Jatuhnya Sang Bintang

Jatuhnya Sang Bintang
Bab 11 Semakin Tersudut


__ADS_3

Di sisi lain, Elvira yang tersakiti oleh tuduhan Ayudia itu memilih menghindar. Ia tak ingin menyimpan dendam, tapi apa daya, perasaannya masih terluka oleh apa yang dikatakan gadis yang dikiranya sahabat itu. Tanpa sadar, Elvira jadi curhat kepada David yang memang kala itu satu kampus dengannya dan sering hang out berdua.


“Astaga! Keterlaluan banget sih! Kamu udah lah, El. Jangan peduliin lagi dia. Ayudia itu nggak bisa dikasih hati kayaknya. Kamu udah baik banget tapi dia malah kayak gitu. Emangnya nggak sadar apa selama di sekolah dulu dia dijauhin semua temen kecuali kamu? Kok malah bisa-bisanya sekarang kamu dibalas sekejam itu?” David pun mengomel karena tak suka dan ikut marah dengan perlakuan Ayudia terhadap Elvira itu.


“Makanya aku minta pendapat kamu. Aku sebenarnya salah bicara atau apa sih? Padahal aku bener-bener tulus pengen berbagi kabar entah apa pun hasil tesnya dia, aku jelas akan terus memotivasi dan mendukungnya, kan, seperti biasa,” ucap Elvira masih dengan nada kecewa luar biasa.


“Nggak lah. Itu emang masalah ada di pikirannya Dia aja tuh yang kelewat buruk tiap kali nilai orang! Keterlaluan amat tapi sih menurutku kalau sama kamu pun dia gitu. Padahal kurang baik apa coba kamu sama dia? Duh, udah pokoknya menjauh aja!” Bahkan David menyarankan hal yang sama. Cowok itu kesal setengah mati atas kelakuan Ayudia yang membuat Elvira sampai sesedih itu.


Kalau saja ia bisa bertemu dengan Ayudia, mungkin akan diamuknya dengan perkataan kasar atau bahkan menamparnya saking ikut kesalnya. Sayang ia tak sedang ingin berjumpa dengan gadis yang seburuk itu tabiatnya.


Elvira pun akhirnya menuruti saran tersebut. Ia membatasi diri dari menghubungi lebih dulu Ayudia atau menyambangi ke rumahnya. Tidak akan sebelum Ayudia menghubunginya lebih dulu dan meminta maaf atas kesalahpahaman yang terjadi kemarin itu.


Tanpa sadar pun, saking seringnya Elvira dan David hang out dan saling curhat berdua selama di kota perantauan itu, mereka semakin dekat dan saat David akhirnya menyatakan perasaannya, Elvira hanya mengatakan jika mereka akan sama-sama mengejar impian dan membiarkan takdir mempertemukan mereka. Semacam sebuah komitmen, walau mereka sering pergi bersama-sama.


Kabar tersebut tak luput diketahui oleh Ayudia yang meskipun tak pernah menghubungi Elvira maupun David, tetapi masih seringkali stalking akun sosial media mereka. Bahkan, tanpa sadar ia menunggu-nunggu kabar jadian mereka berdua muncul. Dan dugaannya sungguh benar adanya.

__ADS_1


Kabar itu akhirnya ada juga di wall pribadi mereka berdua. Hal mana semakin mengguncang pertahanan hati Ayudia.


Dalam mimpi indahnya, David masih menyimpan rasa terhadapnya lalu akan kembali meminang dirinya ketika telah wisuda kelak. Tapi nyatanya? Elvira lagi-lagi merebut semua harapannya. Bagi Ayudia, dosa Elvira sungguh teramat banyak menumpuk kepadanya.


“Kamu akan membayarnya kelak, El. Lihat aja nanti! Aku nggak rela pokoknya!” ucapnya tajam dan penuh penekanan di depan layar ponsel yang menampilkan foto David dan Elvira tampak dari sisi belakang sedang berjalan bersama beberapa teman kuliah mereka, hampir setiap statu mereka berdua akan bersamaan dan isinya pun sama. Bahkan Ayudia menghubungkan isi story masing-masing sahabatnya itu. Tampak seperti dua sejoli yang sedang memendam rasa satu sama lain.


“Ayudia! Sini, Nak!” Seruan Bu Nani membuyarkan lamunan. Dengan malas Ayudia bangkit berdiri dari kursi di depan meja belajarnya di kamar lalu keluar menuju ke arah sumber suara yang tampaknya dari ruang tamu sana.


“Iya, Bu?” tanyanya yang terheran saat ada sesosok ibu-ibu juga sedang duduk di kursi ruang tamu rumah mereka.


“Ini lho, Dia. Dicariin Bu Novi,” Jawab Bu Nani sambil memperkenalkan tamunya.


“Nyari saya, Bu? Ada perlu apa, ya?” tanyanya penasaran karena setahunya dia tak punya urusan apa pun dengan salah satu tetangganya yang rumahnya agak jauh itu.


“Begini, Nak. Ibu ini kan punya dua anak SD. Nah, mereka ini susah sekali kalau ibu suruh belajar di rumah dengan ibu ajarin sendiri,” ucap Bu Novi memulai penuturannya.

__ADS_1


“Lantas?” tanya Ayudia yang masih belum paham ke mana arah pembicaraan ibu-ibu itu.


“Ya jadinya Ibu pengen mereka les aja ke Nak Ayudia. Belajar di sini, siapa tahu nanti mereka jadi rajin dan nilainya bagus, gitu. Kan Nak Ayudia ini berprestasi terus di sekolah, ya?” Akhirnya terungkap sudah maksud kedatangan beliau.


Ayudia meneguk ludahnya. Kok sudah ada orang yang tahu kalau dia seorang pengangguran di rumah sehingga langsung aja memintanya memberi les untuk anak mereka? Pandangannya langsung terlempar menuduh ke arah Bu Nani. Sudah pasti Bu Nani lah yang menyebarkan berita itu sampai akhirnya Bu Novi datang ke mari, pikirnya membatin kesal.


“Waduh, tapi saya belum pernah ngajar anak les, Bu. Bisa nggak, ya?” tanyanya tersipu sambil menahan kekesalan hanya di dalam hati saja. Setidaknya orang masih menganggapnya bisa mengajari anak mereka. Bukankah itu salah satu hal yang juga pantas untuk dibanggakan? pikirnya lagi.


“Ya dimulai aja, Nak. Pasti bisa, lah. Ibu aja yakin, kok. Jadi kapan bisa mulainya?” Bu Novi tampak sangat antusias dengan rencananya tersebut. Hal mana membuat Ayudia semakin tak bisa untuk menolak tawaran tersebut.


Akhirnya dengan setengah hati ia pun mengiyakan. Apalagi Bu Novi juga ada bilang bahwa soal pembayaran Ayudia bisa menentukan harga sendiri nanti. Wah, kesempatan untuk mulai mengumpulkan uang untuk biaya kuliahnya nanti, pikir Ayudia idealis.


Ia pun sangat bersemangat hendak menjalani profesi barunya itu. Meskipun hanya guru les anak SD, tetapi murid lesnya semakin hari semakin bertambah banyak. Kabar soal dia mengajar les tersebar dari mulut ke mulut hingga banyak sekali tetangga yang berdatangan untuk mendaftarkan anak mereka masing-masing.


Bu Nani dan Pak Anwar turut senang karena mendapati putri mereka memiliki kesibukan lain kini. Kesibukan yang jauh lebih bermanfaat daripada hanya termenung di dalam kamar dan menangisi keadaan. Setidaknya ia bisa sibuk dengan hal yang disenanginya yaitu mengajar anak orang.

__ADS_1


“Syukurlah, ya, Pak. Ayudia jadi udah bisa bangkit dari keterpurukannya,” ucap Bu Nani penuh syukur. Hal mana diangguki oleh Pak Anwar dengan hati puas. Memang Ayudia masih belum peka terhadap pekerjaan rumah, tak begitu senang membantu kerja ibunya di toko, tetapi paling tidak ia sudah punya kesibukan sendiri yang menghasilkan meskipun tak seberapa besar.


Yang tidak mereka ketahui adalah bahwa di balik kepasrahan yang Ayudia tampakkan di hadapan mereka, ternyata masih ada duka mendalam dalam diri putri mereka itu. Hal mana rupanya memantik sebuah ide gila dalam kepala Ayudia. Rupanya, ia menilai pekerjaannya adalah hal yang memalukan dan sama sekali tidak membanggakan sehingga di dalam dunia khayalannya, ia masih merasa dirinya sedang akan kuliah, tepat seperti rencana awal. Sungguh sebuah kehancuran diawali dengan obsesi dengan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan.


__ADS_2