
Ayudia mulai menikmati kebohongannya di dunia maya di hadapan Elvira serta juga beberapa kawan yang masih terhubung dengannya di sosial media. Beberapa bertanya kenapa ia tak mengunggah apa pun soal kegiatan kuliahnya tetapi Ayudia beralasan bahwa ia memang tak suka mengumbar soal hal itu.
“Ih, nggak apa-apa loh padahal. Kan di situ bisa buat kenangan nantinya, juga biarteman-teman tahu apa saja kegiatan kita,” bantah Emy saat itu.
“Entah, ya, Em. Aku emang jarang sekali main sosmed. Terlalu sibuk karena aku juga ikut organisasi BEM di kampus,” jawab Ayudia akhirnya. Lagi-lagi ia harus mengarang banyak hal untuk menutupi rentetan kebohongannya.
“Wow! Keren banget kamu kepilih jadi anak BEM?” spontan Emy terpekik kagum. Gadis itu dulu semasa di SMA jarang berkontak dengan Ayudia, tetapi karena dirinya kini satu kampus dan satu kos juga dengan Elvira, maka mau tak mau Ayudia juga jadi sering berkontak ria dengan Emy.
“Yah, begitulah. Di sini kampusnya kecil, makanya gak begitu banyak saingan. Jadi aku bisa kepilih dengan mudah, hehe.” Ayudia berbohong dengan lancarnya. Padahal, ia sekedar tahu soal BEM atau Badan Eksekutif Mahasiswa hanya dari novel teenlit yang pernah dibacanya. Sungguh setan selalu menggoda dan memberikan kemudahan untuk setiap manusia berbohong dari banyak sumber.
“Pasti anak BEM itu keren-keren kan ya? Cowoknya juga pasti pada ganteng-ganteng amatan? Apalagi di Bandung, aiiiih.” Kembali terdengar kekaguman dari ujung sambungan.
Sungguh, dengan dikagumi seperti itu saja Ayudia sudah sangat puas. Ia merasa meskipun pada faktanya semua hanya halusinasinya semata, tetapi rasanya hasrat terpendamnya telah tersalurkan, yaitu tetap menjadi pusat kekaguman semua teman di sekitarnya. Ayudia yang selalu di puji dan di kagumi banyak orang. Bagi Ayudia dia adalah bintang yang tak boleh jatuh dan berhenti bersinar.
“Nggak juga, kok. Biasa aja. Di sini yang keren-keren cowoknya ada di klub basket. Widiihh pada cakep bener tahu nggak. Ada yang mirip banget sama aktor korea gituuuu,” lanjut Ayudia kembali menciptakan tokoh rekaan dalam kisah bualannya.
“Uwwwuuuw, jadi pengen banget scroll in beranda kamu dong, Dia. Ayolah, unggah teman-teman di kampus kamu biar aku juga bisa kenalan sama mereka, saling add friend siapa tahu ada yang nyantol, ya kan? Wkwkwk.” Emy yang memang sudah terkenal keganjenan sejak di SMA Itu tentu saja langsung tertarik ketika dipameri cowok cakep Bandung.
__ADS_1
“Maaf, ya. Aku tetep nggak mau aktifin Facebook aku. Takutnya malah aku nanti jadi sosmed-an terus sampai lupa kuliah. Bapak sama ibu udah wanti-wanti banget soalnya, tahun depan tetap harus bisa meraih jatah beasiswa karena kami pasti kesulitan kalau misal prestasiku menurun dan beasiswa dicabut.” Ayudia mengutarakan alasan pamungkasnya yang jarang bisa dibantah lagi oleh siapa pun.
Sementara di sisi nyata dunianya, Ayudia sibuk memberikan les para muridnya yang kebanyakan anak SD tetapi juga semakin merembet ke anak SMP. Ia menerima saja semuanya karena toh ia memang mampu mengajari mereka. Sambil mengajar ia biasanya cosplay kalau saja seandainya dia benar-benar kuliah, kelak ia ingin jadi guru atau dosen sekalian. Karena menurutnya mengajar anak orang itu bisa sangat seru. Ada tatapan tunduk dan kekaguman tersendiri dari para murid itu terhadap dirinya ketika menjelaskan pelajaran dan membantu mereka yang kesulitan memahami materi dari sekolahnya.
Padahal harusnya Ayudia melihat dari sisi lain, ilmunya bermanfaat, umurnya juga bermanfaat serta ia pun mempermudah urusan orang. Tetapi sayang niat menentukan apa yang akan dituai.
Suatu malam, ia tak sengaja mendengar percakapan Pak Anwar dan Bu nani di teras seusai makan malam. Ia sedang akan ber-chat ria dengan Elvira membahas dunia halusinasinya kuliah di ruang tamu hingga penuturan Pak Anwarsampai juga ke telinganya.
“Gimana, ya, Bu? Kalau Bapak nggak ambil kredit nanti Bapak jadi nggak ada modal lagi untuk ambil job dari orang.”
“Tapi, Pak. Kan sudah prinsip kita sejak dulu jangan sampai pinjam ke bank, Pak. Riba!” protes Bu Nani tak setuju.
“Duh, persaingannya mulai soal modal, ya, Pak? Bisa kalah melulu dong kita, ya?” keluh Bu Nani ikut-ikutan berpikir keras solusi lain selain mengambil pinjaman modal dari bank.
“Toko Ibu juga makin lama makins sepi, Pak. Itu pada pindah semua ke toko ujung sana. Lebih lengkap karena sekalian belanja sayur di pagi buta mereka, Pak.” Bu Nani akhirnya melanjutkan keluhan yang lain lagi.
Ya, Bu Nani memang mengisi kesibukan demi menambah penghasilan keluarga dengan membuka toko sembako kecil-kecilan di rumah. Biasanya ramai saja pembeli para tetangga kiri-kanan, tetapi belakangan mereka mulai beralih ke pedagang tetangga baru mereka yang langsung membuka toko sembako besar sekalian juga menyediakan sayur mayur lauk pauk di pagi hari.
__ADS_1
“Makanya gimana kalau Bapak ambil aja kredit model di bank, Bu?” tanya Pak Anwar kembali.
“Tapi pakai jaminan sertifikat apa, Pak? Cuma sertifikat rumah dan tanah ini aja loh yang kita punya,” peringat Bu Nani.
“Ya mau gimana lagi, Bu. Kita akan berusaha membayarnya tepat waktu sehingga sertifikat itu akan aman, Bu.”
Mendengar percakapan itu, Ayudia terpantik emosinya. Ia sangat sayang kepada kedua orangtuanya meskipun ia mungkin tak terlalu banyak membantu mereka sehari-harinya. Tapi mendengar keluhan seberat itu, tentu ia tak bisa tinggal diam.
Akhirnya malam itu ia mencari informasi lowongan kerja yang dekat di daerahnya situ yang bisa untuk lulusan SMA saja. Hanya ada beberapa pabrik yang membutuhkan karyawati, yaitu pabrik sepatu, pabrik rokok serta pabrik kertas. Ketiganya hanya perlu sekitar tiga puluh menit dicapai dari rumah kalau menggunakan angkutan umum atau bersepeda motor.
Dengan nekat khas perwatakan keras, Ayudia segera mencari cara untuk melamar ke ketiga pabrik tersebut. Yang mana saja yang dahulu dipanggil, maka ia akan memilihnya, meskipun sebenarnya ia lebih memilih di pabrik kertas yang tampaknya paling bonafid di antara ketiganya.
Selang sekitar dua minggu setelah mengirimkan tiga surat lamaran kerja ke tiga perusahaan tersebut, Ayudia akhirnya mendapat surat panggilan untuk datang interview dan tes di pabrik sepatu import. Surat panggilan tersebut dikirim melalui pos dan kebetulan Bu Nani yang menerimanya.
“Ayudia, ini kok kamu dapat surat panggilan dari pabrik sepatu Victory Shoe?” tanya Bu Nani terheran membaca kop surat resmi yang tertera.
“Wah, benarkah, Bu? Alhamdulillah, Ayudia emang melamar ke sana, Bu. Sama ke pabrik Sampoerna dan juga pabrik Tjiwi Kimia. Syukurlah sudah ada yang dipanggil. Coba sini Dia lihat, Bu.” Diraihnya surat panggilan di tangan ibunya itu lalu dibacanya isi yang tertulis.
__ADS_1
“Besok diminta hadir untuk tes interview, Bu. Duh, semoga aja diterima, ya, Bu. Doain Ayudia, ya?” pintanya penuh semangat. Ia sudah memperhatikan tetangga-tetangganya yang bekerja di pabrik itu. Mereka tampak banyak uang karena katanya gaji mereka lumayan dari bekerja di sana. Yah, memang harus bekerja lembur setiap hari sesuai perintah atasan dan katanya tidak bisa menolak kalau diwajibkan lembur. Tapi demi mendapat uang untuk membantu keuangan keluarganya yang sedang kesempitan, ia bertekad mau melakukan apa pun selama masih mampu.