
"Jadi, kejutannya apa?” tanya Ayudia demi membunuh rasa kikuknyaq dalam keheningan menunggu pesanan.
“Kejutannya ya ini, makan berdua sama aku di cafe baru. Eheheee ....” Gio terkekeh geli sambil menjawab seolah hal itu adalah sesuatu yang begitu spesial.
“Spontan Ayudia megerutkan keningnya heran. “Astaga! Kejutan apanya! Kalau cuma makan berdua sama kamu di cafe ini apa istimewanya, coba?” tanya Ayudia mencoba terlihat kesal meskipun sebenarnya ia tergelitik ingin tertawa.
“Istimewa, dong. Kan jarang-jarang aku ajak cewek makan duluan. Cuma berdua aja lagi! Tersanjung dikit, dong, kamu!” titah Gio sambil memberengutkan wajah hingga semakin tampak lucu di hadapan Ayudia.
“Ogah amat! Tersanjung ngapain? Huh! Tahu gitu tadi aku mintanya belok ke mall aja biar sekalian minta dibayarin belanja!” sergah Ayudia memprotes. Tentu saja itu hanya bercanda karena ia bukan cewek yang matre. Ia tidak akan memoroti pria yang sedang dekat dengannya untuk dimanfaatkan karena ia sendiri tak akan suka dengan hubungan toxic yang serupa itu. Baginya hubungan dua insan lawan jenis, bila memungkinkan haruslah saling menerima apa adanya, mampu saling memaklumi serta melengkapi kekurangan masing-masing.
“Enak aja! Aku sendiri aja nggak pernah nge-mall, kok. Ntar kita nge-mall kalau pas ada diskon gede-gedean aja, ya. Dan harus setelah kita sama-sama gajian, wkwkwk!” Gelak tawa Gio berkumandang hingga terhenti saat pramusaji berseragam hijau biru datang dan menghidangkan pesanan mereka.
“Selamat makan!” ucap Gio kemudian sambil mendahului menyuap sesendok nasi ke dalam mulutnya.
“Ish! Kamu nggak pernah denger ungkapan soal lady’s first, ya?” tegur Ayudia sambil melirik tak suka.
Tampak Gio menepukkan telapak tangannya ke dahi seolah baru teringat sesuatu, yaitu tak lain absurdnya wanita.
“Iya aku lupa, maaf ya! Yuk kita ulang,” kata Gio sambil dengan santai merapikan nasi di atas piringnya agar tampak belum tersentuh dan kemudian berkata pada Ayudia, “Silakan, lady’s first ....”
Tentu saja melihat tingkah kocaknya itu Ayudia tak bisa menahan gelaknya. Ia pun tak jadi menyuap malah terbahak-bahak tak keruan hingga meminum dulu milk shakenya untuk meredakan tawa.
“Sumpah, ya. Aku jadi sakit perut terus nih kalau kelamaan gaul sama kamu,” celetuk Ayudia lagi setelah berhasil menghentikan tawa.
“Enak, dong. Emang kata ibuku sih efek dekat denganku itu selain ketularan keren, juga jadi awet muda sebab selalu bahagia penuh tawa, eheheh.”
“Ih, narsis amat! Kocak itu beda dengan keren, loh! Konsepnya beda!” Ayudia memprotes tak terima.
“Nggak ah! Sama aja! Yang jelas orang kocak sudah pasti keren, no debat!” pungkas Gio tak mau kalah berdebat.
Dan perdebatan itu terus berlanjut hingga tak terasa isi piring keduanya hampir licin tandas tak bersisa.
“Jadi kamu tadi itu emang aslinya laper, ya? Apa doyan, sih? Cewek kok nggak ada jaim-jaimnya, ya? Sepiring lebar gitu dihabisin bae, ckckck!” Gio menggeleng-gelengkan kepalanya heran dengan cara makan Ayudia yang secepat dirinya dan bahkan juga sama-sama tak bersisa. Biasanya kan kalau cewek, apalagi sedang makan bareng cowok, itu dilambat-lambatin, terus juga disisa-sisain banyak. Tapi gadis di hadapannya itu berbeda!
“Haha, ngapain jaim? Nggak kenyang, dong!” jawab Ayudia apa adanya. Wajahnya kini tampak semringah karena perutnya terisi kenyang dan makanannya juga enak. Mana gratis pula ditraktir Gio. Rezeki mana lagi yang mau didustakannya, bukan?
Gio hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil terkekeh. Seperti dugaannya, Ayudia memang sedikit berbeda dengan gadis lain yang banyak jaim dan banyak maunya. Sejak awal berkenalan memang sudah tertarik pada wajahnya yang seperti mengingatkannya pada seseorang. Tapi entahlah, sampai sekarang pun, Gio belum ingat akan wajah siapa yang mirip dengan Ayudia itu. Mungkin itu hanya alasan dari hatinya saja yang memang telah menunjuk Ayudia sebagai gadis pilihan.
“Udah kenyang banget, bis apulang gak nih ya?” tanya Ayudia sambil mengeluh dan mengusap-usap perutnya yang padat berisi.
“Gara-gara kamu juga, nih. Udah pesen nasi goreng eh minumnya milkshake pula, jadi masih kurang seger kan minumnya nih!” keluh Gio ikutan sebab ia jadi harus memesan dua es jeruk lagi untuk mereka karena nyatanya setelah milkshake habis, tenggorokan masih terasa kurang segar dan kehausan.
“Hahah, udah tahu gitu ngapain kamu ikutan pesen idem coba!” kata Ayudia tak mau disalahkan.
“Ya kan biar soulmate tadi udah kubilang! Huh lain kali akkan kupiikir-piikir dulu deh kalau mau soulmate an sama kamu sih!” keluh Gio lagi. Dia kini membuka dompetnya dan aan membayar e kasir sebelum Ayudia juga ikut bangkit.
__ADS_1
“Ayo deh karena aku juga puas maan banyak dan enakk sore ini, biar kubayar sendiri pesenanku,” katanya seraya mengeluaran dompet dar tas selempang kerjanya.
“Heh! Mana ada! Aku nggak pernah sudi biarin cewek yang kuajak makan bareng untukk bayarin makanannya sendiri, ya. Inget itu! Udah duduk situ aja dan tungguin aku bentar,” elak Gio sambil melempar tatapan tajam ke arah Ayudia, melarang gadis itu pergi ke kasir mengikutinya.
Walhasil, Ayudia pun menurut dan baru bangkit saat Gio telah berada di sisi mejanya kembali untuk keluar bareng.
“Mau kuboncengin aja pulangnya?” tawarGio kemudian, karena mendengar keluhan Ayudia yang katanya berat mau pulang dengan perut ekenyangan.
“Lah? Terus motor kamu sendiri gimana?” tanya gadis itu bingung.
“Ya biarin aja di sini, ntar dair rumah kamu aku order ojek online untuk anter lagi aku ke sini, hehe. Just so simple like that, you know,” jawab Gio sambil menaikkan alis matanya menawarkan bantuan.
“Nggak usah deh, kasihan kamunya malah lama muter mulu di jalanan. Yuk ah, kita pulang aja langsung!” Sambil berkata begitu, Ayudia menaiki motornya dan memakai helm dengan logo kartun bugs bunny miliknya.
Gio memandangi sejenak gadis itu lalu nekat meminta Ayudia mundur.
“Udah sana, munduran dikit. Biar aku anterin aja.” Gio memegangi setang motor matic biru milik Ayudia dan akhirnya Ayudia pun mengalah setelah berkeras menolak pun Gio sudah terlanjur tak mau bergerak dari tempatnya. Astaga!
“Biar kamu pernah tahu rasanya diboncengin cowok, nih! Bilang makasih, kek!” gerutu Gio saat ia telah melajukan motor matic Ayudia itu perlahan.
“Ish! Maksa amat jadi orang! Padahal aku juga pernah diboncengin cowok!” bantah Ayudia berkeras.
“Siapa? Palingan namanya Pak Anwar!” tuduh Gio yang spontan saja membuat jemari Ayudia tanpa segan langsung mencubit pinggangnya memutar dan kecil hingga hampir saja Gio oleng dalam membawa motor.
“HEIII! Dia ya ampuuun! Bahaya banget ini anak! Aku aduin Pak Anwar, loh!” ancam Gio sambil meminggirkan motor dan berhenti sejenak untuk mengusap-usap pinggangnya yang kesakitan sekali akibat cubitan kecil Ayudia barusan.
Gio lalu melanjutkan perjalanan dalam diam. Takut-takut kalau salah bicara lagi nanti gantian pinggang sebelahnya yang akan jadi sasaran cubitan oleh Ayudia.
Sesampai di rumah, Ayudia mau tak mau jadi harus mengucapkan terima kasih padaGio.
“Makasih!” katanya pendek yang ditanggapi tertawa oleh Gio.
“Bilang makasihnya terpaksa amat sih,”tegur pria itu lantas menyerahkan setang motor kepada Ayudia. Ia sengaja hanya menghentikan motornya di depan gerbang karena gerbang rumah kala itu masih tertutup rapat.
“Kamu mau mampir minum dulu barangkali?” tawar Ayudia karena segan kalau langsung mengusir pulang.
“Nggak, deh. Masih full nih perut, hehe.” Gio lantas mengeluarkan ponsel untuk memanggil ojek online dan Ayudia menunggunya hingga ojek itu datang.
“Apa mau ditunggu di dalam dulu?” tanyanya lagi karena merasa tak enak hati juga kalau dia langsung masuk duluan sementara Gio masih harus di situ menunggu.
“Nggak usah, udah deket, kok. Kamu masuk aja dulu,” usul Gio tapi Ayudia tentu saja tak mau.
“Kutungguin lah, kan gara-gara anterin aku kamu jadi harus muter balik susah-susah gini,” tolak Ayudia kemudian duduk di depan pagar yang ada tembok dudukannya.
“Kalau di sini berduaan nanti malah dikatain tetangga lagi pacaran!” tegur Gio sambil matanya celingak-celinguk melihat sekeliling.
__ADS_1
“Wkwkwk. Kan tempatnya terbuka gini, yang penting kelihatan jelas kita nggak ngapa-ngapain,” jawab Ayudia sambil terkekeh geli.
Meskipun pria, rupanya Gio juga memikirkan hal-hal seremeh itu, ucapan tetangga kan hal remeh. Biasanya yang meributkan persoalan seperti itu adalah kaum wanita. Kalau Ayudia malah cuek bebek asal dia tidak berbuat salah, maka habis perkara. Peduli amat sama omongan tetangga. Kalau tak enak didengar ya tinggal anggap aja sebagai komentator gila.
Tak berapa lama kemudian akhirnya ojek panggilan sudah tiba dan Gio nangkring ke jok penumpang.
“Udah masuk sana! Bye!” kata Gio seraya mengenakan helmnya sendiri dan menolak helm dari sang ojek. Ayudia memperhatikan sampai sosok punggung Gio benar-benar lenyap dari pandangan. Baru setelah itu ia membuka pintu pagardan memasukkan motornya lalu kembali untuk menutupnya.
Di rumah, ia disambut oleh Bu Nani yang mengabarkan berita yang cukup membuatnya terperangah.
“Apa, Bu? Gio bilang gitu ke Ibu?” tanya Ayudia memekik keras.
“Iya, dia minta izin tadi di telefon untuk datang bersama ibunya besok pagi di hari Minggu. Ya udah, Ibu langsung tanya Bapak kamu dulu kan tadi, apa beliau ada di rumah dan nggak sibuk besok. Katanya nggak. Ya udah akhirnya bapak kamu yang telefon balik si Gio dan bilang kalau oke, boleh datang beso pagi. Emangnya kamu malah belum diberi tahu ya?” tanya Bu Nani sedikit terheran.
“Belu, Bu. Ini padahal aku baru aja ketemu dia dan bahkan dianterin pulang, loh! Dasar dia tuh, selalu aja penuh kejutan! Hmmm!” Ayudia menggerutu dan sudah bersiap akan mengomeli Gio nanti di telepon setelah ini.
“Ha? Dianterin? Mana?” tanya Bu Nani. Ia tadi memang mendengar sekilas motor Ayudia berhenti di pagartetapi kemudian tak diperhatikannya karena masih melanjutkan menggoreng ikan. Baru setelah selesai tadi Bu Nani menyambut Ayudia untuk mengabarkannya soal rencana kedatangan Gio besok itu.
Ayudia lantas bercerita panjang lebarmengenai Gio yang mendadak ada di depan kantornya dan mengajak makan ke cafe yang baru buka. Juga tak ketinggalan Gio yang memboncengnya karena Ayudia mengeluh tak bisa pulang sebab kekenyangan. Walhasil Gio jadi balik ke cafe dengan ojek online.
“Ya ampun! Anak-anak muda ini rempong amat, sih, kalian!” tegur Bu Nani yang merasa kasihan juga pada Gio.
“Haha, ya biarin aja sih, Bu. Dia sendiri kok yang mau! Bukan Dia juga yang nyuruh.” Ayudia pun tak mau disalahkan karena memang justru Gio sendiri yang memaksa untuk melakukannya.
“Ya meskipun gitu kan kamu bisa nolak, Dia. Kasihan loh capek muter di jalan!” tegur ibunya lagi.
Ayudia pun melesatke kamarnya untuk mandi dan berganti baju sebelum kemudian langsung mengirimkan pesan omelan karena Gio telah sama sekali tidak meminta persetujuannya lagi untuk datang besok pagi. Bukankah ini terlalu cepat? Gila amat! Pikirnya membatin dalam diam. Sungguh Ayudia bisa shock kalau besok ia sudah akan dilamar padahal belum ada persiapan.
“Buat apa? Kan udah kubilang aku urusannya sama Pak Anwar. Ngapain sih kamu ikutan?” Gio langsung menelepon Ayudia karena sesungguhnya pria itu tak suka mengetikk pesan berpanjang-panjang. Ia selalu lebih suka langsung menelepon Ayudia untuk menjawab pertanyaan gadis itu dari chatnya.
“Huh! Jangan macam-macam ya pokoknya besok! Awas aja kamu!” ancam Ayudia lagi.
“Macam-macam gimana emang? Cuma satu macam, kok. Aku mau bilang, bersama Ibuku, kalau aku mau minta kamu buat jadi istri aku, menantunya ibuku. Udah satu doang urusan kami besok, Dia.”
“Giooo! Jangan sembarangan deh! Ini tuh terlalu cepet tahu! Kamu bahkan belum kenal aku, kan? Kita baru—“
“Aku udah cukup mengenal kamu dengan baik, Dia. Bahkan, luar dalamnya kamu udah hafal banget aku. Mata kamu itu contoh mata yang nggakk bisa nyembunyiin apa pun dariku. Pokoknya aku udah yakin kamu emang calon istriku. Titik!” Dengan suara yang begitu tegas, Gio mengatakan apa yang adalah isi hatinya secara jujurdan terbuka.
Ayudia yang sebenarnya ingin mengomeli Gio panjang lebar itu jadi auto bungkam, tak bisa merangkai kata. Tenggorokannya tercekat. Ada rasa haru yang mendadak menyesaki dadanya. Itu seperti haru yang bercampur bahagia dan entahlah, nano-nano sekali rasanya. Tak bisa digambarkan dnegan untaian kata.
“Udah? Ada keberatan apa lagi sekarang? Silakan diutarakan sebelum besok pagi kita melaksanakan acara pinangan kecil-kecilan. Hehehe, maaf ya. Besok baru aku dan ibu yang datang karena keluarga besar kami semuanya orang jauh kecuali hanya keluarga Dewi yang di daerah sini. Akan adaacara lanjutan nanti setlah fix kami diterima oleh keluarga kamu, Dia. Besok santai aja, bilang sama ibu kamu untuk jangan terlalu bersibuk menyiapkan apa-apa, ya.” Pesan Gio kemudian.
Ayudia tetap tak bersuara sebab masih saja lidahnya seolah tercekat. Astaga! Benarkah akan biisa secepat ini prosesnya? Menurutnya ia dan Gio bahkan belum pernah menyatakkan rasa saling sukka atau apa pun yang sejenisnya loh! Apa ini tidak terlalu nekat namanya?
“Dia? Kamu masih di situ, kan?” tanya Gio yang heran karena tak ada suara yang merespon perkataannya.
__ADS_1
“Putusin aja sendiri semuanya. Kan kamu udah biasa banget untukk gak tanyain pendapatku sama sekali!” sinis Ayudia akhirnya setelah terdiam cukup lama.
Gio terkekeh mendengarnya. “Baiklah kalau begitu, emang sih calon istriku ini penurut banget kok,” celetuk Gio yang lantas diteriaki oleh Ayudia dengan kesalnya.