
Keesokan harinya, berhubung Elvira sedang tidak ada jadwal kuliah, ia memang pulang ke rumahnya dan ingin sekali mampir ke rumah Ayudia untuk bertanya bagaimana kabar pengumuman tesnya. Sungguh ia berharap sahabatnya yang satu itu diterima. Karena Elvira tahu sendiri bagaimana inginnya Ayudia untuk kuliah sejak dulu.
Bahkan, rasanya Elvira tak bahkan masih kalah antusias bila dulu mereka memperbincangkan perihal rencana kuliah. Ayudia dan kuliah adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan pokoknya.
Tapi, nyatanya kedatangannya ke rumah Ayudia disambut dengan omelan gadis itu. Ayudia menuding tepat ke arah wajah Elvira dan mengatainya sebagai musuh dalam selimut.
“Pergi kamu! Jangan ke sini kalau cuma untuk menertawakan atau menghinaku, ya!”
Terkejut, Elvira tentu saja bertanya-tanya apa maksud dari perkataan Ayudia tersebut.
“Apa maksud kamu, Dia? Aku ke sini cuma mau tanya gimana hasil tes kamu. Kamu lolos, kan?” tanya Elvira dengan wajah berkerut keheranan akan respon sang tuan rumah yang jauh dari kata ramah.
“Halah! Kamu pasti udah lihat sendiri pengumumannya dan tahu kalau aku nggak lolos, kan? Dan itu juga sebabnya kamu ke sini. Untuk menghina atau mengejekku! Ngaku aja!” tuduh Ayudia masih dengan menatap nyalang ke arah sang teman yang tampak tak tahu apa-apa itu.
“Ya Allah, aku belum cek sendiri, Dia. Aku mana tahu nomor peserta kamu, gimana mau ngecek coba?” Elvira tentu saja jujur dengan perkataannya.
__ADS_1
“Bisa aja cek tanpa nomor. Kamu bisa mengurutnya dari awal sampai akhir!” Tetap saja Ayudia berkeras menuduh sahabatnya itu.
“Tapi buat apa? Dan aku juga nggak senganggur itu kali buat cek seribu lebih peserta yang lolos cuma untuk cari nama kamu! Mendingan aku tanya langsung sekalian ngasih selamat kalau emang lolos—“
“Masalahnya aku nggak lolos, El. Dan aku nggak butuh ucapan mengasihani atau motivasi basi darimu! Pulang aja sana!”
Elvira menekan dadanya yang terasa seolah dilempar batu godam. Bagaimana bisa Ayudia sampai menuduhnya seburuk itu? Apa dirinya adalah sosok yang suka menghina di mata Ayudia selama ini? Tanpa terasa cairan bening mulai menggenangi pelupuk mata gadis itu. Tak disangkanya sama sekali bahwa Ayudia sampai hati menuduhnya sedemikian rupa.
“Ayudia ... kamu kan tahu aku sibuk kuliah. Aku aja sampai sengaja pulang buat tanya ke kamu langsung. Supaya kita mungkin aja bisa ngerayainnya bareng kalau emang kamu lolos. Atau kalau ternyata nggak lolos, kita juga bisa nangis bareng, Dia ... itu gunanya sahabat, kan? Membagi suka duka bersama?”
Bu Nani tergopoh keluar dari dapur dan melihat apa yang terjadi lalu bertanya pada Elvira yang tampak berkaca-kaca tak kuasa menahan tangis.
“Loh? Ada apa, Nak El?” tanya wanita separuh baya itu sambil celingak-celinguk antara Elvira dengan kamar Ayudia yang tertutup rapat.
“Maaf, Bu. Sepertinya Ayudia salah paham dengan kedatangan saya. Kalau begitu saya pamit dulu, ya, Bu.” Elvira segera meraih tangan kanan Bu Nani lalu menciumnya dan kemudian bergegas berbalik sambil mengucap salam.
__ADS_1
“Loh? Eh, wa’alaikumsalam. Hati-hati di jalan, Nak Elvira!” ucap Bu Nani agak dikeraskan karena dilihatnya gadis itu sudah setengah berlari menuju ke sepeda motor maticnya yang terparkir di halaman rumah.
“Aduh, kenapa lagi sih itu si Ayudia. Kok sampai bikin Elvira nangis gitu, ya?” lirih Bu Nani penasaran. Tapi ia menunda keinginan untuk menanyai sang putri di kamarnya karena ia mencium bau gorengan di dapur sudah menuju gosong. Serta-merta ia berlari kembali ke dapur dan menyelamatkan bakwan jagung yang sudah susah payah diulegnya sedari tadi.
Sementara itu Ayudia yang sangat kesal memukuli bantal dan gulingnya sekeras ia bisa. Sungguh kehadiran Elvira tadi membuatnya semakin marah saja. Bukannya bersimpati atas ketidaklulusannya, menurutnya Elvira malah mengambil kesempatan untuk pamer bahwa dirinya tidak perlu susah payah untuk kuliah.
“Huh! Menyebalkan! Masih ngaku sahabat lagi! Tukang pamer!” gerutunya meluapkan kekesalan. Ayudia menutup wajahnya dengan bantal.
Ayudia terlalu terfokus kepada duka yang dialaminya sendiri tanpa mau tahu bagaimana teman-teman seperjuangannya yang lain yang juga ikut tes. Ia bahkan tak mengecek nama mereka sama sekali di sana meskipun nomor pendaftaran mereka berdekatan sehingga seharusnya akan sangat mudah menemukannya.
Dan ia begitu terkejut kala mendengar kabar di sosial media yang lewat di berandanya bahwa ternyata Heny yang sama sekali tak diperhitungkannya malah lolos. Astaga!
“What? Ya ampun! Penilaiannya gimana, sih? Mana mungkin malah aku kalah dari dia, coba? Aneh banget!” keluhnya sedikit tak terima. Masih dengan bantal yang menutupi wajahnya.
Tapi mau tak terima bagaimana? Toh tes seleksi sudah usai dan itulah hasil akhirnya. Ayudia menganggap bahwa Allah tak adil mengapa Heny yang biasanya jarang menunjukkan prestasinya di masa sekolah malah lolos seleksi bergengsi tersebut sementara dirinya gagal total. Ayudia lupa bahwa Allah memiliki tolak ukur lain dalam memberikan anugerah atau hadiah kepada hamba-Nya. Konsep rezeki belum sepenuhnya dipahami olehnya. Dia lupa bahwa akhlak yang baik serta sikap khusnuzon kepada Allah dan tak memiliki kesombongan justru adalah hal yang akan banyak mempengaruhi keberhasilan seseorang.
__ADS_1
Ayudia menngaggap kepandaian nya selama ini adalah hasil kerja kerasnya, bukan karena Allah namun ketika gagal. Ayudia justru bersuara lantang bahwa Allah tidak adil, itulah manusia yang tak paham arti Allah Maha Mengetahui.