Jatuhnya Sang Bintang

Jatuhnya Sang Bintang
Bab Amnesia


__ADS_3

Usai Ayudia melihat-lihat ponselnya, ia malah berkata pada ibunya bahwa wajah yang ada di galery, di mana dia sedang berfoto berdua dengan Elvira, itulah dirinya.


“Nak, kamu yang baju hitam,” ucap Bu Nani.


“Bukan, Bu. Aku yang baju kuning. Kenapa Ibu bisa sampai tidak mengenali anak sendiri, sih?” bantah Ayudia dengan raut wajah keheranan.


Tapi kemudian matanya berkunang-kunang lagi dan wajahnya semakin perih untuk dipakai banyak berekspresi. Ia mengernyit kesakitan dan memegangi kepalanya.


Spontan saja Bu nani membantu putrinya untuk rebahan kembali di matras brankar rumah sakit. Ia menatap ke arah putrinya dengan kecemasan yang berusaha ditahan-tahan.


Ditungguinya sang putri hingga ia tertidur kembali. Kasihan, kalau bangun ia akan kesakitan. Semoga saja besok hari luka-lukanya sudah akan semakin mengering hingga tak lagi menyisakan perih dan juga nyeri, harap sang ibu.


Ketika Pak Anwar sudah kembali ke rumah sakit, barulah Bu Nani bisa mandi dan berganti baju yang dibawakan juga oleh sang suami.


“Pak, sepertinya Ayudia mengalami apa ya? Kok dia sampai salah berpikir kalau dirinya itu adalah Elvira?” tanya Bu Nani sambil memegang lengan suaminya.


“Apa, Bu? merasa dirinya Elvira? Maksud Ibu bagaimana?” Keningnya separuh baya itu mengerut dalam saking tak pahamnya.


“Iya, Pak. Jadi kan tadi itu dia lihat-lihat foto di galeri HP-nya. Lalu dia malah menunjukkan fotonya yang berdua dengan Elvira dan menunjuk Elvira sebagai dirinya. Makanya dia jadi bingung ketika kecelakaan dan berkaca kok sosoknya jadi lain menurut pikirannya,” jawab Bu Nani mengadukan apa yang terjadi pada sang suami.


Pak Anwar merasa aneh dan bingung dengan apa yang dikatakan oleh Bu Nani.


“Ya udah besok aja pas dokter dan psikolognya datang kita bicarakan, Bu. Bapak juga heran kenapa dia tidak ingat wajahnya sendiri. Kok bisa begitu, ya?”


Ketika menjelang malam, Bu Nani pulang bersama seorang family yang datang menjenguk Ayudia ke rumah sakit. Biar Pak Anwar yang berjaga karena rumah tidak enak kalau dibiarkan kosong tanpa penghuni.


Pagi sekali Pak Anwar sudah pulang ke rumah untuk mandi dan mengambil lagi baju ganti sementara Bu Nani juga sudah mempersiapkan bekal untuk makan satu hari mereka di rumah sakit. Mereka kembali ke rumah sakit cepat-cepat sebab tak tega juga kalau sampai Ayudia sudah bangun dan belum ada siapa pun penunggunya di sana. Ayudia masih banyak tidur karena pengaruh obat dalam infusnya sepertinya. Ia hanya sadar beberapa saat lalu tak lama kemudian jatuh tertidur lagi sampai lama.


Ponsel tak disentuhnya entah karena apa. Bu Nani sampai bertanya ada apa kok ponselnya hanya tergeletak saja di nakas sebelah brankar.


“Tidak apa-apa, Bu. Aku hanya nggak suka. Sepertinya ponsel itu sudah error. Aku tidak melihat foto-fotoku di sana. Cuma satu aja itu yang bersama dengan Elvira,” jawabnya kusut.


Bu Nani dan Pak Anwar berpandangan prihatin. Karena di galeri ponsel anaknya, banyak sekali fotonya. Tapi itu malah disebutnya sebagai foto Elvira. Jiwanya sedang tertukar atau bagaimana kira-kira? Di kesempatan pertama saat beberapa suster mengunjungi kamar rawat inap Ayudia tersebut,. Pak Anwar bertanya jadwal visit dokter dan psikolognya nanti jam berapa karena ia butuh waktu untuk bertemu dan bicara secara pribadi dengan mereka.


“Nanti sekitar jam satu siang mulai visit per kamar pasien, Pak.” Sang suster yang adalah gadis muda seusia Ayudia itu menjawab ramah sambil memeriksa selang infus di tangan sebelah kiri Ayudia.

__ADS_1


Maka Pak Anwar dan Bu nani harus bersabar hingga siang nanti untuk bisa mengadukan perkembangan terkini yang dialami oleh putri mereka itu.


“Oh, ya, Ibu sudah menitipkan surat keterangan dokter untuk izin sakit ke pabrik, Dia. Mereka tidak akan memarahi mu meskipun libur agak lama, sampai sembuh,” ujar Bu Nani yang memang semalam langsung menitipkan surat yang dimintanya dari administrasi rumah sakit demi kepentingan itu.


“Pabrik apa, Bu?” Ayudia malah bertanya kaget.


“Pabrik apa? Tentu saja pabrik tempat kamu kerja, Nak.” Bu Nani semakin  mengernyitkan wajah kalau sampai anaknya juga lupa soal pabrik dan pekerjaannya. Tapi dia masih ingat ayah dan ibunya, juga namanya dan bahkan Elvira meskipun beberapa fakta seolah tertukar.


Kini terlihat Ayudia yang mengernyit heran, “Tempatku kerja? Aku kerja apa, Bu? Kan aku masih kuliah?” tanya Ayudia sambil lagi-lagi jemarinya menyentuh kening seperti kesakitan.


“Astaghfirulloh, Dia, huhuhuuu ....” Tanpa sadar, Bu Nani sudah tak tahan lagi menahan tangis. Sepertinya benturan di kepala anaknya terlalu keras dan itu menimbulkan banyak sekali ingatannya yang musnah dan entah kenapa bisa berganti cerita orang lain seperti itu.


“Sabar, Bu. Jangan menangis di depan Dia. Kata Dokter kita tidak boleh membebani dulu pikirannya atau memaksanya mengingat banyak hal yang dia lupa,” nasihat sang suami lalu mencoba mengalihkan pembicaraan.


“Kalau pusing rebahan lagi aja, Nak. Sini Bapak bantu,” katanya seraya membaringkan tubuh putrinya kembali ke atas dua bantal yang ditumpuk agar bisa berbaring setengah duduk karena ia baru makan, tidak baik untuk langsung berbaring rebah.


Ayudia hanya menurut saja. Ia tak pernah membantah karena merasa masih banyak hal yang perlu dipikirkannya. Kenapa banyak fakta terasa janggal di matanya, tentang ponselnya, tentang yang dibilang ibunya tadi pekerjaannya. Apa-apaan itu semua? Seperti sedang bermimpi saja. Memikirkan semua itu, ia jadi kembali tertidur lelap, membuat Pak Anwar dan Bu Nani bisa berbincang dengan leluasa membicarakan anaknya itu tanpa ada yang ditutup-tutupi. Sampai hari itu juga pasien belum ada yang datang masuk. Sehingga kamar yang seharusnya diisi oleh tiga pasien itu masih hanya berisikan Ayudia seorang.


Saat akhirnya datang dokter dan psikolog yang berkunjung ke kamar Ayudia, Bu Nani dan Pak Anwar segera menceritakan gejala aneh yang terjadi.


“Tapi hasil CT Scan tampaknya baik semua kecuali sedikit kerusakan limbik itu. Bagaimana ingatannya bisa banyak berganti begitu?” Sang dokter syaraf bertanya keheranan.


“Baik, Dok.”


“Aduh, Pak. Kira-kira Ayudia kenapa, ya? Dokter syarafnya saja sampai heran, artinya ini kasus langka, Pak,” kata Bu Nani mengeluh dan takut akan hal buruk yang kemungkinan akan segera didengarnya dari hasil konsultasi nanti dengan Ayudia sendiri.


“Tenang dulu, Bu. Bisa saja tidak ada apa-apa. Siapa tahu itu cuma gejala sementara saja, nanti akan hilang sendiri kembali normal seiring kesembuhannya,” jawab Pak Anwar yang memang selalu positif thinking orangnya.


Tak berapa lama kemudian, Ayudia terbangun dan sedikit menggeliat. Luka di wajahnya sudah mengering. Tidak lagi terasa perih dan juga kaku. Hanya tinggal pemulihan dan pengelupasannya. Ia kini tapi sangat menghindari berkaca. Bahkan setelah mandi yang dibantu oleh ibunya di kamar mandi pun ia disisi sang ibu tanpa mau melihat ke arah cermin.


Usai mandi sore itu ia diantar Pak Anwar ke ruangan sang psikolog. Di sana, ia dipersilakan duduk dengan ramah oleh sang psikolog. Awalnya ia berbincang basa-basi sebentar agar Ayudia nyaman. Setelah itu, ditemani Pak Anwar, Ayudia menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan oleh sang psikolog tersebut. Karena banyak di antara jawaban yang dikemukakan oleh Ayudia itu tidak benar, Pak Anwar hampir saja menyela pembicaraan mereka tetapi dicegah oleh gelengan kepala sang psikolog seolah melarang beliau ikut berbicara terlebih dulu.


Beberapa kali sang psikolog mencatat di bukunya sambil terus berkonsentrasi mendengarkan cerita dari Ayudia yang terdengar ada yang tak runut sebagian. Ekspresi beliau tetap ramah dan tak menunjukkan apa pun. Mungkin agar membuat Ayudia tetap merasa nyaman.


“Oke, cukup. Terima kasih ya, Ayudia. Kamu boleh kembali istirahat di kamar,” ucapnya seraya mempersilakan keluar.

__ADS_1


“Tolong setelah mengantar pasien, Bapak kembali ke sini bersama Ibu, ya?” lanjut beliau lagi, kali ini kepada Pak Anwar yang lantas dibalas anggukan hormat.


Ayudia berbaring lagi di brankar pasien di kamar inapnya sendirian. Bapak dan ibunya seperti kata sang psikolog tadi harus menemui beliau. Entah ada apa, ia tak mau banyak berpikir karena kepalanya akan pusing kalau ia mencoba menganalisa sesuatu atau mengingat-ingat satu hal penting yang rasanya tengah terlupakan olehnya tapi tak tahu apa itu.


Sementara, dengan dada yang berdegup kencang diliputi kecemasan, Bu Nani dan Pak Anwar kembali ke ruangan tadi.


“Bapak tadi mendengar sendiri keterangan dari pasien, ya? Apakah ada yang salah, Pak? Saya lihat tadi Bapak seperti mau menyela kami berkali-kali?” tanya sang psikolog yang dari name tag-nya bernama Bu Herya itu.


“Iya, Bu. Anak saya sepertinya berbohong atau apa. Dia tidak sedang kuliah kok, apalagi di Bandung. Dia karyawan di pabrik sepatu import di sekitar sini. Ibu tahu, kan? Daerah Sumoyono?” tukas Pak Anwar akhirnya melontarkan apa yang sedari tadi dipendamnya itu.


Bu Nani sudah dikabarkan oleh Pak Anwarbahwa selama diwawancarai oleh Bu Herya tadi rupanya Ayudia menjawab pertanyaan soal kesibukannya bahwa dia sedang kuliah di Bandung. Dan bahkan ada nama universitas bersama jurusan yang diambilnya disebut dengan lancar, juga alamat kosannya. Bu Nani tentu saja terheran dan bingung mendapati hal itu.


“Tapi pasien sepertinya ingat dengan sangat detail semua hal tentang kuliahnya. Bagaimana mungkin bisa begitu, Pak, Bu? Apakah Ibu yang mungkin lebih dekat dengan putrinya, mengetahui sesuatu, Bu?” Bu Herya beralih menanyai Bu Nani karena melihat Pak Anwar sama bingungnya dengan dirinya sendiri.


Bu Nani hanya menggelengkan kepala lemah dan takut-takut.


“Dia itu ... memang sangat ingin kuliah, Bu. Di tahun pertama kelulusannya, ia nyaris saja menerima beasiswa penuh tapi lalu gagal di poin hasil UNAS karena bertepatan ujian itu dia sedang sakit. Cuma itu. Tapi faktanya dia tidak jadi kuliah. Ya di rumah saja, menerima les anak SD di sekitar rumah sebelum akhirnya diterima bekerja di pabrik itu.” Bu Nani menjelaskan sepengetahuannya.


Tampak Bu Herya manggut-manggut dan menuliskan lagi sesuatu di buku catatan pasien tadi.


“Oh ... kalau begitu mungkin saja pasien sesungguhnya masih depresi atas kegagalannya waktu itu, Bu, pak. Dan depresi itu selama ini bertahan tak berkurang di alam bawah sadarnya, menunggu waktu untuk diluapkan. Dan kini di saat kepalanya mengalami benturan itu, seolah terbukalah jalan bagi depresi itu turut keluar ke permukaan. Menyita sebagian pemikiran pasien,” ungkap Bu Herya melontarkan analisa awalnya.


“Tapi ini masih butuh saya telaah ulang. Saya akan rutin berbicara dengan pasien di sini atau di kamarnya, ya. Observasi apa saja ingatan yang hilang dengan yang tertukar dengan imajinasi bawah sadarnya itu,” lanjut BU Herya dengan wajah serius.


Bu Nani tampak menggenggam jemarinya erat dan keringat dingin bahkan menitik di keningnya hingga Bu Herya berusaha menenangkan beliau.


“Tidak apa-apa, Bu. Jangan terlalu cemas. Itu cuma sementara saja. Tidak akan lama. Saat gegar otaknya sudah sembuh total maka kita harap ingatannya akan serta merta kembali seperti semula, ya.”


Bu Nani mengangguk sambil mengaminkan ucapan dan harapan dari Bu Herya tersebut. Ia dan suaminya lalu dipersilakan kemabli ke ruang rawat inap Ayudia lagi dengan peringatan untuk jangan terlalu memforsir ingatan dan pikiran pasien dulu.


Sesampai di sana, mereka berdua kaget karena Ayudia menyambut dengan pertanyaan yang sangat mengejutkan.


“Kenapa Ayudia sampai konsultasi ke psikolog, Bu, Pak? Ayudia cuma kecelakaan dan gegar otak, bukannya gila kan?”


“Astaghfirulloh! Dia! Istighfar, Nak. Siapa bilang kamu gila?” Bu Nani langsung histeris mendengar hal itu. Ia langsung menubruk tubuh putrinya dan memeluknya erat, mencoba mengenyahkan pemikiran buruk itu dari kepala sang putri.

__ADS_1


“Habisnya kok psikolog tadi menanyaiku banyak hal seolah aku pesakitan yang sedang diselidiki tingkat kegilaannya,” kata Ayudia yang entah memikirkan apa saja selama ditinggal sendirian tadi hingga jadi punya pemikiran seburuk itu sekembalinya mereka ke sana.


“Ya Allah, Pak. Kita nggak boleh lagi meninggalkannya sendirian,” kata Bu Nani dengan suara penuh kecemasan dan hampir sesenggukan lagi. Yang mana diangguki oleh Pak Anwar dengan wajah sangat prihatin. Seperti itulah orang tua, selalu merasa khawatir disaat anaknya terjadi sesuatu. Berbanding terbalik dengan anak yang kadang tidak memikirkan dampak apa yang dilakukan kepada orang tua. Seperti sekarang imajinasi Ayudia justru membuat orang tuanya repot dan pusing bukan kepalang.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              


__ADS_2