Jatuhnya Sang Bintang

Jatuhnya Sang Bintang
Bab 38 Menjadi Bridesmaid


__ADS_3

Pernikahan Dewi akan dilangsungkan di halaman rumah keluarganya yang luas. Rumah lawas milik keluarganya memang besar dan halamannya pun sangat luas. Diperkirakan untuk membangun dua rumah lagi saja di halaman depan masih akan cukup.


Karena kesibukannya bekerja, Dewi menyerahkan perencanaan pernikahannya kepada WO dan juga keluarga besarnya. Ia hanya meminta pada sang ibunda untuk menyertakan dua orang bridesmaid yang adalah Ayudia dan Elvira. Ya, Ayudia saling berkabar dengan Elvira mengenai undangan mendadak pernikahan Dewi itu hingga akhirnya mereka sepakat untuk bersedia menjadi bridesmaid. Karena kebetulan juga resepsinya nanti akan berlangsung di hari Minggu di mana Elvira memang ada jadwal pulang kampung serta Ayudia juga libur kerja.


“Makasih banyak ya kalian mau bantuin,” ujar Dewi berkali-kali kala mereka didandani oleh tim perias. Wajah Dewi snagat pangling. Gadis yang biasanya hanya bermake up tipis itu tampak sangat berbeda dan aura kecantikannya terpampang nyata. Aura penganting memang berbeda, pikir Ayudia dan Elvira secara bersamaan.


“Kamu cantik banget, sumpah!” puji Elvira spontan. Ia sibuk memperhatikan Dewi yang menurutnya hari itu begitu cantik luar biasa.


“Haha, kamu juga loh. Ayudia juga sama. Noh, berkaca aja sendiri. Kita cantik banget ya!” Dewi terlihat girang melihat hasil make up tim perias. Diam-diam Ayudia juga mencatat dalam hati kelak bila ia menikah juga akan menanyakan pada Dewi kontak tim periasnya ini. Karena ya, ia dari tadi juga memperhatikan wajahnya sendiri di cermin dan tampak puas sekali. Ia dan Elvira juga jadi berubah sangat cantik. Selain mereka, ada beberapa sepupu Dewi yang juga akan jadi bridesmaid nanti.


“Keajaiban make up emang beneran ada ya, gengs, wkwkwk!” Elvira yang kadang ternyata bisa centil juga itu berputar-putar melenggak-lenggok di depan cermin besar lemari kamar tempat mereka dirias saat itu. Bukan kamar Dewi, itu kamar yang katanya biasa diperuntukkan bagi tamu. Kamar Dewi tentu saja sedang didekor dan dipersiapkan untuk kamar pengantin nantinya.


Calon suami Dewi rupanya adalah seorang pengusaha yang memiliki sebuah show room jual motor bekas yang lumayan besar. Katanya untuk resepsi di rumah Dewi itu biayanya full dikeluarkan oleh Rendi, nama calon suaminya. Mereka sudah menjalin hubungan sejak lama, berawal dari pertemuan di dunia maya yang berlanjut pada perkenalan di dunia nyata. Wow!


“Diam-diam sultan ya suami kamu! Keren banget!” celetuk Ayudia sambil melihat bagaimana kesibukan para tim WO dan perias serta catering yang tampaknya memakan biaya tak sedikit itu. Bahkan ia dengar juga besok masih akan ada acara resepsi di gedung yang gantian diselenggarakan oleh pihak keluarga pengantin pria, istilahnya Ngunduh Mantu.


“Kenapa? Mau dikenalin sama temennya? Apa saudaranya?” tawar Dewi sambil meringis menggoda. Bahkan sebelah matanya berkedip jahil.


“Mereka nanti pada datang ke sini juga, kan? Asyik, siapa tahu ada yang nyantol, wkwkwk.” Salah seorang sepupu Dewi yang merespon. Spontan Dewi langsung membeliak ngeri.


“Heiii! Gak boleh kalau kalian! Kan kalian udah akan jadi saudara ipar. Mana boleh saling naksir! Ish, pamali tau!” Lagi-lagi alasan pamali yang diangkat oleh Dewi.


Ayudia dan Elvira saling berpandangan sambil nyegir geli. Mereka berdua termasuk yang tidak percaya akan yang disebut pamali. Tapi mungkin Dewi memang selalu berada dalam kondisi yang mengharuskannya waspada dan lebih baik menghindari saja apa yang rentan disebut pamali itu. Yah, kondisi masing-masing orang memang berbeda.


“Yaah ... gagal deh,” celetuk sepupunya itu mengeluh sambil bahunya merosot tanpa semangat.


“Tenang aja, kalian besok kan ikut juga tuh di acara ngunduh mantu. Nah di sana pastinya banyak temennya Rendi. Nah tebar pesona deh kalian di sana biar dapet mangsa, wkwkwk!” Dewi menyemangati mereka seolah mereka memang sedang serius mencari jodoh saja. Padahal ia tahu mereka hanya sekedar bercanda saja.


Tampak Elvira kini sibuk sendiri mengambil beberapa foto selfie dan mengirimkannya pada David karena kekasihnya itu tadi memang memintanya. Setelah dibaca dan direspon oleh David dengan segudang pujian bernada kocak, Elvira tentu saja jadi tersenyum-senyum geli sendiri. Membuat Ayudia yang memperhatikannya secara diam-diam pun tercubit hatinya. Ada cemburu, iri serta ingin mengalami hal yang sama dengan kawannya itu. Tapi apa daya, ia masih single dan tak punya kekasih untuk berbagi hal-hal bucin. Ck! Mengenaskan.


Usai dimake-up serta berganti kostume seragam bridesmaid, seorang tim WO memberikan instruksi kepada mereka nanti akan bagaimana acaranya berlangsung dan mengambil peran di bagian mana saja. Sedikit nervous dialami oleh Ayudia yang belum pernah ikut acara serupa. Elvira sampai harus membuatnya yakin dengan beberapa kali memberikan dorongan support dan kalimat yang menenangkannya.


Dan waktunya pun tiba. Empat orang bridesmaid berjalan mengiringi sang mempelai wanita saat diarak dari dalam rumah menuju ke pelataran di mana disediakan pelaminan super cantik sebagai singgasana kedua mempelai nantinya. Mereka diutus untuk berjalan dengan perlahan karena sang pengantin mengenakan gaun dengan ekor belakang yang panjang hingga harus hati-hatis ekali dalam melangkah, jangan sampai terinjak. Ada lagi seorang asisten tim WO yang bertugas untuk memegangi ekor gaun Dewi dan memastikannya tetap terjuntai indah tanpa menyebabkan kecelakaan selama perjalanan ke pelaminan.

__ADS_1


Sementara itu, di atas pelaminan telah menunggu sang mempelai pria yang tampak sekali tengah terpesona dengan penampilan Dewi yang memang sangat pangling. Wajah Rebdi tampak begitu semringah dan tak sabar mengucapkan pujian bernada godaan kepada istri sahnya itu. Ya, acara akad nikahnya sendiri sudah dilaksanakan semalam di rumah Dewi dan dengan hanya dihadiri oleh keluarga inti dan beberapa saksi saja.


Setelah tugas bridesmaid usai, begitu juga dengan sesi foto-fotonya, mereka sudah bebas turun lagi dari pelaminan dan menyapa para tamu, ikut juga beramah-tamah dengan para besan dan kesempatan untuk berkenalan dengan banyak komunitas baru di sana.


“Hai, Mbak! Kalau tidak salah, Mbak ini kerja di perusahaan Vicentra, bukan?” Sebuah sapaan membuat Ayudia menoleh. Ia tadinya sedang asyik mengobrol dan berfoto selfie dengan Elvira untuk diunggah di sosial media.


“Ah, iya. Apa kita saling kenal? Maaf, aku biasanya agak lupa wajah orang kalau memang tidak sering bertemunya,” jawab Ayudia, sambil meneliti wajah pria yang menyapanya itu.


Pria itu adalah sosok berusia sekitar dua puluh lima tahunan. Perawakannya tinggi jangkung dengan tubuh kurus mungkin karena saking jangkungnya itu. Tapi percuma, sejauh ingatannya ia tak pernah bertemu dengan pria itu.


Pria itu lantas mengulurkan tangan kanannya untuk bersalaman. Ayudia menyambut uluran tangannya dengan wajah masih penasaran siapa dia.


“Kenalkan, aku Gio. Aku biasanya ke Vicentra tiap bulan, untuk urusan asuransi. Perusahaan kita ada kerja sama.” Gio berkata menjelaskan.


“Oooh ... ya, kalau cuma bertemu sesekali memang aku suka lupa, hehe. Maaf ya, kenalin aku Ayudia,” jawab Ayudia lalu mengulas senyum tipis. Merasa beruntung bahwa memang bukan ingatannya yang bermasalah. Tentu saja ia tak ingat kalau orang itu dari perusahaan lain, hanya sesekali ke kantornya dan itu pun mungkin cuma sekedar berpapasan.


“Iya, kalau aku ingat betul, sih. Soalnya aku pernah tanya nama kamu juga dari Dewi, hehehe.” Gio berkata sejujurnya karena ia memang notabene adalah saudara jauh Dewi dan kebetulan adalah perwakilan dari perusahaan asuransi yang bekerjasama dengan perusahaan di mana Dewi dan Ayudia bekerja. Jadi setiap kali ia ada kunjungan ke sana, Deni biasanya menyempatkan diri mampir ke Dewi meskipun hanya untuk menyapa atau sekedar berbasa-basi saja.


“Oh ya? Haha, untuk apa memangnya?” tanya Ayudia sambil wajahnya tersipu merah merona. Ia pun sambil berjalan ke arah meja prasmanan dan mengambil minum untuk mereka berdua. Tampaknya kurang sopan kalau ia tak menawari juga Gio.


Astaga! Si Gio ini jujur dan terbuka sekali orangnya. Ayudia jadi kembali tersipu karena merasa ada pria yang sudah lama memendam keinginan untuk berkenalan dengannya.


“Syukurlah di sini kita bisa kenalan. Kalau sekalian minta nomor WA boleh juga gak, nih?” tanya Gio kemudian. Nah, kan, terbuka banget dan ceplas-ceplos, pikir Ayudia kelabakan sekarang. Gimana nih? Masa’ iya langsung dikasih? Kan cewek harus jaim dikit, pikirnya lagi, mempertimbangkan dengan cepat tindakan selanjutnya.


“Tapi buat apa?” tanya Ayudia akhirnya. Berharap Gio tidak tersinggung dan malah langsung meninggalkannya. Wkwkwk, kan segan juga kalau dia tersinggung, gimanapun juga dia saudaranya Dewi.


“Ya biar bisa temenan, ngobrol-ngobrol gitu,” jawab Gio santai.


Ayudia salah tingkah. Dia ingin memberinya tetapi juga di saat yang sama ragu juga, apa tidak sebaiknya dia bersikap jaim dulu, ya?


“Kalau nggak usah juga nggak apa-apa, kan?” tanyanya akhirnya.


“Yah, gampang aja sih kalau gak dikasih pun. Ntar aku bisa aja minta ke Dewi, hehe.” Gio malah bersikap seakan itu perkara yang begitu mudahnya hingga Ayudia tergelak tertawa.

__ADS_1


“Wkwkwk, curang itu, sih!” sergahnya lalu mengeluarkan ponsel. Tak ada gunanya lagi membatasi diri. Ia sudah bertekad akan membuka hati karena memang sudah ingin punya kenalan pria yang mungkin saja bisa jadi temannya nanti.


“Yeayyy, sini tukeran,”celetuk Gio yang mengulurkan ponselnya dalam posisi layar yang sudah terbuka di menu kontak dan diberi nama Ayudia. Tinggal mengisi nomornya. Ayudia pun menerimanya dan mengisi nomor miliknya kemudian menekan tombol panggil agar nomor Gio masuk ke daftar panggilan di ponselnya sendiri. Usai terdengar nada panggil, ia mengembalikan ponsel itu kepada pemiliknya lantas menyimpan kontak Gio.


Mereka berdua lantas lanjut mengobrol dan kali ini mengenai pasangan mempelai. Tak berapa lama Elvira bergabung dan membawa David yang rupanya barusan datang untuk kondangan karena dirinya juga diundang oleh Dewi.


“Dia, apa kabar?” sapa David saat Elvira berbasa-basi dengan Gio, saling berkenalan juga.


“Baik, ayo dong kalian kapan nih wedding nya? Mumpung aku lagi semangat jadi Bridesmaids lagi nih, hehehe.” Ayudia berkelakar kepada David sambil menghalau perasaan tak menentu di dalam hatinya saat itu. Disapa oleh pria yang sedari dulu dikaguminya tentu bukanlah hal yang mudah baginya. Terlebih pria itu sekarang adalah kekasih dari sahabat terdekatnya.


David kemudian terbahak. “Wadhuh, kami jelas menunggu wisuda dulu, lah, Dia. Doain langgeng sampai halal, ya. Godaannya banyak tahu!” David menjawab sambil terbahak. Astaga! Sampai sekarang tawa pria itu masih menyisakan kesan tersendiri di benak Ayudia.


Dia bertekad harus segera bisa menghapuskan perasaannya yang sejak dulu dipendam kepada David. Tidak seharusnya perasaan serupa itu masih bercokol di hatinya sementara dia lebih dekat lagi bersahabat dengan Elvira. Ia harus menguburnya dalam-dalam.


“Haha, kalau begitu kayaknya duluan aku dong, ya, hehe.” Ayudia mencoba berkelakar yang ditanggapi serius oleh David.


“Iya, pasti duluan kamu lah. Kamu udah mapan udah ada kerjaan dan penghasilan sendiri. Nggak kayak kami. Kami masih panjang perjalanan sampai ke tahap sepertimu,” kata David menyemangati.


“Wkwkwk, oke doain aja jodohnya cepet ketemu, hihi.” Syukurlah, Ayudia bisaq bercanda dengan sebiasa itu saja dengan David pun ia sudah begitu senang. Mereka memang hanya bisa sebatas itu. Hanya sekedar teman, yang satu kekasih Elvira, yang satu sahabatnya. Ya, sebatas itu.


Akhirnya Elvira kembali mengajak David berkeliling menyapa keluarga Dewi yang lain, Gadis itu bangga memperkenalkan David kepada semua orang karena ia dari tadi memang ada saja yang bertanya yang mana kekasihnya. Sementara Ayudia jadi harus kembali mengobrol bersama Gio.


“Itu tadi teman SMA kamu, ya? Bisa gitu ya pacaran sampai ke kampus? Langgeng amat,” komentar Gio karena tak tahu harus membahas apa lagi. Daripada suasana hening tanpa kata dan tanpa bahan obrolan yang jelas, ia berpikir mungkin membahas Elvira yang ramah tadi lumayan.


“Iya, temen SMA. Tapi kalau pacarannya baru-baru ini aja setelah udah jadi mahasiswa, kok. Dulunya si David selalu jadi korban cuek oleh El. El dulu nggak minat sama sekali untuk pacaran, jadinya ya gitu.” Ayudia menjelaskan sedikit sejauh pengetahuannya.


Tampak Gio mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Kalau kamu sendiri? Tertarik nggak buat pacaran?” tanya Gio kemudian. Spontan pertanyaan to the poin itu langsung menimbulkan rona kemerahan di wajah Ayudia.


“Haha, ya biasa aja sih kalau aku nggak pernah kepikiran. Lagian gak ada yang nembak aku pun, jadinya juga nggak repot-repot untuk nolak ataupun terima, hihihi.” Sambil mencoba bersikap sebiasa mungkin, Ayudia menjawab.


“Kalau ada yang nembak berarti akan dipertimbangkan juga dong, ya? Gak langsung ditolak?” tanya Gio lagi.

__ADS_1


“Haha, udah ah, jangan bahas itu. Geli sendiri aku,” kata Ayudia. Ia lantas bersikap agak menghindar dan buru-buru pamit untuk menyusul Elvira dan David yang sudah berkumpul dengan para undangan lain yang tak lain adalah teman-teman SMA mereka dulu. Mereka berkumpul di salah satu sudut halaman agar seperti reuni kecil-kecilan. Ramai sekali semuanya saling bertanya kabar dan berkelakar tentang banyak hal. Seru sekali pertemuan dengan kawan lama ketika sudah tidak ada lagi beban kepura-puraan seperti yang dulu dialami oleh Ayudia versi penipu dulu.


__ADS_2