oke. Untuk kualifikasi standar memang memenuhi syarat sebenarnya. Hanya saja peminat di bagian ini bukan hanya Anda saja. Nanti jam delapan juga akan datang lagi pelamar yang lain yang mungkin saja berpendidikan sarjana atau minimal diploma ....” Pak Hartono sengaja menjeda kalimatnya. Membiarkan Ayudia merespon dulu perkataannya tersebut meskipun itu bukanlah pertanyaan yang butuh dijawab juga sebetulnya.
“Iya, Pak. Saya tahu dari teman saya bahwa akan ada beberapa pelamar yang diwawancarai hari ini. Saya pikir Bapak memang sepatutnya mencari yang terbaik di antara pelamar yang ada terlebih dulu karena memang itulah tugas Bapak sebagai kepala HRD,” jawab Ayudia akhirnya.
“Lalu, menurut Anda apa yang membuat saya nanti akan yakin untuk memberikan pekerjaan ini pada Anda? Bisa disebutkan mungkin kelebihan Anda dari para pelamar lain nanti?” tanya Pak Hartono yang sangat menjebak sekali itu.
Bagaimana mungkin Ayudia bisa tahu apa kelebihannya dibanding pelamar lain yang ia sendiri tak kenal.Namun, otaknya langsung bekerja cepat dan menarik kesimpulan bahwa pastilah yang ingin diketahui oleh sang kepala HRD adalah kelebihan yang Ayudia miliki yang bisa diunggulkan berkenaan dengan pekerjaan yang dilamarnya itu.
“Saya tidak tahu bagaimana pelamar yang lain, Pak. Tapi sebagai mantan karyawan produksi di perusahaan ini, saya rasa saya akan lebih cepat dapat beradaptasi di office sini dan juga lebih mengerti seluk beluk urusan administrasi produksi serta kondisional nya di sana. Saya rasa itu kelebihan saya dibanding pelamar lain yang bukan berangkat dari lingkungan perusahaan sendiri.” Akhirnya itu yang menjadi jawaban Ayudia. Ia menghela napas panjang sambil berharap di dalam hati bahwa jawabannya tidak akan menjadi blunder untuk dirinya sendiri. Bagiamana kalau sang kepala HRD malah akan menyimpulkan bahwa sebaiknya Ayudia dikembalikan ke bagian produksi saja karena saking kualifiednya dia di sana dulu.
__ADS_1
“Bagus. Saya suka analisa Anda mengenai maksud pertanyaan saya. Dan bukannya mencari kelemahan yang lain, tetapi Anda fokus menemukan poin lebih yang bisa Anda berikan sendiri. Oke, saya rasa cukup begitu saja. Anda akan mendapat panggilan kedua bila memang nanti Anda yang terpilih, ya. Semoga beruntung, Ayudia,” kata Pak Hartono sembari bangkit dan menyalami Ayudia.
Ayudia tersenyum sambil berkata, “Terima kasih, Pak.” Kemudian berbalik dan pergi tanpa lupa menutup kembali pintu ruangan kepala HRD itu. Tampak Dewi mendongak dari posisinya dan bertanya dengan gerakan bahunya karena ia sedang sibuk dan tak bisa menghampiri Ayudia langsung ke situ.
Ayudia hanya mengangkat jempol kanannya sembari tersenyum yakin meskipun ia tak tahu hasilnya nanti akan diterima atau tidak. Hasil wawancaranya menurutnya lumayan. Hanya tinggal melihat apakah pelamar lain nanti jauh lebih baik darinya atau tidak. Itu saja yang akan jadi penentu segalanya. Dan tentu saja faktor rezeki dari Allah juga sangat berperan di dalamnya. Tinggal berdoa, batin Ayudia dalam hati sepanjang perjalanan pulangnya ke rumah.
Sesampai di rumah, Bu Nani yang penasaran tentu saja langsung minta diceritakan pengalaman interview tadi di kantor. Beliau begitu ingin tahu apa saja yang terjadi di sana dan Ayudia menceritakannya panjang lebar karena ia juga ingin meminta pendapat dari ibunya.
“Yah, kamu udah melakukan yang terbaik, Nak. Yang penting udah usaha. Hasilnya biar kita pasrahkan saja sama Allah, ya. Jangan lupa terus berdoa.” Bu Nani yang bijaksana berkata memberikan semangat sekaligus penghiburan.
Ayudia lantas beristirahat di kamar dan tak lupa langsung menelepon Elvira setelah dichatnya dan tahu kalau sahabatnya itu tidak sedang sibuk di kelas mata kuliahnya.
“Wah, aku jadi ikut deg-degan nih nunggu hasilnya. Kapan pengumuman katanya?” Elvira bertanya penuh takjub.
Gadis itu masih saja sangat kagum pada orang-orang sebayanya yang sudah menghadapi dunia kerja sementara dirinya masih harus berkutat dengan buku diktat, ujian dan juga berburu nilai tugas.
“Entah nanti setelah semua pelamar diinterview atau mungkin besok. Kata Dewi sih biasanya langsung, El. Soalnya buru-buru harus mengisi tempat kosong yang ditinggalin karyawan lamanya yang mau cuti hamil itu kan. Makanya ini aku deg-degan banget nih.” Ayudia menjawab jujur.
“Tapi aku sih yakin kamu akan keterima, Dia. Kamu kan selalu luar biasa,” hibur Elvira membesarkan hati temannya.
“Masalahnya tadi juga disebutin soal gimana kalau pelamar lain ada yang lulusan sarjana atau minimal diploma? Ya ampun, kan itu kayak ngerendahin aku banget yang cuma SMA, El.” Ayudia mengutarakan alasan ketidakyakinannya.
“Ya tapi kan kalau lulusan sarjana artinya usianya lebih tua dibanding kamu. Biasanya ada yang lebih memilih usia yang lebih muda sih. Udah tenang aja. Itu perkara rezeki. Minta saja ama Allah biar dikasih. Yuk, kita berdoa bareng, yuk,” ajak Elvira kemudian ia sendiri langsung membatin mendoakan keberhasilan untuk sang kawan.
Ia tahu betul Ayudia sangat ingin lolos di pekerjaan itu karena akan menjadi peningkatan taraf yang lumayan signifikan dari hanya karyawan produksi kasar menjadi karyawan office di bagian administrasi. Itu kesempatan besar untuk Ayudia dan ia sebagai sahabat juga sangat mengharapkan Ayudia berhasil mendapatkan kesempatan itu.
__ADS_1