Jatuhnya Sang Bintang

Jatuhnya Sang Bintang
Bab 7 Menanti Pengumuman


__ADS_3

Waktu penantian menunggu pengumuman setelah tes dilaksanakan cukup lama, sekitar sebulan. Yah, wajar. Karena yang dikoreksi berjumlah ribuan dari seluruh nusantara. Siapa pula yang tidak ingin turut serta dalam seleksi yang hasilnya bila diterima akan fix memiliki kehidupan cerah di masa depan tersebut. Kuliah bebas biaya, ada uang saku dan tunjangan plus jaminan pekerjaan sebagai PNS usai lulus kelak. Sungguh hadiah yang tak terkira besarnya bagi mereka yang terpilih saja.


Selama penantian itu, Ayudia tak tentu apa yang dilakukannya. Ia semakin terimpit dalam ruang hatinya sendiri. Ingin keluar ke rumah teman tetapi kebanyakan temannya sudah banyak yang pergi kuliah di universitas dengan biaya sendiri. Selain itu banyak yang sudah bekerja karena memang sedari awal tak berniat kuliah entah dengan alasan masing-masing.


Ada pula beberapa teman yang sudah melangsungkan pernikahan dini. Ia bahkan diundang beberapa kali dan malu sendiri kala hadir di pesta pernikahan sementara dirinya masih merasa seperti anak sekolahan. Sepertinya Ayudia belum sepenuhnya sadar bahwa dirinya sudah beranjak dewasa dan memang hal seperti itu sudah harus dihadapinya.


Karena itulah ia lebih suka untuk mengurung diri di kamar. Bila ibunya menyuruh pergi untuk kulakan atau membantunya di dapur barulah dia akan keluar. Itu pun dengan bertekuk muka sehingga terkadang Bu Nani lebih memilih untuk mengerjakannya seorang diri.


Bu Nani sering mengadukan sikap Ayudia terhadap suaminya, tetapi seperti biasa, Pak Anwar yang sabar dan pengertian hanya menyabarkan beliau dan mencari sejuta pembelaan untuk snag putri.


“Biarin lah, Bu. Mungkin dia sedang konsentrasi untuk belajar. Siapa tahu nanti kalau lolos kan dia langsung kuliah dengan pelajaran yang pasti sulit nanti,” kata beliau dengan keterbatasan pengetahuan seorang pria biasa yang tidak memiliki latar belakang pendidikan tinggi itu.


Akhirnya suami istri itu pun memaklumi kesibukan sang putri. Mereka tak mengganggu Ayudia yang semakin lama lebih sering berkutat di dalam kamarnya sendiri. Yah, Pak Anwar dan Bu Nani memang sejatinya sangat mendukung Ayudia untuk meraih impiannya. Hal itu membuat Ayudia semakin keenakan. Ia malah memanfaatkan keadaan dengan sama sekali tak mau membantu pekerjaan rumah ibunya. Jarang sekali ia menyapu atau pun bersedia disuruh belanja keluar.


“Bu, aku malu kalau disapa orang-orang,” tolak Ayudia suatu aat ketika Bu Nani menyuruhnya belanja ke tukang sayur di ujung gang.


“Lah, malu kenapa? Disapa orang kok malu, sih?” Bu Nani tentu saja terpantik rasa ingin tahu dnegan alasan aneh itu.

__ADS_1


“Ya pasti mereka lalu akan tanya kok aku di rumah? Kok nggak kuliah? Gitu-gitu, kan malu, Bu!” jawab Ayudia dengan nada sangat kesal.


“Ya ampun, Dia. Itu kan mereka cuma basa-basi aja. Kamu bisa jawab belum masih menunggu pengumuman, kan?” Bu Nani kembali bertanya kenapa hal seremeh itu menjadi halangan bagi Ayudia untuk keluar dari rumahnya sendiri. Aneh sekali.


“Tapi kan capek juga Bu kalau harus jawab kayak gitu terus. Mendingan nggak usah keluar aja sekalian,” pungkas Ayudia bersikukuh tak mau untuk disuruh.


Bu Nani akhirnya hanya menarik napas panjang dan mengembuskannya secara perlahan.


“Begini amat punya anak pinter,” keluhnya saat hanya berdua saja dengan sang suami.


Pak Anwar hanya bisa menghibur istrinya, “Sudahlah, Bu. Nanti kalau Dia sukses kan kita juga yang bangga.”


Tak jarang Ayudia mengeluh di dalam diary, andai ia dilahirkan di keluarga yang lain. Misalnya di keluarga Elvira. Ayah dan ibunya sudah kaya sejak beberapa keturunan yang lalu sepertinya. Mereka adalah salah satu golongan ningrat di daerah tersebut dan dihormati oleh warga lain. Ayudia tak memiliki ilmu tentang agama bahwa hidup akan indah dan tenang andai kita manut gusti Allah atas setiap takdir yang diberikan.


Setiap kali memikirkan Elvira, selalu saja terbersit rasa iri hati terhadap kemudahan serta keberlimpahan yang dimiliki oleh temannya itu. Apalagi kini ditambah dengan kedekatan Elvira dengan David, sosok yang ditaksir oleh Ayudia sejak lama. Kecemburuan itu semakin menggebu saja rasanya.


Ayudia harus sekuat tenaga menahan hatinya untuk tak mengumpat kasar di depan gadis itu. Ya, Elvira masih beberapa kali mengunjunginya ke rumah untuk sekedar berkabar bila ia pulang dari kampus di tiap akhir minggu.

__ADS_1


“Kamu nggak usah ke sini juga nggak apa-apa, kok, El. Kan mulai sibuk?” Suatu saat Ayudia berkata karena ia sungguh bosan menemui Elvira yang datang dengan sejuta kisah masa pra-ospeknya dari kampus. Apa dia tidak punya perasaan hingga tidak tahu kalau Ayudia sugguh semakin iri saja mendengar semua cerita keseruan Elvira.


“Loh, kok gitu, Dia?” Elvira bertanya sambil mengerutkan kening heran.


“Ya nggak apa-apa, soalnya kan aku nggak tahu harus merespon gimana soal cerita kamu itu. Aku nggak tahu apa-apa soal ospek dan semacamnya itu loh!” tutur Ayudia dengan menahan rasa kesal.


“Maaf deh, aku kan cuma berbagi cerita aja, Dia. Ya udah, kita bahas hal lain aja yuk,” ajak Ayudia yang langsung tersadar dan berusaha mengubah topik. Maksud hati Elvira ingin berbagi cerita namun sang sahabat menangapi lain karena hati sudah dirudung kebencia,iri dan keputusan atas takdirnya sendiri.


Tapi sikap Ayudia sudah berbeda dan tak seantusias biasanya. Akhirnya Elvira merasa tak enka hati dan pamit pulang. Padahal setiap kali ia datang ke rumah Ayudia, ia tak pernah lupa membawakan buah tangan khas Surabaya untuk temannya itu. Pikirnya agar Ayudia juga merasakan apa saja yang kini dirasakannya di kampus. Tapi rupanya tanggapan Ayudia padanya sangat jauh berbeda dari harapan.


Saat di telepon oleh David, tanpa sengaja Elvira menceritakan apa yang terjadi di rumah Ayudia tadi. Hal yang mungkin bagi Elvira berbagi cerita namun justru ia menceritakan aib atau kekurangan sahabatnya, tanpa disadari membuat orang lain ikut tak menyukai sosok sahabat nya, Ayudia.


“Apa? Masa’ kamu ditegur gitu, sih? Kayaknya Ayudia itu udah banyak berubah deh, ya. Dia jadi makin gak jelas dan makin menutup diri setelah lulus.” David berkomentar membela Elvira.


“Iya mungkin salahku juga kali, ya. Nggak seharusnya aku cerita banyak hal soal perkuliahan padahal dia masih deg-deg an belum tentu akan berhasil lolos seleksi kuliahnya itu nanti,” tutur Elvira. Ada nada sesal di dalam nada suaranya.


“Ah, kamu juga nggak salah, kok. Kan niat kamu cuma berbagi cerita. Bukannya pamer ke dia,” hibur David menenangkan sang pujaan. Ia tak suka melihat Elvira sedih. Apalagi kalau cuma gara-gara tingkah absurd Ayudia.

__ADS_1


“Sebaiknya kamu mulai jaga jarak aja sama Dia, El,” saran David. Elvira mau tak mau menyanggupi karena ia juga tak mau kalau kehadirannya justru akan menjadi salah satu sumber kekesalan Ayudia.


__ADS_2