
Perekonomian keluarga yang juga semakin membaik membuat Ayudia kini bisa menabung uang dari gajinya dengan lebih banyak. Ada banyak sekali rencananya untuk ikut dalam banyak kegiatan amal yang Elvira sering dengungkan terhadapnya. Tanpa diketahui sebelumnya, rupanya Elvira adalah aktivis amal di kampus dan ia juga tergabung dalam aktivis penggalangan dana amal di daerah mereka sendiri. Dasarnya Elvira memang tak pernah mengekspos kegiatannya dengan alasan ingin bekerja dalam senyap dan tanpa dikira riya’.
Dari situlah Ayudia mulai tertarik untuk join di acara-acara yang diselenggarakan dalam badan-badan amal tersebut. Meskipun gaji staff administrasi juga tak begitu besar, tapi karena masih single dan orangtuanya juga terkadang menolak diberi uang olehnya, maka Ayudia bisa menyisihkan sebagian penghasilannya untuk agenda-agenda tersebut.
Sejak itu kehidupannya memang mulai membaik dari segi manapun. Hubungannya dengan semua teman pun terbilang baik dan akrab karena kini ia sudah mulai bisa terbuka kepada semua. Tidak lagi mempertahankan sikap introvertnya. Terlebih ia juga sudah tak membeda-bedakan kawan lagi selagi saling bisa menghormati kepentingan masing-masing. Sehingga kini temannya banyak dari berbagai kalangan.
“Ayudia!” Panggilan dari suara bariton berat itu mengagetkan gadis yang tengah berjibaku dnegan data di laporan harian untuk direkap ke dalam data mingguan.
“Iya, Pak?” tanyanya kala melihat Pak Hartono menghampiri sambil membawa setumpuk berkas di hadapan kubikelnya.
“Bawa ini ke Pak Joni di ruangannya. Beliau sedang butuh bantuan karena sekretarisnya tidak masuk hari ini,” titah sang kabag HRD itu.
Ayudia sedikit heran kenapa itu jadi tugasnya tetapi ia menganut saja karena begitulah nasib bawahan. Harus mau melksanakan apa pun tugas yang diberikan. Bahkan meskipun tidak ada dalam list job desknya dalam perjanjian kerja yang ditandatangani.
“Baik, Pak.” Sambil berkata begitu, ia pergi ke ruangan Pak Joni. Ia sudah tahu siapa Pak Joni. Dia adalah seorang pemuda pendiam dan super tegas yang mengepalai bagian akuntansi. Ia jadi idola beberapa rekan kerjanya termasuk Dewi karena wajahnya yang tampan dan tubuhnya yang atletis meskipun Ayudia sendiri sama sekali tidak menyukainya sebab sikapnya yang begitu dingin.
“Huh, kenapa jadi aku yang kena nih. Harusnya kan Dewi aja biar dia kesenengan,” gerutu Ayudia sambil berjalan menuju ke arah ruang pribadi Pak Joni dengan membawa setumpuk berkas tadi.
Di koridor, ia menyapa beberapa rekan yang bertemu. “Mau ke mana?” sapa seorang teman dari bagian lain.
“Ini, disuruh ke Pak Joni,” jawab Ayudia sambil memasang cengiran seolah ia kurang suka dengan pria yang disebutkan namanya itu.
“Hihihi, giliran kamu rupanya,” komentar seseteman itu yang sepertinya mengetahui sesuatu.
“Eh apa maksudnya tuh?” tanya Ayudia langsung berhenti sejenak karena feelingnya merasa tak enak.
“Kabarnya Pak Joni mau mecat sekretarisnya dan lagi cari pengganti dari dalam. Makanya udah beberapa yang dipanggil buat disuruh-suruh gitu. Kayaknya seleksi diam-diam gitu deh,” bisik temannya itu.
“Bussettt! Males amat jadi sekretarisnya dia!” pekik Ayudia tanpa sengaja. Membuat temannya tadi tergelak menertawakan. Memang Pak Joni terkenal garang dan tegas kepada karyawan hingga tentu saja bekerja sama langsung di bawah perintahnya tentu bukan hal yang menarik untuk diperjuangkan.
“Semangat, ya! Wkwkwk!” Temannya itu langsung bergegas pergi dari sana setelah menyemangati Ayudia dengan cibiran terselubung itu.
“Sial! Kenapa aku juga kena giliran, sih. Apa aku minta ganti Dewi aja kali, ya.” Ayudia terus menggerutu sampai akhirnya tiba di depan pintu ruangan yang bahkan dindingnya saja menyapanya dnegan begitu dingin. Persis seperti sang pemilik ruangan.
“Huuuft, bismillah ....” Ia berucap lirih sebelum akhirnya mengetuk pintu tiga kali dan terdengar jawaban pendek, “Masuk!”
Ayudia memutar kenop pintu secara hati-hati lantas melenggang masuk dengan menegakkan tubuhnya.
'Astaga! Kenapa jadi gugup sekali begini, ya?' Pikirnya membatin dalam diam sambil terus mendekat ke arah meja Pak Joni.
__ADS_1
Setelah ia berdiri tepat di depan mejanya, barulah Pak Joni mengangkat wajah dari berkas yang ia tekuri sedari tadi dan memperhatikan sekilas Ayudia dari atas hingga ke bawah. Sama sekali tidak sopan caranya.
“Kamu yang anak buah Pak Hartono?” tanya suara berat itu.
“Betul, Pak. Saya Ayudia,” jawab Ayudia merasa perlu menyebutkan namanya.
“Oke, Ayudia. Tunjukkan kemampuan yang dipuji-puji oleh kepala bagian kamu itu padaku sekarang!” titah Pak Joni yang membuat kening Ayudia berkerut tak paham.
“Maaf, Pak. Kemampuan yang dipuji-puji apa, ya?” tanyanya tak mengerti karena memang kalimat Pak Joni menurutnya sangat ambigu sekali.
Pria itu sudah menunduk kembali menekuri berkasnya sebelum menjawab sambil tanpa menatap Ayudia.
“Pak Hartono bilang kamu andalan di sana. Kamu bisa menyelesaikan tugas alihan dari mantan karyawan yang cuti tanpa kesulitan berarti dan sesuai deadline.”
Ayudia menepuk keningnya sendiri seolah menyesali apa yang disebutkan oleh Pak Hartono kepada Pak Joni tersebut. Ini jadi blunder sekali untuknya, bak senjata makan tuan.
'Ya ampun.' batin Ayudia.
“Kenapa? Cepat kerjakan berkas yang ada di tangan kamu itu di sana!” Pak Joni kembali mendongak sambil mengedikkan dagunya ke arah satu set meja kerja dan kursi putar di sudut ruangan yang sepertinya adalah tempat untuk sekretaisnya biasa bekerja.
Setelah mengeuk ludahnya yang serasa sulit sekali ditelan, Ayudia akhirnya mengiyakan dan duduk di tempat yang ditunjuk dan mulai membolak-balik berkas dari Pak Hartono tadi.
Diperiksanya berkas-berkas itu dan menurutnya itu adalah berkas yang sudah jadi dan hanya tinggal ditandatangani oleh beberapa pihak terkait yang nama dan jabatannya tertera di akhir halamannya.
“Maaf, Pak. Ini maksudnya saya cuma butuh minta tanda tangan saja, bukan?” Akhirnya ia memberanikan diri bertanya meskipun sebenarnya ia ragu dan takut justru akan kena marah bila tebakannya sampai salah. Mau gimana? Dia belum ada pengalaman di bidang sekretariat sebelumnya. Astaga!
“Periksa dulu apakah sudah lengkap. Cek di file dokumen yang asli dulu di folder yang ada. Kamu cari tahu sendiri di bagian mana Rasty biasa menyimpannya karena aku nggak tahu menahu soal itu. Setelah diperiksa dan benar semua lengkap maka ya, kamu tinggal minta tanda tangan.” Petunjuk itu dilontarkan tanpa memandang ke arah Ayudia. Dasar pria dingin kayak kulkas! Gerutu Ayudia dalam hati menggerutu mengenai sikap atasannya itu.
“Baik, Pak.” Ayudia menyanggupi dan segera mengecek laptop milik sang sekretaris yang rupanya bernama Rasty itu dan memeriksa beberapa file yang ada di folder recent dokumen. Ditelusurinya satu per satu nama file yang mungkin sama dengan berkas yang sudah dijilid di depannya itu. Sepertinya ini memang disetting untuk menggantikan kinerja Rasty, Ya ampun, dalam hati Ayudia berharap sekali ia tidak akan terpilih nanti. Bekerja bersama si pria kulkas ini pasti bukan hal yang menarik sama sekali, pikirnya lagi. Tapi tentu ia juga tidak mau mengerjakan perintah yang Pak Joni berikan karena resikonya pasti akan kena semprot dari si bos super galak tersebut. Ogah amat!
Tak berapa lama ia sudah fokus mengerjakan apa yang ada di hadapannya. Hening di ruangan tidak mengganggunya. Justru itu yang dibutuhkannya kala harus fokus mengerjakan pekerjaan yang baru sekali ini harus dikerjakannya itu.
Saking fokusnya, Ayudia tak merasa kala Pak Joni beberapa kali menatap ke arahnya dan kemudian membuang muka seolah menghindari godaan yang teramat sangat mengganggu konsentrasinya.
“Kamu diam karena udah paham dan bisa ngerjainnya atau diam karena pasrah salah?” tanya Pak Joni akhirnya kala sampai beberapa lama ditunggunya tapi Ayudia sama sekali tidak mengajukan pertanyaan apa pun padanya.
“Ehm, saya ... saya rasa sudah benar, Pak. Ini saya sekalian mengecek dulu semuanya dan syukurlah file semua ketemu dengan mudah di folder recent dokumen dan jadinya bisa saya pilah sekalian pindahin ke folder tersendiri biar nggak susah mencarinya lagi nanti untuk yang selanjutnya,” jawab Ayudia mengatakan apa yang sedari tadi dilakukannya.
Pak Joni tampak menganggukkan kepalanya beberapa kali, sepertinya menyetujui tindakan Ayudia tersebut. Dalam hati ia lumayan mengapresiasi trik yang dipakai gadis itu. Dan mulai mengakui bahwa penilaian Pak Hartono pada Ayudia memang sepantasnya didapat oleh gadis itu. Lumayan terampil dan cekatan, simpulnya membatin meskipun tentu saja ia tak semudah itu akan melontarkan pujian kepada bawahannya. Bukan seperti itu kepribadiannya.
__ADS_1
“Cepat selesaikan lalu segera juga lengkapi tanda tangannya dan serahkan ke saya secepat yang kamu bisa. Setelah itu baru kamu boleh istirahat!’ titah Pak Joni lagi seraya bangkit dari kursinya dan beranjak pergi dari ruangan itu.
“Ish! Beneran kulkas tuh orang!” gerutu Ayudia kala sang bos galak itu sudah fix keluar dari ruangan dan pintu kembali tertutup.
Kini ia jadi serba salah karena kalau pekerjaannya dilakukan semaksimal mungkin hingga selesai cepat, maka jangan-jangan ia malah akan beneran direkrut jadi pengganti sekretaris bernama Rasty itu lagi. Tapi kalau ia membuatnya agak lamban ia takut akan kena teguran yang entah akan segarang apa Pak Joni nantinya. Sungguh menakutkan bagi Ayudia. Tidak sedang marah saja udah sebegitu dinginnya, apalagi kalau sedang ngamuk, pikir Ayudia.
Akhirnya dnegan basmallah ia pun menyelesaikan pekerjaannya secepat yang ia bisa. Ia pergi membawa berkas-berkas yang telah double cek itu ke beberapa atasan yang dibutuhkan tanda tangannya kemudian segera kembali ke ruangan Pak Joni untuk meletakkannya di meja pria itu. Entah ke mana pria itu pergi dari tadi tak muncul lagi.
Karena sudah tidak ada lagi yang bisa dikerjakan, akhirnya Ayudia hanya membereskan meja Rasty dan mengecek tumpukan berkas apa saja yang ada di samping mejanya. Setidaknya nanti kalau ada perintah dadakan harus menyerahkan berkas apa dan file aslinya di folder mana ia tidak perlu kelabakan mencarinya ulang.
Sambil menata dan mengecek satu per satu, ia menilai kinerja Rasty lumayan sudah terstruktur dengan rapi. Ia pasti adalah sekretaris andal seharusnya. Lalu, kenapa alasan Pak Joni sampai mau memecatnya dan mencari pengganti. Gawat sekali kalau orang sudah sebagus ini kinerjanya tetapi masih punya celah kesalahan hingga harus dipecat oleh Pak Joni galak itu, pikir Ayudia berasumsi sendiri.
Saat itulah Pak Joni mendadak masuk dan langsung menuju ke mejanya untuk memeriksa hasil kerja Ayudia. Ayudia terdiam menegang di tempat duduknya sendiri seolah sedang menantikan review dari sang hakim.
'Apa kira-kira respon dari Pak Joni nanti?' batin Ayudia khawatir dengan tangan dingin.
Semoga saja hasil kerjanya bagus hingga ia bebas tak kena marah beliau, harap Ayudia dalam hati. Tangannya bertaut saking gugupnya dan ia berkali-kali sampai harus mengelap kening dengan tissue karena keringan dingin bercucuran.
“Bagus. Kopiku mana?” tanya Pak Joni mendadak.
“Eh, Kop-kopi, Pak?” Ayudia bertanya mengulangi. Tentu saja ia tak tahu kalau membuatkan kopi juga termasuk dalam job desaknya sebagai pengganti hari itu. Bukankah tadi perintahnya hanya menyelesaikan berkas yang diberikan oleh Pak Hartono saja?
“Tidak usah mengulangi perkataanku kalau sudah dengar dengan jelas. Cepat siapkan kopiku. Seperti biasa, gula low fat dan pakai frappuccino cream,” sebut Pak Joni tanpa memandang Ayudia. Pria itu lantas mendudukkan diri di kursi putarnya dan mulai mengutak-atik ponselnya sambil punggungnya bersandar santai. Tidak mempedulikan sama sekali kebingungan yang kini dihadapi oleh Ayudia yang tak pernah sekalipun membuatkan kopi untuk pria itu atau bahkan pria mana pun sebelumnya. Astaga Bahkan ayahnya saja belum pernah ia bikinkan kopi selama ini. Karena begitu di sayang oleh ibunya, Ayudia sangat jarang mengerjakan pekerjaan rumah.
Sambil menahan hati, Ayudia akhirnya melangkah keluar menuju ke pantry dan meminta tolong seorang office girl untuk membuatkan kpi persis seperti kopi yang biasa dipesan oleh Pak Joni.
“Tapi kalau Pak Joni, biasanya dibuatkan oleh Mbak Rasty sendiri, Mbak.” Sang office girl menjawab bingung.
“Waduh! Mana aku tahu yang biasanya Rasty buat seperti apa?” Ayudia kembali menggerutu kini.
“Bantuin, dong mbak. Pak Joni tadi berpesan pakai gula low fat dan frappuccino cream, gitu doang sih,” pinta Ayudia kemudian yang akhirnya disanggupi oleh sang office girl berambut dikepang dua tersebut.
“Semoga beliau suka, ya, Mbak. Ini udah pakai gula low fat dan cream sesuai yang Mbak bilang tadi,” kata sang office girl yang menyerahkan secangkir kopi di atas baki itu.
Ayudia mengangguk dan berterima kasih lalu membawanya ke ruangan Pak Joni sambil harap-harap cemas takut kalau kopinya tidak sesuai selera.
'Ah, entahlah. Masa’ iya gara-gara salah bikin kopi nanti dia kena amuk? Nggak segampang itu kan ngamuk ke bawahan?' pikirnya menenangkan diri sendiri.
__ADS_1