
Mendapatkan berkah yang semakin hari semakin banyak saja membuat Ayudia tak sempat lagi menyesali apa pun dalam hidupnya. Bahkan ia terus selalu bersyukur atas semua hal yang dimiliki. Kawan-kawan baik yang senantiasa bersama bahkan dalam sisi gelapnya sekalipun. Ya, Ayudia begitu menghargai hadirnya Elvira sebagai sahabat sejatinya.
Bila bukan karena pengertian dan bantuan tulus ikhlas dari Elvira maka tidak akan mungkin Ayudia bisa sadar dan berubah secepat ini. Perubahan Ayudia menjadi pribadi yang lebih baik tak lepas dari campur tangan Elvira dan juga kesabaran serta dukungan orangtuanya. Dan itu terus yang selalu disyukurinya kini.
“Ayudia!” Panggilan seseorang yang suaranya terasa tak asing menyapa Ayudia siang itu. Ia sedang keluar untuk membeli sesuatu di toko dekat areal pabrik dan akan kembali ke ruangannya di lantai dua sebelum mendengar seruan tersebut.
“Wah, Feni!” Ayudia memekik girang dan gegas menghampiri salah seorang temannya di bagian produksi dulu.
“Ih, keren kamu sekarang udah jadi orang kantoran!” kata Feni sambil menatap takjub ke arah Ayudia.
Ayudia tersipu melihat bajunya yang berbeda sekali dengan temannya itu. Feni berseragam kaos hijau berkerah dengan bawahan celana jeans, persis seperti yang dulu juga biasa ia kenakan. Kalau dirinya kini berpakaian formal dengan setelan kerja yang bebas mau warna apa saja asalkan sopan.
“Halah, jangan gitu. Aku jadi malu, nih,” jawab Ayudia mencoba bersikap sebiasa mungkin.
“Kamu mau makan? Aku akan ambil bekalku dulu di kantor lalu kita makan bareng ya. Di mana kalian?”tanya Ayudia bersemangat karena ia juga ingin mengobrol lebih lanjut dengan teman-teman kerjanya yang terdahulu mumpung sedang bertemu salah satu dari mereka. Kebiasaan mereka biasanya berkumpul di satu tempat dan makan serta beristirahat siang beramai-ramai berkelompok.
“Beneran masih mau makan bareng kami, nih?” tanya Feni seolah mencibir.
“Ya ampun1 Apa-apaan sih. Ya mau lah. Aku juga kangen banget sama kalian. Bentar ya. Aku nanti susulin kamu di tempat biasa, kan?” tanya Ayudia lagi sambil bergegas berjalan cepat ke arah kantornya mengambil bekal makan. Kali ini ia tidak akan makan bersama Dewi demi bertemu teman-temannya dulu. Dengan Dewi bisa setiap hari. Kalau dengan teman produksi kan akan jarang bisa bertemu lagi.
Usai mengutarakan alasannya kepada Dewi, Ayudia mengambil tas bekal dan mukenahnya kemudian turun lagi ke arah tempat biasanya kelompok kerjanya dulu berada ketika jam istirahat. Untunglah tempat mereka memang tidak berpindah.
“Halooooo!” sapanya berteriak sambil mencolek beberapa teman yang saat itu badannya memunggungi dirinya.
Spontan banyak temannya bersorak menyambut kedatangan Ayudia itu dengan hebohnya. Ada yang bilang betapa kangennya. Ada yang bertanya kabar sambil asyik berpelukan. Ada pula yang langsung merecoki bagaimana bisa Ayudia berubah haluan kerja di bagian kantoran.
“Bentar-bentar. Ya ampun rombongan amat pertanyaannya. Kapan aku bisa jawabnya nih, wkwkwk.” Ayudia tampak girang sambil duduk bercamour dengan mereka semua dan mulai membuka kotak makannya. Seperti biasa, mereka selalu saling mencicipi makanan yang lain sehingga Ayudia juga tanpa sungkan langsung saja mencomot gorengan teman yang ada di depannya. Tanpa permisi. Mereka memang sudah terbiasa seperti itu. Milikku adalah milikmu, yah seperti itulah ramai dan heboh serta serunya di bagian produksi. Rasa kekeluargaan begitu terasa karena mereka mengalami seharian bekerja bersama. Seharian mengalami stres dan tekanan yang sama beratnya.
“Jadi gimana? Kamu kapan udah mendaka kerja aja? Mulai masuknya kapan emang?” tanya yangs eorang sambil mengambil sepotong telur mata sapinya.
“Baru hari Senin kemarin tes interviewnya. Lalu Selasa udah langsung bekerja. Kan dulu aku pernah cerita kan kalau punya teman anak kantor. Yang namanya Dewi itu loh. Nah, pas aku udah sembuh dan yakin mau kerja lagi kan aku curhat sama dia tuh. Kebetulan banget katanya lagi ada orang admin yang mau cuti karena hamil besar. Makanya itu aku disuruh melamar. Entah dia emang merekomendasikan aku ke pihak HRD atau nggak, tapi katanya sih nggak. Murni hasil wawancaraku memuaskan katanya. Ehehe. Akhirnya ya gitu, alhamdulillah aku diterima.” Panjang lebar Ayudia menceritakan kronologinya.
__ADS_1
Teman-temannya terperangah kagum. Turut bangga dan gembira teman mereka yang dulunya di bagian produksi ternyata juga bisa masuk ke bagian kantor. Rupanya Ayudia memiliki potensi lebih dibanding mereka yang memang tidak bisa mengoperasikan program komputer sama sekali. Ya, kebanyakan dari mereka memang hanya lulusan SMP atau ada yang SMA tetapi pinggiran yang fasilitasnya kurang memadai hingga pendidikan keterampilan komputernya tidak maksimal.
“Seneng ya kita jadi punya teman anak kantor. Mana masih mau gaul sama kita-kita di sini lagi, xixixi. Kirain kamu bakal langsung songong,” komentar salah satu temannya lagi.
Ayudia mendelik ke arah yang berkomentar sambil berkata panjang lebar.
“Enak aja! Aku mana pernah songong? Aku udah tahu gimana rasanya jadi karyawan produksi jadi aku pasti jauh lebih menghargai kalian lah justru. Kalian itu pahlawan perusahaan. Kalau nggak ada kalian pabrik nggak akan bisa kirim dan jalan importnya. Artinya kalian yang paling besarjasanya pokoknya.”
“Wkwkwk. Bisaan kamu aja itu biar nggak dikira sombong, kan? Tapi kami suka sama sikap kamu yang sekarang, Dia. Dulu kan kamu lumayan pendiem, ya.” Salah satu teman ikut pula berkomentar.
“Iya bener. Untung aja kamu udah sehat betul dan malah bisa berubah jadi kayak gini kerennya,” tukas yang lain lagi.
Ayudia menanggapinya dengan senyuman semringah. Ia memeluk bahu teman terdekat dari dirinya.
“Ini semua juga berkat doa dan support dari kalian, Sungguh rezeki banget aku punya keluarga dan teman-teman seperti kalian semua,” kata Ayudia sambil wajahnya kini memerah penuh haru mengingat kondisinya kala sakit mental waktu itu.
Dan mereka pun melanjutkan eksekusi makan siang bersama itu sambil terus berceloteh riang. Usai makan bahkan Ayudia juga tetap di sana ikut salat di tempat itu seperti biasanya mereka dulu. Baru setelah jam masuk menunjukkan kurang beberapa menit lagi, ia pamit dari mereka semua untuk kembali ke ruangannya, meneruskan pekerjaan.
“Iya betul. Dia juga udah bebas dari wajib lembur non stop harian nih, seru amat jadi kamu kayaknya.”
“Heiii! Sama aja tahu! Kalau bikin salah juga sama kena tegur atasan lah! Sama aja masih kerja ikut orang soalnya!” Ayudia berkata menghibur teman-temannya. “Yang penting terus bersemangat dan ikhlas kerjanya, ya!”
“Heh! Kerja ikhlas enak aja! Nggak dibayarin dong ntar! Wkwkwk!” Mereka tertawa berjamaah sampai Ayudia telah menghilang dari pandangan.
Ayudia jadi terus menerus tersenyum-senyum sendiri sepanjang jalan menuju ruangannya. Ia berjanji dalam hati akan sering-sering menyempatkan waktu untuk makan siang bersama teman-teman produksinya lagi kapan-kapan. Karena rasanya belum puas juga melepas rindu kepada mereka semua. Kangen ramai dan serunya bareng mereka semua.
“Ya ampun, jangan senyum-senyum sendiri gitu, ish! Nakutin tahu!” tegur Dewi sambil melempar pandang kocak.
Ayudia mengembalikan tas bekal serta tas mukenah lipatnya ke dalam loker di bawah meja kerjanya dan duduk di depan PC untuk segera melanjutkan pekerjaan karena jam masuk sudah dimulai.
“Habisnya temen-temen produksi pada kocak amatan tadi,” jawab Ayudia masih menahan senyum di bibirnya.
__ADS_1
“Ciyyeee ... jadi kalian sedari tadi pasti nostalgia kenangan lalu, ya?” tanya Dewi kepo. Ia sendiri belum pernah di bagian produksi hingga tak pernah tahu seseru apa cerita yang digaungkan oleh Ayudia tersebut.
“Gitu deh kira-kira. Asyik bener. Kapan-kapan mau makan bareng mereka lagi deh. Habisnya masa’ tadi pertamanya aku malah dibilang mana mau makan lagi ama mereka. Kan gak gitu juga konsepnya. Masa’ dikira karena aku udah nggak satu tempat di produksi lagi dan sekarang udah di kantoran jadinya udah gak mau gabung di situ lagi. Makanya aku tadi puas-puasin di depan mereka biar tahu kalau aku masih tetep Ayudia temen mereka yang dulu,” tutur Ayudia mengobrol dari kubikelnya yang berseberangan dengan kubikel Dewi tetapi jaraknya dekat hingga masih terjangkau pendengaran itu. Dua kubikel di antara mereka kebetulan sedang kosong karena dua rekan mereka sedang bertugas turun ke lanta produksi untuk mengambili kaporan harian hasil produksi dari sana langsung.
“Hmm gitu, ya. Ya untung deh kalau akhirnya kamu nggak sampai berjarak sama mereka. Emang kadang posisi bisa bikin orang lupa diri. Tapi kita jangan sampai, ya, Dia,” komentar Dewi masih sambil jemarinya sibuk mengetik pekerjaannya sendiri.
Ruangan kemudian hening karena terdengar langkah kaki sang kabag yang masuk ruangan. Tapi biasanya beliau juga tidak masalah kalau para karyawan mengobrol selama bekerja, yang terpenting tugas tidak terbengkalai dan tepat waktu saja.
Pria itu masuk ke dalam ruangannya sendiri, entah untuk mengambil atau memeriksa apa tapi kemudian yang jelas ia kembali keluar lagi sambil bergegas dengan tangan memegang sebuah dokumen. Hari itu sang kabag sedang rapat awal minggu bersama para manager dan atasan lain. Mungkin beliau membutuhkan dokumen dari kantornya untuk dibahas di ruang rapat hingga harus ke ruangannya untuk mengambil dokumen tersebut.
“Kayaknya emang kalau di bawah itu bisa rame seru banget ya orang-orangnya,” komentar Dewi lagi, masih penasaran juga rupanya.
“Iya soalnya kan kami berkelompok itu udah kayak saudara aja dair pagi sampai malam kan biasanya kerja lembur. Rasanya malah lebih lama bareng mereka daripada sama keluarga di rumah. Makanya jadi kayak udah saudaraan banget.” Ayudia menjelaskan sedikit untuk memberi pemahaman terhadap Dewi.
“Ah iya betul juga,” jawab Dewi seraya mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Belum lagi soal persamaan nasib dan tenggang rasa di antara kami begitu solid. Mau gimana? Kita sama-sama ditekan dan dikejar deadline jadi kayak udah senasib sepenanggungan gitu lah pokoknya,” lanjut Ayudia menerangkan secara lebih detail.
Tampak Dewi mencoba memahami dan membayangkan bila dirinya berada dalam kondisi yang seperti itu.
“Kayaknya cukup seru, ya,” komentar Dewi yang langsung saja disergah oleh Ayudia.
“Yaah, kamu bisa bilang kayak gitu karena belum tahu gimana beratnya kerja di bagian produksi. Kamu harus siap kapan pun akan dikatai dengan perkataan kasar dan bahkan terkadang juga menjurus bpdy shaming.”
“Astaga!” pekik Dewi keras-keras seolah sama sekali tak percaya.
“Iya, loh. Bahkan harus siap sedia menandatangani surat kesediaan lembur overnight sampai jam delapan malam hampir setiap hari. Ck!”
“Astaga, bayangin kerja setiap hari dari pagi sampai jam delapan lagi bisa gila aku sih,” ujar Dewi yang dibalas oleh Ayudia dengan tergelak membayangkan sahabatnya itu pasti auto pingsan bila mengalami kerja yang seberat itu.
“Makanya bukan kaleng-kaleng loh perjuangan mereka tuh,” lanjut Ayudia lagi sambil menjentikkan jemarinya ke arah kerah bajunya sendiri. Cukup bangga juga menjadi dirinya yang rupanya mampu berada di bagian produksi yang keras tetapi juga mampu saat dibutuhkan di bagian administrasi. Yang jelas pengalamannya banyak mengajarinya hal-hal dalam kehidupan selanjutnya.
__ADS_1
Pengalaman memang adalah guru yang terbaik dari segala pengajaran. Sebab dengan pengalaman, yang belum tahu akhrinya jadi tahu. Dan yang awalnya tidak bisa akhirnya menjadi bisa karena terbiasa. Oleh sebab itu tak swpatutnya manusia menyesali apa pun takdirnya, sebab saat menjalani takdir itu, setidaknya kita memperoleh pengalaman yang dari tidak bisa menjadi bisa dan juga banyak hal positif lainnya.