Jatuhnya Sang Bintang

Jatuhnya Sang Bintang
Bab 36 Teman Dekat?


__ADS_3

Di rumah, Ayudia langsung bercerita semua hal ihwalnya di kantor kepada Bu Nani. Bu Nani memang tidak mengerti permasalahan perkantoran begitu, tetapi beliau hanya suka bertanya dan juga menyimak cerita sang putri. Terkadang untuk beri nasihat pun beliau sangat berhati-hati karena tidak tahu bagaimana kehidupan di dalam perkantoran tersebut.


“Ya kalau naik pangkat kan bukannya malah enak, Dia?” tanya Bu Nani yang tak mengerti mengapa putrinya itu malah tampak keberatan dengan pencapaiannya itu.


“Tapi masalahnya Ayudia nggak sreg sama kerjaannya, Bu. Bosnya itu nyebelin dan sangar. Gak enak lah pokoknya suasana kerjanya tuh. Padahal kerja itu kan yang penting nyaman dulu, Bu. Biar nggak stres,” jawab Ayudia panjang lebar.


Bu Nani pun mencoba memahami bagaimana penjelasan sang putri. “Apa mungkin cuma gara-gara baru pertama kali aja mungkin, Dia. Siapa tahu kan nanti selanjutnya kalau sudah lebih dekat kalian akan terbiasa dengan sikap masing-masing jadi kenyamanan itu akan tercipta dengan sendirinya.”


“Kayaknya nggak deh, Bu. Udah tipikal orangnya emang nyebelin dari lahir. Nggak akan mungkin berubah sih. Dan aku udah dari awal juga kurang suka kerjaannya pokoknya.” Serta-merta Ayudia mengutarakan rasa keberatannya.


Padahal, masalah terbesarnya ialah ia tak enak hati pada Dewi dan juga rekan admin yang lain dengan nyata bilang bahwa mereka pengagum Pak Joni. Lantas mendadak saja yang ditunjuk untuk jadi sekretaris pengganti Rasty justru adalah Ayudia, bukannya salah satu dari mereka. Kan enggak enak juga.


“Ya tapi kan kamu sebagai bawahan tetap hanya bisa manut apa kata atasan, Dia. Kalau memang disuruh pindah ya pindah aja. Yang penting udah usaha sebaik-baiknya. Penilaiannya kan nanti dari mereka sendiri bukan dari kamu,” jawab Bu Nani masih kekeh dengan pendapatnya itu.


Ayudia akhirnya mengiyakan saja perkataan ibunya itu. Ia lalu segera mandi dan bahkan izin untuk makan malam duluan tanpa menunggu ayahnya pulang. Soalnya perutnya keburu lapar. Ternyata meladeni perintah-perintah absurd dan berada satu ruangan dengan si Pak Joni kulkas itu butuh tenaga ekstra.


“Ya udah kamu makan duluan aja. Tapi dikit aja, soalnya nanti Ayah bawa nasi hajatan dari sana loh. Biasanya kamu kan paling suka nasi hajatan,” pesan Bu Nani memperingatkan agar Ayudia menyisakan ruang di perut untuk mengeksekusi nasi hajatan yang biasanya memang dinantikannya. Seru menurutnya makan nasi hajatan. Bagaimanapun rasanya itu menurutnya adalah rezeki yang bila dimakan dengan sukacita akan membuat rezekinya lebih deras lagi mengalir.


“Wah, oke, Bu.” Ayudia segera mengambil makanan setengah piring untuk dirinya sendiri dan melahapnya sebelum akhirnya pamit masuk ke kamar karena ia ingin bercerita pengalamannya seharian tadi kepada Elvira. Temannya itu pasti akan lebih mengerti posisi dan kesulitannya daripada ibunya yang memang sedari muda belum pernah bekerja menjadi karyawan.


“Keren banget sih kamu, Dia!” pekik Elvira ketika Ayudia baru selesai bercerita mengenai apa yang terjadi di kantor.


“Keren apanya! Itu cuma kebetulan aja aku kan bisa menghandle pas mantan admin yang kugantiin itu cuti di deket deadline. Cuma gara-gara itu doang kepala HRD jadi ngusulin namaku untuk coba gantiin sekretarisnya si pria kulkas tadi. Mana dimarahin Dewi pula aku karena dibilang merebut doi-nya dia,” jawab Ayudia setengah bercanda.


“Hahaha ... Oh, iya, iya kayaknya aku inget Dewi emang pernah cerita ada cowok keren banget di kantor yang jadi rebutan banyak cewek. Jadi dia malah pilih kamu, ya?” Elvira kini terperanjat.


“Ish! Nggak gitu maksudnya. Dia keren kata Dewi doang tuh. Kata aku ya biasa aja lah, kerenan David malah.” Tanpa sadar Ayudia keceplosan membandingkan Pak Joni dengan David. Padahal jelas-jelas David itu statusnya sekarang adalah kekasih Elvira! Ya ampun! Untungnya Elvira menanggapi gurauan tersebut dengan sama bercandanya.


“Wkwkwk. Kalau kamu bilang gitu bisa-bisa terbang itu si David! Tapi coba deh aku pengen lihat fotonya. Kirimin dong, atau apa gitu nama akun sosmednya?” Elvira akhirnya mengutarakan kekepoan.

__ADS_1


“Mana ada aku punya? Minta aja ke Dewi!” sergah Ayudia ketus. Yang mana hal itu membuat Elvira terbahak.


“Ati-ati loh! Jangan terlalu benci. Nanti malah kena tulah dan jadi pasangan lagi endingnya, wkwkwk!” Dengan teganya Elvira malah menggoda Ayudia yang sedang geram itu.


“Ya ampun, El. Please lah.Tumbenan sih kamu doain aku jelek gitu?” protes Ayudia sambil mengerucutkan bibir meskipun sudah pasti Elvira tak bisa melihat ekspresinya tersebut karena mereka hanya berkomunikasi melalui sambungan telepon, bukan sedang video call.


“Ahahaha. Habisnya lucu deh lihat kamu manyun dan geregetan sendiri gitu. Tapi beneran hati-hati loh. Kan sering kejadian tuh sekarang, awalnya benci lama-lama malah jadi bucin, kepeleset dikit, wkwkwk.” Kembali Elvira tergelak menertawakan sang kawan.


“Ya ampun! Udah ah! Aku tutup dulu, ya. Mau istirahat dulu. Beneran kerja keras aku hari ini. Bukan kerjaannya yang berat cuma tekanan batinnya harus satu ruangan sama si manusia kulkas itu yang rasanya butuh energi dan kesabaran extra,” tukas Ayudia seraya pamit untuk mengakhiri telepon.


“Iya, haha. Met rehat, ya. Jangan kepikiran terus. Awas beneran terbayang-bayang entar malahan!” Elvira masih melontarkan godaannya di akhir perbincangan, membuat Ayudia semakin geram saja.


“Enak aja katanya, lama-lama jadi bucin? Ogah amat bucin sama pria kulkas gitu! Bisa ngenes kayaknya,” gerutu Ayudia yang langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk barunya.


Ya, kasur itu baru saja dibelinya beberapa waktu lalu setelah gajian pertama sebagai staff admin. Bu Nani yang menyuruhnya membeli spring bed baru karena kasur lamanya memang sudah tampak kempes dan lapuk. Kata beliau biar tidurnya semakin nyaman jadi capai kerja seharian bisa hilang.


Memang jauh lebih nyaman sih di kasur baru, tetapi sebenarnya bukan itu yang membuat kualitas tidur ebih terjaga. Tetapi asal pikiran kala akan tidur tidak stres, maka seharusnya setelah bangun tidur, badan sudah kembai fresh dan hilang segala penat serta capek.


“Dia! Ini Ayah sudah pulang!” seru Bu Nani tanpa mendekat ke arah kamar sang putri. Wanita separuh baya itu tak menyangka kalau baru beberapa saat saja masuk kamar ternyata Ayudia sudah ketiduran sebentar barusan.


“Iya, Bu.” Ayudia menjawab malas sambil setengah terpaksa bangkit dari ranjang nyamannya dan menyeret kaki ke arah ruang tengah ke mana suara ibunya berasal.


“Ayo makan lagi sini,” titah ibunya. Nasi hajatan sudah dibuka di tengah meja dengan beliau yang sudah bersiap hendak menyuap, tinggal menunggu putrinya.


“Ibu aja. Dia nggak jadi pengen deh. Udah kekenyangan dan barusan ketiduran pula,” tolak Ayudia.


Tentu saja Bu Nani sontak terheran karena biasanya Ayudia sangat suka sekali makan bersama nasi hajatan.


“Nggak biasanya kamu nolak? Kamu nggak enak badan, ya?” tanya Bu Nani yang lantas memperhatikan wajah putrinya, menelisik apakah tampak sakit atau pucat. Tapi tidak, sepertinya biasa saja selain wajah mengantuknya.

__ADS_1


“Nggak kok, Bu. Ibu makan aja sendiri ya. Dia mau balik tidur aja. Besok harus siapin energi lebih buat ngadepin si bos galak, nih.” Ayudia berkata sambil melipir kembali ke dalam kamarnya lagi. Kali ini tanpa sedikit pun mencicip nasi hajatan favoritnya.


Sesampai di kamar lagi, akhirnya Ayudia berbaring kembali tetapi kantuk tak kunjung datang lagi. Terganggu tidur di jam yang baru saja terlelap memang biasanya susah untuk dilanjutkan tidur kembali. Semacam mood tidur sudah ambyar. Mata melek dengan sempurna hingga akhirnya ia memutuskan untuk membuka-buka buku diary nya dan mulai mengisinya setelah beberapa waktu lamanya ia tak pernah lagi menulis di sana.


Dituliskannya pengalaman hari itu yang memang menurutnya berkesan dalam fase kehidupannya. Bahkan ia juga menuliskan saat pertama kali ia dipanggil bekerja, interview dan hari pertama gajian dalam beberapa halaman buku diary nya sekalian. Mumpung sedang ada waktu. Biasanya ia lupa dan tidak sempat karena sekarang lebih suka scroll sosmed dan saling berkomentar dengan teman-teman dunia maya nya.


Tanpa sadar, ia juga membolak-balik buku diary itu dan membaca banyak kenangannya di masa silam. Saat ia gagal tes, saat tahu nilai ujiannya jauh di bawah standar beasiswa serta juga kemarahannya kala mendengar kabar Elvira jadian dengan David.


Astaga! Poin David juga membuatnya membolak-balik catatan lain yang mengenai isi hatinya pada David. Kebucinannya pada pria itu memang tak pernah terungkapkan, tetapi ia memendamnya dalam hati sendiri serta menuliskannya di buku diary itu.


Lama-lama ia mencari tahu kabar hubungan antara David dan Elvira di sosial media pria itu. Elvira sendiri tidak begitu banyak bercerita mengenai pacarnya itu. Entah, sepertinya memang Elvira menghindari sebab tahu kalau itu tidak etis, bercerita mengenai pasangannya kepada teman yang masih jomblo. Elvira yang peka dan baik hati serta bisa menempatkan dirinya dengan pandai, puji Ayudia dalam hati. Pantas saja kalau dia selalu mendapatkan apa yang diinginkannya dalam hidup. Mungkin itu hadiah dari Allah karena sifatnya yang tak punya cela baik kepada kawan maupun siapa pun yang tak dikenal sekalipun.


“Aku juga harus belajar jadi seperti Elvira. Baik hati sama siapa pun. Nanti pasti aku juga akan mendapatkan apa yang aku inginkan,” tekad Ayudia seorang diri.


Menurutnya ia juga sudah banyak sekali berubah dari sikapnya yang dulu dengan yang sekarang. Fase sakit mentalnya waktu itu cukup banyak membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Itu cukup disyukurinya sebagai berkah anugerah sebagai kesempatan kedua dari Allah untuknya memperbaiki diri.


Sebuah pesan dari Dewi akhirnya mengagetkan Ayudia. Ia membacanya dengan serius karena kalimatnya begitu panjang lebar, padahal tak biasa-biasanya Dewi mengirim chat sepanjang itu. Rupanya isi awalannya ia mengatakan kalau perasaannya pada Pak Joni sudah terlalu dalam hingga ia tak ingin kalau ada wanita lain yang mendekati beliau secara terang-terangan di hadapannya. Terlebih itu adalah Ayudia, orang yang sudah dianggap sahabat terdekatnya di kantor. Bahkan Dewi juga sempat mengungkit perkara ia lah yang membuat Ayudia bisa sampai mendapatkan pekerjaan di bagian office itu.


Sesak di dada Ayudia langsung mendera. “Ya ampun, Dewi!” pekiknya tertahan. Tak menyangka kalau hubungan persahabatannya yang baru dekat itu kini jadi harus merenggang atas kesalahpahaman Dewi terhadapnya. Ia pun segera akan menelepon Dewi sebelum chat selanjutnya masuk dnegan kalimat yang membuatnya merutuk kesal.


“PRANK! WKWKWKWKWK Kaboooorrrr!”


Segera Ayudia menelepon Dewi dan memaki-makinya dengan nada bercanda.


“Gila, ya! Sumpah aku udah merinding deg-degan loh ini! Kirain aku besok udah akan dihujat jadi perebut gebetan orang! Sialan kamu!” makinya ke arah ponsel dan terdengar gelak terbahak Dewi dari seberang sana.


“Lah abisnya aku barusan masa’ dihubungi Elvira dan dia bilang kamu lagi gak enak sama aku. Takut aku kecewa sama kamu gara-gara deket sama Pak Joni. Ett dah, terserah kamu dong mau deket kek, nggak kek. Pak Joni itu cuma sosok idaman buat becandaan aja kok. Aku sama temen-temen yang lain juga cuma buat lucu-lucuan aja ngejar dia. Aslinya masih nggak ada apa pun di antara kami semua. Kamu bebas loh PDKT kalau emang mau—“


“Heiiii! Mana ada aku PDKT! Ogah! Aku justru heran kenapa kalian sampai kagum berat sama dia. Naksir berat gitu padahal nggak ada istimewanya tuh, dia ngeselin!” sembur Ayudia tak terima atas prasangka yang dilontarkan oleh Dewi tadi. Terdengar kembali gelak tawa Dewi di seberang yang makin membuatnya jengkel hingga memutuskan mengakhiri obrolan karena jelas ia hanya akan jadi bahan bullyan malam itu.

__ADS_1


 


 


__ADS_2