Jatuhnya Sang Bintang

Jatuhnya Sang Bintang
Bab 21 Musibah Ayudia


__ADS_3

Setelah sekitar satu jam terbaring tak sadar, akhirnya Ayudia terbangun dari pingsannya dan Mengerjap-ngerjapkan mata yang terasa begitu berat untuk dibuka.


Bu Nani yang sedari tadi berjaga tepat di sebelah tubuh putrinya itu pun langsung tersentak.


“Ayudia, Nak! Kamu udah sadar?” pekiknya kaget dan kemudian berteriak-teriak memanggil suaminya.


“Pak! Pak, ini Dia udah sadar!”


Pak Anwar yang tengah di luar ruangan UGD untuk berbicara dengan salah seorang perawat pun masuk diikuti oleh sang perawat dan dokter jaga yang memang masih stand by di ruangan tersebut.


Bu Nani dan Pak Anwar minggir untuk membiarkan para tenaga medis itu melakukan pekerjaannya, observasi keadaan Ayudia pasca sadar dari pingsan.


Luka-luka di wajah serta punggung tangannya sudah diobati sedari masih pingsan tadi. Terasa sangat perih kini yang dirasakan oleh Ayudia. Remuk redam juga rasa tubuhnya seolah baru saja dipukuli oleh banyak orang saja rasanya. Kepalanya pusing setengah mati, meski bersamaan dengan itu ada efek ringan khas sehabis pingsan.


“Bagaimana perasaannya? Kepala kamu berat atau pusing?” tanya dokter sambil memperhatikan wajah sang pasien.


Ayudia hanya mengangguk karena kepalanya memang terasa mau pecah. Ia mengerang kesakitan dan membuat Bu Nani serta Pak Anwar saling berpegangan tangan menguatkan. Mereka cemas sekali akan kondisi Ayudia. Jangan-jangan terjadi hal yang tidak diinginkan, luka dalam yang parah misalnya. Sungguh mereka belum siap untuk menerima kabar buruk yang lain lagi. Mendapati luka-luka di wajah Ayudia saat itu saja sudah cukup membuat mereka ngeri.


Beberapa saat kemudian, Ayudia dipindahkan ke kursi roda untuk didorong ke ruang Rontgen. Di sana diperiksa seluruh tubuh untuk melihat kemungkinan cedera dalam yang diderita.


“Nanti kita tunggu hasilnya dulu, ya, Pak, Bu. Saya permisi sebentar,” ujar sang dokter setelah kembali ke ruang UGD lagi.


“Ibu ....” rintih Ayudia memanggil Bu Nani yang langsung datang berdua suaminya ke arah sang putri.


“Gimana, Nak? Yang sakit sebelah mana? Kepalanya?” tanya wanita separuh baya itu bingung harus bertanya apa. Hati dan pikirannya begitu cemas memikirkan apa hasil rontgentnya nanti.


“Iya, sakit banget. Ayudia kenapa, Bu?” tanyanya lagi. Sepertinya dia lupa atau apa.


“Kamu kecelakaan tadi sepulang kerja, Nak.” Pak Anwar yang menjawab.


“Kecelakaan? Di mana? Apa aku menabrak seseorang?” tanya Ayudia sambil memejamkan mata berusaha mengingat-ingat kejadiannya.


Nihil. Ia sama sekali tak ingat bagaimana kronologinya. Otaknya berpusing keras tapi nyatanya tidak ada memori terputar mengenai kejadian beberapa jam yang lalu itu.


“Kamu nggak ingat sama sekali kejadiannya, Dia? Polisi bilang kamu kecelakaan tunggal. Tidak ada yang menabrak maupun ditabrak,” jawab Pak Anwar tenang.


“Tapi gimana bisa mendadak Ayudia kecelakaan kalau tidak menabrak apa pun, Pak?” tanya Ayudia bingung.


“Mungkin hanya terlalu kencang berkendara dan jalanan sedang licin sehabis hujan, makanya ban motor mungkin selip dan tergelincir mungkin.” Pak Anwar mengutarakan apa yang menjadi simpulan polisi setelah olah TKP tadi.

__ADS_1


“Jangan kencang-kencang naik motor, dong, Dia. Kamu ini kan biasanya ibu sudah selalu memperingatkan untuk pelan saja. Lagian sudah pulang sore buat apa buru-buru? Jadi jatuh begini, kan?” Bu Nani menyentuh pipi putrinya yang penuh luka.


Spontan Ayudia mengikuti arah sentuhan ibunya. Tangannya meraba wajah dan menemukan banyak sekali luka yang entah telah menjadikan wajahnya seperti apa.


“Ini jadi ... luka-luka banyak ya, Bu?” tanyanya sambil terus meraba wajah.


“Nggak apa, ringan dan tidak terlalu dalam kok lukanya. Pasti akan cepat kering dan kembali semula nanti,” jawab Pak Anwar menenangkan sang putri yang mulai tampak akan histeris.


“Coba Dia pinjam kacanya, Bu?” pinta Ayudia mengulurkan tangan pada ibunya yang terdiam tak menyahut.


“Ehm, Ibu mana pernah bawa kaca ke mana-mana, Dia. Tadi aja ke sisinya juga buru-buru sekali, dompet aja Ibu ketinggalan.” Bu Nani menjawab tak enak hati.


Ayudia menoleh pada Pak Anwar tapi tak jadi bertanya. Mana mungkin ayahnya itu membawa kaca?


Akhirnya ia teringat akan ponselnya. Ia bertanya dimana ponselnya berada kepada sang ibu dan beliau mengambilkannya di tas Selempang yang biasa dipakai Ayudia bekerja.


“Tidak ada yang rusak sepertinya, ya? Ibu belum memeriksanya. Tadi ini diserahkan oleh bapak polisi yang mengabari ibu ke rumah. Karena tergopoh dan bingung, ibu sampai membawanya ke sini lagi.” Bu Nani mengatakan apa yang terjadi saat Ayudia masih pingsan tadi.


Ayudia pun memeriksa dalam tasnya. Mungkin tasnya tidak terlempar jatuh karena isinya masih utuh, hanya isi dari bedak compact-nya saja yang pecah tetapi masih di dalam wadahnya, tidak bercecer ke luar kemasan.


Ponselnya yang dipakaikan pelindung keras dan layarnya pun ada screennya juga syukurlah aman. Tidak retak atau apa. Saat ia menyalakannya di mode kamera selfie untuk berkaca bagaimana kondisi luka di wajahnya, ia terkejut karena hampir tak mengenali siapa dirinya.


“Astaga, Bu! Siapa itu?” pekik Ayudia tampak kaget luar biasa.


“Bu! Itu wajah siapa, Bu, Pak?” tanya Ayudia lagi, histeris sendiri sambil sebelah tangannya yang tak memegangi ponsel meraba sekeliling kepalanya. Kepalanya tidak diperban karena tidak ada luka berdarah lain selain bekas luka goresan karena wajahnya tengkurap menghantam aspal saat kejadian.


“Ya Allah, Dia. Itu kamu, Nak. Memangnya siapa lagi?” jawab Bu Nani dengan pertanyaan yang sama pula.


Pak Anwar terdiam tapi raut wajahnya menampakkan kecemasan. Jangan-jangan ....


“Sebentar, Bapak panggilkan Dokter dulu,” ucap pria separuh baya yang biasanya penyabar itu.


Sesabar apa pun, tentu saja Pak Anwar sangat cemas dengan kondisi putrinya. Apakah mungkin kecurigaannya benar? Jangan-jangan? Ya Allah, jangan sampai, pikirnya membatin berdoa dalam diam.


Beliau kemudian langsung ke ruang Rontgen tadi untuk meminta hasilnya dan juga ingin bertanya pada dokter yang menangani Ayudia tadi.


“Bagaimana hasil pemeriksaan kepalanya, Dok? Anak saya ... sepertinya lupa siapa dirinya. Dia berkaca dan malah bertanya siapa dirinya. Apa itu normal?” cerocos Pak Anwar dengan nada cemasnya.


Sang dokter berpikir sejenak kemudian meminta izin untuk mengkonsultasikannya dahulu dengan rekannya.

__ADS_1


“Sebentar ya, Pak. Bapak silakan tunggu dulu. Saya akan konsultasikan dengan dokter syaraf untuk lebih detailnya,” ucap sang dokter jaga UGD yang hanyalah dokter umum lalu bergegas meninggalkan Pak Anwar terpaku di tempatnya berdiri.


Pak Anwar mengusap wajahnya dnegan kasar sambil terus berharap dalam hati bahwa kekhawatirannya tidak akan terjadi.


Namun, rupanya takdir berkata lain. Sekitar satu jam kemudian, seorang dokter yang diperkenalkan oleh perawatnya sebagai dokter ahli syaraf pun mendatangi ruang UGD di mana Ayudia masih menantikan tindakan lanjutan apa yang akan didapatkannya setelah hasil rontgent keluar. Setelah melihat kondisi Ayudia yang ekspresinya masih sangat shock dnegan wajahnya sendiri yang entah bagaimana dia kira bukan wajahnya, maka sang dokter meminta bicarakan dengan Pak Anwar saja sementara Bu Nani tetap di situ menjaga sang putri.


“Saya ingin menjelaskan satu hal,” ucap sang dokter yang adalah pria muda dengan kaca mata bulat menempel di atas hidung bangirnya. Sang perawat menyerahkan satu buah lembaran hasil foto rontgent di bagian kepala kepada dokter tersebut yang kemudian memperlihatkannya kepada Pak Anwar.


“Adek ini mengalami benturan yang teramat keras sepertinya di bagian kepala, tepatnya di bagian sini, ya, Pak.” Sang dokter menunjuk di satu bagian di foto.


Pak Anwar memperhatikan betul-betul sambil tangannya memegangi dada seolah takut mengenai apa yang akan disampaikan sang dokter kepadanya.


“Ini sepertinya menyebabkan gegar otak dan gangguan pada sistem limbik di dalam otak, yaitu sistem yang berfungsi untuk mengatur ingatan dan emosi seseorang. Itulah sebabnya pasien jadi mengalami amnesia parsial, yaitu amnesia sebagian. Artinya hanya sebagian yang dia lupakan tetapi sebagian besarnya masih ingat.”


Mendengar hal itu, Pak Anwar meremas dadanya sambil beristighfar.


“Astaghfirullah, ya Allah apakah itu bisa disembuhkan, Dok? Kasihan sekali putri saya masih sangat muda,” keluh Pak Anwar hampir merintih.


“Oh, Bapak tenang saja. Insya Allah amnesia jenis ini akan mudah disembuhkan. Kami akan melakukan CT Scan juga nanti secara berkala untuk memantau kemajuan penyembuhannya. Lagipula kerusakannya saya lihat masih dalam taraf ringan dan gampang disembuhkan. Semoga saja, ya, Pak. Jadi kami akan menyarankan anak Bapak untuk opname dulu selama waktu yang dibutuhkan untuk observasi menyeluruh. Dan selama itu, kami harap keluarga terus mendampingi, memberikan motivasi dan juga perlahan menyegarkan ingatan-ingatan yang mungkin terlupa tadi. Itu akan merupakan terapi yang berguna sekali demi mempercepat penyembuhan,” jelas sang dokter panjang lebar.


“Baik, Dokter. Kami akan menuruti saja tindakan medis di rumah sakit ini. Kami pasrah sepenuhnya demi kesembuhan putri kami. Pun kami juga pasti berusaha untuk membuat ingatan Ayudia kembali,” ujar Pak Anwar dengan nada penuh tekad.


Dan akhirnya pertemuan empat mata itu berakhir. Ayudia dipindahkan dari UGD ke ruang rawat inap kelas 3 di mana terdapat empat buah ranjang yang diperuntukkan bagi empat pasien. Tapi karena suasana rumah sakit yang tidak begitu ramai, beruntungnya satu kamar itu hanya ditempati oleh Ayudia sendiri sehingga Pak Anwar dan Bu Nani tidak merasa kesempitan saat harus menjaga putri mereka itu di sana seharian itu.


Ayudia masih berkeras dia bukan pemilik dari wajah itu. Awalnya Bu Nani memaksanya mengingat tapi kemudian peringatan dari suaminya membuat ia takut dan melembutkan sikapnya. Pak Anwar bilang mereka untuk sementara tidak perlu membantah dulu apa pun yang dikatakan oleh Ayudia. Nanti setelah trauma dan cedera di kepalanya sudah diobati dan membaik barulah boleh mengungkit banyak hal yang mungkin saja terlupakan oleh Ayudia.


“Harus perlahan, Bu. Jangan dipaksain, nanti malah kepalanya semakin sakit dan malah menambah traumatisnya,” jelas Pak Anwar.


Mau tak mau Bu Nani mengangguk meskipun ia kagok juga karena bagaimana mungkin dia mengiyakan saja saat Ayudia bilang wajahnya langsung berubah drastis.


'Memangnya dia kira wajahnya dulu seperti apa?' batin bu Nani.


Meskipun Pak Anwar sudah menjelaskan apa yang dokter tadi jelaskan, Bu Nani tetap saja kebingungan bagaimana mungkin Ayudia merasa dirinya adalah bukan dirinya yang asli.


“Kok ada-ada aja ya, Pak, cobaan buat kita ini. Kasihan Ayudia,” ratapnya saat sang putri telah tertidur lelap setelah puas menangis sendiri dan tidak bisa dibuat berhenti.


“Sabar, Bu. Ini pasti karena Allah sayang sekali sama Ayudia. Makanya dikasih cobaan bertubi-tubi,” jawab Pak Anwar berbaik sangka kepada Allah.


“Tapi, Pak. Ini malah seperti azab aja rasanya. Kalau cobaan itu sekali dua kali, lah ini udah berkali-kali,” rengek Bu Nani.

__ADS_1


“Istighfar, Bu. Tidak boleh kita mengeluh sampai menyesali takdir seperti itu. Sudah ketetapan Allah, kita hanya harus ikhlas menjalani,” nasihat Pak Anwar kemudian.


Lantas ia pamit dulu untuk pergi ke bengkel di mana motor bekas dipakai kecelakaan Ayudia tadi dibawa. Ia harus mengambilnya karena sudah dihubungi bahwa servisnya sudah selesai dan siap dibawa pulang. Dilihatnya isi uang di dompetnya dan berharap uang di situ cukup untuk membayar ongkos bengkel nanti karena tampaknya kerusakan motornya juga lumayan parah.


__ADS_2