
Akhirnya benarlah Elvira langsung melaksanakanapa yang telah disanggupinya. Ia telah menghubungi grup WA alumni SMA dan mengumumkan akan mengadakan acara temu kangen kecil-kecilan di rumahnya.
Karena yang mengundang adalah salah seorang yang disegani di grup, tentu saja banyak yang menyanggupi untuk hadir di sela kesibukan masing-masing. Sampai-sampau Ayudia kaget kala dilapori oleh Elvira bahwa teman yang fix mengisi list kehadiran adalah hampir separuh dari seluruh alumni.
“Untung halamannya lebar, wkwkwk. Biarin ntar kita bikin modelan out door party aja daripada di dalam rumah kesempitan kan kalau sebanyak ini yang hadir,” kata Elvira yang awalnya tak mau menerima uang pengadaan reuni karena tadinya ia hanya berniat membantu niat Ayudia saja. Tetapi rupanya ketua alumni memaksa untuk menyerahkan padanya uang dana pertemuan rutin.
Kini Ayudia yang terbengong-bengong. Akankah dirinya mampu menghadapi sebegitu banyaknya orang secara langsung? Mengingat dirinya yang introvert dan akan mengalami kecemasan bila bertemu dengan terlalu banyak orang sekaligus. Terlebih pertemuan itu nantinya akan menyangkut dirinya yang membuat pernyataan dan permintaan maaf secara umum. Maka ia jadi mengutarakan kekhawatirannya itu pada sang sahabat.
“Duh, El. Kalau sebegitu banyaknya yang datang apa aku sanggup menahan malu?” tanya Ayudia sejujurnya.
Elvira langsung menampakkan wajah prihatinnya. Gadis itu gegas duduk menyebelahi sang sahabat dan meremas jemari Ayudia yang tengah saling tertaut, menandakan ia sedang gugup.
“Tenang aja. Kan ada aku. Aku pasti akan bantuin kamu untuk menghadapi mereka semua. Dan bahkan kalau perlu aku yang mewakili kamu bicara. Yang penting kamu cuma bersedia untuk mengakui kesalahan terdahulu dan ingin meminta maaf. Itu saja udah mulia banget, Dia.”
Dihibur serupa itu, Ayudia masih saja cemas dan bingung. Apa bisa dirinya nanti menahan rasa malu di tengah sekian banyaknya teman? Elvira sih bisa biasa dan santai aja. Kan emang bukan dia pelaku kesalahannya di sini. Ini Ayudia sendiri, yang seolah menjadi pesakitan dan akan berjalan menuju ke publik untuk pengakuan. Itu dua hal yang berbeda dnegan hanya mewakilinya bicara di depan semua orang! Batin Ayudia berontak keras.
__ADS_1
“Dia ... aku bukannya mau mempermalukan kamu dengan mengundang mereka semua, loh. Kumohon kamu jangan sampai punya pikiran buruk sama aku, ya? Aku cuma mencoba memfasilitasi keinginan dan niat baik dari kamu sendiri. Iya kan? Kalau rupanya yang hadir semakin banyak, itu di luar kuasaku. Mana mungkin kita menolak, kan? Tapi menurutku sekalian aja, sih. Ini akan jadi ajang yang bgaus buat kamu, menghapus dosa sekaligus menjalin kembali silaturahim yang sebelumnya disisipi kebohongan menjadi hubungan pertemanan yang lebih baik.” Panjang lebar Elvira memberikan pe3ncerahan pada temannya yang tengah dilanda gundah dan ragu itu.
Ayudia hanya bisa meneguk ludahnya dengan susah payah. Tapi dalam hati kecilnya membenarkan segala yang diucapkan oleh Elvira tersebut. Ya, mungkin ini titik balik hidupnya. Mungkin ini kesempatannya untuk memulai kembali persahabatan dengan mereka secara lebih tulus lagi.
“Baiklah, El. Aku akan melakukannya. Entah nanti selanjutnya mereka akan membenciku atau mau memaafkanku, yang penting aku udah melakukan kewajibanku, ya,” ujarnya pasrah juga akhirnya.
“Ya jelas mau lah, Dia. Aku akan bantu nanti bicaranya biar nggak terkesan kamu tanpa alasan bohongnya. Tenang aja,” kata Elvira lagi. Mata bening gadis itu berbinar penuh keceriaan karena bujukannya berhasil. Ia ikut senang sekali dengan perubahan baik yang dialami oleh Ayudia.
***
Dan tibalah hari yang dinantikan. Acara reuni kecil di rumah Elvira berlangsung cukup khidmat karena panitia yang terdiri dari Elvira sendiri, Ayudia dan beberapa panitia inti yang dipilih mendadak dari posisi rumah terdekat dengan Elvira itu memang mengagendakan acara istigosah bersama juga selain hanya temu kangen dan silaturahim. Ada seorang guru ngaji Elvira, Ustazah yang diundang secara khusus untuk memimpin istighosah tersebut.
Sedari awal sudah ada bisik-bisik di antara beberapa yang hadir, khususnya yang ikut hadir menjenguk kala Ayudia di rumah sakit waktu itu. Yaitu orang-orang yang sudah tahu bahwa Ayudia selama ini hanyalah seorang pembual. Itulah sebabnya Ayudia belum berani muncul ke tengah mereka sebelum Elvira membukakan jalan untuknya bicara menyampaikan maksud sebenarnya.
“Teman-teman, mohon perhatiannya semua sebentar, ya.” Suaranya menggema dengan sedikit keras sebab ia sengaja memakai mic untuk memintaatensi dari para hadirin.
__ADS_1
Tapi, usai mereka semua mendekat. Ia mematikan mic dan bebicara dengan suara asli, hanya saja intonasinya agak dikeraskan agar terdengar oleh semua.
“Sebenarnya saya awalnya mengadakan acara ini untuk memenuhi permintaan salah satu sahabat kita, yaitu Ayudia. Ada yang dia ingin sampaikan kepada kalian dan kuharap kali ini kalian mau mendengarkannya dulu bicara hingga tuntas, ya? Bersedia kan? Nanti setelah dia selesai bicara, baru kalian silakan saja menanggapi seperti apa. Boleh, ya?”
“Huuu ... buat apa? Si pembual itu mau tampil ngomong apa lagi? Menciptakan bualan yang lain lagi?” celetuk salah seorang gadis yang tampaknya sangat kesal pada tingkah Ayudia selama ini. Ketidaksukaan terpancar dengan begitu jelasnya di mata gadis itu sambil komentar keluar dari mulutnya.
“Tolong hargai dulu permintaannya, ya? Boleh kita beri Ayudia satu kesempatan kan?” Elvira membela Ayudia karena ia tak mau kalau niat semulia itu akan langsung berakhir hanya gara-gara tidak lagi punya teman yang mau memberinya kesempatan bicara.
Terdengar dengungan yang entah ada yang setuju tapi juga lebih banyak lagi yang skeptis tidak yakin. Namun tidak ada lagi yang berkeras membantah sehingga Elvira lantas memanggilkan Ayudia dari dalam rumah untuk bergegas mengatakan apa yang ingin dikatakannya.
Ayudia berjalan dengan langkah tegap namun bahunya merosot karena nyalinya kini benar-benar tengah diuji. Keberaniannya mengakui kesalahan di depan umum secara langsung dan meminta maaf itu adalah cobaan yang lumayan sangat berat.
“Terima kasih ya teman-teman atas kesempatan yang sudah diberikan.” Ayudia mengawali orasinya. Banyak dari yang hadir hanya mendengus atau mendecakkan lidah, tetapi juga banyak yang menunggunya melanjutkan kata.
“Saya berdiri di sini dengan kerendahan hati dan menahan malu yang teramat besar di hadapan kalian. Saya ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya atas kebohongan yang telah aku lakukan untuk berpura-pura menjadi mahasiswa dan kuliah di Bandung ....”
__ADS_1
Kini suara dengungan semakin keras saja. Ada yang memang baru tahu kalau ternyata Ayudia tidak kuliah, ada pula yang sudah menduga dan akhirnya mendecakkan lidahnya tak bisa begitu saja percaya pada ucapan permintaan maaf dari seorang Ayudia.