
Hari demi hari berlalu, Ayudia semakin merasa kesepian karena ia memang tak banyak bergaul dengan teman sebayanya di sekitar situ. Teman sesama SMA yang juga adalah tetangga dekatnya kebanyakan masih sibuk kuliah atau sudah ada yang kerja, ada pula yang sudah memilih untuk menikah muda.
Seringkali ia merasakan rindu yang teramat besar terhadap Elvira. Bagaimanapun juga, dulu di sekolah mereka begitu dekat. Tak pernah satu kali pun kesempatan dilewatinya tanpa kehadiran temannya yang satu itu.” Ah! Apa aku minta maaf saja, ya?”
Akhirnya di suatu hari, ketika kerinduan itu memuncak dan tak terbendung lagi, ia memutuskan sudah saatnya memaafkan Elvira. Ia pun menghubungi nomor ponsel gadis itu dan mengirimkan chat panjang berupa permintaan maaf atas kejadian saat terakhir mereka bertemu.
Ia mengiba dalam pesan tersebut bahwa saat itu emosinya sedang labil karena kecewa berat akan hasil pengumuman yang menyatakan dirinya tidak lolos. Itulah sebabnya dia sampai berkata kasar kepada Elvira, saking terbawa emosinya.
Di akhir kalimat panjangnya, ia menyelipkan juga permohonan untuk tetap mau menjadi sahabatnya, karena ia mengaku tak punya sahabat yang lain lagi kecuali Elvira.
Elvira sangat gembira ketika membaca pesan mengharukan tersebut. Ia memang sudah lama memaafkan perlakuan Ayudia dan mencoba melupakannya, tetapi memang terlalu banyak kenangan mereka berdua sehingga ia pun kesulitan untuk menghapus memori indah tentang itu semua. Bagaimana pun Elvira termotivasi dari Ayudia, sehingga memacu semangat nya untuk tetap giat belajar.
Alhasil, membaca pesan itu, ia begitu terharu dan memutuskan langsung menelepon Ayudia. Ia hampir menangis saking girangnya dan itu terpancar jelas dari suaranya di ujung sambungan.
“Dia! Ya ampun aku kangen banget sama kamu tahuuuu!” pekiknya ketika Ayudia sudah mengangkat telepon darinya.
“Sama, El. Huhuhu, aku juga kangen berat, nih!” ucap Ayudia yang memang jujur dari dalam hati. Memang masih ada sedikit iri dan benci, tetapi itu semua sepertinya tersingkir oleh harunya momentum perjumpaan kembali itu meskipun hanya melalui telepon.
__ADS_1
“Kamu apa kabarnya? Baik aja, kan? Ya ampun, aku lagi sibuk banget di kampus jadi nggak bisa sambang ke rumah kamu,” lanjut Elvira dengan nada tak enak hati karena merasa seolah sudah melupakan sahabatnya sendiri.
“Nggak apa-apa, El. Aku juga agak sibuk, nih. Makanya juga baru bisa kirim pesan saat ini, setelah semua egoku bisa sedikit disingkirkan, ehehe.”
“Wah, sibuk apa nih kalau boleh tahu?” Elvira kini menjaga benar-benar kalimatnya, takut kalau-kalau akan menyinggung perasaan Ayudia yang terbukti sangat sensitif itu.
“Tebak, dong, apa? Hehehee ....” Seketika saja ada ide gila yang melintas di kepala Ayudia. Ia tentu tak mau mengakui hal yang sebenarnya bahwa ia hanya sibuk memberi les murid SD di rumah di jam sore. Apa hebatnya kesibukan yang serupa itu dibandingkan dengan kehebatan yang kini tengah dilakukan oleh Elvira sendiri?
“Waaah, apa ya? Mana aku tau, Dia. Duh, jadi penasaran. Bilang dong!” tanya Elvira benar-benar dibuat penasaran.
“Aku udah kuliah juga loh,” jawab Ayudia akhirnya.
Sungguh suatu kebohongan besar yang entah bagaimana bisa terpikirkan oleh otak gadis itu. Ia tak berpikir bagaimana kelanjutannya. Yang penting bisa berbangga hati dulu di hadapan Elvira meski hanya melalui telepon. Yang penting bisa ikut sombong dulu meskipun hanya bermodalkan sebuah kebohongan, lagi dan lagi Ayudia lebih menuruti nafsunya agar gengsi tak jatuh di hadapan sabahat nya.
Sedetik kemudian, terdengar pekikan dari seberang.
“Waah, selamat yaaa! Kuliah di mana? Duh, baru tau loh aku. Kirain kamu akhirnya belum kuliah dan menunggu tes seleksi lagi tahun depan?” Suara Elvira terdengar sangat terkejut dan riang dalam waktu yang bersamaan.
__ADS_1
Ya, gadis itu memang begitu gembira akan kabar positif yang baru saja diucapkan oleh Ayudia tersebut. Tanpa ia tahu bahwa itu semua adalah kebohongan belaka! Bahkan hati polosnya tak pernah menyangka akan hal itu. Bagaimana mungkin Ayudia bisa memilih berbohong kepada sahabat terdekatnya padahal hanya Elvira satu-satunya yang masih mau mempercayai serta menerimanya apa adanya tanpa menuntut apa pun.
“Eh, bentar ya. Ada telepon masuk, nih.” Karena bingung harus menjawab soal kuliah di mana itu, Ayudia memutuskan dulu sambungan. Rencananya ia akan mencari tahu dulu kampus mana yang cocok untuk dijadikan sebagai setting halusinasi untuk melengkapi kebohongannya agar tampak se-riil mungkin.
Segera ia melacak di pencarian google kampus mana saja yang sesuai dengan yang dicarinya itu. Terpenting kampusnya tidak begitu ramai dan tidak ada mahasiswa yang berasal dari SMA yang sama dengannya.
Dan akhirnya terpilih sebuah kampus swasta di Bandung yang dulu memang pernah juga mengundangnya lewat jalur khusus untuk kuliah di sana. Hanya saja waktu itu Ayudia masih sangat idealis dengan standar impian yang terlalu tinggi hingga langsung menolaknya tanpa mempertimbangkan sama sekali. Karena kampus tersebut memang tak begitu besar dan bukan yang bonafid seperti yang ia impikan sebelumnya. Tapi kini justru kampus itu lah yang menjadi sasaran halusinasinya.
Ia juga lantas memikirkan jurusan serta fakultas apa yang diambilnya di sana kira-kira.
"Jelas Elvira nanti akan menanyakannya, bukan?" Gumam Ayudia., Serta-merta ia melacak semua informasi tentang universitas tersebut dan mencatatnya di kepala, ia bahkan sengaja mendownload beberapa file untuk dipelajari agar kebohongannya nanti terkesan valid dan terstruktur rapi. Astaga!
Elvira yang tak sabar sudah beberapa kali mengirimkan chat menunggu balasan dari Ayudia. Ia tentu saja penasaran di mana akhirnya Ayudia kuliah dan banyak hal lain tentang itu. Ayudia bertahan untuk tak membalasnya terlebih dulu karena ia butuh untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dulu mengenai kampus tersebut. Sungguh suatu perencanaan besar untuk sebuah kebohongan!
Mungkin Ayudia tak sadar bahwa serapi apa pun kebohongan, tidak akan pernah bisa tertutup selamanya. Kebenaran akhirnya akan terungkap juga kelak. Sungguh nafsu untuk ikut menyombongkan diri dan naluri tak mau kalah dibanding yang lain dalam siri Ayudia sama sekali tak bisa terbendung lagi. Hingga ia memilih tenggelam dalam kebohongan terencana, dan bahkan terkadang hanyut dalam kebohongan tersebut sampai seakan dia juga sedang menipu dirinya dan hidupnya sendiri.
Sungguh kerugian berlipat karena satu kebohongan spontan nya tadi memancing ribuan bahkan lebih kebohongan selanjutnya. Parahnya, Ayudia tak merasa bahwa hal yang dilakoninya itu hal buruk. Ia terus memberikan pembelaan atas kelakuannya itu dengan penghiburan bahwa kelak tahun depan ia akan benar-benar mewujudkan impiannya untuk kuliah. Lalu ia tinggal meminta maaf saja kepada Elvira soal kebohongannya ini. Ayudia lupa bahwa sepandai-pandai orang menyimpan bangkai pasti akan tercium juga baunya.
__ADS_1