
“Ya Allah, kok kamu nggak izin dulu sama Ibu dan Bapak, sih, Nak?” tanya Bu Nani dnegan mata berkaca-kaca. Dalam perencanaannya, ia tak tega bila melihat putri semata wayangnya harus bekerja di pabrik seperti para tetangganya. Kabarnya bekerja di pabrik itu keras dan harus bertebal kuping karena senantiasa mendapat omelan atasan.
Ayudia hanya tersenyum. Mana tega dirinya melihat kedua orangtuanya kesusahan sementara dia asyik ongkang-ongkang kaki saja di rumah seperti anak yang sama sekali tak berguna? Padahal kalau mau ia bisa bertindak.
“Ayudia mau bantuin Bapak dan Ibu cari uang, Bu. Kan bengkel dan toko lagi sama-sama sepi tampaknya,” jawab Ayudia sambil mengelus lengan sang ibu.
Mendengar jawaban mengharukan itu, tentu saja Bu Nani semakin tak kuasa menahan jatuhnya air mata bening dari pelupuknya. Ia menangis terharu akan pengorbanan yang dilakukan oleh putrinya.
“Maafkan kami, ya, Dia. Gara-gara kami nggak bisa cari uang yang banyak kamu jadi nggak bisa kuliah. Sampai kini malah harus kerja sembarangan jadi karyawan pabrik begini, Nak.” Bu Nani berkata sambil terisak. Bahunya sudah naik turun menahan sesenggukan.
“Ya ampun, Bu. Nggak apa-apa, kok. Ini semua bukan salah Bapak dan Ibu, kok. Memang takdir aja yang belum berpihak pada Dia. Nggak apa, Bu. Dia ikhlas yang penting bisa melakukannya. Lagian juga daripada ngasih les terus di rumah, Dia nggak punya-punya tabungan kan,” katanya ringan. Padahal semestinya hatinya begitu berat. Terlebih gengsi tingginya yang selama ini menghina teman-temannya yang sedari lulus SMA langsung memilih untuk bekerja. Eh, malah sekarang dia juga mengalami hal yang sama. Sungguh ironis sekali.
Tapi setidaknya ia masih bisa terhibur dengan kehaluannya di telepon selama chat panjang dengan Elvira dan juga Emy. Ia masih selalu membanggakan dan menceritakan apa yang hanya bualan serta karangannya semata. Kebohongannya juga didukung dengan sumber yang terpercaya yaitu dari data valid di kampus yang bisa diaksesnya melalui google dengan mudah.
Bahkan bertahan dalam kebohongan itu saja cukup menjadi penghiburan untuk dirinya. Rupanya Ayudia tak ingat bahwa berbohong termasuk perbuatan dosa. Tak tahukan dia bahwa selama ini semakin hari ia semakin menumpuk terus dosa dari rentetan kebohongannya.
__ADS_1
Pak Anwar yang sama kagetnya dengan sang istri jadi ikut merasa bersalah melihat keesokan harinya Ayudia berkata bahwa ia telah lolos tes interview di pabrik tersebut dan sudah bisa mulai bekerja di hari Senin depan.
“Alhamdulillah, Pak, Bu. Dia diterima. Semoga gajinya memang besar seperti kata orang-orang dan jadi bisa bantu permodalan bengkel Bapak dan juga toko Ibu, ya?” kata Ayudia penuh semangat. Tampaknya impian untuk mempunyai banyak uang kini menguasai pikiran. Ia jadi semangat sekali mulai bekerja nanti.
Sebelumnya, tentu saja ia berpamitan kepada para orangtua murid lesnya bahwa dirinya tak lagi bisa mengajar les karena harus bekerja. Banyak di antara mereka yang menyayangkan, tetapi juga tak bisa memaksa Ayudia untuk membatalkan keinginannya. Itu semua adalah pilihan Ayudia sendiri.
Namun, saat tiba akan berangkat bekerja, timbullah satu masalah. Ayudia tak suka kalau ia berada di jalanan dengan mengenakan seragam pabrik tersebut.
'Siapa tahu nanti di jalan ia tak sengaja bertemu teman yang telah termakan kebohongannya? Bagaimana hayo?' cicit Ayudia dalam hatinya.
Hari-hari bekerja sebagai karyawati pabrik pun dimulai. Ia tetap seperti biasanya, susah bergaul dnegan kalangan teman-teman yang biasa. Ia memang sedari dulu selalu pilih-pilih teman. Hanya bergaul dnegan yang pintar atau juga yang kaya seperti Elvira. Dulu saja kalau bukan karena Elvira yang supel dan sangat dihormati oleh banyak teman lainnya, maka bisa dipastikan Ayudia tak akan memiliki teman lain sama sekali.
Dan di pabrik, ia sama sekali juga tak punya kawan. Semua tampak rendah di matanya, padahal ia pun sama saja adalah sesama karyawan baru yang seharusnya lebih hormat kepada yang sudah lebih senior. Alhasil, ia kesepian dan setiap waktunya makan siang, ia sendirian memakan bekalnya di meja kerjanya seorang diri. Untuk membaur duluan dengan yang lain rasanya ia tak bisa. Introvert adalah salah satu kepribadiannya.
Selama bekerja pun, pikirannya melayang seolah dia sedang kuliah di universitas di Bandung sana, tepat seperti bualannya kepada Elvira dan beberapa teman lainnya.
__ADS_1
Sampai suatu ketika, ia sedang memarkirkan motor di area parkir karyawan dan berpapasan dengan seorang yang mirip dengan teman semasa SMA-nya, Dewi. Hanya saja dari pakaian yang dikenakan, temannya itu bekerja di bagian kantor, bukan di bagian produksi.
Mereka saling berpandangan dengan agak lama. Tapi Ayudia serta-merta menolehkan muka seolah tak mengenal Dewi. Biarlah, entah benar itu Dewi atau bukan, ia bersikap sok tak kenal saja. Hatinya berharap semoga Dewi sudah pangling terhadapnya dan tak lagi mengenalinya sebagai Ayudia, sang bintang kelas dulu.
Dan benarlah, Dewi akhirnya berlalu tanpa menoleh kembali. Tapi, kejadian itu terjadi beberapa kali hingga suatu kali, Dewi mungkin sudah teramat yakin bahwa ia adalah Ayudia Maharani, teman sekolahnya. Maka ia pun memberanikan diri menyapa, “Kamu Ayudia, kan?” tanyanya ramah sambil mengulurkan tangan kanan.
Ayudia terdiam sejenak. Ia sungguh bingung hendak bersandiwara atau mengaku saja? Toh, kalau bersandiwara itu akan sangat mudah ketahuan. Dewi di bagian office yang pasti punya akses untuk mengecek data diri karyawannya.
'Ck. Gawat!' Khawatir Ayudia.
“Iya, kamu ... Dewi ya?” Akhirnya Ayudia memutuskan mengaku saja tetapi berpura-pura selama ini pangling dengan Wwajah dan penampilan Dewi yang memang berbeda dengan selama sekolah dulu.
“Ya ampun bener. Aku sebenernya mau nyapa dari dulu, tapi kok rasanya kurang yakin kalau itu kamu, gitu.” Dewi memekik girang karena bertemu dengan teman sekolah kan adalah salah satu hal yang menyenangkan bagi orang normal lainnya. Bukan bagi Ayudia yang bersembunyi di balik topeng kepalsuan tentu saja.
“Iya, bener. Aku juga kayak ragu apa ini bener kamu, hehe. Pangling banget kamu sekarang jadi cantik banget,” puji Ayudia hanya untuk mengelabui Dewi atas alasannya tak menyapanya sejak pertama kali bertemu saat itu.
__ADS_1
Dan mulai hari itu, rasa was-was Ayudia semakin meningkat. Bisa kapan saja kan Dewi berkomunikasi dengan Elvira lalu bertukar cerita mengenai dirinya. Ayudia lupa bahwa satu kebohongan akan menciptakan 10 kebohongan untuk menutupi kebohongan yang satu.