
Sudah mulai bekerja di H+2 lebaran memang sepertinya sangat kurang manusiawi. Setidaknya begitulah anggapan para pegawai kantoran atau PNS yang memiliki jatah cuti lumayan panjang. Tidak begitu halnya dengan para karyawan pabrik atau lebih seringnya disebut buruh. Ya, mereka adalah buruh yang dipekerjakan berdasarkan jam kerja setiap harinya.
Bahkan meskipun sudah ditetapkan aturan pemerintah mengenai upah minimum regional di masing-masing wilayah, ada saja oknum pengusaha pemilik modal yang nakal dan mempermainkan aturan. Semisal dengan tidak membayar gaji untuk buruh yang izin sakit. Bukankah seharusnya dengan meminta izin sakit dan sampai mengirimkan surat keterangan dokter kepada perusahaan, maka hak sebagai buruh pada hari itu masih jadi tanggungan perusahaan? Tapi nyatanya tidak, gaji tetap tidak dibayarkan, yang artinya bila seorang buruh sakit beberapa hari dalam sebulan, maka gaji yang diterimanya pastilah jauh di bawah UMR.
“Sudah selesai belum? Kamu jangan lelet, ya! Kalau lelet di rumah aja, nggak usah kerja!” Sentakan serupa itu sudah teramat sangat biasa diperdengarkan di telinga Ayudia.
“Ini kerja kok lamban amat kamu1 Yang dibayar itu tenagamu! Cepat selesaikan!” ucap beberapa mandor kepada para buruh.
Sejak hari pertama bekerja bahkan ia mendengar cacian yang jauh lebih menggores hati siapa pun yang mendengarnya. Tetapi karena dari awal tujuannya sudah fokus bekerja untuk mencari uang dan membantu perekonomian keluarga serta tabungannya untuk kuliah, maka ia menebalkan muka serta telinga mendengar dan menjalani itu semua.
Toh, memang semua mandor bersikap seperti itu kepada setiap bawahannya, tidak pandang bulu. Baik baru ataupun lama, bila kinerjanya kurang cekatan atau ada melakukan kesalahan pengerjaan, maka sumpah serapah akan meluncur keluar dengan begitu mudahnya. Lama-lama ia jadi terbiasa dan tak mempermasalahkannya.
Sebab ketika nanti jam istirahat telah tiba, maka para mandor kejam tersebut akan kembali menjadi manusia normal yang suka makan siang bersama para bawahan, terkadang membagikan makanan cuma-cuma dengan dalih permintaan maaf atas kekasarannya. Dan juga memberikan pengertian bahwa sikap mereka di dalam jam kerja itu adalah tuntutan pekerjaan dari atasan. Bahwa kekasaran mereka demi agar target produksi harian mereka terpenuhi.
__ADS_1
“Kerjaan part time kamu gimana, Dia? Lancar aja, kan? Sekarang di mana?” tanya Elvira di sambungan telepon malam hari.
“Lancar, El. Aku udah pindah ke percetakan. Lumayan gajinya lebih besar,” jawab Ayudia sambil scrool google mengenai sebuah CV Percetakan di area dekat kampus yang menjadi setting bualan tempatnya kuliah.
“Wah, enak banget. Jadi udah nggak ngerepotin orangtua minta uang tambahan bulanan, ya?” tanya Elvira, lagi-lagi terkagum-kagum pada kebiasaan sahabatnya dalam mencari apa pun keinginannya.
“Ya alhamdulillah. Bahkan aku bisa menabung sedikit-sedikit dari hasil kerjaku. Soalnya biasanya kami juga dapat bonus kalau kinerja kami baik.” Ayudia semakin membesarkan bualannya seolah pekerjaannya adalah yang terbaik di dunia.
Semua yang dikatakannya biasanya justru adalah kebalikan dari apa yang terjadi di pabrik tempatnya bekerja nyata. Kalau melakukan kesalahan yang merugikan angka produksi, biasanya para buruh malah diancam denda yang tak sedikit. Untungnya Ayudia tak pernah melakukan kesalahan yang fatal.
Elvira yang sangat pandai bersyukur, seharusnya itu menjadi pelajaran berharga bagi Ayudia. Tapi nyatanya tidak, Ayudia malah selalu menjadikan Elvira sebagai tolak ukur kesialannya dalam hidup. Karena di matanya, ia selalu menatap apa saja kelebihan yang dimiliki oleh Elvira dan sayangnya tidak dimiliki juga olehnya.
“Kamu hanya lebih beruntung dariku saja, El,” gerutu Ayudia ketika mereka telah mengakhiri obrolan.
__ADS_1
“Enak aja bilang pengalaman kerja akan berharga. Berharga sebagai kenangan luka batin iya! Dia nggak tahu sih gimana cercaan yang biasa didengar oleh telinga kami, huh! Dasar sok bijak!” lanjutnya masih mengomel sendiri.
Dan akhirnya kemudian ia akan menghabiskan malam harinya dengan membayangkan tabungannya sudah banyak dan cukup untuk biayanya kuliah. Lalu ia akan berhenti bekerja dari pabrik dan kuliah. Setelah wisuda, ia kembali akan datang ke sana dan melamar jabatan tinggi di sana. Maka baru kemudian dia bisa membalaskan semua sakit hatinya terhadap para mandor yang pernah mengatainya dan juga para senior yang terkadang ikut-ikutan menekannya.
Sungguh sebuah tujuan yang tak selayaknya menjadi hal positif yang perlu dikejar. Motivasi balas dendam tentunya bukan hal yang diridhoi oleh Sang Maha Pemilik Kehidupan, bukan? Lagi-lagi, Ayudia hanya menumpuk semakin besar saja kesalahan dalam hati dan kehidupannya sendiri. Parahnya, saat semua rencananya gagal total, yang dipersalahkan olehnya tak lain adalah takdir dan betapa tak adilnya Allah terhadap dirinya.
Dan mash seperti itu kehidupannya di rumah. Asyik bekerja dari pagi hingga petang, bahkan malam bila harus lembur. Lantas, pulang ke rumah dan tidur tanpa mau bersosialisasi barang sebentar dengan para tetangga atau teman sebaya di sekitar rumahnya.
Menurutnya ia punya hal sendiri yang tak bisa dibagi kepada mereka. Menurutnya ia bukan se’kelas’ dengan mereka semua. Ia seorang visioner yang hendak menggebrak dunia di masa depan. Padahal, nyatanya dia hanya sedang memupuk jalan menuju kegagalan di setiap langkahnya. Sebab semua pilihan yang diambilnya justru jalan yang bertentangan dengan yang bernama kejujuran.
Bahkan, kerugian terbesar yang dialaminya ialah ketika guru BK sekolahnya mencari kabar tentang dirinya. Dengan tujuan akan memberikannya kesempatan beasiswa dari salah satu universitas untuk tahun ajaran baru yang akan dimulai beberapa bulan ke depan, dengan serta merta Ayudia menutup akses komunikasinya. Ia mengatakan bahwa dirinya sudah kuliah tanpa tahu bahwa kabar dari teman tersebut mungkin saja adalah kesempatan untuknya meraih impian yang selama ini dia kejar.
“Oh, sudah kuliah, ya?” Sang guru BK hanya menerima kabar dari salah seorang teman Ayudia yang termakan bualan dari Ayudia sendiri itu.
__ADS_1
“Syukurlah, dia memang pantas kuliah. Sayang kalau tidak melanjutkan dengan otak yang secemerlang itu,” komentar sang guru BK turut senang dengan kabar tersebut. Tentu saja kesempatan tersebut lantas dialihkan kepada siswa lain yang memang mengaku masih belum beruntung untuk kuliah.
Sesungguhnya ketika seseorang memilih satu pintu yang salah akibat nafsu semata, maka pintu-pintu baik yang terbuka perlahan menjadi tertutup sendiri karena kesalahannya tersebut. Sungguh merugi berkali-kali mereka yang tak sabar dalam menanti pertolongan Allah dengan membabi buta mengusahakan nafsunya dengan berbagai cara, tak peduli baik dan buruknya. Padahal kesudahannya pastilah hanya kerugian semata. Kini kebohongan Ayudia semakin menyebar bak sebuah realita bahwa ia memang melanjutkan kuliah.