
Sepeninggal Elvira, Bu Nani mendekati sang putri.
“Nak, kamu bener sudah sehat? Kmu udah inget siapa Elvira. Ingat juga apa yang udah kamu perbuat selama ini?” cecar beliau yang sungguh sedang snagat penasaran. Apa yang dilihatnya tadi saat Ayudia bertangis-tangisan dengan Elvira membuat harapannya akan kesembuhan putrinya menukik naik lagi.
Perlahan Ayudia mengangguk. “Iya, Bu. maafin Ayudia, ya, Bu. Huhuhuuuu ....” Kini ia menubrukkan dirinya ke dalam pelukan sang ibunda.
Bu Nani tentu saja ikut mwnangis mendengar pengakuan putrinya itu. Hal yang kata dokter adalah pertanda kesembuhannya ialah saat Ayudia bisa menerima semua fakta dan tak lagi tertukar dengan hasil halusinasinya sendiri. Dan ini pasti salah satu tanda yang ditunggu-tunggunya itu.
“Alhamdulillah, Ya Allah, telah Engkau sembuhkan kembali anak hamba,” pekik Bu Nani tanpa sadar. Beliau langsung menjauhkan Ayudia untuk bersujud syukur di lantai saat itu juga. Hatinya begitu riang sekaligus ringan melihat putrinya sudah sadar dari apa yang mereka sebut dengan ‘sakit mental’.
Hampir semua tetangga sekitar melihat perubahan pada diri Ayudia dan ikut senang. Gadis itu sudah beberapa kali mau diajak keluar dan duduk-duduk di teras. Bahkan menjawab sapaan beberapa tetangga dengan senyum dan balas menyapa.
Melihat kondisinya beberapa waktu belakangan yang hanya mengurung diri saja di kamar. Tidak mau keluar kamar, ke kamar mandi saja harus dipaksa dulu dan bahkan minta dimandikan. Seperti orang setengah hilang akal.
Bu Nani dan Pak Anwar juga teramat senang hingga mereka hendak mengadakan syukuran. Meskipun sudah hampir habis uang simpanan dan tabungan bahkan juga beberapa emas Bu Nani sempat harus dijual demi pengobatan Ayudia kemarin-kemarin, tetapi mereka tak sayang mengeluarkan biaya demi anak semata wayang. Lagipula tabungan itu juga berasal dari nafkah yang diberikan oleh Ayudia semenjak bekerja di pabrik. Bu Nani selalu menerimanya tetapi tak pernah membelanjakannya. Oleh beliau dibelikan emas atau disimpan juga dalam bentuk uang bila sewaktu-waktu dibutuhkan.
“Alhamdulillah, Bu. Ayudia sudah sehat betul ya, sekarang?” komentar salah satu tetangga saat mereka membantu dalam penyelenggaraan tasyakuran kesembuhan Ayudia tersebut.
“Iya, alhamdulillah sekali, Bu. Berkat doa dan dukungan ibu-ibu semua juga. Terima kasih atas segala pemakluman dan bantuannya selama ini buat kami ya, Bu.” Bu Nani dengan semringah mengutarakan ucapan terima kasihnya. Karena sungguh memang tetangga dekat mereka sangat banyak berperan dalam membantu kesembuhan Ayudia.
__ADS_1
Banyak yang menanyakan kepada orang pintar lalu membawakannya ramuan. Ada juga yang membawakan jamu-jamuan herbal dari kota seberang saat mereka bepergian ke sana untuk ziarah. Dan banyak lagi doa-doa dar para kyai yang juga dipanjatkan khusus untuk Ayudia atas perantara mereka. Kesembuhan itu memang berasal dari Allah, tapi entah melalui wasilah bantuan dari yang mana, yang jelas Bu Nani sangat berterima kasih akan hal itu.
Ayudia sudah turut membantu memasak di dapur. Meskipun ia tidak terbiasa di dapur, ia tetap berusaha untuk meringankan apa pun yang bisa dibantunya.
“Nak, kalau sudah sehat nanti, kamu jangan sekali-sekali lagi melamun di jalanan, ya. Apalagi jalanan tempat kamu kecelakaan itu kan memang samun, Nak. Agak angker di situ. Banyak kan kejadian kecelakaan di situ?” kata salah seorang ibu lagi yang memang sangat percaya pada hal klenik semacam itu.
Ayudia berpandangan dengan Bu Nani, meskipun mereka tidak percaya pada hal begituan, tetapi mereka juga tak enak hati kalau langsung membantah pendapat sang tetangga yang telah berbaik hati selama ini.
“Iya, Bu. Ayudia nanti akan hati-hati kalau lewat di situ,” jawabnya kemudian, mencari titik aman.
“Sebaiknya sambil perjalanan itu terus menerus melafalkan shalawat dan zikir di dalam hati. Jadi biar selalu dalam lindungan Allah, Nak.” Lagi, nasihat meluncur dari kumpulan ibu-ibu itu. Ayudia terus mengiyakan sambil menganggukkan kepalanya.
“Memangnya apa kamu mau kembali bekerja lagi, Dia?” tanya mereka lagi.
Sebenarnya beliau memiliki sebuah rencana besar yang telah dibicarakan dengan Pak Anwar atas usulan Elvira. Tapi hal itu masih dirahasiakan dulu dari Ayudia. Menunggu saat yang tepat agar Ayudia bisa siap menerima segala yang mungkin terjadi nantinya.
Ayudia juga belum mau mengkonfirmasi apa keinginannya untuk masa mendatang. Yang penting sekarang ia sudah kembali bisa berpikir normal dan tak lagi ingin terus bersembunyi di balik halusinasi kebohongannya sendiri.
Dan terutama ia ingin meminta bantuan Elvira untuk menyampaikan permintaan maafnya kepada teman-teman yang pernah juga dibohongi soal status palsu mahasiswinya. Setidaknya bila ajal menjemput kelak, ia sudah meminta maafatas segala kebohongan yang terlanjur terucap.
__ADS_1
Pada malam itu Ayudia mimpi buruk. Ia terbangun dengan dada turun naik dan napas tersengal-sengal seolah dikejar penyesalan. Ya, penyesalan datang di dalam mimpinya sebagai sosok maha besar yang berwarna hitam pekat dan terus menghimpit dadanya hingga sesak tak bisa bernapas.
Dalam hati Ayudia tahu itu adalah kesalahannya dan ia harus melakukan sesuatu untuk mengenyahkan bayangan hitam besar itu. Saat terbangun, ia langsung sadar bahw awaktunya untuk meminta maaf harus disegerakan. Beruntung sekali Allah masih memberinya sempat untuk bertindak sebelum semuanya semakin berlarut dan terlambat.
Menurutnya ia sungguh beruntung karena diberi kesempatan untuk meminta maaf. Segera dicurhatkannya isi mimpinya itu kepada Elvira.
“Ya Allah, Dia. Nakutin sekali mimpinya,” komentar Elvira ikut ngeri mendengarnya.
“Aku apa lagi yang ngalamin. Keringat dingin keluar terus ini dari tadi,” jawab Ayudia sambil masih menahan gemetaran di tubuhnya.
“Tapi kamu bener udah siap kan kalau minta maaf ke temen-temen? Kalau iya, maka aku bisa agendain ketemuan kita. Aku bosa adain acara kumpul bareng dadakan di weekend nanti. Gimana? Di rumahku aja biar kamu nggak terlalu jauh.” Elvira mengusulkan saran yang menurut Ayudia sangat bagus itu.
“Setuju! Tolong, ya, El. Bilang aja ke mereka kalau aku mau pengakuan dosa. Aku mau minta maaf dan entah nanti anggapan mereka sama aku mau kayak apa, yang penting aku udah minta maaf.” Ayudia langsung mengiyakan usulan sahabatnya itu.
“Siap. Akan kuusahain mereka smeua datang. Kamu jaga mental baik-baik, ya. Niat kamu bagus, Dia. Jangan sampai setan nanti berhasil membujukmu untuk berubah pikiran lagi, loh.” Elvira memperingatkan.
Ayudia terkekeh geli karena merasa Elvira kini sangat berhati-hati padanya. Yah, wajar. Pengalamannya dibohongi besar-besaran oleh Ayudia tidak tanggung-tanggung.
“Makasih lagi, ya, El. Entah hati kamu terbuat dari apa sampai nggak pernah ada sakit hatinya sama aku. Padahal aku sendiri udah bersikap begitu buruk padamu selama ini,” sesal Ayudia, setengah malu pada kelakuannya sendiri. Entah setan apa yang merasukinya dulu.
__ADS_1